Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 53 : Aku Tadi Nungguin


__ADS_3

Setelah perdebatan kecil yang terjadi diantara gea, luchia, dan reno. Gea, memilih diam dan tidak memihak pada siapapun, dirinya malah lebih mendukung hubungan azwar dan zhivana. Sangat serasi dan terlihat pantas untuk bersanding dipelaminan.


Zhivana telah sadar, keluarga azwar sudah datang menjenguk dan sampai sekarang masih menemani zhivana.


"Nak, kalau butuh sesuatu bilang aja" Ucap umi aisyah seraya tersenyum merekah penuh kehangatan.


Zhivana tersenyum.


"Terimakasih umi. Maaf ya zhivana malah ngerepotin umi sama abi"


Kiai husen tersenyum dengan mengusap kepala zhivana dengan sayang.


"Tidak nak, kamu anak abi dan umi. Besok adalah hari pernikahan mu dengan azwar. Jadi jangan banyak pikiran, istirahatlah"


Zhivana mengangguk seraya tersenyum ramah.


Sore telah tiba, zhivana sudah berada dirumah, memutuskan untuk pulang cepat karena dirinya sangat merindukan suasana rumah. Reno dan luchia mampir sebentar untuk mengatarkan makanan setelah itu kembali pulang. Begitu pula dengan umi aisyah dan kiai husen mereka telah pulang. Kini tinggal zhivana seorang diri.


"Aku bisa melihat kembali. Tapi sayang, saat aku bisa melihat kedua orangtuaku sudah tidak bisa aku lihat lagi"


Zhivana duduk termenung diatas kasur milik kedua orangtua nya seraya memeluk album foto keluarga. Semua masih sama, tidak ada yang berubah. Kehangatan yang dulu sering dirasakan sekarang telah sirna, digantikan oleh kesunyian yang melanda.


"Besok aku akan menikah! Tapi kenapa aku tidak bahagia. Mas azwar dimana, kenapa saat aku bisa melihat kembali, mas azwar tidak menemuiku" Tanya zhivana pada dirinya sendiri.


Hening, rumahnya sekarang sangat sepi. Padahal besok hari pernikahannya dengan azwar. Sosok pria sholeh yang terkenal alim dan sopan santunnya membuat para ibu-ibu yang memiliki seorang anak gadis ingin menjodohkannya dengan azwar, tapi sayang pria itu selalu menolak dan memilih menikah dengan dirinya.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan zhivana, beringsut turun dari ranjang untuk membukakan pintu, siapa yang bertamu kerumahnya sore-sore begini, bahkan hari sudah mulai gelap, mungkin sebentar lagi adzan magrib mulai berkumandang.


Zhivana membuka pintu dengan perlahan, entah mengapa saat pintu mulai terbuka angin sore yang seharusnya terasa sejuk, malah dingin yang terasa aneh menyeruak begitu saja.


"Mas azwar" Ucap zhivana, seolah tak percaya dengan kedatangan azwar.


Pria itu malah tersenyum lebar, pakaiannya sangat rapi! Baju koko putih dengan sorban yang tersampir dipundak, peci hitam yang membuat wajahnya semakin tampan, sarung hijau bercorak kotak itu terlihat rapi.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Zhivana menundukan pandangannya, tangan kanannya masih setia memegangi pintu.


"Mas senang, kamu bisa lihat lagi. Selamat ya zhi! Maaf, mas baru menemuimu sekarang."


Zhivana menggeleng pelan, rasanya sangat gugup setiap kali berdekatan dengan azwar.

__ADS_1


"Gak apa pa kok, mas kemana aja, aku tadi nungguin mas." Ucapnya dengan malu-malu.


Azwar tersenyum lembut, andai zhivana memiliki rasa cinta yang sama dengannya, mungkin dirinya tidak akan melepaskan zhivana.


"Tadi ada urusan. Maaf, udah bikin kamu nunggu, nanti janji deh, gak akan buat kamu nunggu lagi."


Zhivana mendongakkan kepalanya, ingin melihat pria yang sebentar lagi menjadi suami sekaligus imam baginya.


"Mas, aku sayang kamu" Dengan malu-malu ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut zhivana.


Andai zhivana tidak memakai cadar, betapa merahnya pipi zhivana menahan rasa malu, senyum manis itu terus melengkung, seolah-olah dirinya sangat senang memiliki rasa sayang pada pria yang ada dihadapannya.


Deg


Azwar refleks memegangi dadanya, senyum yang sedari tadi terlihat, bertambah merekah. Seperti mendapat kebahagiaan yang luar biasa azwar terasa mendapatkan jiwanya kembali.


Zhivana yang tidak mendapat respon dari azwar langsung menoleh. Pria itu malah tersenyum-senyum seraya memengangi dadanya.


Zhivana yang merasa khawatir dengan azwar yang malah diam saja seraya memengangi dadanya, membuat dirinya teringat dengan penyakit kanker darah yang azwar idap.


"Mas. Mas kamu kenapa? Apa dadanya sakit?" Tanyanya dengan raut wajah cemas.


Sedangkan yang ditanya malah diam saja.


"Sakit? Mas gak sakit, malah bahagia banget."


"Iya zhi ini sakit, karena besok bukan mas yang akan menikahimu, tapi arrsyad. Dia lebih pantas bersamamu."


Senyum lembut yang azwar tunjukkan pada zhivana hanya sekedar senyum palsu untuk menutupi luka dihatinya. Tapi tak apa ini semua demi zhivana, wanita itu berhak bahagia. Azwar tak boleh egois. Dirinya juga ingin melihat wanita yang dicintainya bahagia.


"Beneran dadanya gak sakit."


Azwar mengeleng seraya tersenyum lembut.


"Mas, kenapa sore-sore kesini? Bentar lagi adzan magrib, seharusnya mas pergi ke masjid, bukan kesini."


"Kamu gak seneng mas mampir kesini?" Jawabnya dengam pura-pura ngambek.


Zhivana yang melihat raut wajah azwar berubah cemburut, langsung merasa tak enak hati.


"Eh, bukan gitu mas. Aku cuman nanya kok, aku i-itu, aku khawatir aja sama mas." Ucapnya dengan menunduk malu.


"Zhivana khoirun nisa. Aku sangat mencintaimu! Andai tuhan tidak menakdirkanku sakit, mungkin saat ini aku menjadi pria yang paling bahagia! Karena sebentar lagi aku akan menghalalkanmu. Menjadikanmu bidadari surgaku, menjadikanmu perhiasan duniaku yang paling indah. Tapi, itu semua adalah khayalan belaka yang tidak akan menjadi nyata."

__ADS_1


"Zhivana, terima kasih telah mengkhawatirkaku, aku sangat senang."


Zhivana menanggapi dengan senyuman.


"Zhivana"


"Ya"


"Percayalah! Walau mas tidak ada, tapi mas akan selalu mencintaimu."


Zhivana mengerjap tak mengerti, apa maksudnya.


"Maksud mas, apa?"


"Memangnya, mas tidak ada mau kemana. Mas jangan ninggallin aku." Ucap zhivana kembali.


Azwar terkekeh geli, melihat zhivana seperti seorang bocah balita yang enggan ditinggal pergi ke warung oleh emaknya.


"Kamu ini, mas kan mau ke mesjid" Ucapnya dengan tertawa kecil.


"Mas tolong jangan buat aku takut. Mas azwar jangan bicara kaya gitu"


"Iya, iya maaf. Kalau gitu mas pamit pulang dulu"


"Bukannya mau ke mesjid." Tanya zhivana heran.


Entah kenapa hari ini, zhivana merasa ada yang aneh, pria yang ada dihadapannya ini, seperti bukan azwar yang biasanya.


"Iya ke mesjid. Kalau gitu mas pamit dulu. Jaga dirimu dengan baik. Assalamualaikum zhivana." Ucapnya dengan tersenyum.


Zhivana membalas senyuman itu.


"Waalaikumsalam mas azwar."


Zhivana melihat punggung azwar yang semakin menjauh, rasanya ada yang aneh, tapi entah apa. Zhivana memilih langsung masuk ke dalam rumah.


Adzan magrib telah berkumandang. Rencananya umi aisyah dan beberapa santri akan menginap dirumah nya malam ini.


'


'


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2