Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 68 : Andre


__ADS_3

Setelah rapat yang dilaksanakan selama dua jam, arrsyad langsung pergi keluar kantor. Siang ini, andre mengajak dirinya makan siang bersama. Ada hal penting yang ingin dikatakan, katanya.


Restoran mewah ala kaum elit, tempat dimana andre mengajak arrsyad bertemu. Setibanya disana, arrsyad melihat andre sudah duduk dimeja pojokkan.


"Assalamualaikum, dre." Ucap arrsyad seraya duduk dikursi.


"Waalaikumsalam."


Arrsyad mencomot kentang goreng milik andre, mengunyahnya seraya bertanya.


"Mau bicara apaan, dre."


Andre menunduk sedih. lalu menghela napas panjang.


Bercerita mengenai ayahnya yang ketahuan korupsi diperusahaan, membuat ayah andre harus dipenjarakan selama lima tahun. Ibunya masuk rumah sakit karena serangan jantung.


Andre yang selama ini menjalankan bisnisnya dibar, mengakui salah. Pekerjaannya itu tidak baik, mengingat banyak wanita yang sering menjual tubuhnya disana hanya untuk mendapatkan uang.


Selama ini pekerjaannya tidak halal. Sungguh sangat berdosa sekali andre sekarang. Dengan perekonomiannya yang sulit, andre menjual bar itu tanpa menerima uang hasil penjualan sedikitpun. Disumbangkan katanya.


"Aku butuh uang buat bayar rumah sakit, ibu aku. Mana obatnya juga harus dibayar." Keluh andre.


Kedua matanya sudah memerah, seperti hendak ingin menangis tapi masih tertahan.


"Aku turut prihatin atas musibah yang menimpa kamu sekarang. Ibu kamu dirawat di rumah sakit mana."


"Dirumah sakit pelita."


Kasihan juga andre, arrsyad sangat tak tega melihatnya. Baru saja semalam dirinya yang mengadu bersedih karena melihat zhivana berpelukan dengan azwar. Sekarang malah andre padanya dengan masalah yang lebih besar.


"Biaya rumah sakit ibu kamu biar aku yang tanggung sampai ibu kamu sembuh."

__ADS_1


Andre menatap arrsyad tak percaya.


"Tidak, aku gak mau kamu kasih uang ke aku secara cuma-cuma. Aku Pinjem aja, nanti kalau udah dapet kerjaan aku cicil bayarnya."


"Aku tulus bantu kamu, dre. Selama ini juga, kamu sering bantu aku."


Andre mengelengkan kepalanya tak setuju.


"Aku tau itu. Tapi aku gak enak aja sama kamu, apalagi sekarang kamu udah berumah tangga, punya tanggung jawab menghidupi kebutuhan istri kamu. Aku gak enak sama kak zhivana nantinya."


"Kamu tau sendiri zhivana orangnya gimana, dia sederhana banget. Dari 100% gaji aku dia cuma ambil 20% itu juga buat kebutuhan kita berdua sama kebutuhan bulanan. Dia gak suka hidup mewah, toh. Uang hasil kerja aku kebanyakan ditabung sama disedakahin, apalagi zhivana selalu suruh aku buat sumbangin sebagian gaji aku ke panti asuhan sama panti jompo."


Mengingat zhivana, membuat arrsyad tersenyum-tersenyum. Benar-benar baik sekali istrinya itu. Arrsyad yang beberapa minggu lalu ingin membeli rumah besar untuk keluarga yang akan dirinya bangun dengan zhivana. Tapi, malah dilarang oleh zhivana.


Sayang uangnya lebih baik ditabung buat anak-anaknya nanti. Zhivana juga bilang sebagian dari rezeki kita ada rezeki orang lain juga disana yang lebih membutuhkan. Maka sebagian hasil kerja keras dirinya sering disedakahin kepada mereka yang lebih membutuhkan.


Sudah berbagai tempat arrsyad menjadi seorang donatur, untuk beberapa panti asuhan dan panti jompo.


Arrsyad tertawa, lalu tersenyum bangga seraya melipat tangannya di depan dada.


"Tapi dapetin dia itu gak gampang. Banyak berkorban perasaanlah pokoknya, berjuang sendirian, patah hati sendirian. Serba sendirian, apalagi kalau rindu. Beuhhh, berat pokoknya."


Andre yang mendengarnya langsung tertawa-tawa.


"Berarti bener juga tuh kata si dilan, rindu itu berat."


Keduanya langsung tertawa-tawa, sejenak melupakan segala masalah yang sedang andre hadapi.


"Yaudah, kalau gitu aku kasih Pinjem kamu uang. Bilang aja kamu butuh berapa nanti aku langsung transfer. Pokoknya jangan sungkan, soal bayarnya tenang aja. Malah aku berharap banget kalau kamu gak bayar."


"Terimakasih syad. Tapi, tetap saja aku akan bayar. Aku mau lagi nyari kerja dulu."

__ADS_1


"Kerja jadi sekretaris aku aja." Usul arrsyad.


"Bukannya kamu udah punya sekretaris."


Arrsyad mengangguk.


"Tuh sekretaris centil banget aku gak suka sebenarnya. Mana tiap hari pake baju kurang bahan lagi, mataku suka sakit liatnya. Nanti aku pindahin dia kebagian keuangan aja, dan kamu jadi sekretaris aku mulai besok."


"Hah. Serius kamu? Tanpa ada test atau lamaran kerja dulu."


"Gak usah, aku percaya sama kamu. Lagi pula pendidikan kamu bagus."


Andre tersenyum bahagia. Mengucapkan banyak terimakasih pada arrsyad. Sungguh sangat beruntung sekali memiliki seorang sahabat seperti arrsyad.


"Aku juga mau tobat. Mau berubah jadi lebih baik lagi, mulai sekarang aku ingin jadi pria sholeh yang taat pada perintahnya alloh."


Arrsyad tersenyum senang mendengarnya.


"Hijrah dulu, istqomah kemudian. Memang berat tapi coba saja dulu. Toh, nanti jika sudah merasakan pasti ketagihan."


"Apa seorang pria sepertiku yang masa lalunya buruk dan berlumuran dosa berhak berhijrah."


"Tentu saja. Siapa pun kita di masa lalu bukan berarti kita tidak berhak menjadi muslim atau muslimah yang lebih baik berhijrahlah, berubahlah, walau sejengkal demi sejengkal jangan tunggu hari esok."


Andre tersenyum.


"Bismillahirohmannirohim. Yaalloh hamba berniat menjadi seorang pemuda muslim yang bertakwa karenamu. Hamba juga sangat berharap, engkau mendatangkan seorang wanita sholehah yang akan menyempurnakan ibadahku." Batin andre.


'


'

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2