Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 110 : Keputusan


__ADS_3

Kebahagiaan itu saat melihat orang yang kita sayang tersenyum bahagia. Rasa syukur karena telah bertemu dengan bidadari seperti zhivana.


Kebahagiaan wanita itu lebih penting bagi azwar. Berjanji dihadapan kedua makan orang tua zhivana, bahwa dirinya akan selalu melindungi dan membuat zhivana bahagia.


Janji itu dihari ini juga akan azwar buktikan. Tidak peduli jika nyawa taruhannya. Selama ini zhivana sudah hidup menderita, kehilangan kedua orangtua nya secara bersamaan, bahkan cahaya hidupnya sirna. Saat dokter mengatakan zhivana buta.


Menangis di kegelapan yang amat sangat gelap, tanpa bisa melihat cahaya setitik pun. Berjalan dengan penuh semangat hidup yang tersisa.


Zhivana selalu berusaha tegar dan kuat demi tidak terlihat rapuh.


Azwar merasa penderitaan zhivana sangat besar. Wanita itu tetap saja selalu sabar. Sikap zhivana yang berbeda dari wanita lain, membuat azwar jatuh cinta.


Bukan karena fisik atau ketertarikan semata. Tapi azwar telah jatuh cinta karena akhlak sholehah zhivana.


Perempuan tangguh dengan segudang frestasi dan ilmu agama yang luas. Zhivana memiliki pesona yang menarik, sangat sejuk dipandang.


Beruntung sekali rasanya pernah disayangi oleh zhivana. Tapi kini ada almira, gadis manis itu sebentar lagi akan menjadi istrinya.


Mengingat keputusan yang telah azwar putuskan, apakah pernikahan itu akan terjadi? Sekarang kematiannya terasa didepan mata.


Langkah azwar berhenti di depan ruangan, dimana arrsyad tidak sadarkan diri. Mengintip didepan jendela, kedua mata azwar menatap tubuh arrsyad yang terbaring lemah.


Berkat alat bantu rumah sakit arrsyad masih bisa bertahan hidup. Merasa kasihan melihat arrsyad terlalu lama, azwar. Menundukkan kepalanya.


Rasa sedih yang membelenggu didalam hati, mencoba menguatkan diri agar arrsyad sembuh. Sekarang azwar seperti akan menyerahkan diri pada malaikat maut.


"Permisi. Apa anda keluarga pasien?"

__ADS_1


Seorang suster muda bertanya. Kedua tangannya memegangi kantung darah.


"Bukan. Saya adalah pendonor jantung untuk pasien yang didalam sana."


Setelah melewati beberapa prosedur yang ada dirumah sakit ini, azwar sudah siap melakukan operasi. Setelah jantungnya diangkat, maka ia akan mati.


"Saya mohon pada anda dok, jangan beritahu bahwa saya yang telah mendonorkan jantungnya."


"Saya sangat ikhlas. Ini dari hamba allah untuk sodara arrsyad."


Permintaan terakhir azwar hanya itu. Kalimat takbir selalu azwar lantunkan didalam hati. Setelah ini dia tidak akan bangun lagi.


Sebelum merelakan jantungnya untuk arrsyad, Azwar. Menemui dulu almira, gadis itu menangis saat ia memberitahu akan keputusannya.


"Kumohon jangan! Aku mencintaimu mas."


"Maafkan aku almira, aku juga sangat mencintaimu! Ku do'akan semoga kamu mendapatkan jodoh yang baik."


Setelah bicara seperti itu azwar segera pergi, meninggalkan almira yang menangis seraya memanggil namanya.


Perih dan sakit itu yang azwar rasakan. Tidak sanggup melihat kebelakang, disana ada wanita yang dicintainya sedang menangis.


Lelehan butiran bening itu menetes kesamping, membasahi bantal. Dokter yang hendak ingin membius azwar jadi bingung melihat pasiennya menangis.


"Kenapa anda menangis?"


Azwar menghapus air matanya, berusaha tersenyum agar terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


"Saya merasa damai sekali, jadinya saya menangis."


Dokter itu mengangguk lalu mulai menyuntikan obat bius, perlahan kesadaran azwar mulai hilang.


Saat hendak ingin melakukan tidakan selanjutnya, pintu ruang operasi terbuka cukup keras. Dokter dan suster yang diruangan itu langsung menoleh.


"Tolong hentikan!"


Teriakan zhivana mampu membut orang yang ada disana terdiam dengan penuh tanya.


Ada almira dibelakang zhivana, wanita itu terlihat habis menangis. Terlihat dari kedua matanya yang sembab.


"Tolong keluarlah! Anda menganggu kerja kami."


Zhivana dan almira langsung masuk, tidak peduli dengan ucapan suster. Mendekati bangsal dimana azwar sudah tidak sadarkan diri. Almira mulai menangis kembali, perasaan takut kehilangan sekaligus rasa lega karena mereka tidak datang terlambat.


"Bukannya anda istri dari pasien yang membutuhkan donor! Seharunya anda senang karena ada pendonor jantung."


Dokter itu menatap zhivana dengan bingung, lalu melepaskan sarung tangan yang tadi hendak dipakai.


"Seharusnya begitu. Tapi mana bisa, jika seorang pendonor jantungnya adalah orang terdekat. Saya tidak rela."


Zhivana menatap almira yang masih menangis. Tadi gadis itu datang menemuinya seraya menangis, memberitahu rencana azwar yang akan mendonorkan jantungnya untuk arrsyad.


'


'

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2