Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 96 : Untuk Kamu (Part 2)


__ADS_3

Zhivana sangat bahagia sekali hari ini. Seperti mimpi yang menjadi nyata, ia berada ditengah-tengah hamparan bunga mawar putih. Apalagi dengan arrsyad yang selalu membuat dirinya nyaman.


Selesai dengan acara kejutan pertama, yang terkesan lama hingga malam. Keduanya langsung menuju kelantai lima belas. Dimana hanya ada satu ruang kamar VIP yang bergaya eropa, desainnya yang berkelas glamor membuat arrsyad memilih kamar itu.


Baginya uang yang selama ini ia dapat dari hasil kerja keras menjadi seorang presedir, sudah sangat banyak. Bahkan buku tabungan arrsyad lebih dari hitungan jari, belum lagi brankas dirumah masih terisi penuh.


"Mas berapa harga untuk menyewa hotel semewah ini?" Zhivana yang sedari tadi penasaran langsung menanyakan perihal harga sewa menyewa saat keduanya tengah berada di lift.


Arrsyad yang asik menatap layar gawai langsung menoleh seraya mengangkat sebelah alisnya. Kenapa harus bertanya segala, arrsyad mulai berpikir pasti istrinya itu akan mulai mengomel lagi.


"Kenapa memangnya?" Bukannya menjawab arrsyad malah balik bertanya. Zhivana yang sedari tadi bergelanyut manja ditangan kanan arrsyad segara menjauh.


"Jawab mas! Aku penasaran banget tau." Zhivana mulai merajuk.


"Harganya setara dengan harga beli ****** dipasar." Celetuk arrsyad dengan asal menjawab. Dalam hati ia sudah tertawa geli karena ucapannya sendiri.


"Itu mah sepuluh ribu dapet tiga. Kamu kok malah bahas ****** ***** sih mas."


Pintu lift terbuka, dengan segara keduanya langsung keluar. Terlihat satu pintu kamar yang sangat lebar dan besar. Zhivana mulai berpikir, apakah diruangan itu sangat indah seperti tadi?


"Kamu gak perlu tau. Itu rahasia aku sama menejer tadi." Arrsyad segara memeluk tubuh zhivana dari belakang.


Zhivana tersenyum dengan berjinjit, ia segera mengecup pipi kiri arrsyad dengan cepat. Lupakan dengan rasa penasaran soal harga menyewa hotel ini. Selama ada arrsyad, maka semua akan nyaman.


Tapi sayang arrsyad harus pergi sebentar karena andre menyusulnya kemari. Arrsyad sudah mengumpat kesal, sudah tau ini jadwal pentingnya dengan zhivana tapi malah terganggu. Andre datang kesini tidak sendirian, melainkan dengan pejabat kota. Entah ingin apa pria paruh baya itu malah memaksa andre untuk mengantarnya kemari.

__ADS_1


Arrsyad sudah memberitu zhivana. Istrinya itu menyuruh arrsyad segara pergi. Tidak baik, membuat orang penting yang berstatus pejabat itu menunggu.


"Aku gak papa kok sendirian. Kamu pergi aja mas,"


Arrsyad menyandarkan punggungnya ditembok dengan sebelah tangan dimasukan kedalam saku celana, tangan kanannya memijat pangkal hidung. Kepalanya mulai berdenyut sakit.


"Ikut aku aja yuk, dek. Aku takut kamu kenapa-napa kalau aku tinggal sendirian."


"Gak mau, aku ingin istirahat saja didalam. Udah mas, kamu cepet pergi! Gak baik tau udah ditunggui dari tadi."


"Beneran gak papa?" Arrsyad yang cemas, rasanya sangat enggan untuk pergi.


Zhivana mengangguk. Setelah memberitahu paswoard kamar. arrsyad langsung pergi. Sementara zhivana sudah siap untuk menekan deretan angka. Paswoard sudah zhivana masukan, pintu kamar yang tertutup rapat kini zhivana mulai membukanya dengan perlahan.


Pintu telah terbuka sempurna, zhivana langsung masuk. Kedua matanya menatap kagum melihat semua seisi kamar yang luas. Kali ini bukan kelopak bunga mawar putih yang menjadi kesan indah, melainkan hamparan kelopak bunga mawar merah memenuhi setiap lantai kamar.


Lampu kamar yang dimatikan, digantikan dengan cahaya lilin yang mengelilingi ranjang terkesan sangat indah. Zhivana mulai melangkahkan kakinya, menginjak hamparan kelopak bunga mawar merah yang masih segar.


Zhivana berhenti tepat dihadapan buket besar, diatas buket itu terdapat secarik kertas. Rasa penasarannya membuat zhivana segera membaca isi surat.


Buka kotak merah yang ada didalam kamar mandi, apapun itu isinya. Kamu harus pakai. - Arrsyad.


Zhivana tersenyum lalu mulai melangkah pergi masuk kedalam kamar mandi. Pintu terbuka terlihatlah kotak merah berbentuk segi empat itu dengan setangkai bunga tulip diatasnya.


Perlahan zhivana mulai memegang kotak itu, ia mulai menebak kira-kira isinya apa. Karena penasaran zhivana mulai membuka kotak merah itu dengan perlahan.

__ADS_1


Tangan zhivana mengambil isi dari kotak merah tersebut. Gaun putih panjang yang menjuntai kebawah itu sangat cantik. Dengan segara ia langsung membersihkan badan seraya berganti pakaian. Kain cadar zhivana buka, ia hanya menggenakan kerudung syar'i panjang dengan gaun putih cantik yang ada didalam kotak merah tadi.


Zhivana tersenyum saat melihat pantulan dirinya dicermin. Perut besarnya sangat terlihat jelas, dengan gaun putih yang menjuntai ini zhivana terlihat sangat anggun dan cantik.


Dengan hati yang bahagia, zhivana keluar dari kamar mandi. Tanpa zhivana ketahui arrsyad sudah berdiri diteras balkon. Seiringnya angin yang menghembus, menerbangkan helaian gordeng putih panjang itu.


Zhivana yang merasa heran, karena pintu menuju teras balkon terbuka dengan lebar. Dengan langkah pelan, zhivana mulai mendekat ke arah balkon.


Terlihat arrsyad tengah berdiri membelakanginya. "Mas" Zhivana memanggil arrsyad dengan pelan. Membuat orang yang dipanggil langsung berbalik badan untuk menatap orang yang telah memanggilnya.


Wajah tampan arrsyad, yang terkena sorot sinar bulan yang terang. Terlihat sangat tampan dan menawan. Hati zhivana sudah berdebar-debar, wajah arrsyad kali ini kadar ketampanannya meningkat semakin tampan. Rambut arrsyad yang acak-acakan akibat tiupan angin terlihat malah semakin tampan dan keren. Apalagi ujung lengan kemeja putih arrsyad dilipat sampai ke siku, dua buah kancing atas kemeja yang sudah dilepas. Memperlihatkan dada bidang arrsyad yang putih.


Keduanya saling bersirobak, menatap dalam diam saling mengagumi. Kaki jenjang arrsyad yang tinggi melangkah mendekati zhivana. Istrinya itu terlihat sangat cantik, gaun putih yang menjuntai kebawah itu sangat indah dan cocok untuk zhivana. Arrsyad memesannya khusus. Retina mata arrsyad tidak mampu berpaling dari sosok zhivana. Bagi arrsyad malam ini zhivana sangat cantik dan anggun. Apalagi dengan perut zhivana yang besar, membuat istrinya itu terlihat sangat seksi.


"Sayang, kamu cantik."


Kedua pipi zhivana mulai merona, apalagi debaran jantungnya terus memompa dengan cepat. Zhivana salah tingkah saat arrsyad menatapnya dengan tatapan seperti itu.


"Mas, jangan liatin aku kayak gitu. Aku malu."


Dari dulu sampai sekarang zhivana memang sangat pemalu, hal itulah yang membuat arrsyad sangat gemas. Kalau tidak sedang hamil besar, mungkin arrsyad akan sangat menggila.


"Retina mataku tidak mampu berpaling, dari sosok indah yang telah Allah ciptakan hanya untukku."


'

__ADS_1


'


Bersambung


__ADS_2