
Mobil hitam BMW berhenti tepat didepan rumah besar kediaman Al Faruq. Rumah besar yang bernuansa putih itu kali ini tidak sepi, ada banyak orang yang berdatangan bahkan sudah berkumpul didalam.
Keluarga kiai husen sudah ada didalam, begitu pula dengan para santri putri dan putra. Turut berduka cita atas meninggalnya guru yang pernah mengajar. Ustadzah zhivana.
Bendera kuning dipasang didepan rumah, berkibar seiringnya angin yang menghembus.
Arrsyad turun dari mobil, dibantu reno agar duduk kembali dikursi roda. Sepasang mata itu langsung tertuju pada bendera kuning.
Beralih ke gerombolan orang-orang yang tengah masuk kedalam rumah, memakai pakaian serba hitam. Pendengaran-Nya mulai menangkap suara isak tangis dan jeritan didalam sana.
Terdengar lantunan surah Yasiin dari dalam, bahkan teriakan luchia terdengar jelas memanggil nama zhivana.
"Apa ada pengajian?"
Arrsyad berusaha melihat wajah reno yang tengah mendorongnya dari belakang, kursi roda itu mulai berjalan masuk ke dalam.
Reno diam, bingung harus menjawab apa. Sebaiknya ia diam, percuma saja bicara kalau arrsyad sendiri selalu mengelak tidak mau dengar.
Andre datang dari dalam dengan wajah sedih, bahkan terlihat habis menangis.
"Apa semua sudah siap?" Tanya reno dengan lirih, bahkan seperti orang yang tidak memiliki semangat hidup.
Andre mengangguk, lalu menatap arrsyad dengan kasian. Presedir muda yang dingin kini terlihat sangat rapuh.
"Kenapa kau menangis? Dasar bodoh! kenapa kau ada disini, pergi ke kantor dan bekerja. Aku membayarmu bukan untuk menangis disini." Bentak arrsyad, yang membuat semua orang langsung menatap kearahnya.
"Enyahlah, kau menghalangi jalanku."
Andre hanya diam lalu memberi arrsyad dan reno jalan. Baru saja beberapa meter melewati andre. Kerumunan orang-orang yang mengelilingi jenazah langsung menyapa penglihatan arrsyad.
Gea dan luchia kompak menoleh ke arrsyad, ada reno dibelakang yang sudah menangis. Menumpahkan air matanya yang sedari tadi ia tahan.
Arrsyad berdiri dari kursi roda, lalu menyelundup di antara kerumunan orang-orang yang mengelilingi jenazah zhivana. Di samping jasad zhivana ada azwar, kiai husen, umi aisyah, fazal, dan gea yang sedari tadi mengaji.
__ADS_1
Umi aisyah, luchia dan gea yang tak henti-hentinya menangis di dekat jenazah. Luchia menoleh ketika arrsyad mulai mendekati badan istrinya terbujur kaku di atas kasur.
"Arrsyad, zhivana sudah pergi!" Ujar luchia kepada arrsyad dengan bibir gemetar.
Arrsyad terdiam lalu dengan tangan gemetar ia mulai menyingkap kain yang menutup wajah zhivana.
Wajah cantik itu pucat bahkan terlihat sangat damai, kedua mata teduh itu terpejam rapat. Detik itu juga, arrsyad langsung berteriak histeris. Teriakan yang terdengar memilukan itu mampu membuat orang-orang tertunduk seraya meneteskan air mata.
"Zhivana!!!" Teriak arrsyad histeris setelah menyingkap kain yang menutup wajah.
Terlihatlah wajah zhivana, wajah yang semakin lebih cantik dan bercahaya. Dengan segara arrsyad menciumi wajah zhivana sambil menangis. Kiai husen dan azwar menarik tubuh arrsyad yang semakin histeris.
"Jangan sampai air matamu menetes di jasad istrimu! Itu akan memberatkan zhivana" Ujar kiai husen yang menarik tubuh arrsyad.
Awalnya arrsyad tidak menggubrisnya, tetapi setelah ditarik beberapa kali akhirnya arrsyad luluh.
"Lebih baik kamu mengaji saja! Itu yang dibutuhkan oleh ukhty zhivana," Ucap azwar.
Setelah mendengar nasihat dari azwar, akhirnya arrsyad pun lebih tenang perasaan hatinya. Arrsyad segara pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, setelah itu ia pun membaca surat yasin di samping jenazah zhivana yang sudah ditutup lagi mulai dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.
Umi aisyah, gea dan luchia yang memandikan. Umi aisyah dan luchia hampir pingsan ketika memandikan jenazah karena masih tidak percaya dengan kepergian zhivana.
Saat hendak ingin mulai memandikan jenazah, arrsyad datang. Baju koko hitam panjang yang tadi diganti digulung sampai siku.
"Aku juga ingin memandikan istriku, tolong biarkan aku ikut memandikannya."
Umi aisyah tersenyum tipis, lalu mengiyakan. Menuntun arrsyad masuk ke dalam ruang untuk memandikan jenazah.
Untuk urusan mengkafani, umi aisyahlah yang memimpin dibantu beberapa orang yang lain.
Tepat pukul tiga sore, jenazah zhivana selesai dimakamkan. Banyak sekali warga yang ikut menshalatkan dan mengantar kepergian zhivana ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Tidak bisa dipungkiri, semua penduduk pesantren merasa kehilangan sosok wanita bercadar seperti zhivana yang senantiasa mengajarkan ilmu agama dan kebaikan kepada orang-orang.
__ADS_1
Sebelum pulang, para pelayat diberi pengumuman bahwa tahlilan akan diadakan setiap malam selesai salat magrib di kediaman Al Faruq, setelah itu orang-orang pulang ke rumahnya kembali.
Menyisakan kiai husen, azwar, reno dan arrsyad. Sementara luchia dan umi aisyah saat jenazah hendak ingin dikubur keduanya jatuh pingsan, dan langsung diantar pulang oleh fazal, gea, dan andre.
"Nak arrsyad ikhlaskan istrimu, dia sudah tenang disisi Allah Swt." Ucap kiai husen yang sedari tadi berjongkok dihadapan papan nisan.
"Tolong tinggalkan aku sendiri disini, aku ingin berdua dengan istriku." Ucap arrsyad dengan suara hampir tidak terdengar.
Azwar, kiai husen dan renopun hanya mengiyakan, lalu pergi meninggalkan arrsyad sendirian dimakam istrinya.
Papan nisan yang bertusliskan Zhivana Khoirun Nisa itu arrsyad tatap dengan sendu. Air matanya kembali menetes, hatinya terasa sesak hingga memenuhi rongga dada.
Kecupan dipapan nisan itu datang untuk yang kesekian kalinya, bahkan diatas tanah makam yang penuh dengan hamparan bunga arrsyad lihat dengan pilu.
"Zhivana kenapa kau pergi meninggalkan aku sendirian."
"Kenapa kau pergi tanpa pamit dariku, padahal aku tidak mengizinkanmu pergi."
"Sayang tolong bangunkan aku, ini pasti mimpi burukkan?"
Marah, sedih, terluka bercampur aduk menjadi satu. Terasa perih dan pedih. Kini cintanya telah pergi, untuk selamanya bahkan untuk dikejar saja tidak bisa. Sulit untuk digapai, sulit untuk digenggam.
Padahal masih ingin bersama diwaktu yang lebih lama. Tapi nyatanya dia pergi tanpa pamit, tanpa kata, tanpa salam namun diakhiri dengan perpisahan yang begitu menyakitkan.
Angin sore yang bertiup kencang membuat bunga dan daun kering berjatuhan ke tanah, sebagian mengenai tubuh arrsyad.
Cuaca yang mendung membuat hari semakin menggelap, sunyi dan pilu. Terasa waktu berputar dengan lambat, seperti sengaja ingin menggoreskan luka agar lebih dalam lagi.
"Biarkan jantung ini berdetak disini. Jika aku hidup dan kau tiada, lalu bagaimana caraku untuk berjalan tanpa kamu disisiku."
'
'
__ADS_1
Bersambung