
Siang ini, arrsyad. Terus memeluk tubuh zhivana, tangannya megusap perut zhivana yang masih rata. Sesekali terdengar suara tawa dari keduanya. Pasangan suami istri yang tengah dilanda kebahagiaan ini tak henti-hentinya tersenyum.
"Kira-kira hasil kerja keras aku selama diranjang bakal jadi baby nya berapa."
Ucap arrsyad dengan polosnya, sontak membuat zhivana tertawa geli.
Zhivana mengelus rambut hitam pekat milik arrsyad, posisi keduanya dimana zhivana duduk bersandar dikepala ranjang, sementara arrsyad tidur dipangkuan zhivana.
"Kamu ini, ya mana aku tau. Aku gimana dikasihnya sama Allah."
"Aku mau langsung dapet dua, kembar gitu biar lucu."
"Berdoa saja, semoga Allah mengabulkan kemauan kamu, mas."
Arrsyad tersenyum lalu mengecup perut zhivana.
"Assalamualaikum, bayi kecil yang masih ada diperutnya bunda. Semoga bayi kecil sehat selalu dan menjadi putra atau putri yang sholeh dan shalihah. Semoga didalam sini ada dua bayi kecil." Ucap arrsyad dengan penuh harap.
Zhivana tersenyum senang mendengarnya, rasa bahagia dan haru selalu tak henti-hentinya terasa. Memiliki seorang suami seperti, arrsyad. Yang membuat hidup zhivana terasa sempurna juga sudah sangat bahagia, dan sekarang Allah menambah kebahagiaan itu lagi. Hadirnya buah cinta dalam hidupnya membuat rasa bahagia yang terasa semakin membucah memenuhi rongga dada.
"Mas, aku lapar."
Mendengar istrinya berkata lapar, membuat arrsyad menoleh pada jam dinding. Rupanya sudah waktu makan siang, pasti zhivana sudah sangat lapar, apalagi tadi pagi zhivana hanya makan sedikit.
"Yaudah kita makan dulu, mau makan apa, dek. Biar aku suruh bi yuni yang masak."
"Aku mau makan dirumah makan waktu kamu ajak makan aku diluar, mas. Ikan bakarnya enak."
Arrsyad yang sudah duduk, langsung tersenyum saat mendengar permintaan istrinya. Apa mungkin, zhivana sedang ngidam.
"Dirumah makan itu, ya. Kamu mau banget makan itu."
Zhivana mengangguk.
"Kamu ngidam sayang."
"Gak tau, mas. Tiba-tiba aku ingin makan ikan bakar yang ada dirumah makan itu, ayo mas kita kesana." Ajaknya seraya menarik tangan arrsyad.
Arrsyad terkekeh geli, untuk pertama kalinya zhivana menginginkan sesuatu apalagi ini terlihat sangat ingin sekali untuk dituruti.
"Biar aku aja dek yang belikan, kamu disini aja. Aku gak mau pria diluar sana liat kamu, kamu kan aset cantik punyaku, dek."
Zhivana merasa pipinya memanas, andai dirinya tengah memakai cadar. Mungkin senyuman diwajahnya sudah mengembang.
Aset cantik? Yang benar saja.
__ADS_1
"Gak mau mas, aku maunya makan disana sama kamu."
Kalau sudah begini, mana bisa arrsyad menolak keinginan istrinya. Padahal, arrsyad tidak mau miliknya yang berharga sempat ditatap suka oleh orang lain.
Mudah cemburu, itulah arrsyad. Rasa cemburu itu selalu membuat hatinya melemah, rasa sesak didada yang menyakitkan dirinya sendiri, membuat arrsyad selalu emosi.
"Asal gandengan terus, biar orang lain tau. Bahwa kamu adalah milikku. Dan begitu juga sebaliknya, aku adalah milikmu. Sayang."
Mata teduh menyiratkan rasa cinta yang mendalam itu membuat zhivana tidak berkedip. Kenapa? Kenapa bisa dirinya dapat jodoh setampan ini. Wajahnya sangat mewah. Apalagi kulitnya seputih susu, seolah tak pernah terkena sinar matahari. Wajahnya rupawan, seperti tak pernah merasakan pahitnya kehidupan.
Setiap inci permukaan wajah arrsyad, zhivana. Lihat dengan seksama, padahal tiap hari dirinya lihat. Tapi kenapa kali ini terasa berbeda.
Keduanya saling bertatapan, terpatri dari iris mata itu yang saling mencintai. Detik, menit, jam bahkan hari yang berganti bulan. Rasa cinta itu seperti bertumbuh besar disetiap harinya, ada rasa sayang yang tidak bisa diucapkan lewat kata ataupun untuk sekedar ditulis dalam ribuan bahkan jutaanpun sangat tak cukup. Untuk mengambarkan rasa cinta yang tertanam tulus penuh kasih sayang.
Hati yang penuh dengan debaran keras, terasa mendebarkan. Kali ini terasa berbeda, kesan romantis dalam hubungan memang sangat dibutuhkan. Ucapan manis dan janji palsu saja tak cukup, bukti serta perilakulah yang lebih dianggap tidakkan nyata.
***
Dengan tangan yang saling bergandengan, keduanya sudah sampai disebuah rumah makan sederhana. Ada banyak pengunjung, tentunya karena makanan disini cukup terkenal enak.
"Mas duduk disitu." Tunjuk zhivana pada meja yang dekat kaca yang menyuguhkan pemandangan hamparan pesawahan yang luas.
"Gak boleh, dek. Disana ada om-om, tuh lihat mana disana juga ada dua orang pria."
"Aku maunya disana mas, kan aku ada kamu. Mana mungkin mereka berani."
Zhivana pasrah saja, kalau sudah begini. Takutnya arrsyad marah-marah tidak jelas.
Zhivana sudah memesan ikan bakar dengan porsi yang lengkap, arrsyad. Sangat senang saat melihat makan istrinya dengan sangat lahap.
Selesai makan dan membayar, arrsyad pergi dulu ke minimarket depan sebrang jalan. Zhivana menunggu diparkiran.
Saat zhivana tengah melihat-lihat lingkungan sekitar yang tampak bersih, tiba-tiba mobil sport berwarna merah berhenti tepat dihadapannya. Seorang pria keluar dari dalam mobil itu seraya melepas kaca mata hitam yang bertengger di kedua matanya.
"Assalamualaikum, nona. Apa kamu wanita yang kemarin menolongku."
Zhivan menoleh, lalu mengingat-ngingat kejadian kemarin.
"Ah iya tuan, waalaikumsalam. Maaf saya baru ingat."
"Tidak apa, saya sangat bersyukur bisa bertemu kembali dengan anda, nona."
Zhivana menunduk seraya sedikit menjauh dari pria yang sekarang ada dihadapannya.
adzril tersenyum semringah, hatinya sudah berdebar cepat. Tidak disangka hari ini dirinya akan kembali bertemu dengan wanita bercadar pemilik mata cantik.
__ADS_1
"Apakah, aku jodoh dengannya. Ini pertemuan kedua kalinya, bukannya itu bertanda bahwa aku dengan dia memang untuk dipersatukan."
"Nona, boleh aku minta alamat rumahmu?"
Zhivana mengerjit heran, apalagi hatinya merasa takut. Apa pria ini hendak ingin macam-macam padanya.
"Untuk apa?"
"Aku ingin ketemu ayahmu"
"Ada urusan apa dengan beliau?"
"Untuk melamar kamu."
Deg
Zhivana sangat terkejut mendengarnya, kalau arrsyad mendengarnya berbicara seperti itu, bagaimana.
"Ma-maaf, tuan saya sudah me-"
Baru saja zhivana ingin memberitahu kalau dirinya sudah menikah, tapi perhatian pria itu langsung teralihkan oleh bunyi gawai.
"Maaf nona sepertinya ada yang menelpon."
Tidak butuh waktu lama, adzril kembali menatap zhivana dengan raut wajah kecewa. Dirinya harus hendak pergi keperusahaan kembali.
"Saya harus kembali, nona. Saya berjanji akan menemuimu kembali, meminta jawaban yang tadi saya ucapkan. Saya permisi dulu, assalamualaikum." Ucap adzril seraya berlalu masuk kedalam mobil.
"Eh, tunggu dulu tuan."
Sayangnya mobil adzril sudah pergi, menjauh dari zhivana.
"Dek, kamu ngapain." Tanya arrsyad yang sudah berdiri di samping zhivana.
Melihat istrinya menatap mobil sport merah, yang tidak asing menurutnya. Tapi arrsyad tidak peduli, banyak orang yang memakai mobil dengan model serupa.
"Mas, kamu. Itu tadi"
"Udah ayo pulang, disini panas. Aku takut kamu sakit."
"Tapi mas. Tadi,"
"Sayang, ayo masuk ke dalam mobil, kita langsung pulang."
'
__ADS_1
'
Bersambung