Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 21 : Rencana Ta'aruf


__ADS_3

"Bijaklah dalam masa penantianmu, kelak kamu akan takjub bagaimana Allah mempertemukanmu dengan jodohmu."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Suara hujan mengiringi sore hari zhivana. Tercium wangi bau tanah basah bersatu dengan udara yang cukup menyejukkan tubuh.


Meski zhivana menikmati suasana hujan di sore hari, namun hatinya tengah merasa tidak nyaman. Bagaimana tidak nyaman zhivana saja terheran-heran dengan apa yang dirinya tengah rasakan saat ini.


Bayangan tentang sesosok seorang pria terus saja bersemayam di relung hatinya. Dimana pria itu menyuruh zhivana harus berjanji. Berjanji untuk mau menunggu dirinya, dan berjanji untuk mempercayai dirinya agar zhivana selalu percaya.


Zhivana memegangi dadanya, tiba-tiba saja hatinya berdebar-debar begitu saja ada getaran aneh yang dirinya rasakan saat ini, tapi dengan cepat zhivana menepis pikiran dan perasaan aneh itu.


Tidak zhivana tidak boleh mempunyai perasaan ini.


Dirinya telah jatuh cinta pada seseorang yang belum pasti jodohnya.


Zhivana tidak ingin menyakiti perasaannya sendiri. Apalagi sampai berharap. Bukankah berharap kepada manusia itu menyakitkan?


Tentu, karena hati manusia itu gampang berubah-ubah, berharaplah pada sang maha kuasa. yang maha membolak balikan hati manusia.


Zhivana mendudukan dirinya di sisi ranjang. Terasa empuk dan nyaman, jadi teringat kepada Alm. Kedua orang tuanya. Andai saja dirinya bisa melihat mungkin saja sekarang zhivana tengah melihat foto keluarganya yang delapan bulan lalu melakukan potret keluarga.


***


Amerika Serikat


Kini arrsyad tengah berada di taman depan kampus, mata hitam nan tajam itu terus menatap ke arah buku yang dibaca sedari tadi.


Adzril mendekat kearah dimana arrsyad berada, adzril langsung mendudukkan dirinya disamping arrsyad, melihat sekilas pada arrsyad yang tidak bergeming sedikitpun dengan masih tetap membaca buku.


"Bacanya nanti aja diapartemen, sekarang kita pulang yu." Ajak adzril seraya menatap arrsyad.


Arrsyad menutup buku yang dibaca sedari tadi dan langsung memasukan bukunya ke dalam tas punggung hitam yang dikenakan.


"Hai." Ucap seina, yang tiba-tiba muncul di depan arrsyad dan adzril membuat dua sosok pria itu saling melirik.


"Hai arrsyad, aku senang bisa ketemu kamu lagi disini." Ucap seina.


Arrsyad tidak menanggapi apa yang seina katakan, dirinya memilih memakai earphone untuk mendengarkan musik tak lupa arrsyad juga melipat kedua tangannya di depan dada.


Seina yang melihat arrsyad seperti itu membuat dirinya kesal karena telah diacuhkan.


"Sabar seina, ini demi mendapatkan arrsyad si pangeran kampus." Batin seina.


"Kamu seina." Tanya adzril mencairkan suasana.


"Ah iya aku Seina Kazumi, kamu sendiri." Tanya seina.


"Aku Adzril Rafif Alfarezi. Temanya arrsyad."


"Semoga kita jadi teman baik." Ucap seina dengan senyum manisnya.

__ADS_1


"Tentu."


Seina melihat arrsyad posisinya masih sama tidak bergeming sedikitpun, seina tau pria seperti arrsyad pasti sulit untuk di dekati.


"Bagaimana kalau kita minum di cafe yang ada di sebrang kampus ini, aku dengar cafe disana nyaman dan enak." Ajak seina seraya menunjuk ke arah bangunan cafe.


Adzril tidak langsung menjawab seina, dirinya melirik arrsyad temannya itu benar-benar acuh sekali, apalagi dengan sikapnya yang dingin seperti itu membuat kondisi ini serba salah saja.


"Bagaimana" Tanya seina menunggu jawaban.


"Aku pulang duluan." Ucap arrsyad seraya beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja.


"Tunggu dulu." Ucap adzril yang hendak menahan arrsyad.


"Maaf seina lain kali saja, aku harus pergi duluan untuk nyusul arrsyad."


Setelah berbicara seperti itu pada seina adzril langsung berlari untuk menyusul arrsyad.


Kini menyisakan seina seorang diri di taman, seina menatap kepergian arrsyad dan adzril yang semakin menjauh dari dirinya.


"Arrsyad tunggu" Teriak adzril dari belakang arrsyad.


Arrsyad menghentikan langkah kakinya dan diam untuk menunggu adzril yang kini tengah berlari mengerjar dirinya.


"Hahh, cape sekali. Kamu kenapa sih kok main pergi aja."


"Pulang"


"Aku udah bilang aku mau pulang." Ketus arrsyad.


Adzril menghembuskan napasnya, sudah terbiasa dengan sikap arrsyad seperti ini, mungkin sikap arrsyad yang telah mendarah daging dalam dirinya, pikir adzril.


"Baik kita pulang sekarang." Ucap adzril dengan pasrah.


Arrsyad melangkah menuju halte bis yang ada di sebrang depan kampus begitu pula dengan adzril yang mengikuti langkah arrsyad.


***


Sementara itu dikediaman kiai husen tengah berkumpul bersama tapi tidak dengan adiknya azwar yaitu Malik Fazal Gafi yang sering dipanggil fazal. Fazal jarang pulang ke rumah dirinya lebih memilih sering tinggal di asrama santri putra bersama teman-teman santri lainnya.


Kiai husen tengah menanyakan beberapa pertanyaan pada azwar putra sulungnya, usia azwar memang masih terbilang masih muda tapi menurut kiai husen selaku abi dari azwar tentu sudah cukup untuk menikah, membuat kiai husen ingin cepat-cepat menikahkan azwar.


"Azwar mau tidak abi jodohkan dengan seorang wanita sholehah pilihan abi dan umi." Tanya kiai husen dengan serius, tak lupa senyuman yang menghiai wajah keriputnya tampak berseri.


"Maaf, abi aku tidak ingin di jodohkan." Tolak azwar hati-hati karena dirinya tidak ingin menyingung perasaan abinya.


"Kenapa"


"Aku telah menaruh hati pada seorang." Jawab azwar dengan tersenyum-tersenyum.


Kiai husen dan aisyah istrinya saling melirik, pasalnya kiai husen beserta istrinya telah menaruh curiga bahwa azwar menyukai zhivana.

__ADS_1


"Siapa wanita itu, nak." Sahut umi aisyah dengan rasa penasaran.


"Seorang bidadari sholehah yang tidak bisa melihat."


Kiai husen pun tersenyum tentu saja yang dimaksud oleh azwar itu adalah zhivana.


"Masya alloh, umi anak kita ini telah jatuh cinta rupanya." Goda kiai husen yang melihat pipi azwar bersemu merah.


"Nah azwar sejak kapan kamu menaruh hati pada zhivana" Tanya aisyah seraya tersenyum merekah penuh kehangatan.


"Entahlah umi aku juga tidak tahu, tapi saat zhivana masih menjadi santri putri disini aku suka melihatnya dari kejauhan"


Aisyah hanya tersenyum saja.


"Bagaimana kalau kamu dan zhivana ta'aruf saja." Ucap kiai husen dengan serius.


"Jujur saja aku mau, tapi. Bagaimana dengan zhivana apakah dia juga mau"


Azwar takut zhivana akan menolak ajakkan ta'aruf ini. Hatinya telah memilih zhivana, tapi bagaimana dengan zhivana apakah dia juga memiliki perasaan yang sama dengan dirinya? Ini membingungkan membuat azwar takut, takut wanita yang di cintainya menolak.


Bagi azwar, zhivana adalah cinta pertamanya, azwar sendiri tidak pernah menaruh hati kepada wanita lain, dirinya hanya terus melihat zhivana dan zhivana.


Aku meredam seluruh rasa cintaku


Aku menyimpan rapat-rapat apa yang ada didalam benakku


Kau tak akan pernah tahu cukup alloh dan hatiku yang mengetahuinya, indah nan sempurna.


Semua mimpi dan harapan ku lantunkan sembari ku bermunajat bersimpuh bahkan bertekuk lutut didepan sang maha pencipta.


Untuk apa?


Sungguh aku tidak mengerti akan yang aku rasakan saat ini.


Entah cinta...


Entah nafsu...


Entah ujian...


Ini semua adalah pikiran dan isi hati azwar yang tengah ia rasakan sekarang. Sungguh membingungkan baginya ini tidak mudah apalagi hati seorang wanita itu sulit di tebak, kita sebagai seorang pria harus lebih peka lagi.


"Kita akan bicarakan ini pada zhivana. Berdoa saja semoga alloh menjodohkan kalian." Ucap kiai husen seraya tersenyum hangat.


"Iya, abi" Lirih azwar.


"Yaalloh permudahkan segala urusan hamba, lancarkan niat baik hamba ini." Batin azwar.


'


'

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2