Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 80 : Aku ingin Melamarnya


__ADS_3

Keesokan harinya, zhivana dan gea. Menghadiri sebuah pengajian dimasjid besar yang berada didekat perumahan milik gea. Sudah dua jam acara berlangsung shalawat serta do'a telah dilewati dengan khidmat.


Kedua wanita bercadar ini selalu mengikuti pengajian rutin disetiap hari sabtu dan minggu, arrsyad. Selalu menjemput dan mengantar zhivana kemanapun istrinya pergi.


Orang-orang sudah berhamburan keluar, meninggalkan area mesjid. Zhivana mendudukan dirinya dikursi besi panjang halaman mesjid, suaminya sedang dalam perjalanan menuju tempat zhivana berada.


"Suami kamu jemput, gak," Tanya zhivana seraya mengeluarkan sebotol air minum yang dibekal dari rumah.


Gea menatap layar gawai yang dipegang, tidak ada tanda-tanda andre akan menjemput.


"Gak tau, mungkin dia sibuk."


Zhivana yang sudah meminum habis air botol itu langsung tersenyum lega, sedari tadi tenggorokannya terasa sangat kering.


"Mungkin belum, sabar dulu. Siapa tau nanti jemput."


"Iya zhi, eh itu siapa kok dia berjalan kearah kita"


Ucap gea, tatapan matanya tidak lepas dari seorang pria berpenampilan layaknya seorang pengusaha kaya. Zhivana yang penasaran langsung mengikuti pandangan gea.


Deg


Pria itu, zhivana langsung panik. Bukankah pria itu yang dulu dirinya tolong dan pertemuan tempo lalu pria itu malah ingin melamar dirinya.


"Haii, assalamualaikum"


Gea melirik ke zhivana yang menundukan kepalanya.


"Waalaikumsalam."


"Nona cantik, kenapa kamu diam saja. Kamu masih ingatkan padaku?" Tanya adzril, badannya membungkuk untuk menatap lebih dekat pada wanita bercadar yang selama ini dirinya cari.


"Eh, i-iya."


Gea menatap keduanya dengan tatapan bingung.


"Aku sangat senang bertemu kembali denganmu nona, aku ingin tau siapa namamu? Selama ini kamu selalu ku cari, perkenalkan namaku adzril."


Zhivana menatap gea, tatapan itu menyiratkan zhivana harus bagaimana.


"Beri tahu saja namamu," Bisik gea sepelan mungkin.


"Na-namaku, zhivana."

__ADS_1


Adzril tersenyum semringah, akhirnya nama wanita yang selama ini, adzril cari sekarang tahu namanya. Terdengar sangat indah nama itu, adzril merasa selangkah lebih maju untuk bisa mengenal sosok zhivana.


"Nama yang bagus,"


"Oh ya, zhivana. Kamu masih ingatkan pertanyaanku yang tempo lalu dipertemuan kedua kita? Aku ingin melamarmu, apa jawabannya?"


Kali ini gea lah yang terkejut, saking terkejutnya, gea. Langsung berdiri.


"Apaaaa? Sebaiknya anda pergi tuan! Ayo zhi," Ucap gea seraya menarik tangan zhivana.


"Tapi,"


"Tunggu, kenapa harus pergi?" Tanya adzril dengan bingung.


"Anda sudah taukan namanya siapa, sebaiknya anda pergi."


Adzril langsung menatap zhivana yang sedari tadi menunduk dalam-dalam. Adzril, merasa kedatangannya sangat menganggu zhivana. Padahal adzril sangat senang, karena dihari ini dirinya dapat bertemu kembali dengan wanita bercadar pemilik mata indah.


"Baiklah, aku akan pergi. Zhivana, sampai jumpa kembali. Assalamualaikum," Ucap adzril, terlihat dari raut wajah itu dirinya sangat enggan beranjak pergi.


"Waalaikumsalam."


Sebelum melangkah adzril menatap zhivana dalam-dalam, semoga dilain hari dirinya dapat kembali bertemu dengan zhivana.


"Zhivana siapa dia?" Tanya gea.


Didepan parkiran, saat arrsyad ingin memasuki halaman parkiran mesjid. Terlihat adzril yang sedang berjalan dengan kepala menunduk.


Buru-buru arrsyad memarkirkan mobilnya, setelah keluar dari mobil. Arrsyad langsung berlari mendekat ke adzril.


"Adzril"


Merasa dirinya dipanggil, adzril. Langsung berbalik badan seraya tersenyum karena arrsyad sudah berada di belakangnya.


"Arrsyad,"


"Kamu ngapain disini?"


"Aku habis mampir shalat, kamu sendiri?" Ucap adzril balik bertanya.


"Mau jemput istri,"


Adzril tersenyum seraya mengangguk.

__ADS_1


"Bukannya istri kamu lagi hamil?"


Arrsyad mengangguk.


"Wahhh, selamat ya syad. Sebentar lagi kamu jadi ayah."


"Terimakasih, zril. Aku sekali jadi langsung dapet dua baby loh." Ucap arrsyad dengan jumawa.


"Maksud kamu? Bayinya kembar gitu,"


"Iya, usaha kerja keras aku diranjang memang topcerlah,"


Keduanya langsung tertawa.


"Aku juga bahagia, karena hari ini aku bertemu kembali dengan wanita bercadar pemilik mata cantik dan indah itu loh, syad." Ucap adzril dengan tersenyum-senyum.


"Oh ya, dimana kamu bertemu dengannya?" Tanya arrsyad dengan antusias.


"Disini, depan masjid"


"Sekarang dimana Wanita yang kamu cintai itu,"


"Disana" Tunjuk andre dengan semangat.


Dengan rasa penasaran arrsyad mengikuti arah tangan adzril. Terlihat dua orang wanita bercadar tengah duduk berdua seraya berbincang-bincang.


Tunggu, bukankah itu istrinya, zhivana. Dia tidak mungkin, dengan seksama dan penuh teliti arrsyad kembali mengikuti arah tangan adzril.


Arah tangan itu menunjuk pada zhivana. Dengan hati yang berdebar, arrsyad. Bertanya.


"Siapa nama wanita itu?"


"Zhivana,"


Deg


"Aku ingin melamarnya, syad. Tolong bantu aku supaya lebih dekat dengannya,"


Kedua tangan arrsyad mengepal kuat, hatinya sudah bergemuruh.


"Dia cantik, dia pantas sekali menjadi istriku. Bahkan ini sudah ketiga kalinya aku bertemu dengan zhivana. Aku yakin dia adalah jodohku."


'

__ADS_1


'


Bersambung


__ADS_2