
Masih dengan seina dan zhivana mereka berdiri saling berhadapan. Naumi memerhatikan mereka berdua dari balik kaca cafe.
"Apakah yang dimaksud oleh seina tadi adalah gadis buta yang sekarang ini sedang bersama seina? Tapi, kelihatannya wanita itu baik, dilihat dari berpakaiannya saja sangat syar'i." Batin naumi.
Hujan mulai turun, tidak terlalu deras tapi membuat semua orang berlarian mencari tempat teduh. Zhivana hendak ingin pergi tapi seina langsung mencengkeram pergelangan tangannya.
"Tolong lepaskan saya. Ini hujan sebaiknya kita harus berteduh." Ucap zhivana.
"Aku akan mengajakmu berteduh, ikutlah" Ajak seina sambil menuntun zhivana.
"Anda siapa? Anda hendak akan membawa saya kemana."
"Kesuatu tempat teduh dan aman. Ayo kak ini aku seina, apa kau lupa."
"Seina."
"Ya kak ini aku. Tenanglah aku tidak akan berbuat macam-macam, kok." Seina sudah menarik pergelangan tangan zhivana.
"Maaf seina aku ada urusan." Tolak zhivana dengan menarik-narik tangannya agar seina melepaskannya.
"Nanti saja kak, aku sedang membutuhkanmu saat ini, tolong ikutlah, denganku." Ucap seina.
"Kenapa kamu membutuhkanku seina? Seina aku mohon lepaskan pergelangan tanganku sakit. Kamu mencengkeramnya sangat kuat." Ucap zhivana sekarang ia sudah meronta-ronta, bahkan tongkat hitamnya terjatuh ke bawah.
"Wanita itu seperti meronta-ronta kesakitan. Duh bagaimana ini." Batin naumi.
Seina menarik paksa zhivana. Tenaga seina lebih kuat, dengan mudah seina langsung memasukan zhivana kedalam mobil miliknya.
Bruuggg
Pintu mobil dibanting dengan sangat kerasnya, hal itu membuat zhivana terkejut sekaligus takut. Zhivana yang tidak bisa melihat hanya bisa meraba-raba, air matanya sudah berderaian.
Seina yang sudah masuk ke dalam mobil, ia langsung menginjak pedal gasnya.
Naumi yang melihat mobil seina mulai meninggalkan parkiran cafe, ia langsung celingak celinguk mencari taksi. Saat mobil taksi berhenti dihadapannya ia langsung naik.
"Pak cepat ikuti mobil itu." Ucapnya sambil menunjuk mobil seina.
Sopir taksipun mengangguk mengerti.
Didalam mobil seina. Zhivana sudah menangis ketakutan, seina yang melihatnya merasa senang.
"Tenanglah kak. Aku tidak akan melukaimu, duduk manis dan berhentilah menangis." Ucap seina.
Zhivana terdiam tubuhnya bergetar hebat bahkan kakinya terasa lemas. Takut, itulah yang zhivana rasakan sekarang.
"Yaalloh lindungilah hamba." Batin seina.
Perjalanan menuju gedung tua memakan waktu selama dua puluh lima menit. Seina memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia langsung turun dari mobil dan menarik paksa zhivana untuk ikut turun dari mobil.
Naumi sudah melihat mereka dari jarak jauh. Setelah keluar dari mobil taksi yang ditumpanginya ia langsung bersembunyi dibalik pohon yang tidak jauh dari mereka berdua.
"Hiks, to-tolong lepaskan aku seina. Kenapa kamu membawa saya pergi?" Tanyanya sambil meronta-ronta.
Seina tidak menjawab ia sibuk menyeret tubuh zhivana. Setelah sedikit menjauh dari mobil, seina mendorong tubuh zhivana, hingga zhivana jatuh tersungkur ke tanah.
Didepan gedung tua ini tidak ada orang jadi cukup aman bagi seina untuk melakukan hal apapun pada zhivana.
Naumi yang melihatnya langsung terkejut saat putrinya itu mendorong gadis buta itu dengan kasarnya. Naumi sendiri ingin menolong wanita buta itu, tapi ia ingin melihat dulu sejauh mana seina akan melakukan aksi kejahatannya.
"Astagfirullah. Seina kenapa kamu memperlakukan saya seperti ini, apa saya punya salah sama, kamu?" Tanya zhivana sambil merintih kesakitan.
"Gara-gara adanya kamu didunia ini, arrsyad selalu menjauhiku." Bentak seina sambil menarik kerudung zhivana kebelakang dengan kencangnya sehingga zhivana tercekik.
"Hiks sakit tolong lepaskan aku seina. Aku dan arrsyad tidak punya hubungan apa-apa. Uhuk Uhuk seina aku tercekik." Ucapnya sambil terbatuk-batuk, kedua tangannya memengangi lehernya.
__ADS_1
"Sudah. aku sudah tidak ingin melihat wanita so suci sepertimu" Bentaknya lagi.
Seina melepaskan cengkeramannya dari kerudung zhivana. Ia langsung mengeluarkan botol kecil hitam dari saku bajunya.
"Sekarang minum ini, dan sekaratlah didepan mataku, kak zhivana."
"Tolong, tolong hiks tolong." Teriak zhivana meminta tolong tapi sayang ditempat ini sepi, hanya kendaraan yang berlalu lalang.
"Percuma meminta tolong. Sebelum meminum racun ini sebaiknya lepas dulu penutup wajahmu itu" Ucap seina sambil mengulurkan tangan untuk membuka kain cadar zhivana.
"Apa kamu hendak meracuniku seina." Tanya zhivana ketakutan.
"Iya. Memang kenapa"
"Yaalloh. Seina kamu sebegitu bencikah padaku?"
"Malah aku sangat membencimu." Bentak seina.
"Istigfar seina. Hanya karena satu orang lelaki kamu berbuat keji terhadap sesama umatnya, emosi dan rasa benci telah menguasai hati dan pikiranmu sadarlah seina. Jika kamu berjodoh dengan arrsyad aku ikhlas. Karena aku dengan arrsyad tidak memiliki hubungan apapun. Seina aku mohon lepaskan aku" Ucapnya memohon.
Entah mengapa hati seina tersentuh saat mendengar ucapan zhivana barusan. Tapi, ia langsung menepisnya, ia tidak boleh lemah seperti ini. Pikirnya.
Tanpa rasa kasihan seina langsung membuka paksa kain cadar zhivana.
"Lepaskan kain penutup wajahmu ini, aku ingin lihat wanita bercadar seperti dirimu itu secantik apa sih sehingga arrsyad sangat mencintaimu begitu dalam" Ucap seina yang tengah berusaha untuk melepaskan kain cadar zhivana.
Zhivana berusaha memegangi cadarnya agar tidak terlepas. Air matanya terus berderaian dengan derasnya.
Saat seina sedang menarik paksa kain cadar zhivana, tiba-tiba saja, naumi menarik seina dan mendorongnya dengan kuat agar menjauh dari zhivana.
Bruuggg
Seina langsung terjatuh akibat dorongan dari ibunya yang sangat kuat.
Seina mendongakkan wajahnya untuk melihat siapa orang yang telah mendorong dirinya. Betapa terkejut seina bahwa ibunyalah yang telah mendorong tubuh nya hingga terjatuh, dan sekarang ini ibunya itu tengah membantu zhivana untuk berdiri.
"I-ibu kau" Ucap seina dengan terkejutnya.
"Kau tak apa." Tanya naumi khawatir setelah membantu zhivana untuk berdiri, melihat kondisi zhivana yang ketakutan membuat naumi semakin kesal dan marah pada seina.
Naumi menatap tajam seina yang kini telah berdiri dihadapannya.
"Dasar perempuan jahat." Bentak naumi dengan amarahnya yang sudah mengebu-gebu.
Plakkk
Satu tamparan keras mendarat dengan sempurnanya dipipi kanan seina. Pipinya yang putih langsung memerah, bahkan dari sudut bibirnya terlihat mengeluarkan darah segar.
Seina tak percaya, ibunya yang selama ini memperlakukan dirinya dengan lembut, malah menampar seina dengan begitu kerasnya.
"Siapa yang mengajarimu untuk berbuat jahat seperti ini, Hah." Bentak Naumi kembali.
Zhivana hanya diam saja kepalanya menunduk, tangisannya tersendu-sendu.
"Berani sekali ibu menampar, ku" Teriak seina.
Naumi semakin geram pada anaknya ini. Sudah salah ketahuan berbuat jahat, sekarang seina malah berani meneriaki ibunya sendiri.
"Berani sekali kau seina. Kau itu salah makanya ibu menampar dirimu agar kau sadar, tapi kau malah meneriakiku seperti itu. Dasar anak durhaka." Bentak naumi lagi-lagi amarahnya semakin menjadi.
"Ya. Aku berani karna aku tidak salah, tapi dia yang salah karena telah menjadi penghalang hubunganku dengan pria yang aku cintai" Teriak seina kembali.
"Apa kau tidak dengar apa yang gadis itu katakan tadi. Dia ikhlas kalau pria yang kamu cintai itu bersamamu. Bahkan dia memohon agar kau melepaskannya, seina ibu sangat kecewa padamu. Kau ternyata sangat kejam, kau tega sekali menyakiti gadis buta yang lugu ini untuk tujuanmu, sendiri" Ucap naumi hatinya terasa sangat sesak melihat kelakuan putri semata wayangnya seperti ini.
"Sebaiknya ibu pergi saja sana. Aku tidak banyak waktu untuk meladenimu" Usirnya tanpa melihat kearah sang ibu.
__ADS_1
"Kalau aku pergi, aku akan membawa gadis ini" Tegasnya.
"Jangan ikut campur urusanku, bu."
Seina tidak memperdulikan ibunya lagi, sekarang ia mendekati zhivana.
"Sekarang minumlah racun ini. Aku sangat ingin melihatmu mati." Ucap seina. Sekarang ia sudah membuka tutup botol kecil hitam racun mematikan itu.
Seina menyibakkan kain cadarnya zhivana ke atas, tangan kirinya mencengkeram mulut zhivana agar meminum racunnya.
"Seina apa yang kamu lakukan? Lepaskan dia" Sergah naumi. Sekarang ia berusaha merebut racun itu dari tangan seina.
"Berikan racun itu pada, ibu" Ucapnya kembali sambil berusaha merebut racunnya.
Zhivana sudah meronta-ronta, tangannya memengangi kedua tangan seina agar melepaskannya. Rahang mulutnya terasa sakit karena cengkraman tangan seina begitu kuat.
Naumi berhasil merebut racun itu dari tangan seina, ia langsung menjauh dari seina. Sekarang posisi naumi dekat pinggir jalan raya.
"Berikan racun itu padaku" Bentaknya sambil menghempaskan zhivana.
"Tidak" Ucap naumi.
Seina menghampiri ibunya untuk merebut kembali racun miliknya. Sekarang, terjadilah aksi saling tarik menarik di depan gedung tua itu, merebutkan botol kecil yang isinya racun mematikan.
Tanpa mereka sadari mereka semakin mendekati jalan raya.
"Bu, lepaskan ini milikku" Ucap seina yang masih berusaha merebut racun mematikan itu dari ibunya.
"Tidak, ibu tidak akan membiarkan kamu menjadi seorang pembunuh."
Dan dapatlah racun itu, seina tersenyum senang ketika berhasil merebutnya, sekarang racun itu sudah berada ditangannya kembali.
"Seina jangan" Ucap naumi yang ingin menyegah seina untuk mendekati zhivana kembali.
"Awas bu. Kau memperlambat usahaku" Ucap seina sambil menepis tangan ibunya yang memegang tangan kiri seina.
"Jangan seina kau sadarlah" Ucapnya lagi.
Saat Naumi ingin memegangi tangan seina kembali, seina malah mendorong ibunya itu ke jalan raya. Dan seketika itulah dari arah samping mobil truk kuning menabrak tubuh ibunya sampai tersungkur ke trotoar.
Bruugg
Saking kencangnya bunyi tubuh ibunya yang terpental ke trotoar membuat seina sekaligus zhivana terkejut.
Seina membalikan tubuhnya dan terlihatlah tubuh ibunya yang tergeletak tak berdaya disisi jalan bahkan tubuhnya berlumuran darah.
Deg
Bagaikan tersambar petir di siang bolong seina langsung terkejut bukan main. Seketika jantungnya terasa berhenti berdetak, tubuhnya bergetar hebat akibat shock melihat kondisi ibunya yang terluka parah di hadapannya sendiri.
"I-ibu" Ucapnya pelan.
"IBU" Teriak seina sambil berlari kearah ibunya yang tergeletak dengan berlumuran darah.
"Astagfirullahal'adzim. Seina apa yang terjadi?" Tanya zhivana khawatir, ia bisa mendengar kecelakaan itu dimana tubuh naumi terjatuh.
Zhivana meraba-raba ia berusaha ingin mendekat ke arah seina yang menangis sambil memanggil dan berteriak-teriak memanggil nama ibunya.
Seketika itu mobil truk kuning yang menabrak ibunya seina langsung berhenti, mobil yang melihat kejadian itupun berhenti, orang-orang yang berada dalam mobil langsung keluar hendak ingin membantu. Jalanan macet seketika, seorang pria telah menelpon ambulans dan polisi.
'
'
Bersambung
__ADS_1