Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 47 : Jodoh Orang


__ADS_3

Hujan semakin deras mengguyur kota bandung. Angin ditengah malam begini semakin dingin dan kencang. Arrsyad memilih untuk pulang, tak ada gunanya menunggu zhivana. Disana ada azwar.


Memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Mobil sport itu langsung melesat ke daerah perumahan elit. Seorang satpam paruh baya membukakan gerbang besar yang menjulang tinggi. Arrsyad langsung masuk keparkiran, memarkirkan mobilnya dengan cepat lalu masuk kedalam rumah.


Arrsyad berjalan cepat melewati ruang tengah dan ruang tamu. Cahaya lampu yang temaram membuat arrsyad tak menyadari kakaknya tengah berdiri memperhatikan adiknya baru pulang dengan keadaan kacau.


Baru saja arrsyad ingin menaiki anak tangga. Tiba-tiba suara reno membuat langkah arrsyad berhenti.


"Baru pulang"


Arrsyad menoleh ke belakang kakaknya itu sedang berdiri disana dengan tangan dilipat didada.


"Iya"


"Zhivana, mendapat donor mata."


Arrsyad mengangguk.


"Kenapa pulang, seharusnya kamu ada disana."


Arrsyad menghela napasnya kasar. Terlihat bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.


"Ada calon suami, nya."


Reno tersenyum sinis. Tangan kirinya ia masukan kedalam saku celana.


"Kamu nyerah."


Arrsyad menatap reno. Lalu tersenyum miris.


" Mungkin gak jodoh."


Reno mendekat lalu menepuk pundak arrsyad dua kali.


"Lupakan saja. Kuliah yang bener, jangan mikirin jodoh orang." Ucap reno lalu melanggang pergi melewati arrsyad, begitu saja.


Jodoh orang. Hah. Rasanya sangat sulit untuk bernapas saat mendengarnya. Cinta memang membuat lemah, bodoh, dan gila. Tapi menurut arrsyad. Cinta adalah suatu emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta juga dapat diartikan sebagai suatu perasaan dalam diri seseorang akibat faktor pembentuknya. Dalam konteks filosofi. Cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang.


Arrsyad berdecak kesal. Lalu menaiki anak tangga dengan setengah berlari. Baju yang basah membuat arrsyad menggigil kedinginan. Mandi air hangat dibawah guyuran shower, menjadi pilihan untuk arrsyad.


Reno menutup pintu kamarnya dengan pelan, takut mengganggu tidur sang istri. Reno berjalan menuju kasur king sizenya yang dimana luchia sedang tidur cantik disana.


Reno mendudukan dirinya ditepi ranjang. Helaan napasnya sesekali terdengar. Sepertinya, reno sedang memikirkan sesuatu.


Tiba-tiba luchia memanggil dirinya.


"Mas" Suara serak khas orang bangun tidur itu membuat reno terperanjat kaget.


Reno menoleh pada sang istri yang tengah memandangnya, dengan tidur menyamping.

__ADS_1


"Arrsyad udah pulang?. Tanyanya.


Reno tersenyum lalu mengangguk.


Luchia, bangkit dari tidurnya. Menyibakkan selimut lalu berangsut mendekati reno. Luchia ikut duduk ditepi ranjang. Kedua kakinya menjuntai kebawah lantai.


Reno memberikan kecupan manis di pipi kanan luchia. Membuat istrinya itu, tersenyum lebar.


"Kenapa malah bangun, hem." Tanyanya.


"Ya pengen aja. Liat kamu seperti orang banyak pikiran, buat aku jadi pengen nanya."


Reno tertawa kecil.


"Emang mau nanya apa."


Luchia menantap reno dalam. Lalu tersenyum hangat.


"Kamu khawatir sama arrsyad kan" Tebak luchia. Tapi, ia yakin tebakkannya tidak mungkin salah.


Reno tersenyum. Lagi-lagi kecupan manis mendarat di pipi kanan luchia.


"Peka banget, kamu."


Luchia terkekeh. Lalu mencolek hidup mancung suaminya dengan gemas.


"Jadi ceritanya mau ngegombal, nih." Ucap reno dengan diselangi tawa kecil.


"Loh, kok jadi gombal sih. Mas. Aku serius." Tegas luchia seraya berdecak kesal.


Reno menatap istrinya. Lalu menyandarkan kepalanya dipundak sang istri.


"Belahan jiwa yang saling melengkapi." Lirih reno.


Luchia mengangguk sambil tersenyum senang. Suaminya itu memang selalu bersikap manis dan manja.


"Aku sayang sama, kamu."


Reno yang mendengarnya langsung tersenyum lebar.


" Aku jauh lebih sayang sama. Kamu"


Sesaat terjadi keheningan. Sibuk dengan pemikiran masing-masing. Luchia yang mendapati suaminya diam saja. Langsung membuka suara.


"Jadi. Kamu khawatir sama arrsyad."


Reno membenarkan posisi sandarannya untuk mencari titik ternyaman. Lalu menggangguk untuk mengiyakan pertanyaan dari sang istri.


"Kenapa dengan arrsyad. Apa terjadi sesuatu? Seharusnya dia senang. Karena, zhivana mendapatkan donor mata."

__ADS_1


Reno mendesah berat. Beralih untuk duduk tegak.


"Seharusnya begitu. Tapi, masalahnya sebentar lagi zhivana akan menikah dengan azwar."


Luchia menatap reno sekejap, pandangannya beralih kembali untuk lurus kedepan.


"Tikung aja apa susahnya sih. Orang yang ngekhitbah zhivana duluan arrsyad. Ya apa salahnya dikit maksalah. Demi cinta" Saran gila luchia.


Reno menoyor kepala luchia. Kemudian tertawa juga.


"Gak gitu juga. Mana bisa adikku melakukan pemaksaan." Protes reno. Lalu mengusap wajahnya gusar.


Luchia memegangi kepalanya yang habis terkena toyoran dari sang suami.


"Lah. Namanya juga perjuangan. Ya, harus gitu."


" Iya. Tapi jangan maksa juga." Gerutu reno.


"Aku besok mau nengok zhivana sekalian mau ngebujuk dia. syukur-syukur dia mau ngebatalin pernikahannya sama... sama siapa."


"Azwar."


"Ah. Ya azwar."


Reno berdecak kesal.


"Sayang kamu mau aku beri hukuman sekarang juga. Hem. Mana bisa batalin gitu aja. Orang pernikahannya tinggal dua hari lagi."


Luchia langsung tersenyum getir.


"Terus gimana. Aku kasihan sama arrsyad, pasti dia bakal sakit hati."


"Aku juga kasian. Aku nyuruh dia buat lupain zhivana." Lirih reno.


Luchia jadi tak tega. Seharusnya, zhivana bersama arrsyad. Bukan dengan pria lain. Bagaimanapun juga, arrsyad dari dulu sudah menaruh hati pada zhivana.


"Kita harus cepat-cepat suruh arrsyad balik lagi ke amerika. Minimal besok arrsyad harus sudah pergi. Karena pernikahan zhivana, tinggal dua hari lagi."


"Aku akan bicara lagi dengannya besok. Aku tak tega lihat dia, sekacau itu." Reno nampak gusar. Sekarang arrsyad adiknya itu sedang patah hati. Reno sebagai seorang kakak, turut prihatin dan kasihan. Apalagi, zhivana cinta pertama arrsyad.


Luchia tersenyum. Lalu mengusap lembut punggung reno dengan sayang. Luchia akui, reno memang terlihat dingin dan terkesan acuh. Tapi kalau mengenalnya lebih dalam lagi, reno sangat peduli.


Hanya saja, reno tidak tau bagaimana cara memperlakukan orang yang ia sayang, reno juga tidak tahu harus mengekspresikannya bagaimana.


'


'


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2