Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 30 : Jadi Penguntit


__ADS_3

"Allah maha membolak-balikkan keadaan. Mungkin kini kita masih berjauhan, tapi aku yakin Allah juga akan membuat kita berdekatan kelak."


~ Arrsyad Zega Al Faruq ~


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Seina tengah mengerjakan tugas kuliah nya, di temani segelas susu hangat. Lampu kamar utama sudah dimatikan, tinggal lampu belajar yang menjadi alat penerangan dirinya untuk belajar. Seina meletakkan pulpen hitamnya di atas buku, ia mengambil hp yang berada di sisi samping kanan meja. Jari-jari lentiknya tampak sibuk mencari kontak adzril berniat untuk menelpon nya.


Panggilan terhubung, tak butuh waktu lama adzril langsung megangkat panggilan dari seina.


"Hallo, adzril."


"Ya, ada apa seina malam-malam begini kau menelpon,ku?" Ucap adzril dari sebrang sana.


"Maaf, pasti aku ganggu ya?"


"Tidak, memang ada apa."


"Bagaimana kalau besok kita berangkat kuliah bersama"


"Aku sih ayo aja, tapi arrsyad besok nggak masuk kuliah dulu"


"Kenapa, apa arrsyad sakit?"


"Tidak, dia besok akan pulang ke indonesia"


Seina langsung terdiam sekaligus terkejut dengan apa yang adzril katakan.


"Apa, arrsyad besok akan pulang ke indonesia. Kenapa dia harus pulang." Batin seina.


"Hallo seina" Ucap adzril karena seina malah terdiam.


"Eh iya, adzril kenapa arrsyad harus pulang ke indonesia? Apa dia punya masalah?"


"Aku sih kurang tahu"


"Memang dia tidak menceritakan nya pada, mu?"


"Tidak"


"Begitu ya, berapa lama arrsyad di indonesia?"


"Katanya selama lima hari"


"Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus ikut pulang bersamanya." Batin seina.


"Adzril kau tahu tidak jadwal keberangkatan arrsyad kapan dan jam berapa"


"Besok jam tujuh pagi"


Seina yang mendengar itu langsung memutuskan panggilan nya, dengan melalui hp seina langsung memesan tiket pesawat menuju indonesia dengan memilih jadwal penerbangan pagi.


"Arrsyad kemanapun kau pergi aku akan selalu mengikuti, mu"


Sementara itu dengan adzril yang tengah merasa heran dengan seina yang tiba-tiba saja memutuskan panggilan telepon nya.


"Aneh, seina kau adalah wanita cantik yang penuh dengan banyak rahasia." Batin adzril.


Seina langsung berkemas mempersiapkan baju untuk hari esok ia kenakan. Seina tidak berniat untuk membawa koper karena arrsyad yang pergi nya selama lima hari membuat seina tidak perlu membawa koper, cukup membawa tas dan make up nya saja.


"Arrsyad tidak boleh tahu kalau aku sedang mengikuti nya, aku harus bersembunyi agar tidak ketahuan"


"Eh tunggu, kuliah aku bagaimana, kan aku belum izin dulu. Duh bagaimana ini apa sebaiknya aku bolos saja, paling nanti cuman di marahi terus di hukum. Tidak masalah aku bisa melewati itu. Yang penting sekarang hanya arrsyad"


Seina menghempaskan tubuhnya di atas kasur king sizenya, bibirnya tersenyum-tersenyum pikirannya terus tertuju pada arrsyad si pangeran kampus.


"Arrsyad zega al faruq. Itu nama yang bagus sangat cocok kalau nama dia bersanding dengan seina kazumi. Yang satunya tampan dan yang satu nya lagi cantik. Bukannya, itu sangat serasi"

__ADS_1


Seina mulai merasa mengantuk perlahan mata seina tertutup dan tertidur begitu saja, dengan Kedua kaki nya yang menjuntai ke bawah kasur.


Ke esokkan harinya.


Arrsyad baru saja selesai bersiap dirinya sudah terlihat rapi dan tampan, arrsyad hanya membawa tas sling bag kecil berwarna hitam.


Arrsyad keluar dari kamar apartemen tidak lupa untuk mengunci pintunya terlebih dahulu. Arrsyad langsung melangkah pergi meninggalkan gedung apartemen, keluar dari gedung apartemen arrsyad berjalan kaki untuk naik taksi yang sudah ia pesan secara online untuk menuju bandara.


Selama perjalanan menuju bandara, arrsyad lebih memilih memandangi jalanan kota.


Tanpa terasa mobil taxsi sudah masuk ke kawasan bandara Chicago (CHI) Amerika. Arrsyad keluar dari taxsi, tidak lupa kacamata hitam yang arrsyad pakai membuat dirinya bertambah keren saja.


Disisi lain seina masih di dalam taxsi menunggu arrsyad untuk masuk terlebih dahulu ke dalam sana, seina memakai dress berwarna dusty pink sepatu hak tinggi berwarna putih, tidak lupa agar tidak ketahuan oleh arrsyad seina memakai kacamata hitam dan masker.


Sial, cantik-cantik begini aku harus jadi penguntit, tapi tak apa ini semua demi arrsyad. Batin seina


Setelah seina melihat arrsyad masuk ke dalam, dirinya langsung turun dari taxsi, seina melihat punggung arrsyad sudah semakin menjauh, seina langsung berjalan cepat masuk ke dalam mengikuti kemana arrsyad melangkah, seina terlihat hati-hati ia takut arrsyad mencurigai nya.


Keberangkatan pesawat menuju negara indonesia sekitar sepuluh menit lagi, arrsyad memilih duduk dulu menunggu. Setelah dirinya duduk arrsyad melihat-lihat kesekitar dirinya banyak orang yang sedang berlalu lalang, banyak orang juga sedang menunggu keberangkatan pesawat seperti dirinya.


Saat arrsyad melihat ke belakang ada seorang wanita sedang duduk di kursi paling belakang terlihat sosok yang arrsyad kenali. Tapi, siapa arrsyad tidak terlalu memperdulikan nya dirinya langsung memainkan ponsel.


"Arrsyad curiga nggak ya, semoga aja dia nggak liat." Batin seina.


Setelah menunggu, akhirnya semua orang masuk ke dalam pesawat. Arrsyad sudah masuk ke dalam pesawat dengan duduk di kursi tengah sendirian.


Saat seina sedang mencari tempat duduknya, seina melihat arrsyad dan betapa kagetnya bahwa seina harus duduk bersama arrsyad di kursi paling tengah.


"Gawat, ya tuhan bagaimana ini? Kalau aku duduk bersama nya pasti dia akan mengenali diriku, ayo seina berpikir jangan sampai arrsyad curiga. Sial otakku loading." Batin seina.


Seina sudah panik sendiri tangan lentiknya mencengkeram tas selempang nya. Seorang pramugari cantik yang melihat salah satu penumpang belum duduk membuat sang pramugari cantik itu mendekati seina.


"Maaf nona, kenapa kamu tidak duduk." Tanya pramugari cantik itu yang sudah berhadapan dengan seina.


"Dasar pramugari gila kenapa kau malah menghampiri ku sih. Ya, terserah aku dong mau langsung duduk atau mau belum juga itu kan urusan ku, menyebalkan." Batin seina.


Tanpa menunggu jawaban dari pramugari itu, seina langsung melangkahkan kakinya mendekati arrsyad dan langsung duduk saja di samping arrsyad.


"Pura-pura kebetulan ketemu saja, apa susahnya sih seina. Biarkan arrsyad dulu yang menyapaku biar tidak curiga." Batin seina.


"Entah mau kemana dia kenapa tiba-tiba saja dia melakukan penerbangan ke indonesia." Batin arrsyad


Arrsyad tidak memperdulikan seina yang kini tengah melihat ke luar kaca. Sebenarnya, arrsyad sudah curiga saat dirinya sedang melakukan check in tadi, arrsyad tak sengaja melihat seina tengah melepaskan kacamata hitam nya itu.


Seina melirik sedikit ke arah arrsyad, pria itu seperti tidak peduli pada seina, pasalnya seina pikir arrsyad akan menyapa dirinya terlebih dahulu. Tapi arrsyad terlihat cuek-cuek saja.


"Ihh menyebalkan sekali, ayolah arrsyad tanya aku ayo tanya. Apa dia benar-benar tidak mengenali diriku." Batin seina.


Seina melepas kacamata hitam nya dan masker yang ia pakai, lalu seina menatap arrsyad yang sedang memejamkan kedua matanya.


"Apa. kau ingin aku menyapa mu terlebih dahulu" Ucap arrsyad dengan matanya yang masih terpejam.


Seina yang mendengar itu langsung mendesah kesal, dirinya lupa kalau arrsyad itu manusia jenius pasti bakal mengetahui nya dengan mudah apalagi hubungan pertemanan mereka semakin dekat. Pasti, sangatlah mudah bagi arrsyad untuk mengenali seseorang yang sering bersamanya.


"Kau bisa membaca pikiran orang."


"Tidak"


"Tapi kenapa kau bisa mengetahui isi pikiran, ku."


"Wanita seperti mu sudah tidak aneh. Jadi dengan mudah siapapun saja pasti akan mengetahui, nya"


"Apa maksud dari ucapan mu, itu?" Tanya seina, yang tidak suka mendengar ucapan arrsyad.


"Sebuah fakta"


Seina semakin tidak paham apa yang arrsyad bicarakan, walaupun sekarang sudah kebal dengan kata-kata pedas yang arrsyad lontarkan pada dirinya, seina memilih diam saja ia tidak ingin arrsyad menjauhi dirinya lagi.

__ADS_1


"Kenapa kau mengikuti, ku."


Sekarang arrsyad membuka kedua matanya, ia menatap tajam ke arah seina. Wanita itu malah memalingkan wajahnya dari arrsyad.


"Matilah aku. Siapapun itu tolong aku, aku tidak boleh jujur aku harus berbohong padanya atau arrsyad akan membenciku karena aku mengikuti nya." Batin seina


"Aku tidak mengikuti mu"


"Untuk apa kau pulang?"


"Itu aku. Aku, itu ibu ku sakit dan dilarikan ke rumah sakit jadi aku harus pulang, aku kan khawatir jadi aku memilih pulang" Ucap seina sedikit terbata-bata.


"Lalu kenapa kau pergi di jam dan hari yang sama dengan ku?" Tanya arrsyad kembali membuat seina semakin kebingungan.


"Aku ti-tidak tahu"


Seina menelan ludahnya dengan susah payah, melihat tatapan tajam arrsyad membuat seina merasa takut.


Arrsyad memejamkan matanya kembali, rasanya sangat malas melihat seina. Entah mengapa arrsyad sangat tidak suka kalau seina sedang bersama dengannya.


Seina mendongakkan wajahnya untuk melihat arrsyad. Ah Lihatlah wajah tampan itu, bulu mata yang letik, alis yang tebal, hidung mancung, bibir tipis yang merah itu, semua itu membuat seina terpaku. Kapan lagi seina memandang wajah tampan arrsyad sedekat ini. Perlahan tapi pasti seina menggerakkan tangannya untuk menyentuh wajah tampan arrsyad.


"Ya tuhan jantungku kau yang kuat ya, tidak apa kan aku hanya menyentuhnya bukan menciumnya. Arrsyad jangan marah ya aku ingin pegang wajah tampan mu itu." Batin seina


Saat tinggal beberapa inci lagi seina pasti akan bisa menyentuh wajah arrsyad. Tapi sayangnya dengan cepat arrsyad menepis tangan seina dengan sedikit kasar.


"Kau mau apa" Ucap arrsyad dengan dinginnya.


"Aku ingin pegang wajah tampan, mu." Ucap seina dengan jujurnya.


Arrsyad sudah tidak tahan untuk berlama-lama dekat seina, bisa-bisa dirinya terkena sakit kepala mendadak. Arrsyad melihat ke sekelilingnya. Ada seorang pria paruh baya yang seperti tidak nyaman duduk dekat jendela, arrsyad tersenyum menyerigai lalu bangkit dari duduknya berniat untuk menghampiri pria paruh baya itu.


"Jau mau kemana, arrsyad."


Arrsyad tidak menjawab seina, lagi pula arrsyad tidak peduli dengan seina. Setelah mendekati pria paruh baya itu arrsyad sudah tahu, bahwa pria itu pasti orang indonesia sama seperti dirinya.


"Permisi" Ucap arrsyad ramah.


Pria paruh baya itu menatap arrsyad.


"Iya nak, ada apa."


"Saat lihat anda tidak nyaman duduk di dekat jendela, bisakah kita bertukar tempat. Saya duduk disana" Ucap arrsyad menunjuk kursi tempat duduknya.


"Memang boleh?" Tanyanya.


Arrsyad mengangguk sambil tersenyum saja. Pria paruh baya itu bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah seina yang sedari tadi memerhatikan arrsyad dan pria paruh baya itu.


"Terimakasih, nak" Ucap pria paruh baya itu pada arrsyad. Dengan arrsyad yang sudah duduk di kursi dimana tempat pria paruh baya itu duduk tadi.


Arrsyad hanya mengangguk saja.


"Menyebalkan sekali sekarang aku malah duduk dengan tua bangka ini." Batin seina.


Sekarang arrsyad bernapas lega, beruntung sekali pria patuh baya tadi mau bertukar tempat duduk dengan nya.


Perjalanan masih jauh arrsyad memilih untuk tidur saja, aman juga sekarang karena disamping dirinya sesosok pria muda tengah tertidur pulas.


Sementara itu seina sedang melipat kedua tangannya di dada dengan mengerucutkan bibirnya seperti bebek. Rasanya sangat kesal sekali pada arrsyad.


"Sial, seharusnya aku duduk berduaan dengan arrsyad, bukannya dengan pria tua ini." Batin seina.


'


'


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2