Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 60 : Imannya Kuat Juga


__ADS_3

Amerika Serikat.


Pesawat yang ditumpangi arrsyad sudah mendarat. Adzril yang mengetahui kembalinya arrsyad langsung berniat untuk menjemput.


Retina mata adzril menangkap sosok arrsyad, menyipitkan kedua matanya untuk memastikan bahwa dia tidak salah liat. Ternyata benar itu arrsyad.


"Arrsyad" Teriak adzril seraya berlari menghampiri arrsyad.


Arrsyad menoleh lalu berpelukan ala sahabat dengan adzril.


"Gimana kabar, kamu?" Tanya arrsyad.


"Fine. Pengantin baru nih. Haha" Godanya dengan tertawa.


Arrsyad mendengus kesal.


"Oh iya, aku masih gak percaya dengan kabar kematiannya seina. Dia minum racun?"


Arrsyad mengangguk.


"Kasian banget. Hiyyy tragis banget ya kematiannya. Cantik-cantik matinya tragis" Ucap adzril bergidik ngeri.


"Gak boleh gitu. Lagi pula itu kecelakaan. Udah jangan dibahas."


Keduanya pun berjalan bersama menuju parkiran, menaiki mobil adzril, menuju apartemen.


Sepanjang perjalanan menuju apartemen, arrsyad melihat foto zhivana yang tidak memakai cadar. Foto itu diambil saat sarapan pagi tadi dimana dirinya mengambil foto secara diam-diam.


Baru beberapa jam yang lalu kita berpisah, dek. Tapi aku udah rindu banget. Mana satu tahun masih lama. Keluhnya dalam hati.


***


Dikamar Milik Arrsyad.


"Mama sama papanya arrsyad cantik dan tampan. Aku inget waktu masih kecil mereka selalu datang berkunjung ke rumah." Ucap zhivana yang sedang melihat album foto keluarga milik arrsyad.


Album foto yang lumayan tebal. Halaman demi halaman zhivana sudah lihat. Mata hazelnya menangkap foto sosok pria kecil yang sedang memangku dagunya. Pria kecil itu memakai jaket hitam panjang dengan gaya rambut berponi.


"Sangat manis"


Zhivana mengambil foto itu, lalu mengamatinya dengan seksama.

__ADS_1


"Ini foto arrsyad waktu kecil. Aku sangat beruntung sekaligus bersyukur. Karena alloh telah menjodohkan aku dengan pria baik dan sholeh seperti dia. Dan bonusnya bahwa suamiku itu sangat tampan" Ucap zhivana dengan tersenyum-tersenyum.


Suara benda pipih kecil miliknya berbunyi. Zhivana menyimpan album dan foto arrsyad diatas kasur. Dengan buru-buru zhivana melihat ponselnya ternyata pesan singkat dari arrsyad.


Zhivana terkekeh geli. Sejak kapan nama kontak arrsyad berubah nama. Pasti ulah arrsyad ini mah. "My Husband"


"Assalamualaikum, dek. Kamu lagi apa? Oh ya, ini mas udah sampai diapartemen."


Zhivana mulai mengetik, suaminya itu sedang online.


"Waalaikumsalam, syukurlah kalau kamu udah sampai. Aku lagi liat foto album milik kamu mas."


Pesan dari zhivana langsung terbaca. Terlihat arrsyad sedang mengetik.


"Kamu tidur dikamar milik aku kan, dek?"


"Iya, mas"


"Kamar itu udah jadi milik kita berdua. Padahal kita belum malam pertama ya dek? Masa udah pisah kayak gini."


"Apaan sih"


Zhivana merasa pipinya memanas. Arrsyad itu emang benar-benar ya! Zhivana tersenyum lalu membenamkan wajahnya diatas bantal. Padahal arrsyad jauh kenapa jantungnya kembali berdetak cepat.


Sementara disebrang sana, arrsyad terkekeh geli dengan pesannya sendiri. Pasti zhivana mengira dirinya mesum.


Aksi balas membalas pesanpun berlanjut sampai zhivana ketiduran.


***


Setelah shalat shubuh dan membantu luchia membuat sarapan, zhivana kembali naik ke lantai dua. Duduk dibalkon kamar suaminya ternyata sangat sejuk dan nyaman.


Memperlihatkan pemandangan taman belakang rumah. Zhivana berdecak kagum! Benar-benar kaya raya keluarga suaminya ini.


Zhivana tidak pernah menyangka kalau jodohnya ternyata arrsyad. Apalagi arrsyad dari kalangan orang kaya raya.


Suara ketukan pintu serta teriakan luchia dari luar pintu kamar sangat menggelegar. Zhivana membukakan pintu ternyata kakak iparnya itu membawakan dua potong roti degan selai coklat, serta satu gelas susu hangat.


Luchia menerobos masuk, nampan yang diatasnya sarapan untuk zhivana ditaruh diatas meja.


"Kamu ini ya. Kenapa gak ikut sarapan?" Ucapnya seraya berkacak pinggang.

__ADS_1


Zhivana tersenyum lalu mengajak luchia duduk diteras balkon, luchia mengekor dari belakang.


"Aku belum lapar kak." Ucap zhivana dengan mendudukan dirinya dikursi. Diikuti oleh luchia.


"Tapi tetep aja zhi kamu harus sarapan. Ayo sarapan, tuh aku udah bawain." Titahnya


"Sebentar lagi deh kak"


Luchia mengangguk.


"Kamu kangen gak sama arrsyad?" Tanya luchia


Zhivana menoleh menatap luchia, keduanya saling melempar senyuman.


"Iya kak, apalagi arrsyad orangnya baik" Ucapnya malu-malu.


"Aku gak nyangka banget tau zhi! Ternyata arrsyad kalau lagi bucin parah banget ya! Cium kamu sana sini depan umum aja dia mah main sosor. Reno aja gak kaya gitu tau dan bla bla bla." Cerocos luchia panjang lebar.


Zhivana manggut-manggut untuk sekedar menanggapi ocehan sang kakak ipar.


"Kamu udah diapain aja zhi sama arrsyad?" Tanya luchia tiba-tiba. Wajahnya terlihat sangat antusias.


Zhivana mulai teringat kejadian tadi pagi dimana arrsyad mencium bibirnya tiba-tiba. Rasanya sangat mendebarkan.


"Ehh, anu itu kak. Emm belum." Ucap zhivana dengan terbata.


"Hah. Serius kamu, tuh anak imannya kuat juga ya"


Zhivana membuang muka untuk menatap ke arah lain. Ada-ada saja kakak iparnya ini! Zhivana jadi malu sendiri.


***


Foto Arrsyad Kecil.



'


'


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2