Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 51 : Gantikan Saya


__ADS_3

Terik panas cahaya matahari mulai terasa, pemakaman umum yang luas dan udara yang sejuk mampu meredakan sedikit rasa panas. Pepohonan berjejer dengan rapi, terlihat beberapa orang tengah berziarah dan berdoa.


Mobil reno terparkir rapi diujung sebrang jalan pemakaman, reno keluar dari mobil bersamaan dengan luchia dan zhivana. Jas mahal dengan rancangan ternama membuat penampilan reno mencolok, luchia memakai dress panjang putih dengan bagian pinggang berkerut, sementara zhivana wanita itu memakai gamis syar'i berwarna dusty pink senada dengan kerudung dan cadar yang dirinya kenakan.


"Mas jangan lupa bunganya bawa." Suruh luchia seraya menuntun zhivana untuk melangkah pergi duluan.


Reno menggangguk patuh, ukuran dua buket bunga itu cukup besar membuat reno sedikit kesusahan.


Dengan langkah lemas dan pikiran yang kalut membuat zhivana gemetaran. Sudah empat tahun ini kedua orang tuanya meninggal tapi seperti baru pertama kali dirinya kesini, mungkin karena dirinya sudah bisa melihat lagi.


Luchia berhenti melangkah, membuat zhivana refleks menoleh kearah wanita yang sudah dianggap seperti kakak kandung sendiri.


Luchia tersenyum kecil seraya mengangguk.


"Zhi ini makam umi dan abi mu."


Dengan mata yang berkaca-kaca zhivana mengalihkan penglihatannya. Dua makam terpampang nyata didepannya, batu nisan yang menuliskan nama kedua orangtua nya disana terbaca jelas.


Zhivana langsung mendekat, berjongkok dengan kedua tangan yang terlulur mengusap batu nisan kedua orang tuanya. Air mata yang sedari tadi dirinya bendung langsung beruraian dengan derasnya.


"Aku rindu"


Dengan lirih zhivana mengatakan perasaan rindu yang semakin besar tak kunjung usai.


Luchia ikut berjongkok dengan mengusap punggung zhivana dengan lembut, memberikan ketenangan, bahwa dirinya harus sabar.


Reno memilih diam mematung dengan memegang dua buket bunga cukup besar. Kacamata hitam masih bertengger dihidung macungnya.


Dengan masih terisak, zhivana berdoa untuk kedua orangtua nya, tak ada lagi doa yang paling mujarab selain doa anak shaleh/sholehah. Luchia dan reno pun ikut mendoakan, bagaimanapun juga mendiang abi dan uminya zhivana sudah dianggap seperti orang tuanya juga.


"Apapun yang terjadi aku akan tetap menikahkan zhivana dan arrsyad, sesuai dengan janji dan perjodohan dulu." Batin reno.


Reno memberikan satu buket bunga pada zhivana, dengan senang hati gadis itu menerimanya seraya meletakkan dimakam sang abi, buket kedua reno berikan kembali pada zhivana, untuk diletakkan dimakam sang umi.


"Saat terindah adalah bisa berkumpul dan bercanda tawa dengan abi dan umi. Namun, saat ini aku hanya bisa bertemu dengan abi dan umi melalui doa dan mimpi, senanglah di sana abi dan umiku. Kalian malaikatku yang paling mulia." Batin zhivana.


Zhivana bangkit diikuti oleh luchia dan reno.


"Terima kasih banyak selama ini kalian telah membantuku, kalian adalah kakak-kakakku yang paling baik. Aku kira setelah kedua orangtuaku tidak ada, aku akan sendirian. Ternyata tidak, aku sangat bersyukur karena aku punya kak reno dan juga kak luchia, yang selalu menyayangiku." Ucap zhivana dengan tersenyum manis, air matanya masih beruraian membasahi kain cadar.

__ADS_1


Luchia buru-buru merengkuh tubuh zhivana, tiba saja gadis itu tidak sadarkan diri. Dengan sekali gerakan reno langsung mengangkat tubuh zhivana.


"Mas, zhivana kenapa"


Dengan khawatir luchia menggenggam tangan zhivana yang terasa dingin.


"Sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit."


Reno panik entah kenapa rasa tak ingin kehilangan zhivana sangat kuat, mungkin dirinya yang sudah menganggap zhivana sebagai adiknya sendiri.


***


Dilain tempat arrsyad tengah menunggu seseorang, sudah menunggu sejak lima menit lalu dirinya menunggu tapi orang yang ditunggu masih belum menunjukkan batang hidungnya.


Restoran ala kaum elit yang menjadi tempat pertemuannya membuat arrsyad memesan satu gelas kopi pahit tanpa gula, entah mengapa semenjak tinggal di amerika dirinya menjadi penyuka kopi hitam pahit.


Tadi pagi dirinya ikut memakamkan seina, bagaimanapun juga seina adalah temannya juga. Terbesit rasa benci pada seina, dengan cepat arrsyad menepisnya jauh-jauh. Masih tak rela dengan ciuman itu arrsyad merasa telah menodai dirinya sendiri, keinginan terakhir seina seperti memanfaatkan keadaan saja.


Besok pernikahan azwar dan zhivana, pernikahan sederhana katanya. Tapi tetap saja rasa hancur dihatinya semakin meningkat, walaupun arrsyad sempat berpikir azwar tak punya modal untuk membuat pesta pernikahan yang mewah untuk zhivana. Tapi nyatanya pernikahan sederhana itu keinginan zhivana.


Hah. Bagaimana dengan calon pengantin wanita, apakah dia baik-baik saja. Membatin seraya tertawa sumbang dalam hati.


Pesanan satu gelas kopi hitam pahit datang, arrsyad menyesapnya sedikit, rasa hangat dan pahit langsung terasa. Baginya ini tidak sepahit kehidupan dirinya.


"Assalamualaikum."


Azwar, pria itu tampak sedikit pucat dan terlihat tergesa-gesa.


"Waalaikumsalam, silahkan duduk."


keduanya langsung duduk dikursi dengan saling berhadapan, meja bulat yang jadi pemisah keduanya.


"Maaf saya terlambat. Tadi ada sedikit kendala jadi lama."


Melemparkan senyum ramah, seraya melihat jam tangan yang melilit ditangan kiri.


Arrsyad mengangguk saja. Lagi pula dia tidak peduli.


"Tidak masalah. Oh ya, saya sudah pesan satu gelas kopi! Apa anda ingin pesan sesuatu"

__ADS_1


Azwar menggeleng.


"Terima kasih. Saya tidak ingin pesan apa-apa."


Arrsyad menyenderkan punggungnya dikursi seraya menghembuskan napasnya kasar.


"Langsung keintinya saja. Saya sedang banyak urusan, lagi pula saya tidak suka berbasi-basi." Ucapnya dengan santai.


Azwar tersenyum mengerti, dengan menarik napas dalam-dalam azwar mulai berbicara serius.


"Saya sudah tau semuanya, tentang janji yang kamu buat dengan zhivana. Tentang perjodohan kalian diwaktu dulu, dan tentang khitbah kamu yang zhivana tolak,"


Azwar menjeda bicaranya, sengaja ingin melihat tanggapan arrsyad bagaimana.


"Oh, ya." Ucapnya dengan santai seraya menyunggingkan senyuman.


Sebenarnya azwar tahu dari andre. Dan arrsyadlah yang telah menyuruh andre menceritakan semuanya dengan bukti foto arrsyad dan zhivana waktu khitbahnya ditolak.


"Selama ini aku tidak bisa merasakan zhivana bahagia saat bersama saya, tapi saya bisa melihat zhivana bahagia bersamamu. Nah, arrsyad apa kau tau tentang penyakit kanker darahku" Ucapnya dengan hati-hati.


Arrsyad tidak terkejut, dirinya tetap santai dan dingin. Toh, dirinya sudah tau semuanya tentang arrsyad.


"Aku sudah tau."


Azwar diam, kenapa dirinya merasa bersalah. Seperti orang yang telah merebut kekasih pria yang ada dihadapannya ini, tapi nyatanya azwar tidak tau yang sebenarnya.


"Kalau begitu aku punya satu permintaan" Ucapnya dengan serius.


Arrsyad mengerutkan dahinya, kenapa semua orang selalu meminta permintaan dari dirinya. Sial, kenapa dirinya malah teringat pada kejadian dimana dirinya mencium kening seina. Sialan.


"Apa itu"


"Besok adalah pernikahan saya dan zhivana" Ucapnya dengan sengaja dijeda.


"Lalu"


"Gantikan saya sebagai calon mempelai pria, dan menikahlah dengan zhivana." Tegasnya seraya memegangi dadanya yang berdenyut sakit.


'

__ADS_1


'


Bersambung


__ADS_2