Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 52 : Dukung Kita


__ADS_3

Arrsyad terperanjat kaget, dengan membenarkan posisi duduk dengan kembali tegak, arrsyad mengerjap tak percaya.


"Haha. Anda bercanda." Tertawa sumbang dengan menatap azwar lekat untuk mengetahui apa yang barusan dirinya dengar itu serius apa tidak, sepertinya pria yang duduk dihadapannyan itu memang serius.


Menyunggingkan senyum dengan masih memegangi dadanya yang berdenyut sakit. Ah, entahlah ini sakit karena penyakit yang dirinya derita, apa sakit karena keputusannya sendri. Bodoh rasanya.


"Saya serius. Besok pagi jam 9 tepat datanglah ke mesjid besar pondok pesantren, karena rencananya ijab kabul akan dilakukan disana."


Entahlah, arrsyad bingung dirinya harus bagaimana. Senang atau sedih! Ini terlalu mengejutkan untuk dirinya sendiri.


"Saya tau kamu pasti sangat terkejut, ini memang terlambat karena besok hari pernikahannya. Selama ijab kabul dan kata sah belum terucap bagi saya itu belum terlambat."


Arrsyad memalingkan wajahnya, entah kenapa rasanya sangat tak tega melihat azwar. Pria itu sangat tulus mencintai zhivana, tapi bukannya dirinya juga sama sangat tulus mencintai zhivana. Rasa ingin memiliki tertancap yakin dalam hati.


Menoleh ke azwar, pria itu tersenyum ramah padanya. Sedari tadi tangannya terus memegangi dada, apakah sakit, apakah dia terluka, apa dia berusaha untuk ikhlas dan kuat. Menerka-nerka apa yang pria dihadapannya itu sedang rasakan sekarang membuat hati arrsyad kalut tak menentu.


"Aku tidak sejahat itu"


Bingung, dan entah harus berbicara bagaimana arrsyad hanya bisa mengucapkan kata itu dengan wajah suram.


"Saya mohon arrsyad menikahlah dengan zhivana. Kalian telah berucap janji satu sama lain, hindarilah sifat ingkar! Perbuatan ingkar janji itu sangat dibenci alloh, ingkar janji sama saja dengan sifat munafik. Jadi jauhi sifat keduanya."


"Zhivana bukan barang yang bisa diserahkan dan diambil begitu saja. Saya tidak ingin dengan cara seperti ini."


Azwar tersenyum lalu menatap pria tampan yang ada dihadapannya itu.


"Saya tau itu. Tapi saya akan pastikan kalau zhivana akan menerima pernikahan ini sesuai dengan saya harapkan."


Arrsyad, terdiam dengan menatap azwar datar.


"Saya pamit pulang. Tolong pikirkanlah dengan baik-baik. Saya yakin kamu adalah jodoh yang tepat untuk seorang bidadari seperti zhivana. Assalamualaikum."


Azwar beranjak pergi, arrsyad hanya mengangguk seraya membalas ucapan salam dari azwar. Menatap punggung azwar yang semakin menjauh dan menghilang tepat dipintu keluar.


"Apa yang terjadi barusan, seperti mimpi disiang bolong" Berdecak seraya meneguk kopi hitam pahit itu hingga tandas.

__ADS_1


Mengambil bil pembayaran dan meletakkan uang diatas meja, arrsyad buru-buru keluar untuk mengejar azwar, rasanya ada yang harus disampaikan pada pria itu. Arrsyad melihat kesekeliling luar restoran dan parkiran tapi sayang sosok azwar sudah tidak ada.


Rasanya dia seperti seorang pelakor, perebut calon istri orang lebih tepatnya dia bukan merebut tapi ingin memperjuangkan rasa cintanya.Ck, teringat film ftv yang selalu tayang diindosiar dengan judul suara hati istri, dimana istrinya selalu tersakiti dan menangis tak berdaya. Apakah arrsyad harus mengganti judul film itu dengan suara hati pria, dimana dirinya juga sering tersakiti. Konyol.


***


Rumah Sakit Besar Pelita.


Gea terkejut melihat reno menggendong zhivana yang tak sadarkan diri, dengan rasa khawatir gea berlari menyusul luchia dan reno.


"Kak, zhivana kenapa"


Luchia yang melangkah cepat langsung menoleh pada gea yang sedang mengimbangi langkah kakinya.


"Saat dipemakaman dia pingsan."


Gea mengangguk, dengan penuh rasa khawatir. Harap-harap cemas, semoga sahabatnya itu baik-baik saja.


Reno langsung dibantu para suster untuk membaringkan zhivana dibed hospital, dibawa masuk ke ruang perawatan. Reno dan luchia menunggu diluar dengan perasaan khawatir. Sementara gea, dirinya masuk untuk ikut memeriksa kondisi zhivana.


Beberapa menit telah berlalu, gea wanita bercadar itu keluar. Luchia dan reno langsung berdiri dan menghampiri seraya bertanya pada gea.


Gea menghembuskan napasnya pelan.


"Zhivana dia sepertinya sangat tertekan, kemungkinan dia terkena stres. Entah apa yang dia pikirkan, besok dia menikah seharusnya mempelai wanita diam dirumah dalam keadaan baik-baik saja. Tapi zhivana kondisinya sangat lemah."


Reno mengusap wajahnya gusar, entah kenapa dia jadi bingung begini.


"Yaelah. Batalin ajalah pernikahannya! Malah bagus itu buat arrsyad." Celetuk luchia dengan riang.


Gea dan reno langsung menoleh terkejut pada luchia. Bisa-bisanya luchia berucap dengan entengnya.


"Astagfirullah, kak."


"Buset dah. Ni istri, omongannya" Ucap reno seraya mengeleng-gelengkan kepala.

__ADS_1


"Lahh, kesempatan bagus ini. Bilang aja pernikahannya dibatalin, calon pengantin wanitanya sakit. Gitu doang gampang." Sarannya.


Reno yang semula tidak setuju, kini berubah pikiran. Tersenyum menyerigai seraya menatap istrinya.


"Kesempatan bagus ini. Si arrsyad pasti seneng bukan main."


Gea menepuk jidatnya sendiri. Pusing! Kenapa pasutri yang ada dihadapannya ini malah seenak jidatnya.


"Yaalloh, ada apa dengan mereka berdua." Batin gea.


" Kak, ngebatalin pernikahan itu gak gampang. Masa ini malah seenak jidatnya, seharusnya dibicarakan baik-baik. Apalagi hubungan ustadz azwar dan zhivana itu baik jadi gak ada alasan untuk batal."


"Nah ini nih, kamu malah mihak ke azwar. Jadi gak dukung kita, iya gak mas"


Reno menggangguk setuju.


"Bukan gitu kak, aku cuman kasih saran aja." Tegas gea.


Luchia berdecak sebal, seraya menghembuskan napasnya kasar.


"Gea, dukung kita supaya arrsyad nikah sama zhivana. Merekakan saling mencintai."


"Jadi zhivana dan arrsyad, mereka saling mencintai." Batin gea.


"Jadi mereka saling mencintai" Tanya gea.


Luchia menghela napas seraya menggangguk sebagai jawaban.


"Kok aku gak tau"


"Makannya kamu harus dukung kita" Ucap luchia seraya mengerlingkan sebelah matanya.


"Ehh"


'

__ADS_1


'


Bersambung


__ADS_2