
Malam yang dingin telah berlalu. Bahkan mentari pagi ini terlihat sangat indah, menyinari seisi bumi dengan pancaran cahaya yang hangat.
Mungkin bagi semua orang hari ini adalah hari paling cerah, memulai hari baru dengan penuh semangat. Tapi berbeda dengan zhivana.
Wanita itu tidak tidur sepanjang malam. Memikirkan suaminya yang tengah sekarat. Tepat pukul dua malam, kondisi arrsyad memburuk.
Jantung arrsyad sempat tidak berdetak, lalu dibeberapa menit kemudian jantung itu berdetak kembali. Membuat semua orang panik, terutama bagi zhivana dan reno.
"Ada bidadarimu yang tengah menangis. Lihatlah dia! Sekarang istrimu tidak sadarkan diri, sementara dua buah hati kalian tengah menangis dipangkuan istriku."
Reno mencengkeram ujung sisi bangsal dengan kuat, menahan air matanya agar tidak jatuh. Adiknya yang selama ini keras kepala tengah terbujur kaku dengan tubuh dipenuhi alat rumah sakit.
Padahal saat tadi siang ketemu diperusahaan, arrsyad terlihat baik-baik saja. Seperti orang sehat yang tidak memiliki penyakit apapun.
Tidak rela melihat kondisi arrsyad, reno segara pergi keluar. Menemui kedua anak-anak arrsyad.
"Mas, Arka dan Aalesha nangis terus."
Luchia sudah tampak kewalahan, sementara zhivana masih tidak sadarkan diri. Reno memejamkan kedua matanya, mencoba menguatkan diri.
Sang khaliq mungkin tengah memberikan cobaan, dengan sakitnya arrsyad. Keluarga satu-satunya yang paling berharga. Adik yang keras kepala bahkan sering membangkang, kini tengah sekarat.
__ADS_1
Andai waktu bisa diputar kembali, reno ingin mengetahui penyakit jantung arrsyad lebih awal. Ingin membawa adiknya berobat.
Jika itu terjadi mungkin arrsyad akan baik-baik saja. Ada seorang istri yang tengah menunggu arrsyad terbangun kembali, ada anak-anak yang membutuhkan sosok seorang ayah.
Berharap arrsyad sembuh seperti kembali adalah do'a saat ini yang tengah reno minta.
"Mas"
Suara gemetar dengan parau itu terdengar lemah, zhivana sudah sadar. Ingatannya kembali pada arrsyad.
"Alhamdulillah, zhivana kamu sudah sadar."
Zhivana berusaha untuk duduk dengan dibantu reno. Menatap kedua anak-anaknya yang menangis, hatinya terasa sesak, seperti ada batu besar yang tengah menghantamnya.
"Kasian mereka sepertinya lapar."
Seorang suster masuk keruangan, memberitahu reno kalau dokter spesialis jantung ingin berbicara sesuatu padanya.
Sepanjang lorong rumah sakit menuju ruangan dokter, terasa sangat gelisah. Hatinya rapuh, takut tidak bisa menghadapi cobaan berat ini.
Sampai diruangan reno segara masuk, dengan langsung disuruh duduk. Berusaha terlihat tegar dihadapan orang lain.
__ADS_1
"Tolong temukan pendonor jantung secepatnya! Sudah saya tanyakan dibeberapa rumah sakit besar, tapi mereka tidak punya organ jantung."
Dokter itu berbicara dengan tegas, lalu menatap reno dengan penuh kasihan.
"Saya sudah melakukannya, bahkan masih berusaha untuk mendapatkan donor jantung."
Diluar rumah sakit ada azwar, pria itu berdiri menghadap gedung rumah sakit yang menjulang tinggi. Ada beberapa orang yang tengah berlalu lalang menatap azwar dengan tatapan aneh.
Sedari tadi azwar malah mematung didepan halaman rumah sakit tubuhnya terasa membeku. Semalaman memikirkan kondisi suami dari wanita yang dulu dicintainya.
Azwar merasa tidak sanggup melihat zhivana. Bagaimana jika saat ia masuk ke dalam zhivana sedang menangis? Azwar tidak mau melihat itu.
Semalam tidak bisa tidur karena terus memikirkan arrsyad, teman baru yang semakin dekat dan akrab. Malah dengan baiknya, arrsyad berjanji akan memberikan sebagian sahamnya untuk azwar. Sebagai hadiah pernikahan.
Kanker ini belum sembuh sempurna.
Aku bisa mati kapan saja.
Semua pikiran itu terus berputar dikepala azwar. Mengingat tentang kanker darah yang selami ini membuat azwar hampir menyerah.
Bismillah, Yaallah. Berilah hamba kekuatan agar rasa ini semakin kuat. Umi, abi maafkan aku. Tolong kuatlah demi ikhlasku.
__ADS_1
"Maafkan aku, almira."
Setelah mengucapkan itu, azwar langsung masuk ke dalam rumah sakit. Pikiran dan hatinya terus menerka-nerka, setelah ini apa yang akan terjadi.