Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 38 : Ungkapan Manis


__ADS_3

"Mungkin ini saatnya aku melepasmu dalam bagian doaku, Maaf jika selama ini aku terlalu melangitkan namamu dihadapanNya.


Maaf jika selama ini memintamu sebagai jodohku adalah bentuk keegoisanku yang paling indah. Jika selama ini aku meminjam namamu dalam doaku, inilah saatnya aku kembalikan dengan penuh keikhlasan."


~ Zhivana Khoirun Nisa ~


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=



Prov Zhivana Khoirun Nisa


Terima kasih sudah memberiku ruang untuk menantikanmu, menjadi bagian dari besarnya harapanku ingin bersamamu.


^^^Teruntuk Arrsyad Zega Al Faruq♥^^^


***


Malam telah tiba, suara hewan malam terdengar nyaring diluar sana. Setelah shalat isya dan makan malam, zhivana merebahkan tubuhnya dikasur.


Pikirannya terganggu oleh ucapan seina tadi siang. Entah mengapa semenjak bertemu dengan seina, hati zhivana merasa tak nyaman.


Air matanya sudah mulai berderaian. Rasa rindu yang teramat sangat pada kedua orangtua nya membuat zhivana selalu menangis di setiap malam. Beginilah setiap malamnya menangis dan kesepian. Apa-apa harus dilakukan sendiri, apa-apa harus dirasakan sendiri, apa-apa harus serba sendiri. Tidak seperti dulu, dulu zhivana merasa sangat bahagia karena dapat bercerita pada kedua orangtua nya. Tapi sekarang ia harus mengembannya sendiri.


Tangisan zhivana terdengar sangat pilu, menyayat dihati dan terasa sesak. Andai saja zhivana bisa melihat mungkin saat ini ia akan melihat foto kedua orangtua nya.


Kain cadarnya ia lepas karena terasa basah akibat air matanya sendiri. Wajah cantik nan ayunya sangat alami putih, bersih dan mulus. Terlihat bahwa zhivana tidak pernah melakukan perawatan. Zhivana menghapus air matanya dengan posisi yang masih rebahan.


"Aku rindu umi, aku juga rindu abi. Duniaku terasa sepi semenjak kalian tidak ada."


"Duniaku gelap dan sunyi. Membuka atau menutup kedua mataku ini tidak ada bedanya. Sama-sama gelap gulita. Bahkan setitik cahaya pun tidak bisa aku lihat."


"Aku ikhlas dengan keadaan yang dimana sekarang ini aku tidak bisa melihat."


Zhivana terus berbicara sendiri. Tidak ada yang mendengarkan pun tak apa. Bagi zhivana sendiri ini terasa seperti curhat pada diri sendiri.


Zhivana baru saja akan memejamkan matanya. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumahnya.


"Malam-malam begini siapa yang bertamu?" Gumam zhivana.


Zhivana meraba-raba untuk mencari cadarnya. Setelah memakai cadar zhivana mengambil tongkat lalu beranjak dari tempat tidurnya berjalan keluar kamar.


"Assalamualaikum" Ucap seseorang dari luar.


"Waalaikumsalam." Ucap zhivana setelah pintu rumah terbuka.


"Zhi. Ini aku dan arrsyad." Ucap luchia.


"Kak luchia."


Zhivana langsung tersenyum senang. Luchia langsung memeluk zhivana.


"Apa kabar, zhivana? Maaf ya. Aku jarang kesini" Ucap luchia dengan masih memeluk zhivana.


"Alhamdulillah aku baik kak, tidak apa kok. Lagian zhi suka jarang ada dirumah. Soalnya zhi sering ngabisin waktu di pondok pesantren."


"Aku senang mendengar, nya."


Luchiapun melepaskan pelukannya.


Sementara dengan arrsyad, pria tampan itu malah asik menatap kedua mata zhivana. Dulu mata itu sangat indah dan teduh membuat sejuk untuk di pandang.

__ADS_1


"Kedua mata zhivana membekak apakah dia habis menangis. Kenapa dia menangis? Apa sesuatu telah terjadi." Batin arrsyad.


"Kak luchia, arrsyad. Ayo masuk ke dalam." Ajak zhivana.


Luchia dan arrsyad pun masuk kedalam rumah. Zhivana sudah menutup pintu, mereka pun langsung duduk di sopa ruang tamu.


"Maaf malam-malam begini malah bertamu. Pasti menganggu waktu istirahat, mu" Ucap luchia.


Pasalnya luchia sudah tidur tapi arrsyad malah membangunkan nya, memaksa dirinya untuk menemani arrsyad ke rumah zhivana.


"Tidak apa kok. Lagian aku juga belum tidur." Ucap zhivana.


Luchia mendekati arrsyad lalu berbisik-bisik padanya.


"Arrsyad kamu sebenarnya mau bilang apa pada, zhivana" Bisik luchia ditelinga arrsyad.


"Aku mendadak lupa kak." Bisik arrsyad pada luchia.


Luchia langsung mengerjitkan dahinya. Mana mungkin orang sejenius arrsyad bisa melupakan hal sekecil itu.


"Demi mengantarmu kesini, aku rela diomeli dulu kakak mu karena malam-malam begini malah keluar rumah. Cepat katakan jangan pura-pura lupa." Bisik luchia yang sudah merasa kesal.


"Aku ingin bicara berdua dengan kak zhivana" Ucap arrsyad yang sudah tidak berbisik-bisik lagi.


Luchia menghela napasnya, sungguh sangat merepotkan sekali.


"Zhivana. Aku ingin numpang tidur dikamar mu, ya" Ucap luchia sambil menatap arrsyad dengan tatapan jenggah.


"Silahkan, kak."


Luchiapun langsung beranjak dari duduknya. Berjalan menuju kamar zhivana.


Setelah melihat kakak iparnya itu masuk ke dalam kamar zhivana, arrsyad langsung menatap zhivana sambil tersenyum-tersenyum.


Arrsyad akan berusaha membujuk zhivana untuk membatalkan pernikahan nya dengan ustadz azwar. Kali ini ia ingin egois. Arrsyad adalah manusia biasa yang haus akan kasih sayang, manusia biasa yang ingin di perhatikan, manusia biasa yang ingin di cintai oleh seseorang yang ia cintai. Arryad tipikal orang yang segala sesuatu yang ia inginkan harus segala tercapai.


Arrsyad menghembuskan napasnya pelan.


"Kak zhivana"


"Ya" Sahutnya.


"Apa kau sudah berniat sekali untuk mengingkari janji kita dulu?"


"Maaf. Maafkan aku arrsyad. Aku harus mengingkarinya" Lirih zhivana.


"Andai kau tahu. Sebenarnya aku juga tak ingin mengingkari janji itu." Batin zhivana.


Lagi-lagi arrsyad menghembuskan napasnya secara kasar.


"Kak aku sangat mencintaimu. Bisa tidak kau jangan menikah dulu tunggu aku satu tahun lagi aku akan segera mengkhitbah mu. Aku mohon kak batalkan pernikahan itu. Aku arrsyad zega al faruq memohon padamu kak zhivana untuk membatalkan pernikahan antara kau dan ustadz azwar. Aku sudah bingung harus bagaimana lagi agar kau membatalkan pernikahan itu, aku bisa saja menculikmu dan membawamu secara paksa ke KUA agar kita menikah. Tapi aku tidak ingin melakukannya karena aku menghargaimu."


"Jika kita berjodoh maka alloh akan mempersatukan aku bersamamu. Tapi sekarang aku akan menikah dengan mas azwar jadi aku mohon lupakan saja aku. Aku tidak pantas untukmu, aku telah berdosa karena mengingkari janji itu, aku merasa sangat munafik sekali.


Zhivana terdiam untuk sesaat.


"Memang dihadapanmu aku menolak. Tetapi dihadapannya aku terang-terangan meminta agar dijodohkan denganmu." Batinya.


Hati dan pikiran ku sangat bertolak belaka. Ini sangat munafik sekali, Hatiku menyebut namanya tapi saat ingin menyebut namanya aku malah menyebut nama orang lain dari mulutku, ini" Ucap zhivana. Tanpa disadari air matanya telah berjatuhan membasahi pipi.


"Apakah dalam hati kak zhivana menyebut namaku?" Ucap arrsyad dengan sedikit tak percaya. Tapi, ada perasaan senang disana.

__ADS_1


"Itu dulu saat pernikahan ini belum direncanakan."


"Tapi aku merasa hatimu selalu tertuju padaku." Ucap arrsyad dengan tersenyum-tersenyum.


"Tidak. Tolong jangan salah sangka begitu." Ucap zhivana dengan terbata.


"Jangan mengelak. Aku tahu itu, bahwa kau juga memiliki perasaan yang sama dengan, ku."


"Arrsyad kamu salah paham maksudku bukan seper-"


Belum saja zhivana menyelesaikan bicaranya, arrsyad telah memotongnya.


"Maksudmu seperti hatimu yang selalu menyebut namaku." Ucap arrsyad tersenyum senang.


"Arrsyad itu tidak baik"


"Tidak baik untuk kesehatan mu kak. Karena jantungmu itu selalu berdetak cepat saat sedang bersamaku."


"I-itu tidak benar." Ucap zhivana gelagapan sendiri.


"Yaalloh ada apa dengan jantungku." Batin zhivana.


Rasanya ingin sekali zhivana memengangi dadanya sendiri, jantungnya terasa berpacu lebih cepat. Benar kata arrsyad barusan, jantung zhivana akan berdetak cepat saat sedang bersamanya.


Zhivana mencengkeram baju gamisnya dengan erat. Sungguh sangat tidak sehat untuk kesehatan jantungnya kalau berlama-lama dengan arrsyad.


"Kak zhivana" Panggil arrsyad lembut.


"Ya" Jawabnya gugup.


"Semenjak rasa ini semakin menjadi. Aku mempunyai ungkapan manis untuk kakak" Ucapnya ragu-ragu.


"Ungkapan manis, bagaimana?"


Belum saja arrsyad mengungkapkannya, rasanya sudah sangat geli sekali. Untuk pertama kali dalam hidup arrsyad ia akan mengucapkan kata manis untuk seorang wanita.


"Aku mencintaimu seperti bocah gendut yang menyukai kue." Ucap arrsyad terdengar sangat kaku.


"Ehh"


"Bodoh. Kenapa aku malah mengungkapkan kata yang itu seharusnya yang satu lagi. Konyol, pasti kak zhivana menganggapku gila." Batin arrsyad.


Pasalnya arrsyad sudah memilih beberapa kata-kata manis dari si mbah google. Maklum saja arrsyad tidak pernah berpacaran jadi ia sendiri tidak tahu cara mengombali wanita bagaimana.


" Alasannya?" Ucap zhivana kembali, yang kebingungan dengan ungkapan manis yang dimaksud arrsyad barusan.


"Itu terdengar sangat geli." Batin zhivana.


Andai itu bukan arrsyad yang mengungkapkan nya, mungkin sekarang ini zhivana sudah tertawa geli. Zhivana menahan tawanya, takut arrsyad mengira kalau ia menertawai ungkapan manis nya itu.


Andai zhivana bisa melihat. Betapa merahnya telinga dan pipi arrsyad. Karena menahan rasa malu.


"Jadi begini ya rasanya gagal dalam mengombali anak orang. Malunya sampai ke ubun-ubun. Untung disini gak ada andre, kalau dia lihat pasti dia akan tertawa terbahak-bahak." Batin arrsyad.


"Itu anu, alasannya." Sial. Lidahnya sekarang terasa sangat kelu membuat bicaranya terbata.


"Rasanya aku ingin tertawa."


'


'

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2