
Dengan perasaan gelisah, zhivana. menjauhkan dirinya dari azwar. Mencari higs heels miliknya, seraya memakainya dengan cepat.
"Aku baik-baik saja. Maaf, ustadz azwar. Aku harus pulang. Sampaikan salamku untuk abimu. Assalamualaikum." Ucap zhivana seraya menunduk.
Berjalan cepat memakai higs heels ternyata sangat sulit. Rasa ngilu serta sakit dikakinya, membuat zhivana sedikit terpincang-pincang.
Berjalan tanpa arah, membuat zhivana bingung sendiri. Kenapa dirinya harus menjauh dari azwar. Bukannya ada banyak hal yang ingin dirinya sampaikan pada azwar.
Lalu, mengapa dirinya malah berjalan pergi tanpa arah seperti ini. Bukannya, azwar tadi menolong dirinya yang hendak terjatuh! Lalu mengapa, dirinya malah berlari meninggalkan azwar disana.
Zhivana menatap kedua kakinya yang mulai membiru kemerahan. Kakinya terluka dan lecet, zhivana terduduk lemas di pinggir jalan.
Tak peduli dengan orang-orang yang menatap kearahnya. Kedua kakinya sakit, zhivana. mulai teringat pada gea. Pasti sahabatnya itu akan mencarinya.
Sayangnya. Handpone miliknya habis baterai, zhivana. menantap sekeliling, ternyata dirinya sudah berjalan cukup jauh. Bahkan gedung rumah sakit pelita terlihat ujungnya saja.
Teringat janji arrsyad, yang akan datang menjemputnya. Tapi kenapa sampai sekarang suaminya itu belum datang juga.
Tidak mungkin arrsyad lupa. Selama ini, arrsyad. Selalu menepati setiap perkataannya.
Andai supir pribadi keluarga arrsyad belum zhivana suruh pergi. Mungkin, kakinya tidak akan seperti ini.
Berjalan dengan tertatih-tatih, lalu menatap keatas langit yang mendadak mendung. Awan hitam yang menggumpal sepertinya sudah siap menumpahkan tetesan air hujan yang deras, mengguyur seisi bumi.
Angin bertiup kencang membuat dedaunan beterbangan kesana kemari, zhivana. Menatap kendaraan beroda empat yang berlalu lalang di jalanan.
Bayangan tentang kecelakaan beberapa tahun lalu melintas kembali dipikirannya. Bayangan kedua orang tuanya yang tewas akibat kecelakaan mobil itu membuat kepala zhivana pusing dan berdenyut sakit.
Seperti ada daya tarik, tanpa sadar, zhivana. Melangkahkan kakinya ke tengah jalan raya.
"Apa yang kamu lakukan." Teriak reno, seraya menarik tangan zhivana dengan cepat.
Zhivana menatap samar wajah reno. Entah kapan dan dari arah mana tiba-tiba reno yang dianggap seperti kakak kandungnya itu datang.
Dengan cemas, reno. Memeluk zhivana. Tubuh zhivana yang semula membalas pelukkannya, mulai mengendur. Kedua tangannya pun jatuh begitu saja. Reno tau zhivana jatuh pingsan dipelukannya.
"Ada apa denganmu, zhivana. Sedikit saja aku telat datang, mungkin kau." Reno tidak melanjutkan ucapannya.
"Tidak. Kau akan baik-baik saja, zhi. Kau adikku." Ucapnya seraya membopong tubuh zhivana ke dalam mobil.
Ditengah perjalanan menuju rumah sakit, zhivana bergumam dengan kedua matanya yang masih terpejam rapat.
"Aku ingin pulang saja kak. Tolong bawa aku pulang, aku takut sendirian."
"Aku rindu umi dan abi ku, kak. Tolong, tolong bawa aku pergi untuk menemui mereka."
Reno tak percaya apa yang dirinya barusan dengar. Zhivana, wanita itu sangat merindukan kedua orang tuanya. Dia bilang takut sendirian, apa karna arrsyad tak kunjung datang menjemputnya.
__ADS_1
Reno membelokan arah laju mobilnya, sebaiknya zhivana dirawat dirumah saja. Menatap kedua kaki zhivana yang terluka membuat reno kesal pada arrsyad.
Reno yang hendak pulang ke rumah sepulang dari kantor tak jadi. Tiba-tiba saja, arrsyad meminta tolong padanya untuk menjemput zhivana dimesjid depan rumah sakit pelita dulu.
Setibanya dirumah, reno kembali membopong zhivana. Luchia, yang sedang duduk diteras depan rumah. Langsung terkejut melihat suaminya membawa zhivana yang tak sadarkan diri.
"Astagfirullahal'adzim, mas. Zhivana kenapa" Tanya luchia yang khawatir sekaligus panik.
"Cepat hubungi dokter vanya. Suruh dia kemari, sekarang." Ucap reno seraya membawa zhivana ke dalam rumah.
Luchia mengangguk lalu menghubungi dokter vanya, dokter khusus keluarga al faruq.
Reno membaringkan zhivana ditempat tidur. Rupanya arrsyad belum pulang.
"Arrsyad belum pulang." Tanya reno, seraya duduk disopa.
Luchia yang mengelus tangan zhivana, langsung menoleh ke reno.
"Udah tadi. Tapi keluar lagi, keliatannya tuh anak lagi marah deh."
Reno mengerjit heran.
"Marah kenapa? Dia bilang, dia lagi mau ada meeting dadakan. Makannya dia suruh aku buat jemput zhivana."
"Meeting dadakan gimana, orang dia keliatan kacau gitu."
Reno menghela napas panjangnya.
"Itu dia, aku bingung banget tadi. Liat zhivana mau jalan ke tengah jalan raya, mana gak dipake sepatunya."
"Hah. Maksud kamu zhivana mau bunuh diri" Teriak luchia kaget.
"Aku gak tau, yang aku liat emang gitu. Apa arrsyad sama zhivana lagi ada masalah."
Luchia beranjak dari tempat duduknya lalu mendekat ke reno yang duduk disopa.
"Gak tau."
Selang beberapa lama akhirnya dokter vanya datang dan memeriksa keadaan zhivana, seraya mengobati luka dikaki.
Malam telah tiba, arrsyad belum juga pulang, luchia. Sedari tadi menemani zhivana yang baru selesai berganti pakaian.
Zhivana duduk di sisi ranjang sebelah kanan, sementara luchia duduk disopa.
"Kak, kenapa suamiku belum pulang. Handponenya masih gak aktif?" Tanya zhivana khawatir, lalu menatap kedua kakinya yang masih lecet.
"Iya handponenya gak aktif dari siang tadi-"
__ADS_1
Ucapan luchia terhenti karena pintu kamar terbuka dan terlihatlah arrsyad dengan baju kerja yang acak-acakan.
Arrsyad berjalan lurus ke arah kamar mandi, melewati zhivana dan luchia dengan raut wajah dingin.
"Keluar, kak." Ucapnya dengan dingin.
Luchia menatap zhivana yang seperti ketakutan.
"Tenang aja, biasanya dia, sama kamu suka jinak." Ucap luchia setengah berbisik. Lalu berjalan keluar kamar.
Tinggallah zhivana dan arrsyad yang malah saling diam. Zhivana ingin mendekati arrsyad tapi kakinya sangat sakit dan perih.
Tiba-tiba suasana kamar berubah, menjadi mencekam.
"Mas"
Tidak ada jawaban, arrsyad masih membelakangi dirinya.
"Kamu kenapa, mas. Kenapa baru pulang? Apa ada masalah"
Arrsyad berbalik badan lalu menatap zhivana dengan tajam.
Zhivana yang tak biasa ditatap seperti itu, memberenggut takut.
"Ketemu sama siapa aja kamu hari ini" Tanya arrsyad dengan dingin.
"Aku ketemu gea, kan aku udah minta izin sama kamu."
"Bohong. Kamu ketemu dia kan" Tanyanya dengan napas memburu, menahan amarah.
Zhivana yang takut langsung menunduk, matanya sudah berkaca-kaca.
"Aku kecewa sama kamu, dek. Kamu berani banget peluk dia didepan umum. Apa kamu merindukannya. Hah"
Zhivana mendongak untuk menatap wajah arrsyad.
Memeluk, memangnya. Dirinya sudah memeluk siapa.
"Maksud kamu mas."
"Apa kamu merindukan Ustadz azwar."
Ustadz azwar? Apakah arrsyad melihat kejadian itu. Tapi itu sebuah kecelakaan yang tidak disengaja. Suaminya itu pasti salah paham.
"Kamu salah paham, mas."
'
__ADS_1
'
Bersambung