
Hari semakin menggelap, mengganti cahaya matahari dengan sinar bulan yang indah. Cuaca malam ini tidak sehangat malam sebelumnya, kali ini terasa dingin.
Sejak sore tadi awan hitam terus menggumpal, tapi hujan belum kunjung turun. Angin berhembus kencang, meniup daun kering hingga berguguran jatuh ke tanah.
Kaca kamar terbuka lebar, helaian gorden yang tertiup angin terbang menerpa wajah azwar. Pria itu sedari tadi duduk dikursi tunggal dengan menghadap jendela.
Ingatannya berputar kembali, mengingat tentang kondisi arrsyad. Terasa takut dan gelisah, membelenggu didalam hati.
Sore tadi zhivana menelpon, mengabari bahwa arrsyad masuk rumah sakit. Katanya saat hendak ingin pulang, arrsyad malah terjatuh pingsan diparkiran.
Beruntung saat kejadian ada andre, hingga kepala arrsyad tidak terbentur. Bahkan sampai sekarang arrsyad belum sadarkan diri. Reno marah besar saat mengetahui arrsyad masuk rumah sakit.
Andre orang pertama yang disalahkan. Pria itu mengatakan selama beberapa bulan terakhir ini mengetahui kondisi arrsyad. Bukannya jujur, justru andre malah ikut menyembunyikan penyakit arrsyad.
Mendapatkan donor jantung sangat sulit, jika butuh mungkin harus menunggu lama. Kalau menunggu itu tidak mungkin, bagaimana jika arrsyad keburu mati.
Jika ada keajaiban mungkin harapan yang ingin disampaikan adalah do'a agar arrsyad sembuh.
"Siapa yang akan mendonorkan jantung untuk arrsyad."
Azwar terus berbicara dengan mengulangi perkataan yang sama. Sedari tadi pikiran dan hatinya tidak tenang, apalagi zhivana. Mungkin wanita bercadar itu tengah menangis dengan penuh do'a dan juga harapan.
Gawainya berbunyi, ada pesan masuk dari calon istrinya. Almira selalu mengingatkan azwar agar minum obat sebelum tidur.
Biasanya perhatian dari almira membuat azwar senang, tapi kali ini tidak. Bahkan pesan dari almira tidak dibalas seperti biasanya.
__ADS_1
Selamat tuan azwar, penyakit anda memang sudah sembuh. Tapi sewaktu-waktu bisa saja kambuh kembali. Jadi tetap jaga kesehatan.
Perkataan dokter bram satu bulan lalu berputar kembali dikepala azwar. Menatap beberapa bungkus obat, ada beberapa obat lagi yang tersisa.
Semangat hidup azwar telah kembali. Bahkan ia akan segera menikah dengan almira. Wanita berdarah indonesia turkey itu telah memberikan rasa cinta dan kasih sayang pada azwar.
"Aku tidak mau ukhty zhivana menangis, apalagi merasakan kembali kehilangan orang yang dia sayang."
Rupanya kasih sayang itu masih ada dalam hati kecil azwar. Sejak kecil sudah mengenal zhivana dengan baik, bahkan wanita yang sekarang telah menjadi seorang istri dan ibu dari dua anak itu mampu membuat azwar lemah.
Ucapan istigfar terus terucap dari mulut azwar. Itu masa lalu, sekarang dia akan menikah dengan almira. Tidak baik memikirkan wanita lain.
Saat ingin tidur dan hendak memejamkan mata, bayangan pemakaman kedua orang tua zhivana terlintas. Beralih pada ingatan dimana saat zhivana buta, gadis itu menunggunya.
Gak apa pa kok, mas kemana aja, aku tadi nungguin mas.
Mas, aku sayang kamu.
Bahkan azwar sangat ingat. Saat mengatakan itu, zhivana sangat malu-malu.
"Astagfirullahal'adzim."
Azwar bangun dari tidurnya, tidak ingin mengingat masa lalu. Buru-buru melangkah ke kamar mandi, berniat ingin berwudhu lalu mengaji untuk kesembuhan arrsyad.
Sementara dirumah sakit. Zhivana tengah duduk dilantai beralaskan sajadah. Diatas bangsal tempat disamping zhivana duduk ada arrsyad tengah terbaring dengan alat bantu bertahan hidup.
__ADS_1
Dada arrsyad terbuka sempurna tanpa ada helai kain yang menutupi, banyak alat rumah sakit yang menempel disana.
Kedua tangan zhivana menengadah keatas untuk berdo'a, memohon kepada sang khaliq agar suaminya sehat kembali. Mata teduh itu sembab, sedari tadi air matanya terus mengalir.
Anak-anaknya sudah dititipkan pada luchia. Berusaha kuat untuk anak-anak, zhivana mencoba mengaji. Melantunkan surah Ar-Rahman, dimana arrsyad menghadiahkannya sebagai mahar.
Sakitnya arrsyad yang mendadak membuat zhivana sangat terkejut. Padahal selama ini arrsyad terlihat baik-baik saja, bagaimana bisa sekalinya arrsyad sakit langsung separah ini.
"Assalamualaikum mas,"
Zhivana berusaha berbicara tepat ditelinga arrsyad, berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh. Dengan suara terbata-bata, zhivana berusaha berbicara kembali.
"Aku ingin melantunkan surah Ar-Rahman. Dengerin ya mas, kamu adalah surgaku."
Dengan hati-hati zhivana memegangi tangan kanan arrsyad. Kedua matanya terpejam, untuk lebih khusu. Surah Ar-Rahman mulai zhivana lantunkan dengan indah, mengalun lembut diruangan arrsyad.
Tidak peduli dengan suaminya yang tidak akan mendengar, zhivana tetap akan bacakan.
Ayat demi ayat sampai ayat terakhir zhivana lantunkan, kedua mata zhivana terbuka kembali dengan perlahan. Berharap saat ia selesai mengaji dan membuka kedua matanya, arrsyad bangun.
Tapi sayang suaminya itu masih setia memejamkan mata, terbujur kaku bahkan terlihat seperti orang mati. Hanya dengan bantuan alat rumah sakit ini arrsyad bisa bertahan hidup.
'
'
__ADS_1
Bersambung