
Didalam kamar, zhivana baru saja terbangun. Rupanya sudah sore, melihat kesamping tempat tidur ternyata suaminya tak ada.
"Arrsyad kemana, dia."
Zhivana beringsut turun dari ranjang, memakai baju handuk tebal seraya memungut pakaian yang dilempar arrsyad kelantai.
"Udah bangun" Tanya arrsyad yang tiba-tiba sudah ada dibelakang zhivana.
"Mas, kamu dari mana" Tanya zhivana seraya meletakkan baju dikeranjang pakaian kotor.
Arrsyad merebahkan tubuhnya diranjang, seluruh tubuhnya terasa sakit, apalagi dibagian kaki.
"Aku capek, permintaan kak luchia ngidam membuatku tersiksa. Tubuhku sakit semua." Keluh arrsyad.
"Aku mandi dulu, selesai mandi aku pijitin."
Arrsyad mengangguk saja. setelah istrinya masuk ke dalam kamar mandi. Arrsyad mengambil ponsel milik zhivana.
Ponsel zhivana menyala, menampilkan foto zhivana dan arrsyad saling berpelukan seraya tersenyum bahagia menghadap ke arah kamera.
Ditengah asiknya memainkan ponsel milik zhivana, tiba-tiba ada pesan masuk dari nomer yang tidak dikenal. Rasa penasaran menyuruhnya untuk membuka pesan itu.
"Assalamualaikum, zhivana. Apa kabar? Oh iya zhi, bisa tidak besok kamu ke rumah. Abiku ingin ketemu kamu, beliau rindu kamu katanya."
Pikiran arrsyad langsung tertuju pada azwar, bagaimana ini? Apakah dirinya harus membiarkan zhivana pergi kesana sendirian, mengingat besok arrsyad ada pertemuan bisnis dengan kolega para petinggi perusahaan. Pertemuan itu tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
Rasa cemburu kembali terasa, rasa tidak ingin kehilangan zhivana kembali menghantui. Entah kenapa arrsyad berpikir, azwar ingin kembali memiliki zhivana.
"Zhivana, milikku."
Tapi dirinya tidak boleh egois, kasian kiai husen merindukan zhivana. Mengingat beliaulah yang menjadi wali nikahnya zhivana.
Pintu kamar mandi terbuka, terlihat zhivana sudah berpakaian lengkap dengan membiarkan rambut hitam panjangnya tergerai karena basah.
"Aku mau bicara dulu sama kak reno." Ucap arrsyad seraya pergi begitu saja tanpa menoleh, tak lupa handpone milik zhivana dibawa.
Zhivana mengiyakan saja, lalu menyisir rambut.
"Tiba-tiba aku rindu umi aisyah dan abi husen."
Diruang kerja milik reno, arrsyad tengah menceritakan pesan dan tujuan dari azwar. Reno menyimak dengan seksama, dirinya dapat mengetahui kalau adiknya itu tengah cemburu.
"Aku harus bagaimana."
Reno memutar bola matanya jenggah.
"Gitu aja diambil pusing, tinggal pergi kesana aja. Memang apa salahnya, toh. Yang rindu kiai husen bukan azwar. Ribet kamu"
"Astagfirullah kak, aku juga tau itu. Tapi tetap saja, kalau zhivana kesana pasti bakalan ketemu sama ustadz azwar. Aku gak mau dia ketemu zhivana. Cemburu aku tuh."
"Zhivana udah jadi milik kamu, dia istri sah kamu. Jadi kamu tenang aja, kasihan sama kiai husen dia rindu zhivana. Biarin dia pergi."
__ADS_1
Mulai berpikir sejenak lalu menatap reno sekejap. Benar juga, dirinya terlalu egois dan cemburu. Toh, yang rindu kiai husen bukan ustadz azwar. Apalagi zhivana sekarang istri sah nya, ada yang sentuh dikit istrinya itu arrsyad akan mengbabadnya sampai habis.
"Presedir mah bebas."
Arrsyad tersenyum jumawa dalam lamunannya, membuat reno bergidik ngeri. Adiknya itu malah senyum-senyum sendiri.
"Saking cemburunya dia, jadi stres."
***
Setelah makan malam selesai, luchia dan reno langsung pergi ke kamar. Dikehamilan luchia yang semakin membesar, membuatnya cepat lelah.
Zhivana yang sedang asik mencuci piring, tiba-tiba sepasang tangan melilit di pinggangnya.
"Astagfirullahal'adzim, mas." Pekik zhivana terkejut.
Arrsyad terkekeh, memeluk istrinya dari belakang seperti ini sudah menjadi hal biasa disetiap hari.
"Dek, mas mau bicara sama kamu sekarang." Ucapnya seraya mencium pipi kiri zhivana yang tertutup kain cadar.
"Bicara aja."
"Ustadz azwar kirim pesan ke handpone kamu tadi sore, katanya Kiai husen rindu kamu, besok kamu harus kerumahnya."
Kegiatan mencuci piring mendadak terhenti, zhivana. Yang takut arrsyad cemburu dan marah seperti waktu itu membuatnya ragu untuk kerumah kiai husen, apalagi nanti ada azwar.
Dengan perasaan ragu, zhivana. Bertanya.
Arrsyad tersenyum lalu mencuci tangan zhivana yang penuh dengan busa sabun. Membalikan tubuh zhivana seraya mengelus pipi zhivana dengan lembut.
"Pergilah, aku gak marah. Akunya aja yang terlalu posesif sama kamu sayang."
Cup
Satu kecupan manis mendarat di kening, zhivana tersenyum senang mendengarnya. Ada perasaan lega, akhirnya rasa rindu terhadap umi aisyah dan abi husen dapat tersalurkan.
"Tapi, kalau aku ketemu ustadz azwar. Mas, marah gak."
Arrsyad mengeleng.
Zhivana menatap arrsyad ragu.
"Tapi, mas."
Arrsyad memegang kedua pundak zhivana.
"Dengar, ustadz azwar itu masa lalu kamu, sementara aku adalah suami kamu sekarang dan selamanya. Dek, aku sayang banget sama kamu, dulu dapetin kamu susah banget. Butuh perjuangan yang besar untuk bisa ketahap seperti sekarang. Jadi intinya kita saling percaya aja, ya. Sayang."
***
Hari ini, dimana zhivana akan pergi kerumah kiai husen. Arrsyad sudah pergi bekerja dari dua jam yang lalu. Zhivana sudah berdandan rapi.
__ADS_1
"Mau kemana" Tanya luchia saat melihat zhivana berjalan hendak keluar dari pintu rumah.
Zhivana menoleh, lalu mendekati luchia.
"Aku mau kerumah abi husen, katanya beliau ingin bertemu."
Setelah sedikit berbicara dan pamit pada luchia, zhivana berangkat diantar oleh supir.
Setibanya didepan rumah kiai husen, zhivana meminta bantuan pada sang supir untuk membawa oleh-oleh kedalam rumah.
"Sudah lama aku tidak kesini."
"Assalamualaikum." Ucap zhivana, seraya mengetuk pintu rumah.
Tidak menunggu waktu lama, pintu terbuka. Terlihatlah, umi aisyah dan kiai husen yang seperti sudah tau akan kedatangan zhivana.
"Waalaikumsalam, masya allah. Zhivana kamu kemari nak." Ucap umi aisyah dengan senang.
Keduanya saling berpelukan, melepas rasa rindu dari sekian lama tidak bertemu. Zhivana langsung diajak masuk ke rumah, ketiganya berbincang-bincang seraya menanyakan kabar satu sama lain.
"Suamimu bagaimana zhivana. Apa dia baik padamu." Tanya kiai husen.
"Alhamdulillah, mas arrsyad selalu baik dan alhamdulillahnya dia menjadi imam yang baik untukku."
Dua jam zhivana dirumah kiai husen, zhivana juga sempat keliling pondok pesantren, makan bersama seraya berbincang ria ternyata sangat nyaman. Sosok kedua orang tuanya terasa ada pada kiai husen dan umi aisyah.
"Sebentar lagi adzan dzuhur, aku harus pulang dulu." Ucap zhivana yang sudah berada dihalaman rumah.
Umi aisyah memeluk zhivana, isak tangisnya terdengar.
"Jaga dirimu baik-baik, kalau ada apa pa hubungi kami jangan sungkan. Sayang, kamu anggap umi seperti umi kandungmu sendirikan."
Zhivana mengangguk seraya mengeratkan pelukannya.
"Iya. Umi, adalah umiku, begitu pula dengan abi. Aku sayang kalian berdua."
"Kalau padaku sayang tidak." Ucap azwar tiba-tiba.
Pelukan terlepas, terlihat azwar. Sosok pria itu tampak lebih segar dan sehat, tapi tidak dengan tubuhnya yang kurus.
Zhivana menatap azwar dengan lamat. Air matanya sudah mulai berderaian, tak bisa dibohongi. Zhivana sangat rindu pada azwar, seperti perasaan rindu terhadap seorang adik pada kakak sendiri.
"Tentu saja sayang, kamu kan kakakku. Disurat pada detik-detik terakhir ijab kabul akan dilakukan kau bilang, mulai sekarang aku adalah adikmu dan kau adalah kakakku."
Azwar tersenyum senang mendengarnya, mendekat ke zhivana.
"Kalau begitu ayo salim dulu."
'
'
__ADS_1
Bersambung