
Pagipun tiba, usai. melaksanakan shalat shubuh zhivana langsung didandani oleh tukang salon ternama. Tentunya itu kemauan dari luchia. Dari mulai gaun pernikahan hingga rias merias semua luchia yang atur.
"Rias dia dengan cantik. Jangan lupa jurus andalan make up kalian keluarkan. Saya bayar mahal loh" Titah luchia, dengan sedikit heboh.
"Baik mbak" Jawab dua wanita tukang salon itu serempak.
Zhivana hanya mengeleng-geleng kepala, tidak disangka luchia akan seantusias ini.
"Jangan menor ya mbak, yang natural aja"
"Iya mbak, ini mah udah cantik alami. Dipoles dikit aja, mbak nya udah bakalan cantik banget." Komentar wanita berambut pendek, dengan tangan sibuk memakaikan bedak pada permukaan wajah zhivana.
***
Reno dan arrsyad baru saja tiba di kediaman kiai husen, tentunya dengan perasaan tegang, takut-takut rencana azwar akan dibantah habis-habisan oleh kiai husen.
Setelah memarkirkan mobil, reno langsung menyusul arrsyad yang turun duluan, karena azwar telah menunggu di depan rumah.
"Syukur kalian udah dateng, mari masuk ke dalam." Ajak azwar terlihat antusias.
Reno dan arrsyad saling lirik, apa azwar serius dengan keputusannya.
"Ustadz azwar serius." Tanya arrsyad takut-takut nanti azwar malah mempermainkannya. Mana hapalan ijab kabul membuat arrsyad semalam susah tidur karena terus menghapal.
"Tentu, ayo ini udah siang"
"Baiklah" Sahut reno seraya menarik tangan arrsyad.
Kiai husen yang sedang memakai sorban dengan dibantu oleh umi aisyah, langsung menoleh pada dua sosok pria jangkung yang baginya sudah tidak asing lagi.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Rupanya ada tamu. Apa mereka temanmu, nak?" Tanya umi aisyah.
"Iya, umi."
Kiai husen mendekat ke reno dan arrsyad.
"Apa kalian pemuda yang waktu itu dipemakaman alm. rama, sahabat saya?" Tanyanya.
Reno dan arrsyad langsung salam, mencium punggung tangan kiai husen.
"Iya, saya reno dan ini adik saya arrsyad." Sial. Kenapa aku jadi. teringat perkenalan film upin dan ipin sih.
"Abi, aku mau bicara hal serius! Maaf, mungkin aku akan membuat kalian kecewa." Ucap azwar tiba-tiba.
Umi aisyah mendekat seraya menatap putra sulungnya dengan lekat.
__ADS_1
"Ada apa nak, kamu gak mungkin ngecewain umi sama abimu kan."
Azwar menatap umi dan abinya secara bergantian, menghembuskan napasnya kasar. Rasanya tidak tega juga, tapi mau bagaimana lagi. Cepat atau lambat keluarganya juga pasti tau yang sebenarnya.
"Yang akan menikahi zhivana bukan aku, tapi arrsyadlah yang akan menikahinya." Tegas azwar dengan menunjuk pada arrsyad.
"Astagfirullahal'adzim. Kamu bicara apa azwar?" Ucap kiai husen setengah terkejut.
Umi aisyah langsung memegang tangan azwar, mengguncang nya seraya menatap tak percaya.
"Nak, kamu ini bicara apa. Tentu saja yang akan menikah dengan zhivana itu kamu." Suaranya terdengar bergetar, seperti menahan tangis.
"Tidak. Maaf, maafkan aku abi! Hari ini aku akan mengecewakanmu dan juga umi. Aku sendiri yang menginginkan ini, aku ikhlas kalau arrsyad yang menikah dengan zhivana. Aku tidak bisa membuat zhivana bahagia! Aku tidak ingin membuat zhivana bersedih karena aku."
Belum azwar menyelesaikan bicaranya, sang umi yang berbicaranya setengah teriak membuat azwar menoleh.
"Bicara apa kamu?" Bentaknya dengan nada tinggi.
"Maafkan putramu ini umi, hari ini aku menginginkan arrsyad dengan zhivana menikah langsung dihadapanku. Anggap saja ini permintaan terakhirku." Ucapnya yang semakin lirih.
Umi aisyah langsung menangkup kedua pipi azwar, agar melihat padanya.
"Permintaan terakhir apa. Nak, hari ini kamu akan menikah! Kamu bicara apa azwar. Umi sendiri yang akan membantumu bersiap, ayo nak kita siap-siap sekarang" Ajaknya dengan beruraian air mata.
Azwar memegang kedua tangan wanita yang paling berharga dalam hidupnya. Selama ini uminya tidak pernah menangis karena ulah dirinya, tapi sekarang ia yakin uminya akan sangat bersedih.
"Aku diponis punya penyakit ka-kanker darah, umi" Ucapnya dengan tercekat.
Buru-buru azwar menoleh pada sang adik yang terlihat terkejut.
Fazal berlari mendekat pada sang kakak.
"Berarti selama ini kecurigaanku benar kak? Aku pernah liat kakak selalu minum obat dengan cara sembunyi-sembunyi. Aku pernah mengikuti kakak pergi kerumah sakit dan masuk ke dalam ruangan khusus orang yang punya penyakit kanker. Kak katakan ini semua bohongkan? aku tidak ingin kehilangan kakak" Ucap fazal dengan memelas.
Umi aisyah mengeleng kuat, seraya menyeka air matanya.
"Tidak. Tidak mungkin azwar punya penyakit seperti itu. Nak, kamu bohongkan! Hiks kamu ini fazal, tidak mungkin kakakmu punya penyakit kanker" Sangkalnya dengan berlinang air mata.
Azwar memejamkan kedua matanya. Mau tidak mau dirinya harus menceritakan semuanya.
"Iya aku punya penyakit kanker darah. Ini sudah lama terjadi, tapi tak apa aku baik-baik saja kok"
"Tidak mungkin." Bentaknya dengan memeluk azwar erat.
Seketika itu uminya menangis histeris. Azwar mendekap tubuh uminya erat, rasanya sangat sakit melihat sosok ibu yang telah melahirkan kita menangis pilu seperti ini. Seperti hati yang terkena sayatan belati tajam yang menusuk, ini teramat sangat sakit.
"Azwar, kamu tidak sedang berbohong kan, nak." Tanya kiai husen yang sedari tadi hanya diam menyimak.
Azwar mengeleng, seraya memeluk uminya. Azwar menceritakan semuanya dari awal dirinya mengetahui punya penyakit kanker darah, menjalani kemoterapi dan pengobatan yang selama ini dirinya jalani hingga memutuskan arrsyad untuk menggantikannya sebagai orang yang akan menikahi zhivana.
__ADS_1
"Kenapa kamu menyembunyikan ini semua dari kami?" Ucap kiai husen seraya mendekati azwar. Memeluk putra sulungnya yang selama ini terlihat baik-baik saja, tapi ternyata tidak. Azwar lebih memilih diam dan menahan rasa sakit itu sendirian.
"Maaf" Ucapnya dengan lirih.
Haru biru yang menyisakan kesedihan, tentang sebuah kebenaran yang menyakitkan harus diterima dengan ikhlas serta sabar. Ini sudah terjadi musibah tidak ada yang tau begitu pula dengan azwar. Dirinya juga tidak akan menyangka akan diponis sebagai orang yang menderita penyakit kanker darah.
Reno dan arrsyad yang menyaksikan kesedihan yang keluarga itu rasakan ikut hanyut dan merasa sedih. Tak tega juga dengan azwar, selama ini pria itu berjuang bertahan hidup sendirian. Sungguh luar biasa.
Fazal ikut memeluk azwar, tidak menyangka juga sang kakak yang terlihat sehat ternyata sakit parah.
Peluk memeluk sudah terlepas berakhir dengan rencana kiai husen yang akan membawa azwar pergi berobat ke singapura. Umi aisyah masih setia menangis, beruraian dengan deras. Lama-lama azwar makin tak tega.
"Umi jangan nangis" Ucapnya seraya menyeka air mata umi aisyah.
"Kamu sakit nak, umi tidak tah, maafkan umi" Ucap umi aisyah ditengah isak tangis.
Mereka semua duduk disopa ruang tamu, membicarakan soal pernikahan, awalnya umi aisyah dan kiai husen tidak setuju dengan keputusan azwar, tapi segala bujuk rayu azwar ucapkan hingga dengan berat hati umi aisyah dan kiai husen menyetujuinya.
"Tapi bagaimana dengan zhivana?" Tanya kiai husen.
"Dia belum tau, tapi kak luchia yang akan menjelaskannya. Aku sudah mengirim surat. Dan kak luchia sendiri yang akan memberikannya pada zhivana"
"Nak arrsyad, kami titip zhivana. Jaga dia dengan baik, didik dia agar menjadi wanita dan istri yang sholehah. Saya yakin zhivana akan bahagia dengan kamu." Ucap kiai husen.
"Tentu. Saya akan menjaga, melindungi, dan membingbing zhivana dengan baik." Tegas arrsyad dengan tersenyum yakin.
Reno menepuk pundak arrsyad, rasanya sangat lega. Karena diending drama yang menguras air mata tadi, membuahkan hasil yang diinginkan.
" Sekarang bersiaplah arrsyad. Waktu ijab kabul akan segera dimulai. Saya yang akan menjadi wali zhivana, karena sebelumnya alm. rama. Sempat mengamanahkannya." Ucap kiai husen dengan tersenyum hangat.
"Zhivana percayalah, aku sangat mencintaimu! Tapi maaf bukannya aku tidak bertanggung jawab atas pernikahan ini. Tapi, aku tak mau kau bersedih menangisiku. Sekarang aku hanya bisa pasrah dan menyerahkannya kepada sang khaliq." Batin azwar.
***
Setelah mendengarkan penjelasan dari luchia perihal azwar dan arrsyad, zhivana terkejut bukan main. Rasanya sangat tidak mungkin. Tapi dengan surat yang dirinya terima dari azwar membuat zhivana menangis tersendu-sendu.
"Jangan nangis nanti make up nya luntur." Ucap luchia yang sedari tadi menenangkan zhivana.
"Tapi kak"
"Sstt, jangan bicara lipstiknya belepotan, duh ini bulu matanya takut jatuh. Eh kalian cepet rapihin kembali."
Titahnya dengan heboh pada dua orang wanita yang sedang merapikan gaun pengantin zhivana.
"Eh, iya mbak."
'
'
__ADS_1
Bersambung