Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 86 : Dimana Istriku


__ADS_3

Sesampainya ditempat tujuan, zhivana, reno, umi aisyah, serta kiai husen langsung turun. Dilihat dari lingkungan disini, sangatlah asri dan sejuk. Banyak para santri yang melihat kearah mereka, zhivana menatap sekeliling penjuru pesantren. Sangatlah luas dan nyaman.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam. Gus halim, sama nak sarah." Ucap kiai husen dengan wajah semringah, mereka langsung bersalaman. Diikuti oleh umi aisyah yang memeluk sarah.


Setelah berbicara dan bertukar kabar, akhirnya kiai husen menyampaikan maksud kedatangannya kesini.


"Saya mohon jaga dan lindungi zhivana anak saya ini, gus. Saya titip dia disini, tolong jaga zhivana anakku ini dengan baik."


Gus halim tersenyum senang, lalu berkata.


"Jangan khawatir mbah kiai, saya serta istri saya pasti akan menjaganya. Layaknya keluarga kami sendiri."


"Alhamdulillah, terimakasih banyak gus. Saya sangat senang,"


"Iya mbah kiai, justru saya sangat senang dengan kedatangan zhivana kesini." Ucap sarah seraya tersenyum ke arah zhivana.


Sarah serta gus halim, langsung mempersilakan masuk. Ternyata kedatangan kami sudah dipersiapkan, banyak aneka makanan yang sudah disiapkan.


Setelah berbincang-bincang cukup lama, kamipun langsung makan bersama. Banyak yang dibicarakan saat makan, zhivana dan reno hanya diam. Toh, keduanya tidak tau apa-apa.


Ternyata kiai husen dan Gus halim adalah saudara dekat, entah bagaimana ikatan persaudaraan itu zhivana juga tidak tau, bahkan tidak paham sama sekali.


Selesai bercengkrama cukup lama, reno, kiai husen, dan umi aisyah langsung memutuskan untuk pulang. Mereka juga sudah bicara, kalau ada waktu senggang akan mengunjungi zhivana kembali.


Zhivana sudah menangis dipelukan reno, sebaliknya. Reno juga sudah ingin menangis melihat zhivana seperti ini, berjauhan dengan suaminya dalam keadaan hamil. Bukannya tidak tega, tapi ini semua pelajaran untuk arrsyad.


"Jangan menangis ku mohon, zhivana. Jaga dirimu dengan baik, jaga kandunganmu juga dengan baik. Kalau ada apa-apa bilanglah pada mbak sarah, aku tidak akan memberikanmu ponsel zhi. Aku takut arrsyad sewaktu-waktu bisa melacak keberadaan mu ditempat ini."


Zhivana hanya mengangguk. Lalu beralih memeluk umi aisyah yang sudah terisak tidak mau meninggalkan zhivana.


"Anakku, umi sayang kamu nak. Maafkan umi, nak. Tolong jaga dirimu dan kandunganmu dengan baik, umi janji akan sering-sering berkunjung kesini." Ucap umi aisyah dengan suara berat, sesekali isak tangis terdengar.


"Iya umi, tolong sampaikan pesanku untuk ustadz azwar. Saat aku kembali lagi nanti, dia harus sudah menikah. Bukannya penyakit kanker darah ustadz azwar sudah membaik."


Umi aisyah tersenyum, lalu melepaskan pelukannya seraya menatap zhivana dengan haru.


"Dia mencintaimu nak, Tapi umi janji akan menyampaikan pesanmu itu pada azwar."


Setelah ucapan perpisahan yang begitu mengharukan, akhirnya reno, kiai husen dan umi aisyah sudah pergi. Zhivana sudah dituntun sarah masuk ke dalam rumah miliknya.


"Zhivana ini rumah saya, jangan sungkan. Anggap saja rumah sendiri, ayo masuk."


"Terimakasih mbak sarah, maaf saya jadi merepotkan."

__ADS_1


"Kamu ini, saya senang loh kedatangan kamu kesini. Saya jadi ada teman dirumah kalau suami saya sedang ada pengajian keluar pondok. Nah zhivana, ini kamar untuk kamu. Maaf ya kecil, rumah saya memang seperti ini."


Zhivana tersenyum ramah, walau rumahnya yang dulu dengan tempat tinggalnya sarah sekarang memang berbeda. Tapi tidak apa, disini sangat nyaman.


"Tidak apa mbak, disini sangat nyaman. Apalagi udaranya sangat sejuk." Ucap zhivana seraya duduk disisi ranjang, sementara sarah membukakan gordeng kamar.


"Kamu memang sangat baik, Oh ya. Kamu sedang hamil ya zhivana, sudah berapa bulan?" Terlihat sarah sangat antusias.


"Iya mbak, sudah empat bulan."


Sarah mendekat lalu ikut duduk disamping zhivana.


"Saya pikir sudah enam bulan, soalnya saya liat sudah besar ya,"


"Alhamdulillah mbak, anak saya kembar."


"Iyakah, selamat ya zhivana. Aduhh saya seneng sekali mendengarnya, semoga kamu dan kandungan kamu sehat selalu ya."


"Aamiin, terimakasih mbak sarah."


***


Setelah makan malam, dan bercerita banyak hal tentang keluarga sarah dan pondok pesantren yang dipimpin oleh Gus halim. Membuat zhivana melupakan semua masalah.


Bahkan zhivana sudah menganggap sarah seperti kakak sendiri, gus halim sendiri sangat baik pada zhivana. Sepasang suami istri ini belum dikaruniai seorang anak. Usia sarah dan zhivana hanya berbeda empat tahun.


"Iya kak, kalau begitu saya pamit kekamar duluan."


"Baiklah, selamat malam zhivana."


"Iya, mbak sarah."


Zhivana langsung meninggalkan sarah dan gus halim yang masih menonton tv diruang tengah. Setelah mengunci pintu, zhivana langsung merebahkan tubuhnya diranjang dengan ukuran sedang. Mungkin hanya muat untuk satu orang tidur.


"Anak-anak bunda, tolong jangan rewel ya. Sekarang kita bertiga jauh dari ayah, untuk sementara kita tinggal disini. Kata kak reno, ayah kalian akan datang menjemput kita bertiga nanti. Do'akan saja, semoga disana ayah selalu dalam lindungan Allah."


Zhivana menatap atap kamar dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kapanpun kamu datang. Aku akan selalu menunggumu datang menjemputku, mas. Aku rindu kamu. Tolong jaga dirimu dengan baik disana." Ucapnya dengan lirih.


***


Reno yang baru tiba dirumah langsung dapat bogem mentah dari arrsyad, sial ini sakit sekali. Mana kepala pusing habis nyetir dengan waktu cukup lama.


"Dimana istriku kak," Teriak arrsyad dengan suara yang menggelegar.

__ADS_1


Luchia yang baru menidurkan anaknya langsung berlari menghampiri reno dan arrsyad.


"Mas," Pekik luchia, lalu mendekati reno yang bersandar ditembok seraya memengangi pipinya.


"Sial, kau menghajar kakakmu sendiri. Sakit ini, awas sana" Ketus reno, seraya mendorong tubuh arrsyad.


"Istriku dimana? Aku ingin menemuinya, aku ingin meminta maaf padanya. Berani sekali kau kak, menyembunyikan zhivana dariku."


Bukannya menjawab reno malah merangkul luchia, seraya tertawa mengejek pada arrsyad.


"Sayang anak kita sudah tidur?" Tanya reno dengan santai, luchia tersenyum kikuk. Lalu melirik arrsyad, karena merasa tidak enak hati.


"Kak," Teriak arrsyad kesal.


"Sayang, sepertinya malam ini aku ingin pijat plus-plus deh."


"Astagfirullahal'adzim." Pekik arrsyad dalam hati.


"Kau dengar tidak, aku bertanya padamu. Dimana istriku?"


Arrsyad kembali bertanya, dan lagi-lagi diabaikan begitu saja oleh reno. Arrsyad yang kesal langsung menjambak rambutnya sendiri.


"Sayang, aku ingin mandi air hangat."


Luchia hanya diam saja, sesekali menatap arrsyad dengan kasihan.


"Baiklah, kalau kau tidak ingin menjawabnya. Lebih baik aku pergi dari rumah ini." Ucap arrsyad seraya berlalu ke kamar, berniat ingin memberesi seluruh barang-barangnya.


Luchia yang tidak setuju langsung mengejar arrsyad, tapi sayang. Reno malah menahannya.


"Biarkan saja, aku pusing untuk berdebat dengannya sekarang, aku yakin suatu hari dia akan kesini seraya menangis ingin bertemu dengan zhivana." Ucap reno seraya berlalu ke dalam kamar.


Tidak lama, arrsyad langsung turun dari tangga dengan membawa satu koper. Luchia yang tidak ingin arrsyad pergi langsung mencegahnya.


"Arrsyad kamu mau kemana malam-malam begini? Tolong jangan pergi, tunggu kakakmu tenang dulu. Baru kamu bisa tanyakan dimana zhivana berada, ku mohon jangan pergi dari rumah ini arrsyad."


"Maaf kak, aku harus pergi. Aku tidak mau serumah dengan suamimu itu."


"Tapi arrsyad,"


"Jangan mencegahku kak, biarkan aku pergi."


'


'

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2