Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 107 : Apa Separah Itu


__ADS_3

Sesuai rencana. Pagi ini arrsyad menjemput azwar, pria itu sudah menunggu didepan rumah. Seperti biasa azwar selalu memakai koko, hanya saja bawahannya celana katun panjang bukan sarung.


Mobil BMW hitam telah terparkir sempurna didepan rumah kiai husen, pintu terbuka. Arrsyad keluar dari dalam mobil, kali ini pakaiannya tidak terlalu formal.


Memakai kaos putih dipadukan dengan jas navy. Rambut hitam legamnya selalu tidak disisir rapi, dibiarkan acak-acakan untuk terlihat keren.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam."


"Langsung berangkat aja soalnya nanti siang saya ada pertemuan penting."


Azwar menganguk, paham dengan kondisi arrsyad yang sibuk. Mungkin menjadi seorang presedir harus sangat ekstra bekerja keras dengan jadwal yang sibuk. Belum lagi harus berkutat dengan berkas-berkas yang menumpuk.


Mobil menuju kawasan rumah sakit kota, membelah jalanan yang masih lenggang. Sepanjang perjalanan tidak ada yang bicara, sibuk dengan pemikiran masing-masing.


Azwar sendiri tengah berpikir, bagaimana cara arrsyad bisa diperiksa dengan mudah. Sepertinya arrsyad bukan tipe orang yang mudah percaya.


Sampai dirumah sakit, sesuai rencana azwar telah bekerja sama dengan dokter umum disana. Mohon bantuan untuk memeriksa kondisi tubuh temannya.


"Kenapa dengan teman anda tuan? Kenapa harus berpura-pura segala."


Azwar yang tengah duduk berhadapan dengan dokter umum itu tersenyum tipis. Sementara arrsyad tengah duduk diluar ruangan.


"Jadi begini, teman saya sangat takut dengan jarum suntik. Jadi saya mohon kerja samanya untuk memeriksa teman saya itu. Saya hanya ingin memastikan kondisinya, takut dia terkena penyakit."


Dengan terpaksa azwar harus berbohong demi rencananya berhasil. Ide konyol itu saja yang ada dipikiran azwar, tidak peduli dengan reaksi arrsyad nanti yang penting dicoba dulu.


"Baiklah. Saya akan coba"


Mulai melancarkan aksi, azwar meminta arrsyad untuk ikut masuk keruang pemeriksaan. Dengan dalih dia takut menerima hasil akhir dari penyakit kanker darahnya.


Tanpa ragu arrsyad mengangguk setuju, toh dia hanya diminta menemani bukan mau diperiksa.


Dokter yang sudah tua dengan kacamata bening itu sudah berdiri di samping bangsal, bersiap untuk memeriksa arrsyad.


"Ini dokter spesialis kanker disini"

__ADS_1


Azwar memberitahu supaya arrsyad tidak curiga, padahal dokter yang ada dihadapannya sekarang adalah dokter umum.


Tidak mau banyak tau, lagi pula arrsyad tidak peduli, sekalipun itu dokter hewan.


"Sebelum memeriksa pasien saya ini. Saya ingin memeriksa anda tuan, anda sangat tampan. Anggap saja karena bulan depan saya akan pensiun, jadi saya ingin memeriksa orang tampan seperti anda.


Sangat jarang sekali, untuk menemukan pasien tampan. Anggap saja ini pemeriksaan gratis untuk orang tampan."


Eh, apa-apa an ini arrsyad merasa aneh. Mengkerutkan dahinya, lalu menatap azwar. Bagaimana kalau dokter tua ini adalah dokter gadungan.


"Masya Allah. Dokter ini ada-ada saja, tapi gak apa-apa kalau ingin memeriksa teman saya ini. Dia baik banget soalnya, pasti dia mau. Iyakan arrsyad"


Arrsyad mendengus kesal, lalu menatap kembali dokter tua yang menurutnya aneh.


"Kenapa saya harus diperiksa? Saya tidak mau!"


"Sebentar saja tuan, saya mohon."


Demi permohonan azwar terkabul, dokter itu juga rela pura-pura memohon pada arrsyad. Dalam hati ia sangat terpaksa melakukan ini, toh. Akting seperti ini tidak akan dibayar.


"Ayolah arrsyad terima saja, kasian beliau sudah mau pensiun."


Dengan pasrah arrsyad berbaring dibangsal, seperti anak kecil yang baru pertama kali masuk rumah sakit. Arrsyad malah memegang ujung baju koko azwar dengan kuat, bak anak kecil yang takut disuntik.


Saat dokter hendak ingin menyentuh bagian dada arrsyad, tangan itu malah ditepis oleh arrsyad dengan cepat.


"Apa yang ingin kamu lakukan, saya sudah punya istri."


"Ini hanya diperiksa, jadi tenanglah!"


Dengan khusu dokter itu langsung memeriksa tubuh arrsyad dengan teliti. Sementara arrsyad terus menggerutu tidak jelas.


"Dasar cabul."


Melihat tingkah arrsyad membuat azwar geli. Ada-ada saja, padahal dia bukan anak perawan, tapi tingkahnya sangat sensitif sekali.


Pemeriksaan telah selesai, dengan arrsyad yang marah-marah tidak jelas. Azwar tidak terlalu peduli, ia sudah tidak sabar menunggu hasil keseluruhan kondisi arrsyad.

__ADS_1


Berharap baik-baik saja, kasian zhivana dan anak-anaknya kalau arrsyad sampai kenapa-kenapa. Azwar peduli itu, bagaimanapun juga zhivana adalah wanita pertama yang berhasil meluluh lantahkan hatinya.


"Apa masih lama?"


"Kamu pergi duluan saja. Saya akan menunggunya disini."


Padahal sudah satu jam mereka menunggu, tapi hasil pemeriksaan belum juga keluar. Hari sudah semakin siang, kasian arrsyad. Pria itu pasti sudah memikirkan tentang pekerjaan.


"Tapi.."


"Pergilah, ini sudah siang. Bukannya ada pertemuan penting."


Dengan ragu arrsyad langsung pamit pergi duluan, meninggalkan azwar yang masih duduk diruang tunggu.


Tidak lama dari kepergian arrsyad, dokter itu langsung keluar dari ruangan. Mendekati azwar yang kini langsung berdiri, untuk menanyakan hasil pemeriksaan.


"Bagaimana, saya harap dia baik-baik saja."


Sayangnya pertanyaan azwar tidak dijawab, dokter itu malah diam seraya memberikan map biru ketangan azwar yang berisi tentang hasil pemeriksaan tadi.


Dengan cepat azwar langsung membuka map biru itu. Membaca dengan teliti, kedua matanya berhenti ditulisan tentang hasil pemeriksaan.


Detik itu juga map merah yang dipegang terjatuh kelantai. Tubuhnya terasa kaku, bahkan kedua kakinya terasa berat seperti menancap dilantai.


"Dia terlalu kuat, sampai tidak menyadarinya."


"Apa yang harus dilakukan?"


"Mencari donor jantung untuknya dengan secepat mungkin. Atau akibatnya akan fatal!"


Kedua mata azwar menatap dokter itu dengan raut wajah tak berdaya. Bayangan tentang sosok wanita bercadar, langsung muncul dipikiran azwar. Saat ini juga azwar merasa sangat gelisah.


"Apa separah itu?"


"Iya, saya sangat takjub. Bagaimana bisa teman anda sekuat itu menahan rasa sakitnya selama ini."


'

__ADS_1


'


Bersambung


__ADS_2