
Setelah melaksanakan shalat shubuh, gus halim serta sarah mengajak arrsyad untuk makan bersama. Zhivana dengan senang, menyiapkan nasi serta lauk pauknya untuk arrsyad.
"Saya dengar mas arrsyad ini seorang presedir ya?" Tanya gus halim, ditengah aktivitas sarapan mencoba untuk memecah keheningan.
"Iya alhamdulillah, itu juga dari warisan atas kepercayaan Alm. Papa saya." Jawab arrsyad dengan menampilkan senyuman ramah.
"Masih muda, tapi sudah sukses" Ujar gus halim seraya membalas senyuman arrsyad.
"Jadi yang namanya mas reno itu kakak kamu ya? Pantes sama-sama ganteng." Sahut sarah seraya terkekeh.
Gus halim geleng-geleng kepala.
"Salah mbak, kakakku itu hanya dapat imutnya saja. Kalau ganteng mah, ya gantengan aku kemana-mana." Ucap arrsyad dengan jumawa. Sontak membuat semua orang menjadi tertawa geli.
"Bukannya yang imut itu lebih menggemaskan ya?" Celetuk zhivana.
Arrsyad yang mendengarnya langsung memicingkan mata, merasa tidak terima.
"Sembarangan, aku itu banyak bonusnya dek. Tampan, imut, manis, keren, menggemaskan, pokoknya masih banyak lagi." Protes arrsyad dengan berapi-api.
Sarah dan gus halim saling lirik, kemudian tersenyum.
"Gak baik mas, itu namanya serakah. Masa kamu borong semua sih,"
"Lahh, itu udah anugerah dari Allah dek. Aku yang sebagai umatnya hanya bisa bersyukur, buktinya aja setiap kali kita iya-iya kamu selalu menikmati pesona aku." Ucap arrsyad seraya tersenyum jahil.
Zhivana yang ingin menyuapkan makannya ke dalam mulut, jadi tidak jadi. Melirik gus halim serta sarah secara bergantian. takutnya tau apa yang dimaksud arrsyad dengan iya-iya.
"Mas halim dan mbak sarah tau gak ya, artinya iya-iya?"
Sarah mengkerutkan dahinya, karena tidak tahu apa yang dikatakan oleh arrsyad.
"Iya-iya apa ya?" Tanya sarah seraya menatap zhivana dengan penuh rasa ingin tahu.
Zhivana yang ditatap seperti itu langsung gelagapan, mana mungkin ia menjelaskan apa itu artinya iya-iya menurut pola pikir suaminya.
"Bukan apa-apa mbak, itu hanya semacam kode rahasia untuk mendaki gunung dan menjelajah ke hutan rimba." Jawab arrsyad dengan santai.
Gus halim yang tidak tahu apa maksudnya hanya manggut-manggut saja, Begitupun dengan sarah.
Dalam diam, zhivana sudah menginjak kaki arrsyad dengan sedikit keras. Rasanya sangat kesal sekali, menurut zhivana arrsyad itu benar-benar sangat mesum.
Memang kepintaran serta daya ingat arrsyad sungguh luar biasa, tapi dibalik itu semua arrsyad seperti menyandang gelar kemesuman yang akut.
***
Siang telah tiba, arrsyad sudah diajak berkeliling oleh zhivana. Sesekali zhivana mengambil foto kemesraan keduanya dengan penuh senyum kebahagiaan.
Arrsyad yang belakangan ingin sedikit sensitif dengan teriknya matahari yang panas, selalu mengakibatkan sakit kepalanya kembali terasa.
Seperti sekarang ini, kepala arrsyad sudah berdenyut sakit. Sesekali ia berbalik badan untuk menyembunyikan hidungnya yang kembali mengeluarkan darah.
"Mas," Panggil zhivana dengan riang, kedua kakinya menjuntai kebawah. Saat ini zhivana tengah duduk diatas kursi bambu yang terletak disisi danau.
Arrsyad segara mengelap darahnya yang keluar dari hidung, lalu berbalik badan seraya mendekati zhivana. Mencoba terus tersenyum pada istrinya, menepis semua rasa sakit yang menjalar dikepala.
"Iya, sayang. Kamu belum mau pulang?" Tanya arrsyad seraya duduk disamping zhivana, tangan kekar itu melingkar dipinggang zhivana.
"Aku betah disini, tapi kalau kamu yang jemput aku untuk pulang. Maka aku mau pulang sama kamu." Ucap zhivana lalu memeluk arrsyad dari samping.
__ADS_1
"Arrghh, sekarang dadaku yang sakit. Kenapa jantungku berdenyut sakit begini?" Batin arrsyad.
"Dek, nanti siang kita pulang. Aku udah beli apartemen, jadi kita gak serumah lagi dengan kak reno."
Zhivana mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah arrsyad, lalu kembali lagi menyandarkan kepalanya didada bidang arrsyad.
"Kenapa?"
"Aku ingin bebas bermesraan sama kamu, sayang. Tanpa liat waktu dan keadaan sekitar."
Zhivana tersenyum, lalu mengelus perutnya yang sudah membesar.
"Sayang"
"Hemm"
"Aku mau pulang hari ini juga, gak apa kan? Soalnya besok ada rapat penting."
Zhivana terdiam, lalu melepaskan pelukannya dari arrsyad.
"Iya, gak apa kok mas. Nanti udah dzuhur aja ya, mas. Soalnya nunggu gus halim pulang, kita pamitan dulu."
Arrsyad mengangguk, lalu beranjak. Keduanya berjalan pulang, dengan saling bergandengan. Sesekali orang-orang yang sudah mengenal zhivana, menyapanya dengan ramah.
***
Setelah shalat dzuhur, zhivana dan arrsyad sudah bersiap. Sarah sudah memberikan beberapa oleh-oleh dan berbagai jenis makanan untuk zhivana. Sementara, arrsyad tengah bersalaman seraya mengucapkan terima kasih pada gus halim.
"Oh iya, ini ada sedikit rezeki untuk pesantren ini dan untuk mas halim. Anggap saja ini sudah menjadi rezeki untuk mas halim beserta keluarga pesantren." Ucap arrsyad, lalu menyerahkan dua amplop coklat tebal pada Gus halim.
"Masya Allah, ini terlalu banyak mas arrsyad. Saya tidak bisa menerimanya. Lagi pula saya sangat senang dengan kedatangan zhivana dan mas arrsyad disini."
"Saya sangat senang, jika gus halim menerima ini. Ini sudah menjadi rezeki mas halim dan pesantren dari Allah yang dititipkan melalui saya. Jadi saya mohon, terimalah."
Dengan perasaan haru, Gus halim menerimanya.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak. Mas arrsyad dan zhivana memang baik sekali, saya akan do'akan. Semoga kebaikan Mas arrsyad dibalas oleh Allah SWT."
Keduanya langsung berpelukan sebentar, setelahnya. Arrsyad langsung melihat zhivana yang tengah menangis saling berpelukan dengan sarah. Sarah yang tidak mau zhivana pergi, langsung terisak.
"Nanti kesini lagi ya, mbak akan selalu merindukan kamu zhivana. Jangan lupa kabari mbak kalau sudah sampai dan jangan lupa kalau kamu lahiran beritahu mbak juga ya. Mbak janji akan mengunjungimu nanti."
Zhivana mengangguk.
"Iya mbak sarah. Terimakasih banyak, karena mbak sarah dan gus halim sudah mau menerima saya selama ini disini."
Setelah berpamitan zhivana dan arrsyad langsung keluar rumah, zhivana yang tidak suka naik mobil sport milik arrsyad langsung cemburut kesal.
"Mas," Rengek zhivana.
Arrsyad yang ingin membuka pintu mobil jadi tak jadi, rengekkan istrinya membuat arrsyad cepat-cepat menoleh.
"Kenapa, dek?"
"Aku gak mau naik mobil ini, terlalu pendek. Perutku terasa tidak nyaman nantinya."
Arrsyad tersenyum getir, ia lupa. Kalau zhivana tidak suka naik mobil sport miliknya. Istrinya selalu mengeluh tidak nyaman karena terlalu pendek, apalagi perut zhivana sudah membesar. Mungkin akan terasa mengganjal.
Padahal yang arrsyad tau, wanita selalu senang jika diajak naik mobil mewah berkelas. Apalagi, mobil sport hitam miliknya berharga pantantis.
__ADS_1
"Maaf, aku lupa ganti mobil kemarin. Soalnya kalau naik mobil yang ini jauh lebih cepat. Maaf, aku benar-benar lupa sayang."
"Yaudah gak papa kok. Mbak sarah, mas halim. Kita pamit dulu." Zhivana melambaikan tangannya seraya tersenyum cerah.
Gus halim dan sarahpun membalas lambaian tangan zhivana.
"Iya, hati-hati dijalannya."
Zhivana mengangguk, lalu masuk kedalam mobil. Dengan sigap tangan kanan arrsyad melindungi kepala zhivana, takutnya zhivana terjeduk bagian atas mobil.
Setelah menutup pintu mobil, arrsyad langsung berpamitan.
"Saya pamit. Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam."
Arrsyad langsung masuk kedalam mobil, menyalakan mesin mobil. Lalu memacu mobilnya dengan kecepatan normal. Butuh waktu cukup lama untuk sampai rumah, mungkin sore hari baru sampai rumah.
Perjalanan sudah ditempuh setengahnya, mobil arrsyad berhenti di depan rest area yang cukup ramai. Berniat ingin makan seraya ketoilet. Keduanya langsung turun, zhivana sudah masuk kedalam toilet karena hendak ingin buang air kecil.
Arrsyad sudah memesan makanan, memilih tempat duduk yang diluar ruangan karena udara diluar sangat sejuk.
"Mas" Panggil zhivana seraya duduk.
"Kenapa dek? Apa kamu butuh sesuatu"
Zhivana menggeleng. Bersamaan dengan itu, seorang pelayan mengantar makanan pesanan arrsyad ke meja. Pria yang seumuran dengan arrsyad itu tersenyum ramah.
Arrsyad yang melihatnya jadi tidak suka, apalagi zhivana ikut tersenyum. Terlihat dari kedua mata zhivana yang menyipit.
"Sana kamu pergi." Usirnya dengan ketus, zhivana menatap arrsyad dengan heran.
"Iya, tu-" Belum saja pelayan pria itu melanjutkan bicaranya, tapi arrsyad sudah memotongnya dengan cepat.
"Kamu ingin dipecat ya."
Dengan takut pria itu langsung berjalan cepat meninggalkan arrsyad.
"Mas kenapa kamu usir dia kayak gitu, kenapa kamu juga tadi mengancamnya?"
Arrsyad mendengus kesal.
"Dia cari perhatian sama kamu, aku gak suka."
"Cari perhatian gimana?"
"Apa kamu tidak lihat, tadi dia tersenyum sok manis. Kamu juga dek, kenapa kamu ikut tersenyum."
Jadi itu, tapi yang benar saja. Memang setiap pelayan selalu tersenyum pada pengunjung yang datang, itukan menunjukkan sikap ramah mereka. Benar-benar berlebihan, arrsyad sangat posesif sekali.
"Tapi mas, emang kesemua pengunjung mereka selalu bersikap seperti itu."
"Enggak, pokoknya aku cemburu dek. Aku gak mau kamu tersenyum pada orang lain selain aku."
'
'
Bersambung
__ADS_1