Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 37 : Kedatangan Seina


__ADS_3

Seorang wanita yang berpenampilan glamor namun elegan, berjalan keluar dari mobil untuk mendekati seorang wanita bercadar dengan gamis syar'i berwarna jingga.


Seina berjalan dengan begitu anggun nya, gaun berwarna biru selutut menampilkan kaki jenjangnya yang mulus. Seina menatap lekat pada zhivana gadis bercadar itu yang tengah asik menyiram tanaman dengan bersenandung kecil.


"Permisi" Ucap seina dengan seramah mungkin.


Zhivana menghentikan kegiatannya. Berbalik badan agar menghadap pada orang yang berbicara padanya.


"Maaf. Ada apa, ya."


Zhivana merasa kalau orang yang ada dihadapannya ini orang asing dari suaranya saja zhivana baru mengenalnya.


"Cihh. Arrsyad kenapa pria tampan sepertimu malah mencintai wanita buta." Batin seina.


"Apakah kamu Zhivana Khoirun Nisa."


"Iya saya sendiri. Ada apaya"


"Perkenalkan nama saya Seina Kazumi. Saya teman dekatnya arrsyad."


"Arrsyad?" Gumam seina.


Setahu zhivana, arrsyad itu tidak punya teman seorang wanita.


"Ya. Arrsyad Zega Al Faruq. Ku dengar kau kakaknya, jadi bolehkan aku juga berkenalan dengan, mu."


"Tentu saja boleh. Sayangnya aku tidak bisa melihat wajahmu seina. Naluriku mengatakan bahwa kamu adalah wanita cantik"


"Ya jelas aku ini cantik. Di bandingkan denganmu itu tidak ada apa-apanya." Batin seina.


"Ah iya. Kau kan buta mana mungkin bisa melihat kecantikanku ini. Wanita buta sepertimu sungguh malang sekali."


Entah kenapa ucapan seina barusan membuat hati zhivana sakit.


zhivana hanya tersenyum saja, kehadiran seina membuat dirinya tidak nyaman.


"Karena usiamu lebih tua dariku. Maka aku akan memanggil mu kak zhivana, bagaimana?"


"Baiklah. Seina apa kamu juga berkuliah di amerika." Tanya zhivana.


Seina mengibas-gibaskan tangannya karena terik matahari yang semakin panas.


"Kak zhivana bisa tidak kita ke tempat yang teduh, aku sangat kepanasan bisa-bisa kulitku yang putih ini menjadi kusam dan hitam"


"Kalau begitu ayo masuk ke dalam rumah."


Tanpa menjawab atau menunggu zhivana, seina langsung melangkahkan kakinya meninggalkan zhivana. Seina mendudukan dirinya di kursi bambu bercat coklat yang ada di depan rumah zhivana.


Zhivana yang tahunya seina berjalan lebih dulu hanya diam saja, hatinya yang selalu sabar dapat menghadapinya dengan baik.


"Kak zhivana duduklah aku sudah duduk. Maaf ya karena tidak menunggu karena aku tidak biasa panas-panasan, kau tahulah kak aku ini nona manja." Ucap seina dengan sombongnya.

__ADS_1


Zhivana hanya tersenyum saja. Baru saja dirinya akan duduk tapi seina sudah berbicara kembali.


"Kak aku ingin minum rasanya sangat haus. Jadi tolong dong ambilkan aku minum" Ucap seina dengan nada perintahnya.


Zhivana mengangguk saja. Tidak jadi duduk tidak masalah, seina tamu jadi harus diperlakukan dengan sebaik mungkin. Pikirnya.


Dengan bantuan tongkat panjang hitamnya seina melangkah pergi ke dapur. Mengambil segelas air putih, diletakkan diatas nampan lalu membawanya pada seina.


"Silahkan" Ucap zhivana seperti biasanya dengan nada lembut dan ramah.


Seina sebenarnya tidak haus, hanya saja ia ingin mengerjai zhivana.


Zhivana mendudukan dirinya dikursi samping seina. Tatapanya lurus ke depan dengan tangan kecilnya yang setia mengenggam tongkat kecilnya.


"Oh ya kak zhivana tadi bertanya padaku maaf ya aku belum menjawabnya. Tapi, sekarang aku akan menjawabnya. Aku memang kuliah di amerika bersama arrsyad hanya saja jurusan kami berbeda. Aku dan arrsyad itu teman dekat, kami sering jalan berdua. Ya kak zhivana tahu sendirikan budaya amerika dan lingkungan amerika seperti apa. Aku dan arrsyad pernah melakukan hal lebih loh kak. Ternyata sangat menyenangkan, ya" Ucap seina penuh kebohongan.


Zhivana masih belum bergembing.


"Kak zhivana tahu tidak? Arrsyad itu sangat mencintaiku. Hanya saja karena ada kak zhivana seolah-olah cinta kami terhalang." Ucap seina kembali.


"Apa itu benar? Aku merasa dia sedang berbohong padaku." Batin zhivana.


"Seina aku baru saja berkenalan denganmu, jadi maaf aku tidak percaya dengan semua ucapanmu, itu."


"Sial. Ternyata dia tidak bisa dibohongi." Batin seina.


"Aku tahu itu. Tapi mau bagaimana lagi ini tuh sebuah kenyataan. Aku tidak peduli juga sih kau mau peduli ataupun tidak itukan urusanmu, kak"


"Maaf seina. Tapi, aku mengenal arrsyad dengan baik, malah sejak kecil kami sudah bersama. Jadi tidak mungkin sekali jika arrsyad melakukan hal yang tidak pantas seperti itu." Ucap zhivana dengan penuh keyakinan.


"Hem. Baiklah terserah saja, Tempat ini terlalu kumuh untuk nona manja sepertiku, sebaiknya aku pulang dulu. Dan air minumnya maaf aku tidak minum karena takut tidak bersih."


Setelah mengucapkan itu seina langsung pergi begitu saja tanpa memperdulikan zhivana yang tengah menundukkan kepalanya.


"Astagfirullahal'adzim." Lirih zhivana.


"Yaalloh kenapa dia sombong sekali. Semoga dia tidak kemari lagi, aku sangat tidak nyaman saat berdekatan dengannya." Batin zhivana.


***


Rumah Sakit Besar Pelita


Seorang dokter cantik baru saja keluar dari ruang operasi, jas putihnya nampak kebesaran, Gamis syar'i berwarna coklat senada dengan cadar yang ia kenakan.


Gea Salamah An Nur. Dokter bedah jantung. Andai saja zhivana tidak mengalami kecelakaan itu, mungkin saja gea dan zhivana sekarang ini sudah sama-sama menjadi fatner dokternya.


Gea berjalan melewati para orang yang akan menjenguk pasien. Beberapa orang suster berlalu lalang di sekitar dirinya.


"Sudah satu minggu aku tidak mengunjungi zhivana. Semoga zhivana selalu baik-baik saja." Batin gea.


Gea melihat seseorang yang sepertinya sudah tidak asing baginya. Gea melihat orang itu baru saja keluar dari ruangan dokter bram. Bukannya dokter bram itu menangani orang-orang yang mengidap penyakit kanker. Pikirnya.

__ADS_1


"Bukannya itu ustadz azwar." Gumam gea dalam hati.


Gea mempercepat langkah kakinya untuk mengejar ustadz azwar. Tapi, sayang seorang suster memanggil gea dari belakang.


"Dokter gea" Panggil seorang suster itu.


Gea membalikan badannya untuk menghadap ke arah suster itu berada.


"Ya. Ada apa."


"Dokter ada keluarga pasien yang ingin berbicara dengan anda. Mereka telah menunggu di dalam ruangan."


"Baiklah saya akan segera kesana."


Setelah itu suster tadipun pergi. Gea sudah mengedarkan pandangan, ia mencari sosok azwar. Tapi, sayang gea kehilangan sosok azwar.


Gea pun tak ambil pusing dengan yang ia lihat. Gea memilih langsung pergi ke ruangannya sendiri.


***


Kembali pada zhivana yang tengah mengajar para santri putri. Setiap harinya zhivana selalu berangkat untuk mengajar, kadang mengajar mengaji atau sekedar memberi materi.


"Apakah ada yang ingin ditanyakan sebelum ustadzah tutup materi belajarnya?" Ucap zhivana didepan semua santri putri.


"Ustadzah saya ingin bertanya" Ucap santri putri yang bernama syifa.


"Silahkan"


"Ustadzah kan sebentar lagi hari raya natal dan tahun baru. Kita sebagai umat islam harus menyikapinya bagaimana?" Tanya syifa.


"Menyikapi Natal dan Tahun Baru


Dalih toleransi sering dijadikan alasan sebagian kaum Muslimin untuk turut berpartisipasi dalam perayaan hari-hari besar agama lain. Padahal, hari raya adalah masalah agama dan akidah, bukan masalah keduniaan, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam sabda beliau kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu pada hari Idul Fitri,"


”Setiap kaum memiliki hari raya, dan ini (Idul Fitri) adalah hari raya kita.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan demikian, turut merayakannya berarti ikut serta dalam ritual ibadah mereka. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud, dan dinyatakan hasan shahih oleh Al-Albani)."


"Imam Al-Baihaqi juga meriwayatkan dengan sanad yang baik dari Abdullah bin Amru radhiallahu ‘anhuma beliau pernah berkata, Barang siapa lewat di negeri non Arab, lalu mereka sedang merayakan Hari Nairuz dan festival keagamaan mereka, lalu ia meniru mereka hingga mati, maka demikianlah ia dibangkitkan bersama mereka di Hari Kiamat nanti.”


"Bagaimana apakah penjelasan dari ustadzah sudah membuat kalian paham." Tanya zhivana setelah menjelaskan pertanyaan dari syifa.


"Sudah ustadzah." Ucap semua santri putri dengan serempak.


"Yasudah kalau tidak ada lagi yang ditanyakan. Ustadzah akhiri saja untuk pembelajaran hari ini. Kalau begitu ustadzah undur diri. Assalamualaikum wr. wb"


"Waalaikumsalam wr. wb" Ucap santri putri serempak.


"Alhamdulillah." Batin zhivana.


Zhivana pun keluar karena sudah pukul dua sore, zhivana memutuskan untuk langsung pulang saja.


'

__ADS_1


'


Bersambung


__ADS_2