Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 112 : Akanku Beri Tahu


__ADS_3

Reno berdiri dengan tatapan tidak lepas dari arrsyad. Pria itu terlihat sangat lemah, berusaha berdiri dengan tangan menempel ditembok.


Berusaha berjalan dengan pelan, mendekati sang kakak yang malah diam mematung menatap ke arahnya. Ada apa ini? Kenapa saat dirinya bangun dari rasa sakit tidak ada seorangpun yang duduk menunggunya.


Saat dirinya bangun, berharap ada sosok istrinya tengah menunggu. Tapi sayang, semua malah tidak ada. Ada yang aneh saat ia bangun dan bernapas.


Seperti ada sesuatu yang telah pergi, tapi apa itu? Arrsyad tidak tahu. Tangannya menempel didada. Ada jantung orang didalam sana, memberikan kehidupan untuk arrsyad.


Orang baik mana yang telah mendonorkan jantungnya untuk arrsyad. Ingin bertemu pihak keluarga dan mengucapkan banyak terima kasih.


"Kemana anak dan istriku? Dan siapa yang meninggal? Kenapa kau menangis kak!"


Reno menunduk, lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tidak kuat untuk berpura-pura tegar dihadapan adiknya. Apalagi jantung zhivana yang sekarang sudah menjadi bagian organ tubuh arrsyad.


Melangkah dengan cepat, keluar dari rumah sakit. Meninggalkan arrsyad yang diam dengan penuh kebingungan.


Seharusnya reno senang dengan kesembuhan arrsyad. Tapi tidak, ada orang yang ia sayang telah berkorban besar. Pemakaman zhivana belum dilaksanakan, ini masih seperti mimpi buruk yang belum berakhir.


"Aku terlalu bodoh dan pengecut"


Reno menendang ban mobil lalu menunduk dengan kedua tangan sibuk memukul kepala. Menyakiti diri sendiri belum cukup. Zhivana sudah berkorban besar, menyerahkan nyawanya sendiri pada arrsyad.


Wanita itu Memang baik, berhati malaikat dan berjiwa besar. Seperti sosok bidadari yang Allah kirimkan untuk menjadi cahaya dibumi.

__ADS_1


Setelah melihat dengan mata kepala sendiri. Mayat zhivana terbaring tidak bernyawa dikamar mayat. Luchia langsung histeris saat kain cadar itu ia lepas.


Reno berharap itu bukan zhivana, bukannya zhivana pamit ke mushola ingin shalat dan mendoakan suaminya. Tapi kenapa beberapa jam sosok yang reno cari malah sudah tidak bernyawa.


Kenapa zhivana tidak bilang padanya? Kenapa dia malah bertindak sendiri, tanpa bertanya terlebih dahulu. Padahal zhivana sendiri sudah menganggap reno sebagai kakak kandung sendiri.


Berbeda dengan azwar, pria itu baru sadar dari bius panjangnya. Mengira sudah dialam kubur, ternyata masih di rumah sakit.


Ada almira yang tengah tertidur dengan posisi duduk disamping bangsal. Memegang pergelangan tangan azwar dengan erat, seolah takut kehilangan.


Berusaha duduk dengan kepala yang masih pusing. Membangunkan almira yang masih terlelap disamping.


"Mas kamu sudah bangun?" Tanya almira. Wanita itu tersenyum bahagia, mencoba memegang kembali tangan azwar tapi malah ditepis.


"Kenapa aku masih hidup?"


"Maaf. Tapi aku tidak ingin kehilanganmu."


Dari jawaban almira barusan, azwar tahu kalau almira lah yang telah menggagalkan rencananya. Entah kenapa pusat pikirannya langsung tertuju pada zhivana.


Ada rasa takut yang membelenggu. Pikiran buruk muncul, dengan seiringnya rasa khawatir yang semakin besar.


"Dimana ukhty zhivana?"

__ADS_1


Almira terhenyak. Dia langsung berdiri dengan kepala menunduk, kedua matanya langsung berkaca-kaca. Mengingat kematian cinta pertama dari calon suaminya.


Hatinya juga sakit, pria yang seharusnya hari ini mengucapkan ijab kabul. Malah menanyakan wanita lain.


"Kenapa kamu melakukan ini! Padahal saya sangat ikhlas, memberikan kehidupan ini untuk suaminya ukhty zhivana."


Almira menatap azwar, mengusap buliran air mata yang sudah terjatuh. Bahkan pria yang sekarang ada dihadapannya malah memalingkan wajah.


"Tapi aku tidak ikhlas! Kenapa harus kamu? Kenapa kamu selalu menolong mbak zhivana, apa kamu masih sayang padanya. Aku ini seharusnya sudah menjadi istri kamu. Tapi kamu malah ingin mati demi kebahagiaan orang lain."


Azwar terdiam. Lalu menatap almira, wanita itu menangis. Tatapan mata keduanya bertemu saling mengunci satu sama lain.


"Jika kamu tahu kehidupan ukhty zhivana sebelumnya, pasti kamu tidak akan bicara seperti itu."


Andai kamu tau, kalau mbak zhivana sudah tiada sekarang. Percuma kamu mengingat dia. Tapi aku sangat bersyukur, karena aku berhasil menyelamatkanmu.


"Saya ingin bertemu dengan ukhty zhivana, untuk menanyakan kabar arrsyad."


"Baiklah aku akan antarkan. Sebaiknya kita keruangan suaminya, aku dengar dia sudah sadar."


Apa suaminya mbak zhivana sudah tau kalau istrinya sudah meninggal. Kalau belum, akan kuberi tahu saja sekalian ngasih tau mas azwar.


'

__ADS_1


'


Bersambung


__ADS_2