
Masih dengan arrsyad yang masih menemani setiap langkah zhivana. Arrsyad sudah sangat takut sekali kalau istrinya kenapa-napa. Terlihat wajah zhivana meringis menahan rasa sakit, peluh keringat yang bercucuran dipelipis terlihat jelas basah.
"Mas," Zhivana memanggil arrsyad dengan sendu, terlihat wajah cantiknya itu sangat kesakitan. Demi tuhan, melihat istrinya kesakitan seperti itu membuat arrsyad tidak berdaya.
"Sabar ya sayang. Berdo'a saja semoga Allah, mempermudah persalinannya." Hanya itu yang bisa arrsyad katakan. Dalam hati ia sudah ingin menyelamatkan zhivana dari rasa sakit yang belum arrsyad pernah rasakan.
"Mas aku lapar"
"Yaudah, kamu mau makan apa sayang? Biar mas suruh kak luchia bawakan."
"Apa aja mas. Kamu juga ikut makan, dari pagi kamu belum makan."
Arrsyad hanya tersenyum seraya menghubungi luchia. Luchia dan reno pulang karena sedari sore, olivia merengek minta pulang.
"Udah sayang, tunggu sebentar lagi kak luchia udah diperjalanan menuju kemari. Udah masak, katanya buat kamu."
Zhivana langsung tersenyum senang.
Tidak lama kemudian luchia datang bersama reno. Reno hanya bisa mengantar tidak ikut menginap dirumah sakit, Olivia dirumah tidak ingin ikut. Katanya tidak suka dengan aroma obat-obatan.
Luchia sudah membawa satu rantang makanan, dengan porsi lengkap. Tidak lupa dengan cemilan serta beberapa air minum dan susu.
"Baju gantinya dibawa kak?" Tanya arrsyad saat luchia mengeluarkan semua isi yang ia bawa.
"Iya. Nih baju kamu sama zhivana aku udah bawa. Zhivana ayo makan dulu, arrsyad kamu juga makan!"
__ADS_1
Arrsyad tidak langsung makan, ia memilih untuk menyuapi dulu zhivana. Baru nantinya arrsyad akan makan. Setelah makan dan mandi serta berganti pakaian, arrsyad langsung kembali menemani zhivana.
Kini waktu sudah semakin malam, pukul sembilan dokter kembali untuk memeriksa pembukaan zhivana.
"Wahh, ini udah pembukaan tujuh. Bu." Ucap dokter dengan senang.
"Sebaiknya ibu, berjalan kecil lagi diruangan ini." Ucap dokter kembali.
Zhivana menuruti apa kata dokter, lagi-lagi berjalan-jalan kecil dalam ruangan. Waktu semakin larut, arrsyad membiarkan luchia untuk beristirahat saja.
Kontraksi yang semakin sakit, air ketuban yang tak tertahan keluar begitu banyak, tapi pembukaan belum bertambah juga.
"Mas, mengajilah untukku. Aku ingin dengar surah Ar-rahman, yang kamu bacakan saat hadiah mahar untuk ku." Ucap zhivana dengan suara yang hampir tak terdengar.
Suara merdu yang dilantunkan arrsyad membuat rasa sakit kontraksi zhivana sedikit berkurang. Zhivana yang masih tetap dengan kontraksinya, hanya bisa bergulang-guling diatas bednya dengan perlahan.
Zhivana semakin merasakan sakit yang luar biasa, ini persalinan pertamanya dan menjadi pengalaman pertamanya.
Arrsyad yang disamping zhivana masih dengan lantunan ayat sucinya, dan memegangi tangan istrinya itu.
Pembukaan belum juga bertambah, hingga waktu menunjukan Pukul 01.30, tiba-tiba zhivana merasakan mulas yang luar biasa.
Arrsyad dengan paniknya memanggil dokter, dan saat diperiksa oleh dokter, pembukaan itu sudah sempurna.
"Tarik nafas dan keluarkan oleh mulut ya bu. Jangan berteriak itu akan membuat Ibu kehilangan tenaga" Ucap dokter.
__ADS_1
Zhivana mengikuti semua saran dokter, ia menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya melalui mulut, dan ngeden sekuat tenaganya.
Waktu menunjukan Pukul 02.53, lahirlah anak pertama yang berjenis kelamin lelaki dan kedua lahir seorang anak perempuan dari zhivana dan juga arrsyad. Bayi laki-laki dan perempuan yang begitu luar biasa bersih, tak ada sedikitpun darah menempel pada tubuhnya, lalu diberikan pada arrsyad agar didekap diatas dada arrsyad, dan dilantunkan adzan pada telinganya.
Zhivana yang terlihat begitu lemas, meneteskan air matanya, dan terdiam. Sementara dokter sedang menjahit lubang lahir yang robek tadi.
Setelah semua selesai, dan ruangan sudah kembali dibersihkan, bayi yang juga sudah di mandikan dipakaikan baju, kemudian diberikan pada zhivana, dengan begitu antusias zhivana mendekapnya diatas dada dan memberikan *********** untuk belajar menyusui. Bayi kembar mungil, dengan rambut hitam lurus dan terlihat lebat itu dengan senang hati diajari minum asi oleh zhivana.
"Alhamdulillah sayang. Anak kembar kita telah lahir dengan sehat dan sempurna. Terimakasih sayang, kamu adalah wanita yang hebat. Mas tadi takut banget kamu kenapa-napa."
Arrsyad mengecup kening zhivana dengan lama, rasa haru serta bahagianya tidak bisa dibendung lagi. Buliran air mata kebahagiaan menetes dipelupuk mata arrsyad. Luchia yang sedari tadi menyaksikan ikut terharu dan bahagia.
"Sayang mas sangat bahagia. Terimakasih banyak, kamu udah memberikan mas kebahagiaan yang sangat luar biasa. Sekarang keluarga kecil kita akan lengkap."
Zhivana diam seraya menatap kedua bayi mungil kembar. Anak-anaknya yang selama sembilan bulan ini ia kandung kini telah lahir dengan sehat. Zhivana sangat bersyukur. Apalagi arrsyad sedari tadi selalu bersamanya, zhivana ingin sekali rasanya Alm. Abi dan uminya masih ada. Mungkin kedua orang tuanya akan sangat bahagia telah memiliki sepasang cucu kembar.
"Semoga anak-anak kita menjadi anak yang sholeh dan shalihah. Berbakti kepada orang tuanya dan berahklak yang baik."
"Aamiin. Kamu akan beri nama apa, mas. Anak-anak kita?"
'
'
Bersambung
__ADS_1