
Masih dimana acara makan malam yang penuh drama, adzril sudah pulang. Lagi pula ini sudah larut malam, perasaan lega karena adzril sudah pulang membuat arrsyad merasa menang. Memperlihatkan kemesraannya.
Sampai sekarang zhivana belum keluar dari dalam kamar mandi, membuat arrsyad cemas. Takutnya zhivana pingsan, akibat serangan jantung yang diakibatkan ciuman mendadak darinya.
"Sayang udah belum?"
Dengan suara setengah berteriak, arrsyad mencoba membuka knop pintu. Sayangnya, dikunci dari dalam.
"Sayang ayo keluar, kamu gak kenapa-kenapa kan didalam sana?"
Tidak ada jawaban kali ini suara arrsyad lebih keras, takutnya zhivana tidak mendengar. Apa mungkin zhivana pingsan di kamar mandi, lagi pula istrinya itu tidak punya riwayat sakit jantung. jadi tidak mungkin.
Baru saja arrsyad ingin mendobrak pintunya, zhivana sudah membuka pintu.
"Aku kira kamu pingsan,"
Zhivana cemberut kesal, tidak mau melihat pada arrsyad. Jelas-jelas suaminya menyebalkan dan mesum, pasti hal seperti itu akan dianggap hal biasa.
"Tadi aku malu! Kenapa kamu menciumku dihadapan adzril?"
"Ya mau bagaimana lagi, kamu menggoda iman banget."
Selalu itu yang diucapkan, bukannya merasa bersalah arrsyad malah terkekeh. Tidak peduli dengan perasaan zhivana yang kesal.
Zhivana menghembuskan napas berat, lalu pergi meninggalkan arrsyad yang masih berdiri didepan pintu kamar mandi.
Sampai didapur, zhivana celingak celinguk mencari keberadaan adzril. Sekarang dapurnya sudah bersih, tinggal cucian piring kotor yang masih menumpuk diwastafel.
"Loh adzrilnya, mana?"
"Udah pulang dia, lagi pula ini udah malam."
Zhivana mengangguk saja, tidak ingin banyak bicara. Jika bertanya zhivana yakin, arrsyad akan cemburu.
"Mas lepas! Nanti keburu anak-anak bangun."
__ADS_1
Padahal zhivana sedang mencuci piring, tapi arrsyad malah memeluknya dari belakang. Gerakan tangan terasa susah, apalagi arrsyad mulai memberikan ciuman.
"Lanjutkan saja, biarkan seperti ini."
Selesai mencuci piring dengan ngangguan dari arrsyad, zhivana segara mendorong tubuh arrsyad agar menjauh darinya.
"Ayo tidur, mas. Kan besok kita harus pergi ke rumahnya abi husen."
"Baiklah,"
***
Pagi telah tiba, menyambut pagi hari yang cerah. Shubuh tadi, hujan turun sangat deras. membuat udara pagi terasa segar dan dingin.
Sesuai rencana semalam. Arrsyad sudah membawa keluarga kecilnya, tiba dirumah kiai husen. Keluarga yang sangat terpandang dengan ilmu agamanya, menyambut kedatangan arrsyad dan juga zhivana dengan hangat.
"Alhamdulillah, cucu-cucu nenek. Sudah semakin besar ya."
Umi aisyah yang sudah menggendong Aalesha, tidak henti-hentinya memberikan ciuman dipipi gembul Aalesha.
Sementara azwar dan kiai husen, sudah bercengkerama dengan arrsyad.
Azwar membalas dengan senyuman hangat, arrsyad sudah bayak berubah sekarang tidak dingin dan datar seperti dulu. mungkin karena dirinya akan menikah.
Padahal selama ini, azwar. Sudah lama tidak berhubungan dengan zhivana, mengirim pesan singkat saja melalui arrsyad jika ada keperluan atau abi nya rindu.
bercengkerama melepas rindu, makan bersama dengan penuh suka cita. membuat waktu terasa cepat, malam yang semakin larut membuat udara semakin dingin.
Arrsyad berada di pesantren, ingin ikut katanya sudah lama tidak berkunjung. Pulang malam karena azwar mengajak arrsyad untuk bershalawat bersama dimesjid.
Selesai shalawat, arrsyad buru buru ke samping masjid. Dimana tempat wudhu pria disediakan. Matanya sudah sangat berat, padahal kalau mengajak istrinya bergadang ia lah yang paling bersemangat. Tapi kali ini berbeda.
Selesai mencuci muka, arrsyad langsung pergi menemui azwar yang sudah menunggu digerbang mesjid. Rasa kantuk telah hilang, terganti dengan rasa segar.
Beberapa santri putri yang baru keluar dari dalam mesjid, menatap kagum pada arrsyad. Pria bertubuh tinggi semampai itu terlihat bak oppa korea.
__ADS_1
"Istigfar, setan sedang menggoda kita lewat yang bening-bening." Bisik santri putri bergamis putih.
"Astagfirullahal'adzim, abisnya ganteng banget. Saya dengar itu suaminya ustadzah zhivana."
Sedikit mendengar apa yang santri putri itu bicarakan, tapi arrsyad tidak peduli. Ia hanya ingin cepat pulang, menemui zhivana.
Azwar sudah berdiri didekat gerbang, pria itu tersenyum ramah padanya. Penampilan yang mencerminkan pria sholeh itu sangat melekat pada azwar. Rasanya, arrsyad jadi malu. Dapat istri sholehah yang bercadar. Tapi dirinya masih berpenampilan mengikuti tren masa kini.
"Sepertinya para santriwati disini sangat mengagumi mu,"
Bukannya menjawab arrsyad malah menunduk, guratan sedih terlihat jelas diwajah tampan itu. Azwar jadi bingung, apa tadi dia salah bicara.
"Kenapa?"
Arrsyad memberanikan diri menatap wajah teduh azwar. Seharusnya dia seperti azwar, zhivana saja sangat terlihat alim dan tertutup. Tapi dirinya malah suka memakai celana jens robek robek dan kaos.
Apa seharusnya dia bicara pada azwar, rasanya sangat gengsi sekali baru menyadari hal ini sekarang. Tapi jika tidak bicara, arrsyad yakin rasa sesal dikemudian hari akan datang.
"Apa saya salah? Maksud saya, Lihatlah penampilan saya ustadz,"
Azwar mengerjit heran, lalu melihat penampilan arrsyad dari ujung kaki hingga rambut. Tidak ada yang salah, bahkan pria yang menjabat sebagai presdir ini sangat tampan.
"Tidak ada yang salah. Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa karena santriwati tadi,"
"Bukan. Saya hanya malu, berpenampilan dengan mengikuti tren masa kini demi terlihat keren. Zhivana sangat tertutup, begitu juga denganmu ustadz . Pakaianmu mencerminkan ketaqwaanmu."
Azwar tersenyum lebar, lalu menepuk pundak arrsyad.
"Kenapa harus malu, bukannya zhivana menerima kamu apa adanya. Lagi pula ilmu atau kemampuan tidak diukur dari cara kita berpakaian. Diluar sana banyak orang yang berpenampilan tertutup, tapi sayang ilmu agama dan ibadahnya masih kurang. Padahal bukan aurat saja yang harus dijaga, tapi iman dan taqwa kita juga harus dijaga
Jika kamu ingin berubah, maka berubah saja. Apalagi kamu punya seorang anak, kita harus memberikan contoh yang baik. Jadilah diri sendiri, yang penting iman dan taqwa kita tetap kokoh."
"Kau benar, terima kasih. Untuk kesekian kalinya aku mendapatkan hidayah melalui dirimu."
'
__ADS_1
'
Bersambung