
Mobil sport hitam milik arrsyad telah terparkir sempurna didepan gedung apartemen. Zhivana sudah masuk kedalam apartemen milik arrsyad. Ruangan yang sangat luas ini sangat mewah dan klasik, apalagi barang-barang disetiap sudut terlihat tertata rapi.
Zhivana terus berdecak kagum melihat-lihat tiap sudut ruangan. Sementara arrsyad, tengah sibuk berkutat didapur, membuat sup ayam untuk zhivana.
"Mas ini bagus sekali." Zhivana yang sudah selesai menyelusuri setiap ruangan langsung pergi ke dapur menghampiri arrsyad.
"Aku sengaja pilih yang dikawasan ini, apartemennya bagus. Apalagi didepan ada mesjid besar, jadi kalau kamu mau ikut pengajian sama ibu-ibu disini jadi dekat."
Tangan arrsyad sibuk mengaduk kuah sup, tercium sangat wangi. Membuat selera makan semakin meningkat, ingin segera mencicipi.
"Mas kamu sayang gak sama aku" Pertanyaan yang sudah zhivana tau jawabannya, membut arrsyad menoleh seraya tersenyum lebar.
"Kenapa emang? Kamu ragu sama aku dek,"
"Gatau." Zhivana memberenggut malu, kain cadar yang dilepas sedari tadi memperlihatkan wajah cantik zhivana yang merona.
Arrsyad mematikan kompor, lalu menuangkan sup ayam kedalam dua mangkuk. Asap panas yang mengepul itu terlihat sangat jelas.
"Sekarang makan dulu. Sup ayam spesial untuk istri tercinta sudah siap. Ayo sayang makan dulu, nanti aku jawabnya kalau udah diatas ranjang." Arrsyad tersenyum mesum, seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Dasar mesum."
Cup
Satu kecupan manis mendarat di kening zhivana. Arrsyad langsung ikut duduk dikursi meja makan.
"Gemas aku dek, kalau liat kamu cemberut kayak gitu."
Zhivana tidak menghiraukan arrsyad lagi, ia langsung berdo'a. Makan pasakan suaminya memang sangat nikmat. Selain tampan dan pintar, arrsyad memang jago masak.
***
Malam telah tiba, suara kendaraan beroda empat masih terdengar dijalanan. Sesekali terdengar suara klakson yang saling bersahutan.
__ADS_1
Arrsyad sudah sibuk berkutat dihadapan laptop, sesekali ia melirik ke zhivana yang sedang menyisir rambut panjangnya. Arrsyad tersenyum, saat zhivana menoleh padanya.
"Dek rambutnya jangan dipotong ya. Mas suka kalau rambut kamu tergerai kayak gitu, terlihat sangat indah." Arrsyad segera menutup laptop, berjalan menghampiri zhivana yang sudah duduk disisi ranjang.
Zhivana mengangguk, lalu kedua tangannya mulai mengepang rambut. Arrsyad yang sudah dibelakang zhivana segara mengambil alih, dengan lihai tangan arrsyad mengepang rambut panjang zhivana.
"Wangi dan halus." Ucap arrsyad, sesekali ia mendekatkan hidungnya untuk mengendus aroma rambut istrinya.
Arrsyad selalu berpikir, kenapa aroma rambut zhivana sangat harum dan memabukkan. Padahal shampo yang ia pakai sama dengan zhivana.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku mas," Zhivana mencoba menoleh kebelakang, ingin melihat wajah arrsyad. Tapi zhivana urungkan, wajah arrsyad sangat dekat sekali. Zhivana yakin kalau dirinya menoleh kebelakang, pasti bibir arrsyad akan menempel pada pipinya.
"Pertanyaan yang mana?" Mencoba pura-pura lupa. Sengaja ingin mengoda zhivana.
"Yang tadi mas, yang didapur."
Arrsyad terkekeh, lalu memeluk zhivana dari belakang. Dagunya menempel dipundak dengan kedua tangan yang mengelus perut besar zhivana.
"Cium dulu dek. Aku maunya cium dulu baru aku jawab."
"Yaudah kalau gak mau aku gak maksa juga. Tapi besok kamu harus ikut aku ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Rahasia sayang. Besok siang setelah makan siang aku jemput kamu dari kantor. Kamu siap-siap aja."
Zhivana tersenyum lebar, tiba-tiba kedua bayinya menendang membuat zhivana meringis sekaligus tertawa karena arrsyad berusaha meraba perutnya.
"Bayinya nendang dek."
"Iya mas, lepas dulu mas tanganya aku geli tau." Zhivana Berusah menjauhkan kedua tangan arrsyad, tapi sayang suaminya itu malah terus menempel dengan kuat.
"Dek besok sebelum berangkat ke kantor, gimana kalau kita USG. Aku penasaran banget sama anak-anak kita."
__ADS_1
"Jangan mas, aku pengen saat lahiran nanti itu jadi kejutan. Apapun jenis kelamin mereka, aku ingin itu jadi kejutan nanti."
Arrsyad tersenyum lalu mengecup kepala zhivana dengan lama. Malam ini terasa hangat, seseorang yang kita rindukan dengan cukup lama akhirnya kembali bersama.
Tidak ada rasa nyaman selain kita bersama dengan seseorang yang kita sayangi. Lagi-lagi rasa bahagia selalu menerpa hidup arrsyad dan zhivana. Sepasang suami istri yang sedang memadu kasih ini selalu berucap syukur. Rasa cinta yang mengalir deras seperti air yang sejuk, atas ridho Allah cinta yang selama ini terasa membuahkan hasil. Sebentar lagi akan ada dua malaikat kecil, hadir ditengah kisah cinta arrsyad bersama zhivana.
"Aku sayang kamu." Tatapan tajam arrsyad yang teduh dapat meluluh lantahkan hati zhivana.
Hati zhivana selalu berdebar cepat saat sedang berdekatan dengan arrsyad, begitu juga dengan arrsyad. Padahal arrsyad hanya tersenyum, tapi kenapa? Hati zhivana selalu berdebar cepat, bukankah ini curang.
"Aku juga sayang kamu."
Zhivana berusaha setenang mungkin, padahal dalam hati. Zhivana sudah ingin menjerit, perlakuan manis arrsyad selalu membuat zhivana merasa terbang tinggi.
"Aku udah jawab pertanyaan kamu, sayang. Sekarang jawab pertanyaan aku," Kecupan manis itu datang kembali tepat di perut besar zhivana yang tidak tertutup baju.
"Apa"
"Jika aku mati, apa kamu mau menikah lagi?" Pertanyaan konyol itu terucap begitu saja dari mulut arrsyad. Zhivana yang heran langsung memukul punggung arrsyad.
"Bicara apa sih mas, jangan kayak gitu."
"Aku cuman tanya aja dek, lagi pula aku masih ingin hidup lama sama kamu."
"Aku selalu berdo'a semoga kamu sehat selalu dan panjang umur. Jika seandainya Allah mengambil diantara kita, atau kamu yang lebih dulu. Aku tetap akan setia sama kamu mas, semoga Allah menyatukan kita kembali disurganya."
"Beneran dek"
"Iya mas, aku hanya mau kamu. Ayah dari anak-anak kita ini."
'
'
__ADS_1
Bersambung