Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 73 : Lift


__ADS_3

Permintaan aneh arrsyad telah dipenuhi, malah saat arrsyad tengah menikmati mangga muda nya, luchia yang tengah hamil tujuh bulan itu ikut menikmati.


"Tumben kamu makan beginian, biasanya orang ngidam yang makan mangga muda. Mana ini pake sambal pedes banget." Ucap luchia seraya mengunyah tiap potongan mangga.


Arrsyad pria itu tidak menggubris sedikitpun, terlihat dirinya tengah menikmati keinginannya yang membuat semua orang terheran-heran.


Luchia mendesah berat, hari ini tingkah arrsyad sangat aneh. Handpone yang sedari tadi luchia pegang berbunyi, ternyata pesan singkat dari reno.


"Sayang, cepat suruh arrsyad keperusahaannya sekarang. Ada client penting yang akan datang dari amerika."


Luchia menatap arrsyad yang wajahnya masih pucat, sebenarnya arrsyad sakit apa sih? Masuk angin bukan, tapi malah mau makan mangga muda.


"Arrsyad, kata mas reno kamu harus keperusahaan sekarang. Ada client dari amerika."


Arrsyad menatap luchia, dengan mulut asik mengunyah.


"Harus sekarang? Kenapa kak reno yang kasih tau bukan sekretarisku." Ucap arrsyad dengan dahi berkerut.


Luchia mengangkat bahunya tak tahu.


Setelah itu arrsyad langsung berlalu untuk segera bersiap, arrsyad. Yang baru masuk kamar langsung mendapati istrinya yang baru selesai mandi.


"Sayang aku mandi dulu, mas mau ke kantor." Ucap arrsyad seraya mengambil handuk putih yang tergantung.


"Tapi mas kamu sedang tidak enak badan, lagi pula. Bukannya kamu udah bilang gak mau kerja." Tanya zhivana bingung.


Arrsyad yang hendak masuk kedalam kamar mandi langsung berhenti, lalu menatap zhivana dengan tatapan hangat.


"Tadinya begitu, tapi ada client penting yang akan datang jadi mas harus kekantor."

__ADS_1


Zhivana diam, terlihat dirinya sangat mencemaskan kondisi arrsyad. Bahkan terlihat wajah suaminya itu masih sangat pucat.


Arrsyad yang tau zhivana sangat mencemaskannya langsung mendekati zhivana. Memeluk zhivana seraya mengecup keningnya.


"Mas baik-baik aja kok, dek. Kalau gitu kamu ikut mas aja kekantor. Kamu kan belum pernah kesana."


Zhivana mendonggak untuk menatap wajah arrsyad.


"Tapi mas"


"Udah kamu ikut, nanti sekalian makan siang bersama disana. Mas mandi dulu." Ucap arrsyad lalu berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Setengah jam arrsyad dan zhivana bersiap, keduanya sudah rapi dan siap berangkat. Tak lupa zhivana pamit dulu ke luchia. Arrsyad yang biasanya selalu diantar oleh supir, sekarang memilih menyetir sendiri. Tentunya karena ingin berduaan dengan zhivana.


Hanya menempuh waktu dua puluh menit untuk sampai kekantor, kini keduanya telah tiba. Mobil arrsyad berhenti tepat di depan gedung besar pencakar langit, perusahaan keluarga arrsyad yang dibangun Alm. Ayahnya semakin berkembang pesat, apalagi dengan harga sahamnya yang bukan main. Perusahaan yang bernama Molvis Grup.


Kedua bodyguart berjas hitam rapi langsung membukakan pintu untuk arrsyad dan zhivana. Keduanya turun bersamaan, semua para karyawan langsung menatap kearah sang presidir muda yang tampan bak oppa korea, tak lepas dari sana semua langsung menatap juga pada sosok wanita bercadar yang berjalan disamping presedir apalagi keduanya saling bergandengan.


Semua para karyawan yang sudah berjajar rapi langsung mengbungkuk ketika arrsyad dan zhivana melewati mereka. Sebenarnya zhivana sangat risih saat semua karyawan menatap kearahnya, apalagi arrsyad melingkarkan tangan kirinya dipinggang, membuat zhivana semakin tak nyaman dan malu.


Ternyata mengumbar kemesraan ditempat umum sangat malu, meski dengan suami sendiri juga tetap saja malu.


Arrsyad tersenyum kecil, saat melihat zhivana menunduk malu, istrinya itu memang benar-benar pemalu. Dengan sengaja arrsyad mempererat pelukan nya pada pinggang zhivana, tubuh keduanya semakin menempel.


Zhivana hendak ingin melepaskan tangan arrsyad agar menjauh dari tubuhnya, tapi arrsyad malah berbisik sesuatu.


"Jangan dilepas, atau aku cium kamu disini." Bisiknya dengan penuh ancaman.


Zhivana yang mendengarnya langsung memberenggut takut sekaligus kesal.

__ADS_1


Keduanya langsung masuk ke dalam lift. Saat pintu lift tertutup, zhivana. Langsung menjauh dari arrsyad.


"Mas aku malu." Ujarnya seraya menunduk.


Arrsyad terkekeh, istrinya itu sangat menggemaskan sekali.


"Mas" Pekik zhivana yang kesal, suaminya itu malah tersenyum seperti itu.


Arrsyad mendorong tubuh zhivana hingga tersudut ke tembok lift, kedua tangannya mengunci tubuh zhivana kanan dan kiri.


"Ma-mas, kamu mau ngapain." Zhivana menatap arrsyad dengan takut, perasaannya sudah was-was. Bagaimana pintu liatnya terbuka, bisa-bisa orang melihat.


Suaminya itu malah menatap zhivana, membuatnya salah tingkah.


"Mas" Ucap zhivana seraya mendorong tubuh arrsyad agar menjauh.


Bukannya menjauh arrsyad makin mendekatkan wajahnya, mengikis jarak sampai hembusan napas suaminya menerpa zhivana. Dengan sekali tarik kain cadar zhivana sudah terlepas.


Bagaimana ini, zhivana sudah gugup setengah mati. Apalagi hatinya sudah berdebar cepat, pikirannya terus memikirkan takut pintu lift terbuka mendadak.


Mau nolak dosa, mau nerima takut ketahuan. Zhivana sudah memejamkan kedua matanya, siap menerima apa yang arrsyad akan lakukan.


Dan benar saja ciuman lembut zhivana dapatkan, tangannya sudah mencengkeram jas arrsyad dengan kuat.


"Aku sayang kamu." Ucap arrsyad dengan parau ditengah aktivitas ciumannya.


"Aku juga sayang sama kamu mas, tapi tolong. Lepaskan aku." Batin zhivana.


'

__ADS_1


'


Bersambung


__ADS_2