Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 72 : Permintaan Aneh


__ADS_3

Pagi-pagi sekali arrsyad sudah muntah-muntah, zhivana sudah khawatir. Suaminya itu dari selesai shalat shubuh sampai sekarang terus muntah-muntah.


"Mas"


Panggil zhivana yang sedari tadi menunggu didepan pintu kamar mandi. Dirinya ingin masuk, tapi arrsyad selalu melarang.


Pintu terbuka, terlihatlah wajah arrsyad yang sudah pucat sekali bahkan terlihat lemas.


"Mas, muka kamu pucat banget. Kita ke dokter aja yuk, aku khawatir terjadi sesuatu sama mas."


Bukannya menjawab arrsyad malah memeluk zhivana, apalagi hidungnya malah mengendus-gendus dileher zhivana.


"Mas, Kamu kenapa sih, akunya geli." Protes zhivana seraya tertawa.


"Bentar sayang, mas ingin kayak gini dulu. Kamunya nyaman dan wangi, bikin mas betah."


Zhivana tersenyum lalu mengelus punggung arrsyad.


"Kita ke dokter yuk, mas."


"Gak mau, aku maunya kamu."


"Lagi sakit juga, kamu malah gombal."


"Aku gak gombal, dek. Bercocok tanam aja yuk, biar akunya sembuh."


Zhivana langsung melepas pelukannya hendak ingin kabur, tapi sayang. Dengan cepat arrsyad menggendong zhivana ala bridal style.


"Mas ini masih pagi, kamu lagi sakit." Protes zhivana yang meronta minta diturunkan.


"Nolak suami dosa loh, dek."


"Tapi mas."


Kalau sudah begini zhivana hanya bisa pasrah, arrsyad. Suaminya itu memang benar-benar tidak bisa dibantah, apalagi diganggu gugat.


***


Rumah Sakit Pelita.


Andre tengah duduk disamping tempat ibunya terbaring, sedari tadi bibir andre tidak pernah berhenti bercerita tentang dokter bercadar.


"Jadi dokter bercadar itu namanya gea, yang jadi dokter bedah disini." Tanya ibu andre, bernama yuni.

__ADS_1


Andre mengangguk antusias, apalagi semanjak ibunya dirawat disini, andre sering mampir makan siang dikantin rumah sakit. Itu juga sengaja, karna ingin makan siang bersama gea.


"Tapi bu, aku takut dia gak suka sama aku. Aku merasa gak cocok sama dia." Keluh andre dengan raut wajah sedih.


Yuni mengulurkan tangan untuk mengusap kepala andre.


"Dicoba aja dulu, siapa tau jodoh."


Andre tersenyum kembali mendengarnya.


Setelah menjenguk ibunya, andre. Langsung pergi ke parkiran, kerjaan dikantor masih banyak apalagi hari ini arrsyad tidak masuk.


Saat hendak ingin membuka pintu mobil, retina matanya tak sengaja menangkap sosok wanita bercadar yang sedang dirinya pikirkan.


Dengan langkah cepat, andre mendekat ke gea. Senyumnya terus merekah tatkala gea menatap kearah dirinya.


"Assalamualaikum, dokter mau kemana." Tanya andre seraya tersenyum manis.


Gea sedikit risih sebenarnya, apalagi gea belum tau nama pria yang ada dihadapannya sekarang. Dengan langkah mundur gea sedikit menjauh dari pria itu.


"Waalaikumsalam, maaf. Bukan urusanmu saya mau kemana, sebenarnya siapa kamu, kenapa kamu selalu mengikutiku. Aku pernah bertanya siapa namamu tapi kamu tidak menjawabnya."


Andre tersenyum kecil, lalu melipat kedua tangannya di depan dada.


"Maaf ya saya tidak kenal siapa kamu, jadi jangan dekati saya lagi. Lagi pula kamu bukan pria tipeku."


Wajah andre lansung berubah, raut wajahnya terlihat kecewa. Ahh, kenapa bisa Sesakit ini. Belum punya status hubungan yang pasti tapi sudah sesakit ini.


"Kenapa." Ucap andre dengan lirih.


"Kenapa apanya, sebenarnya saya tau siapa kamu. Aku hanya pura-pura tidak tau, habisnya kamu menutupi identitas kamu. Nama kamu andre kan. Aku tau diri kamu sebenarnya seperti apa, aku tau masa lalumu, aku tau kenapa ibumu bisa masuk rumah sakit. Maaf, bukannya aku lancang tapi aku ingin tau siapa pria yang selama dua minggu ini selalu mendekatiku."


Gea tersenyum dibalik kain cadarnya, gea. Meminta bantuan anak buah ayahnya untuk menyelidiki siapa andre sebenarnya. Dalam waktu satu hari orang suruhan itu membawa laporan yang berisi informasi tentang andre.


Andre terkejut, dirinya langsung menunduk lesu. Apalagi masa lalunya sangat buruk.


"Kenapa kamu menunduk, tadi kamu dengan beraninya menatapku."


"Kamu sudah tau kan tentang siapa aku sebenarnya sekarang. Jujur saja aku malu karena telah menyukai seorang wanita sholehah sepertimu. Sedangkan aku, aku hanya seorang pendosa yang sedang berhijrah dijalannya Allah."


Gea tersenyum mendengar pengakuan andre.


"Kenapa harus malu, jika kamu memang benar ingin mengkhitbahku temuilah ayahku." Ucap gea dengan malu-malu.

__ADS_1


Andre menatap gea, apa maksudnya. Apa gea memberinya sebuah kode agar andre pergi mengkhitbahnya.


"Ma-maksudnya."


"Atas nama Allah, aku mencintaimu andre. Jujur saja, bayangan wajah, senyumanmu semua terlintas begitu saja dipikiranku. Aku sudah bilang pada zhivana, dia sahabatku. Dialah yang telah menyadarkan perasaan cintaku padamu."


Deg


Rasanya andre ingin meloncat-loncat kalau bisa dirinya ingin berteriak saking bahagianya. Ini seperti sebuah do'a yang dirinya panjatkan kepada sang khaliq yang langsung terkabulkan.


"Tapi kamu bilang aku bukan pria tipe kamu."


"Maaf, aku hanya bercanda." Ucap gea seraya terkekeh.


"Aku akan berubah menjadi lebih baik lagi. Ehh, bukan ingin menjadi lebih baik dari orang lain, tapi aku hanya ingin lebih baik dari diriku yang dulu. Dokter gea, maukah kamu menjadi perhiasan duniaku dan menjadi bidadari surgaku." Ucap andre dengan serius bahkan terdengar tegas.


Dengan hati yang berdebar-debar, gea mengangguk mau.


Dan saat itulah diparkiran rumah sakit yang sepi, tanpa sadar andre memeluk gea dengan sekejap. Lalu berlalu masuk ke dalam hendak ingin memberitahu ibunya.


Lagi-lagi tubuh gea terasa kaku, perlakuan andre barusan membuat gea terpaku seraya memegangi dadanya sendiri.


***


Didapur zhivana sedang membuat teh hangat untuk arrsyad yang kembali muntah-muntah, zhivana semakin khawatir apalagi makanan yang hendak dimakan arrsyad langsung termuntahkan kembali.


"Sayang ke kamar lagi yuk." Ucap arrsyad dengan wajah pucatnya.


Zhivana memberikan teh hangat pada arrsyad.


"Nanti dulu, kalau udah habis tehnya baru ke kamar."


Dengan cepat arrsyad meneguk habis teh hangat itu sampai tandas.


"Sayang, mas mau makan mangga muda kayaknya seger tuh kalau dicocol pake sambel."


"Tapi mas, bukannya mas gak suka pedes sama yang asam-asam." Ucap zhivana bingung, apalagi dengan permintaan aneh arrsyad membuat zhivana sedikit tak percaya.


"Gak tau dek, aku maunya makan itu."


'


'

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2