Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 91 : Jangan Ulangi Lagi


__ADS_3

"Sayang aku minta maaf."


Beban yang selama ini sesak oleh rasa bersalah terasa ringan, rasa rindu yang terus menggerutu karena ingin bertemu akhirnya tersalurkan.


Waktu telah mempertemukan arrsyad pada zhivana, waktu juga yang akan membuktikan besarnya cinta keduanya untuk bersama. Terpisah dengan waktu lama tapi itu tidak mempengaruhi kadar cinta keduanya, terpisah jarakpun masih saling setia. Dalam balutan do'a yang selalu terpanjat, mampu memberikan kekuatan untuk bertahan.


Ada rasa yang saling menginginkan untuk terus menyatu, tapi tidak mungkin. Ada jeda, untuk selalu berhenti Ada waktu yang selalu menjadi jarak.


Arrsyad selalu bilang dirinya seperti jantung yang butuh detak, seperti peribahasa yang arrsyad jabarkan adalah ia adalah sebuah jantung, zhivana adalah detaknya. Keduanya saling membutuhkan, dan bekerja sama untuk hidup.


Dekapan hangat arrsyad mampu membuat zhivana terbuai, nyamannya terasa sampai ke hati. Ada rasa yang ingin zhivana katakan tapi tak mampu ia ucapkan lewat kata, biarlah rasa itu tersimpan dihatinya.


Selama ada arrsyad, zhivana merasa aman dan nyaman. Degupan detak jantung yang berdebar cepat itu saling bersautan ditengah guyuran hujan yang deras. Keheningan malam yang semakin terasa sepi, mampu membuat zhivana larut dalam dekapan arrsyad.


"Pergi tanpa pamit itu sangat menyakitkan, jadi ku mohon jangan ulangi lagi."


Zhivana menangkup wajah arrsyad yang terkesan mewah dan tampan, sebenarnya. Ada rasa tidak rela, apabila wanita lain melihat dan menikmati ketampanan suaminya. Bukannya serakah, tapi sifat wanita itu pencemburu. Makhluk perasa yang sangat lembut, apabila rapuh akan mudah menangis.


Halnya dengan zhivana, yang setiap malam selalu menangis karena rasa rindu pada arrsyad. Andai zhivana mampu, mungkin zhivana ingin terbang seperti hembusan angin yang selalu menyelusup masuk kemana saja tanpa permisi.


"Iya, maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi, sayang. Lihatlah kedua mataku, didalamnya tersirat sebuah rasa rindu yang teramat sangat menggebu. Dan Disinilah, dihatiku rasa rindu itu terasa sangat sesak."


Retina mata zhivana menatap mata milik arrsyad dengan teduh, Keduanya saling beradu pandang, seolah terhipnotis oleh pesona masing-masing. Arrsyad mulai mendekatkan wajahnya pada zhivana, tidak ada penolakan saat bibir keduanya saling bertautan.


Pesona zhivana mampu membuat arrsyad menggila, terasa mabuk seperti candu yang terus menggoda. Tangan kekar itu, mulai mengelus punggung zhivana dengan lembut.

__ADS_1


Tidak sampai disana, arrsyad merasa kurang ingin lebih dan lebih. Zhivana memejamkan kedua matanya, menikmati setiap kecupan manis dari arrsyad yang menjalar kebagian lehernya yang jenjang.


Arrsyad menautkan jari-jari tangannya pada tangan zhivana, meremasnya dengan lembut, seolah memberi ketenangan. Deru napas dari hidung arrsyad sangat memburu, zhivana yang merasakannya semakin gugup.


Kegiatan itu berhenti, arrsyad menatap zhivana dengan sayu. Senyuman manisnya terus mengembang, zhivana yang ditatap seperti itu tersipu malu. Lalu memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan arrsyad.


"Sekali lagi aku minta maaf, dek. Jujur aku sangat menyesal karena telah menuduhmu selingkuh, apalagi aku membentakmu secara kasar."


Tatapan sayu itu berubah menjadi sendu, zhivana jadi tidak tega melihat suaminya bersedih.


"Aku ingin melupakan semua itu, mas. Aku ingin kamu selalu ada bersamaku disetiap harinya, bahkan aku ingin disetiap hembusan napas yang ku hirup dan kuhembuskan. Aku ingin kamu selalu ada bersamaku, disini didekatku."


Arrsyad tersenyum, lalu memeluk zhivana kembali.


"Tanpa diminta, aku akan melakukannya untukmu. Jika boleh aku ingin waktu berhenti, aku ingin menikmati setiap saatnya hanya berdua. Yaitu bersamamu, istriku. Zhivana."


Tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, arrsyad akan lebih berhati-hati untuk kedepannya. Apalagi zhivana akan melahirkan buah cintanya, hari itu akan menjadi hari paling bahagia untuknya dan zhivana.


Cuaca dingin kini berubah menjadi panas dan menggelora, arrsyad menumpahkan segala cinta dan rindunya pada zhivana. Peluh keringat yang bercucuran membahasahi keduanya, terasa hangat dan nyaman. Dengan perlahan arrsyad mengelap peluh keringat zhivana akibat ulahnya.


"Maaf ya dek, pasti kamu lelah."


Zhivana yang masih malu-malu terlihat dari wajahnya ia sangat kelelahan. Sudah lama tidak melakukannya, membuat zhivana malu dan gugup.


***

__ADS_1


Adzan shubuh sudah berkumandang, zhivana yang baru terlelap sejam yang lalu merasa sangat enggan untuk bangun. Menatap kesamping, suaminya masih tertidur pulas.


Rasanya sangat tidak tega membangunkan arrsyad, pasti perjalanan dari sana kemari sangat jauh membuat arrsyad kelelahan.


Setelah mandi dan berpakaian, zhivana langsung membangunkan arrsyad. Cukup lama untuk membangunkan arrsyad, sampai akhirnya terbangun juga. Mungkin rasa lelahnya belum berkurang.


Zhivana sudah menunggu arrsyad untuk shalat shubuh berjamaah berdua saja, karna gus halim sudah berangkat ke mesjid. Sudah lima belas menit zhivana duduk menunggu arrsyad yang belum juga kembali.


Dengan sedikit menggerutu, zhivana berjalan keluar kamar lalu menuju dapur. Terlihatlah sarah sedang mulai memasak untuk sarapan pagi.


"Mbak, liat suamiku gak?" Ucap zhivana, yang melihat Pintu kamar mandi tertutup apalagi didalamnya tidak ada suara gemericik air.


"Bukannya tadi mau mandi." Jawab sarah dengan bingung.


Dengan perlahan zhivana membuka pintu kamar mandi, pintu telah terbuka setengah. Terlihatlah arrsyad tengah duduk di atas kloset, tubuhnya bersandar pada tembok dengan mata terpejam rapat-rapat.


Yaampun, pantas saja arrsyad lama. Ternyata ia malah tidur dikamar mandi.


"Yaallah, mas." Teriak zhivana dengan kesal.


Sementara sarah sudah menahan tawanya.


'


'

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2