
Sementara zhivana, masih dirumah sakit, matanya diperban. Hari ini dia akan bisa melihat cahaya lagi.
Zhivana turun beringsut dari bed hospital, mangambil tongkatnya, kemudian berjalan membuka horden kamar untuk merasakan cahaya matahari yang mulai meninggi.
"Assalamualaikum"
Zhivana buru-buru menoleh kebelakang, ia hafal betul suara luchia dan gea.
"Waalaikumsalam, kak luchia."
Luchia dan gea langsung mendekat ke zhivana, setelah meletakkan parsel buah diatas meja. Luchia mendekat, mengengam tangan zhivana dengan lembut. Senyumnya merekah penuh kehangatan.
Masih menunggu, dalam lubuk hati kecil zhivana menanti suara arrsyad. Berharap pria yang selalu mencintainya itu datang untuk memberikan selamat padanya. Rasa penasaran menyeruak begitu saja, ada rasa rindu yang tersemat, menyelip kecil bagai secarik kertas.
Zhivana tersadar, kenapa dirinya memikirkan sosok arrsyad. Akui saja zhivana memang merindukan arrsyad. Dia ingin melihat wajah pria yang sudah membuat hatinya berdebaran.
Selama ini zhivana hanya bisa, mencari sosok itu lewat suara. Suara bariton yang mengalun lembut ditelinganya.
"Selamat zhivana. Sebentar lagi kamu bisa kembali melihat."
Dengan senyum merekah, luchia memeluk zhivana sekejap.
Zhivana tersenyum seraya menggangguk kecil. Dalam hati yang gundah, dirinya merasa ini semua salah. Seharusnya yang dirinya harapkan adalah azwar calon suaminya bukan arrsyad. Memang hati tidak bisa dibohongi.
"Zhivana ayo duduk kembali di bed hospital. Kita akan melakukan pembukaan perbannya sekarang."
Luchia langsung menuntun zhivana. Mendudukan gadis itu disana. Kain cadar dibuka oleh gea supaya memudahkan membuka perban.
Kulit putih itu terpancar, semburat rona kemerahan dipipi terlihat jelas alami, hidung kecil mancung, bulu mata lentik, itu semua sangatlah cantik. Apalagi bibir kecil yang semerah cerry, sangat indah dan menawan. Gea yang sudah lama tidak melihat wajah asli zhivana langsung terkagum-kagum.
"Zhivana, wajahmu cantik. Ah tidak, maksudku sangatlah cantik." Puji gea.
Luchia hanya tersenyum, dirinya juga akui bahwa zhivana sangatlah cantik. Bahkan bisa dikatakan memiliki kecantikan diatas rata-rata.
Senyum merekah dengan sendirinya, kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah zhivana yang tampak berseri-seri.
"Aku buka ya perbanya, bismillahirohmannirohim."
Gea sebagai seorang dokter langsung bekerja dengan lihai dan profesional. Jari-jari lentiknya bekerja membuka kain perban. Perlahan tapi pasti, perban itu sudah terlepas. Kedua mata yang terpejam rapat itu sebentar lagi akan kembali normal bisa melihat.
"Bukalah, perlahan-lahan aja, soalnya harus menyesuaikan dengan cahaya." Instruksi gea.
Luchia yang tidak ingin ketinggalan momen ini, langsung memfokuskan penglihatannya. Detik ini juga zhivana akan bisa melihat.
Zhivana mulai membuka kedua matanya dengan perlahan, sedikit demi sedikit cahaya mulai terlihat, semakin terbuka zhivana menyesuaikan cahaya disekitar, samar-samar zhivana dapat melihat luchia dan gea.
__ADS_1
"Aku dapat melihat kembali."
Seutas kata yang menahan tangis haru kebahagiaan, zhivana dapat melihat dengan jelas seisi ruangan ini, begitu terlihat luchia wanita cantik itu tersenyum senang kearahnya.
"Alhamdulillah Ya Alloh. Umi, abi aku bisa melihat kembali."
Air mata kebahagiaan menetes begitu saja, membasahi pipi. Suasana haru biru itu langsung terasa, bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Puji serta syukur terhadap sang khaliq yang telah mengabulkan doa-doanya selama ini.
"Selamat zhivana."
Dengan air mata yang beruraian, luchia memeluk zhivana erat. Ucapan selamat terus terucap hingga beberapa kali.
Zhivana melepaskan pelukan luchia, melemparkan senyuman manis ke luchia.
"Kak luchia, terima kasih. Aku sangat bahagia."
Dengan mengusap air mata, luchia mengangguk seraya membalas senyuman zhivana.
Beralih menatap gea, sahabatnya yang selalu memberikan semangat dan harapan-harapan indah itu rupanya tengah menangis.
"Selamat zhivana, aku ikut senang serta bahagia. Sahabatku akhirnya bisa kembali melihat."
Tanpa menunggu lama, mereka langsung berpelukan dengan air mata yang beruraian.
"Aamiin, zhivana. Aku sangat menyayangimu"
"Aku juga."
Rengkuhan semakin mengerat, layaknya seorang adik kakak yang baru dipertemukan. Seperti yang tidak ingin dipisahkan, pelukan itu semakin erat dan penuh kasih sayang.
Setelah sekian lama saling berpelukan, dan menangis karena bahagia. Mereka bertiga langsung berbincang-bincang. Sesekali terdengar gelak tawa dari ketiga nya.
Sedang asik-asiknya, tiba-tiba seseorang masuk. Siapa lagi kalau bukan reno. Pria itu melemparkan senyuman pada ketiga nya.
Saat menyadari zhivana belum memakai cadar. Reno langsung membalikan badannya.
"Astagfirullah. Sungguh aku tak melihatnya."
Zhivana langsung mengambil kain cadar dan memakainya.
"Maaf kak."
"Sudah. Ayo berbalik." Perintah luchia.
Reno membalikan badan, tesenyum canggung dengan menatap zhivana.
__ADS_1
" Cantik banget adikku."
Dalam hati reno tertawa bangga, adiknya kalah karna dirinya lebih dulu melihat wajah asli zhivana.
"Alhamdulillah, terima kasih kak reno."
Reno mendekat lalu tersenyum hangat ke zhivana.
"Selamat ya zhi, akhirnya kamu bisa melihat kembali."
Zhivana tersenyum seraya menggangguk. Dirinya juga mengucapkan terima kasih karena selama ini reno dan luchia telah membantunya. Terutama reno telah mengurus cafe milik mendiang abinya.
Hari sudah semakin siang, luchia masih bersama zhivana. Sementara reno harus pergi ke kantor. Gea sibuk memeriksa pasien lain, jadi tidak bisa menemani zhivana. Keluarga azwar sudah menjenguk, memberi ucapan selamat. Azwar tidak ikut, entah kemana pria itu tiba-tiba menghilang.
Luchia merebahkan tubuhnya disopa, sementara zhivana, wanita itu duduk dibed hospital dengan kaki yang menjuntai kebawah.
"Zhi" Panggil luchia tanpa menoleh. Melihat ke atas menatap langit-langit ruang vip rumah sakit.
"Iya kak" Sahut zhivana dengan menatap luchia.
"Kamu yakin mau menikah dengan pria itu."
Zhivana terdiam. Dengan ragu dirinya menjawab kalau ia sudah yakin dengan pernikahan ini.
"Kasian arrsyad. Semalam dia pulang dengan keadaan kacau, bajunya basah kuyup, dan mata memerah. Sepertinya dia sedang menahan rasa marah. Sikapnya kembali dingin dan ketus. Padahal akhir-akhir ini dia sudah bersikap hangat, ya walaupun masih irit bicara."
Zhivana menunduk dalam, rasa cinta yang tumbuh tanpa permisi, rasa cinta yang tumbuh tanpa izin, rasa cinta yang tumbuh tanpa disadari ini semakin terasa dan butuh tempat melabuh. Berlayar diambang ombak, berlayar ditengah laut lepas, tentunya sebuah kapal juga butuh tempat berlabuh. Layaknya cinta yang butuh seorang pemilik untuk melabuhkan rasa cintanya.
"Zhi, dia sangat mencintaimu! Selama ini dia mencintaimu dalam diam. Sungguh kuat hatinya bukan? Selama ini dia berjuang dan merasa sakit hati. Zhivana aku tanya padamu sekarang, tolong jawab dengan jujur. Apakah kau mecintai azwar, pria yang sebentar lagi menikahimu"
Seketika hati zhivana merasa tersentak. Bagaimana ini dirinya diminta jujur, kalau bohong dosa. Ya, zhivana harus jujur dengan isi hatinya.
"Aku"
Luchia langsung menoleh dengan posisi masih rebahan, penasaran dengan jawaban zhivana, luchia mendesak kembali.
"Jujur saja, ini demi kebaikanmu juga. Jangan memaksakan sebuah perasaan."
"Aku tidak mencintanya, mungkin belum, tapi aku akan berusaha mencintai mas azwar." Lirih zhivana, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
'
'
Bersambung
__ADS_1