Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 79 : Kamu Bagian Dari Diriku


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu, kini kehamilan zhivana sudah menginjak empat bulan, luchia. Sudah melahirkan seorang anak perempuan yang cantik.


Selama ini arrsyad selalu siaga terhadap kondisi dan kebutuhan zhivana. Apalagi keinginan arrsyad yang ingin memiliki bayi kembar, terwujud. Tentu saja saat diperiksa ke dokter, dan dinyatakan istrinya tengah mengandung janin kembar membuat arrsyad sangat bahagia.


Selama ini juga, adzril. Selalu mencari keberadaan wanita bercadar bermata cantik, seluruh anak buahnya sudah dikerahkan. Tapi, belum ada titik terang tentang keberadaan wanita bercadar yang selama ini namanya selalu disebut dalam setiap do'a, adzril.


Selama tiga bulan ini, gea dan andre sudah menikah. Pasangan suami istri yang sedang asik-asiknya memadu kasih sayang ini selalu datang berkunjung ke rumah arrsyad, tentunya ingin menemui zhivana.


Selama ini arrsyad selalu bekerja dirumah, takutnya zhivana membutuhkan sesuatu. Paling ke kantor juga karena ada meeting penting, baru dirinya pergi ke kantor.


Bahtera rumah tangga yang dijalani olehnya dan zhivana, berjalan mulus. Masalah ada tapi keduanya selalu mengambil keputusan bijak. Menghadapi setiap masalah yang menerjang dengan bersama, berjalan dengan tangan bergandengan menepis semua yang menghalangi.


"Bagiku arrsyad adalah manusia ciptaan tuhan yang paling sempurna. Cinta, kasih sayang, kesetian dan perlakuan manis yang membuat rasa cinta dihatiku selalu bertumbuh besar, arrsyad. Bisakah kita selalu bersama setiap harinya, berjalan bergandengan dengan tatapan matamu yang selalu tertuju padaku. Aku takut kamu meninggalkan aku mas."


Tidak ada rasa yang paling menakutkan, kala kita berpisah dengan orang yang kita sayangi. Apa ini sebuah pirasat, tidak. Zhivana harus berpikir positif. Tuhan selalu memberi cobaan pada setiap hambanya, mungkin juga ini hanya perasaan belaka.


Tangan zhivana yang terbalut sarung tangan itu mencengkeram pagar pembatas balkon. Menikmati matahari yang terbenam ke arah barat, sesekali semilir angin sore menerpa dirinya.


Sepasang tangan kekar putih, tiba-tiba melingkar diperutnya yang sudah terlihat besar, zhivana. Sudah tau pasti ini suaminya, apa lagi harum maskulin itu selalu membuat zhivana rindu.


"Dek," Bisikan itu tepat ditelinga, terdengar sangat menggoda. Apalagi hembusan napas arrsyad membuat zhivana geli.


"Mas, kamu udah pulang. Bukannya kamu akan pulang malam ya."

__ADS_1


"Aku rindu kamu, lagi pula ada andre. Aku rindu banget sama kamu, sama anak-anak juga. Beberapa jam tanpa kamu, aku merasa ada bagian dari hidupku yang hilang."


"Mas,"


"Hem"


"Bisakah aku pergi kemana pun kamu pergi? Bisakah kita selalu sedekat ini selamanya?"


Arrsyad terdiam, kenapa istrinya itu malah menanyakan pertanyaan seperti itu. Tentu saja kan, zhivana akan selalu bersama dirinya, mau pergi kemanapun dirinya, arrsyad. Akan selalu bersama zhivana.


"Kamu bagian dari diriku yang selalu aku butuhkan, kemanapun aku pergi kemanapun aku akan melangkah. Aku akan selalu membawamu, zhivana. Istriku kamu seperti jiwaku, dan aku seperti raga. Tanpa kamu, aku seperti raga yang tidak memiliki nyawa."


"Suatu kebanggaan bisa memelukmu seperti ini dan dengan senang hati menyebutmu milikku. Ya, kamu adalah milikku, dek."


Arrsyad membalikan tubuh zhivana, lalu dengan gerakan hati-hati. Dirinya menggendong tubuh istrinya ala bridal style. Tubuh zhivana semakin berisi, faktor dikehamilannya yang sudah semakin besar karena mengandung bayi kembar membuat arrsyad harus ekstra hati-hati, memperlakukan zhivana dengan senyaman mungkin.


"Tidak ada ucapan terimakasih, seharusnya aku yang berterimakasih ke kamu, dek. Karena kamu udah mau menikah denganku."


Arrsyad membaringkan tubuh zhivana dengan perlahan, tatapan keduanya saling bertatapan, seolah tidak ingin berpaling. Senyuman itu selalu mengembang sempurna, arrsyad. Selalu merasa cintanya terasa memabukkan dan menggila, zhivana seperti candu untuknya.


Saat zhivana tidak ada disampingnya, membuat arrsyad menggila rindu ingin segera bertemu.


"Aku rindu, selama anak-anak ada didalam sini. Aku tidak berani meminta hakku, aku takut menyakitimu dan anak-anak. Tapi sekarang aku tidak tahan untuk menahannya. Bolehkan aku menyentuhmu dan menyatukan raga kita? Jujur kamu terlalu menggoda untuk aku yang lemah."

__ADS_1


***


Malam telah tiba, sudah satu jam yang lalu makan malam berlalu. Tapi arrsyad dan zhivana belum juga keluar dari dalam kamar.


Luchia yang sedang mengasih asi pada anaknya, sesekali menoleh kearah tangga.


"Mas, tuh arrsyad sama zhivana kenapa gak turun-turun? Aku udah panggil mereka buat makan malam tapi malah gak dijawab."


Reno menyimpan laptopnya, lalu mengelus pipi gembul putrinya yang berusia dua bulan.


"Mana aku tau, mungkin mereka sedang sibuk berdua."


Luchia mengangguk saja, lalu mencium tangan kecil anaknya yang diberi nama Olivia Zanitha Al Faruq. Olivia artinya kedamaian, sedangkan zanitha berperilaku anggun dan lembut bermarga Al Faruq.


Buah cintanya bersama suaminya, sekarang telah hadir. Penantian selama tiga tahun dibutuhkan kesabaran serta usaha. Luchia yakin bahwa suatu saat dirinya akan menjadi seorang ibu.


Dan dari selama tiga tahun inilah luchia telah dikaruniai bayi kecil yang sehat dan cantik.


'


'


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2