Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 45 : Seina Kazumi (Part 2)


__ADS_3

Bagi seina kebahagiaan dirinya sendiri adalah sesuatu yang wajib harus didapat. Tidak, ingin memikirkan perasaan orang lain, seina acuh. Seperti tidak berperasaan, mungkin sifat yang ia miliki turunan dari sang ayah.


Padahal dari kecil, naumi selalu mendidik seina agar tumbuh menjadi seorang wanita baik. Tapi, lain halnya dengan sang suami. Takiyo, selalu mendidik seina agar menjadi seorang pemenang, hebat dari yang lebih hebat, apapun yang ia mau harus didapat, walau dengan cara memaksa.


Seina yang penurut sedari dulu pada sang ayah. Membuat separuh sifat takiyo melekat pada jiwa seina.


Hal nya dengan apa yang sudah terjadi sekarang. Rencana awal yang sudah dianggap tersusun sempurna, tapi ternyata gagal. Malah mengakibatkan korban, ibunya kritis hingga sekarang belum sadarkan diri. Seina, ia sendiri tanpa sadar dan tanpa sengaja malah meminum racun mematikan itu hingga kandas dan meregang nyawa nya sendiri.


Rizki, maut dan jodoh. Itu adalah rahasia tuhan. Entah nyawa atau jodoh yang akan menjemput kita terlebih dahulu, itu semua sudah diatur dan dicatat dilauhul mahfudz. Setiap manusia punya takdir masing-masing, maka dengan ikhtiar serta doa yang menyertai langkah kehidupan mengantar kehidupan manusia kejalannya sendiri.


Kain putih polos ditarik keatas untuk menutupi seluruh tubuh seina. Wajah yang cantik yang dulu membuat banyak lirik mata yang tertarik itu sekarang pudar malah memucat dengan kedua mata terpejam rapat.


Tangisan dan jeritan histeris dari seorang ibu yang sedang meronta-ronta diatas kursi roda. Naumi, ibu dari seina itu telah sadar dengan mendapati kabar putri semata wayangnya sedang sekarat.


Detik-detik terakhir seina sebelum sang maut betul-betul mencabut nyawanya, seina sempat melihat sang ibu tersenyum dengan berlinang air mata.


Zhivana gadis bercadar itu dengan khusyuk membimbing seina melantunkan kalimat syahadat.


Ajal memang datang kapan saja. Tidak bisa dihindari, tidak bisa diundur maupun ditawar untuk diundur lebih lama. Perbanyak amal ibadah sebelum ajal menjemput adalah cara untuk selamat dari siksaan.


Seina wanita cantik itu sudah terbaring tak bernyawa diruang jenazah. Seina juga memiliki permintaan terakhir. Dimana arrsyad harus mencium keningnya. Arrsyad menolak, ia tidak mau melakukan itu. Tapi, berkat bujukan zhivana membuat arrsyad luluh dan mau melakukannya dengan terpaksa. Seina yang mendapat kecupan singkat dari arrsyad langsung tertegun. Bukannya senang tapi rasa bersalah malah menyeruak ke relung hatinya. Sakit hati dan raga membuat seina kembali mengingat perlakuan jahatnya pada zhivana.


Rasa iri dan egois membut ia menjadi korban penderitaannya sendiri. Ini sudah terlambat, hanya ada rasa penyesalan yang mendalam. Mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur.


Malam semakin larut, rumah sakit mulai sepi. Tangis dari seorang ibu yang kehilangan seorang anak yang telah ia kandung sembilan bulan, batita kecil sang buah hati yang telah naumi besarkan selama ini telah tiada.


Isak tangis yang pilu, lirih-lirih kata yang memanggil nama seina untuk kembali. Menggema diseluruh ruangan. Ini seperti mimpi buruk, andai ini mimpi ingin sekali naumi segera bangun. Tapi, sayang ini bukan sebuah mimpi. Ini kenyataan. Sebuah kenyataan yang teramat pahit dan sulit bagi seorang ibu yang kehilangan anaknya.


"Nyonya. Sebaiknya anda beristirahat. Saya tahu ini sangat berat untuk dilalui tapi mau bagaimana lagi. Ini sudah menjadi janji seina pada sang maha pencipta dimana ajalnya akan datang menjemput." Gea mengusap punggung tangan wanita paruh baya itu lembut. Memberi ketenangan serta kenyaman.


Tidak ada jawaban. Hanya terdengar isak tangis.


Gea berpikir sejenak lalu menatap dokter bram yang sedari tadi diam mematung dengan memperhatikan interaksi gea dan ibunya seina.


"Bagaimana, ini." Tanya gea bingung. Sedari tadi naumi menangis dan meraung-raung untuk melihat jenazah anaknya.


Dokter bram berpikir sejenak.


"Bagaimana kalau kita beri obat penenang. Saya sangat kasian, apalagi nyonya naumi baru sadar dari masa kritisnya. Itu sangat tidak baik untuk kesehatan tubuhnya."


"Lagi pula, jenazah seina sedang diurus agar besok pagi bisa langsung dikebumikan." Imbuh dokter bram kembali.

__ADS_1


Gea mengangguk setuju dengan saran dokter bram.


Suntikan yang telah diisi obat penenang itu, gea suntikan pada lengan naumi. Tidak menunggu waktu lama, obat itu langsung bereaksi cepat membuat naumi memejamkan kedua matanya.


Gea membenarkan selimut untuk menutupi sebagian tubuh naumi. Wanita itu terlihat sangat bersedih, sisa air matanya masih ada dipipi kiri dan kanan.


"Saya sangat berduka. Atas kejadian yang telah menimpa nyonya naumi dan anaknya." Ucap dokter bram dengan penuh rasa kasihan.


"Semoga setelah kesedihan ini berlalu, nyonya naumi bisa kembali bahagia, lagi."


Dokter bram mengangguk pelan. Mengajak gea untuk keluar, membiarkan naumi beristirahat dengan tenang.


Gea masuk kedalam ruang kerja. Mendapati seorang pria tampan sedang berbaring dikursi panjang. Gea yang tahu itu arrsyad langsung berdecak, pintu tak jadi ditutup takutnya menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan.


"Kamu kak gea, kan." Tanya arrsyad dengan mendudukan dirinya dengan tangan dilipat didada.


Gea yang mematung di dekat pintu, langsung menoleh pada arrsyad.


"Ehh. Ku kira dia tidur." Batin gea.


" Ya. Memang, ada apa." Gea memalingkan wajahnya untuk enghindari tatapan mata arrsyad.


"Iya"


"Jadi tolong bantu aku untuk membatalkan pernikahan kak zhivana dengan pria itu." Ucapnya dengan santai.


" Ehh"


Gea mengerjap tak percaya.


"Kamu tidak boleh ya seperti itu. Itu tidak baik, lagi pula zhivana dan ustadz azwar tiga hari lagi akan menikah." Gea berdecak kesal pada pria yang ada dihadapannya itu.


"Tidak ada penolakan. Aku bilang harus ya harus." Tegas arrsyad bersifat memaksa.


"Harus apanya."


"Bantu bujuk kak zhivana."


"Tidak, mau." Tegas gea.


"Tidak ada bantahan. pokoknya kita udah sepakat bekerja sama untuk membujuk kak zhivana." Tegas arrsyad yang sudah tidak bisa diganggu gugat.

__ADS_1


"Dengar ya arrsyad. Kamu gak boleh kaya gitu, itu salah satu perbuatan dosa. Masak iya, kamu mau menghancurkan rencana pernikahan zhivana dan ustadz azwar. Lagi pula nikah itu ibadah. Jadi dosa ya buat kamu yang menjadi setan untuk menghancurkan pernikahan mereka." Omel gea.


"Aku tahu. Tapi ustadz azwar itu sedang sakit"


"Sakit bagaimana, ustadz azwar itu sehat"


Arrsyad menghembuskan napasnya, lalu menatap gea yang tengah menghindari tatapan darinya.


"Dia sakit kanker darah."


Gea langsung menoleh pada arrsyad. Sesaat tatapan keduanya bertemu. Gea dapat melihat keseriusan dari ucapan arrsyad barusan, tapi apakah benar ustadz azwar punya penyakit kanker darah. Tapi rasanya sangat tidak mungkin. Gea menggeleng cepat untuk tidak percaya.


"Maaf. Aku tidak percaya. Mungkin kamu niatnya hanya untuk membuat pernikahan mereka berdua batal."


Arrsyad mendengus kesal.


"Seina baru saja meninggal. Kau pria yang dicintainya, apa tidak merasa sedih? Oh ya, sepertinya kalian sepasang kekasih." Tanya gea yang merasa penasaran sejak tadi. Gea masih setia berdiri diambang pintu.


Beberapa orang suster yang melewati ruangan gea, nampak mencuri-curi pandang pada arrsyad.


"Teman. Bukan sepasang kekasih." Ralat arrsyad yang tidak terima.


" Sepertinya dia sangat mencintaimu."


Gea yang tidak menerima jawaban dari arrsyad. Menjadi ikut terdiam.


Untuk sesaat terjadi keheningan.


"Kak zhivana, dimana." Tanya arrsyad dengan beranjak dari tempat duduknya. Berdiri dengan tangan merapikan setelan jas yang ia kenakan.


"Dia sedang diruang ganti bersama suster sinta. Operasinya akan dilakukan setengah jam. Lagi"


"Memang harus malam ini."


"Iya. Karena ini permintaan dari seina."


'


'


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2