Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 50 : Pulang


__ADS_3

Masih dengan zhivana yang tengah menunduk dalam-dalam, dengan mata yang berkaca-kaca. Luchia bangun dari rebahannya. Mendekat ke zhivana.


"Aku ngerti kok. Kamu tenang aja. Ada aku disini, kalau kamu ingin membatalkan pernikahannya kamu bisa bicara sekarang. Biar aku yang sampaikan pada mereka." Berucap lembut seraya mengusap punggung zhivana dengan sayang.


Zhivana mendongak untuk melihat kedua mata luchia, tampak keseriusan disana. Dengan lemah zhivana menggeleng.


"Aku tidak mungkin melakukannya."


Luchia mendesah berat. Rencana untuk membujuk zhivana ternyata susah juga. Kuat imam kali ya.


"Tapi dia mengidap penyakit kanker darah, zhivana."


Zhivana menatap kedua mata luchia dalam. Lalu tersenyum yakin.


"Aku yakin mas azwar akan sembuh."


Luchia terdiam, dengan terpaksa dirinya tersenyum kecil untuk sekedar menanggapi.


Siang ke sore dan sudah berganti menjadi malam. Tapi sosok azwar dan juga arrsyad belum terlihat. Entah kemana dan dimana, mereka tiba-tiba hilang tanpa kabar.


"Mas, dimana arrsyad."


Luchia bertanya saat reno baru pulang kerja dan berkunjung kerumah sakit.


Menyimpan tiga bungkus makanan untuk makan malam bersama. Reno mendaratkan bokongnya disamping sang istri.


"Tidak tahu" Acuhnya dengan tangan sibuk membuka jas.


Luchia berdecak. Lalu bangkit mendekat ke zhivana yang sedang duduk dibed.


"Kesal banget aku mas." Merajuk kesal dengan tangan dilipat didada.


Reno mengerjit bingung.


"Kenapa" Tanya reno dengan raut wajah lelah.


"Aku kan pesan anggur ruby roman! Kok kamu malah gak bawa"


Glek.


Reno menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Gawat! Bagai telah membangunkan macan betina tidur disiang bolong, reno membuat istrinya merajuk marah. Sial, inikan cuman gara-gara anggur ruby roman. Parahnya lagi kenapa dirinya malah lupa. Bodoh.


Zhivana hanya tersenyum kecil. Entah kenapa melihat ekspresi wajah reno yang tengah dilanda kepanikan serta ketakutan itu malah terkesan lucu.


"I-itu sayang aku lupa." Jujurnya dengan tercekat.


Luchia merajuk marah seraya berkacak pinggang.


"Mas, aku tuh pesan anggur ruby roman dari kemarin, dan kemarin sampai sekarang aku masih sabar. Eh sekarang malah lupa lagi. Kesel! Awas aja ya selama satu minggu jangan minta jatah" Omel luchia bak emak-emak yang tengah memarahi anaknya.


Reno mendekat dengan langkah gontai.


"Sayang aku lupa. Tolong! Maklum dikitlah. Orang aku sibuk dikantor." Reno memelas.

__ADS_1


Luchia acuh, gadis itu malah ikutan duduk diatas bed hospital dengan zhivana.


"Tau ah, ngambek." Ketusnya.


Reno mendesah berat. Penglihatannya langsung tertuju pada zhivana, rupanya gadis itu tengah memperhatikan interaksi dirinya dan luchia sedari tadi.


"Kalau kamu punya suami jangan minta yang aneh-aneh ya zhi. Kita sebagai kaum laki-laki meras-"


Bug.


Bantal putih itu melayang cepat menghantam wajah reno. Sang empu yang terkena lemparan bantal langsung meringis.


"Merasa apa. Hah" Dengan geram luchia beringsut turun untuk menjambak rambut suaminya.


"Gawat. Ini sudah zona bahaya! Aku harus kabur." Batin reno.


Reno dengan sigap berlari cepat ke arah pintu keluar.


Zhivana tertawa geli. Kenapa pasutri ini selalu bertengkar, hanya karena hal kecil.


"Yaampun, kelakuannya minta diruqiah kali ya."


Luchia menghela napas, penglihatannya tertuju pada tiga kotak makanan yang suaminya bawakan. Dengan perut yang sudah lapar luchia mengambil ketiganya.


"Ambilah. Kita makan berdua aja, mas reno mungkin kabur ke rumah."


Dengan senang hati zhivana menarima kotak makanan itu. Makan bersama dengan diiringi obrolan dari keduanya.


Malam semakin larut, zhivana sudah tertidur nyenyak, luchia, gadis itu masih enggan terpejam. Rasa khawatir yang singgah didada membuatnya susah tidur, arrsyad entah kemana sejak pagi adik iparnya belum menunjukkan batang hidungnya. Reno, suaminya itu malah acuh. Ponsel arrsyad tidak bisa dihubungi.


^^^.^^^


"Kakak ipar, aku tidak pulang. Jangan khawatir."


Luchia menghembuskan napasnya, sekarang perasaannya terasa lega.


"Baiklah. Kakakmu sudah tau."


Tidak lama balasan dari arrsyad langsung masuk kembali.


"Sudah."


Tidak berniat untuk membalas pesan lagi, Luchia memilih memejamkan matanya, rasa kantuk telah melanda menyuruhnya untuk segera beristirahat.


***


Pagi telah tiba, semua manusia mulai beraktivitas kembali. Reno datang menjemput zhivana dan istrinya. Tadi pagi-pagi sekali zhivana mengeluh ingin pulang. Katanya dirinya ingin berkunjung ke pemakaman kedua orangtua nya. Rindu katanya.


Dengan berat hati gea menyetuinya, dengan syarat zhivana harus menjaga kesehatan.


Setelah memeriksa keadaan zhivana, gea langsung memeluknya erat.


"Ingat jaga kesehatan. Jangan sampai sakit. Aku akan seperti biasa mengunjungi rumahmu dihari libur."

__ADS_1


Zhivana membalas pelukkan sahabatnya dengan sayang.


"Iya. Tapi sekarang aku udah bisa lihat lagi, jadi aku yang akan mengunjungimu."


Gea melepaskan pelukannya, seraya tersenyum lebar.


"Aku seneng banget. Lain kali kita harus liburan bersama."


Zhivana mengangguk, senyum merekah penuh kehangatan itu tidak pernah pudar. Mungkin sekarang cahaya hidupnya telah kembali. Melihat dunia yang indah dengan sejuta warna.


"Kamu udah ketemu sama ibunya seina" Tanya gea.


"Udah. Tadi malam beliau menemuiku dengan suaminya, aku sangat berterima kasih pada seina dan ibunya. Mereka sangat baik"


"Kamu udah liat seina secara langsung."


Zhivana menggeleng lemah.


"Loh kenapa"


Zhivana memberenggut dengan wajah sedih.


"Tuan takiyo, ayahnya seina yang melarang keras. Aku jadi merasa tidak enak, apa beliau marah padaku."


Gea menggeleng cepat seraya mengusap punggung tangan zhivana yang terbalut sarung tangan.


"Mungkin beliau belum nerima kenyataan aja. Tapi, ibunya seina malah sangat senang kamu bisa lihat lagi. Inikan permintaan terakhir dari seina juga"


Zhivana tersenyum kecil.


"Semoga seina tenang dialam sana. Aku hanya bisa liat dia lewat foto aja. Kak luchia yang kasih liat. Seina sangatlah cantik dan manis, kayak model internasional yang sering aku lihat waktu dulu."


"Memang cantik. Tapi aku masih bingung dengan racun itu, kenapa seina membawa racun dengan kadar mematikan itu. Bukannya itu sangat berbahaya."


Zhivana yang teringat kejadian itu langsung tertegun.


"Gea aku langsung pulang, kasian kak reno, kak luchia. Meraka pasti nungguin."


"Baiklah. Ayo aku antar sampai depan."


Zhivana megangguk pelan.


"Terima kasih"


Luchia dan reno sudah menunggu didepan, zhivana diantar sampai depan oleh gea. Berpamitan seraya mengucapkan terima kasih karena gea telah banyak membantu.


Masuk kedalam mobil, dengan reno menjinjing tas milik zhivana yang isinya pakaian. Mobil mulai melaju memecah jalanan kota bandung yang masih lenggang.


Sepanjang perjanan menuju pemakaman umum, gadis itu hanya diam dan melihat keluar kaca mobil, pemandangan kota ini yang sudah lama zhivana tidak lihat, ternyata banyak yang berubah juga. Dengan hati yang pilu karena kerinduan yang tak kunjung reda, dalam hati zhivana berdoa untuk kedua orangtua nya.


'


'

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2