
Bumi pun tahu tentang dua manusia yang saling merindukan dan menatap langit yang sama. Dari aku dan kamu. Zhivana menatap langit malam dari jendela kamar, banyak hamparan bintang diatas sana. Begitu pula dengan arrsyad, pria itu sedari tadi asik menatap langit malam diteras balkon apartemen.
Untuk kesekian kalinya, jarak memisahkan arrsyad dengan zhivana. Entah sampai kapan jarak akan memisahkan keduanya, arrsyad terus mencari zhivana. Tidak mengsia-siakan kekuasaan, kali ini jabatannya sebagai seorang presedir arrsyad manfaatkan, untuk mencari keberadaan zhivana.
Sudah empat bulan berlalu, tapi belum ada titik terang tentang keberadaan zhivana. Arrsyad sempat hendak ingin mati saja, kalau zhivana tidak kunjung ditemukan. Tapi, kewarasannya masih normal. Mana mungkin arrsyad mati konyol, karena putus asa.
Kandungan istrinya, berarti sudah masuk bulan kedelapan. Tinggal satu bulan lagi zhivana akan melahirkan, jujur. Arrsyad sangat ingin menemani zhivana saat melahirkan, masa dia yang buat, malah tidak bertanggung jawab saat hasil benih cintanya lahir.
"Aku ingin kamu merasa sama perihnya denganku. Menahan rindu itu sungguh mengerikan, bukan? Tapi jangan khawatir, aku tidak akan menyerah hanya karena tikaman rindu dan tusukan cinta. Aku ini seorang pejuang tangguh. Dan aku akan menghadang apa pun demi dirimu yang begitu indah."
Arrsyad mengucapkan itu dengan tatapan mata yang sendu, bahkan dari pelupuk mata tajam itu sudah berair. Satu kedip saja arrsyad mengerjapkan matanya, maka air mata itu akan menetes begitu saja.
Berbeda dengan zhivana, wanita yang tengah hamil besar itu tengah tersenyum. Sebentar lagi ia akan melahirkan, momen indah yang sudah lama zhivana nantikan. Zhivana berharap, arrsyad akan cepat menjemput sebelum ia melahirkan.
"Aku akan berhenti mengeluh tentang perbedaan jarak dan waktu, karena aku tahu kamu akan segera kembali untukku."
Tidak terasa empat bulan tanpa arrsyad, sudah zhivana lalui dengan penuh rasa sabar. Sabar terhadap dimana arrsyad akan datang menjemputnya.
Kembali lagi pada arrsyad, pria itu beranjak dari teras balkon. Andre akan datang sebentar lagi untuk mengantar dokumen penting, katanya arrsyad harus mendatangani dokumen tersebut.
Sudah dua hari, arrsyad. Tidak masuk ke kantor, kemarin siang saat selesai mengadakan pertemuan dengan seorang klien. Arrsyad jatuh pingsan, sudah satu bulan ini arrsyad selalu sakit kepala.
Andre yang khawatir selalu mewanti-wanti kondisi fisik arrsyad, diajak kedokter selalu tidak mau. Arrsyad memang keras kepala sekali, obat penahan rasa sakit dari dokter selalu arrsyad konsumsi. Bukannya sembuh justru malah semakin parah, buktinya badan arrsyad semakin hari semakin kurus.
"Ngapain, bengong kayak gitu?" Tanya andre yang baru tiba, karena sudah tau paswoard pintu apartemen arrsyad.
Arrsyad yang tengah duduk disopa, langsung menoleh.
"Kamu, dre."
__ADS_1
Andre menatap arrsyad dengan nanar, kasihan sekali presedir yang arogan ini tengah sakit.
"Ini tanda tangani, cuma satu dokumen."
Arrsyad dengan senang hati menerimanya, lalu mendatangani dokumen tersebut dengan cepat.
"Sakit kepala kamu gimana udah baikkan?"
Arrsyad mengangguk, tapi dua menit kemudian kepalanya berdenyut sakit luar biasa. Andre yang melihat reaksi arrsyad seperti itu langsung panik, hendak ingin menelpon dokter.
"Jangan panggil dokter, tolong ambilkan obat dimeja sana. Cepat!" Titah arrsyad seraya merintih kesakitan.
"Tapi, arrsyad. Sebaiknya kita kedokter saja, aku lihat sakit kepalamu semakin parah."
"Jangan banyak bicara, cepat ambilkan aku obatnya."
Dengan terpaksa andre mengambilkan obat untuk arrsyad.
Dengan segera arrsyad meminum obat itu, baru saja bernapas lega karena sudah meminum obat.
Deg
Jantungnya mendadak berdenyut sakit, seketika itu darah keluar dari kedua hidung arrsyad.
"Arrsyad" Pekik andre terkejut, raut wajahnya sangat khawatir sekaligus panik.
"Tolong ambilkan aku tisu,"
Dengan perasaan khawatir, andre langsung menyerahkan kotak tisu pada arrsyad.
__ADS_1
"Kenapa bisa seperti ini,"
Arrsyad bergumam, seraya mengelap cucuran darah yang keluar cukup banyak dari dalam hidung.
"Sebaiknya kita periksa kondisimu, aku takut kamu kenapa-napa, syad. Apalagi kamu semakin kurus, kalau kamu mau. Sekarang juga aku bisa nyuruh dokter untuk kemari."
"Aku butuh zhivana, bukan dokter. Sudahlah sebaiknya kamu pulang, aku ingin istrirahat dulu."
"Tapi syad, kalau ada apa-apa denganmu bagaimana?"
"Palingan aku bakalan positif."
"Positif? positif apa maksudnya, jangan sampai terjadi kalau kamu benar-benar terkena penyakit serius."
Arrsyad terkekeh geli, melihat raut wajah andre yang sangat mencemaskannya.
"Positif! Di nadiku terdeteksi rindu atas nama zhivana."
"Sialan kamu syad, aku sangat mencemaskanmu tau. Kalau kakak mu tau, aku yakin dia akan menyeretmu masuk kedalam rumah sakit."
"Jangan sampai dia tau, kalau dia bertanya tentangku, jawab saja aku sehat. Hanya positif terkena virus rindu zhivana."
"Liat tuh muka kamu syad, muka pucat begitu sempet-sempatnya kamu gombal."
"Habisnya mau bagaimana lagi, Dadaku sesak oleh rindu yang terus menggerutu karena tak kunjung bertemu."
'
'
__ADS_1
Bersambung