
Mencintaimu adalah langkah terindah yang pernah kutemui selama hidupku. Hidup monoton yang kulailui, kini lebih berwarna berkat hadirnya dirimu. Mencintaimu yang bagaikan berliab dengan keliawan terindah itu penuh rintangan yang tentu perlu kutaklukkan. Dirimu yang bersinar terang di setiap saat, mampu menarik banyak mata memandang. Perlu waktu yang cukup lama untuk memilikimu, namun juga butuh perjuangan yang cukup.
Dalam sekejap, hidup arrsyad berubah. Wanita yang dicintainya kini telah menjadi istri sah nya. Hidup setelah kedua orangtua nya tiada, membuat hidupnya kesepian dan terasa gelap. Dengan hadirnya zhivana sekarang membuat hidup arrsyad berwarna kembali.
Zhivana wanita itu tengah asik memakai hijab. Arrsyad duduk ditepi ranjang, sedari tadi retina matanya terus melihat objek terindah ciptaan tuhan.
Zhivana duduk di meja rias, melihat pantulan sosok arrsyad melalui cermin. Suaminya itu tengah memperhatikannya. Buru-buru zhivana memakai cadar.
Arrsyad tersenyum tipis. Sungguh menggemaskan sekali istrinya itu sangat pemalu.
Arrsyad mendekat, dengan cepat merampas cadar milik istrinya itu.
"Jangan dulu dipakai, aku belum puas lihatnya."
Memeluk zhivana dari belakang, dengan meletakkan dagunya diatas pundak sang istri.
"Mas ih, kembalikan. Kitakan harus berangkat." Protes zhivana.
Arrsyad membalikan tubuh zhivana, agar menghadap kearahnya. Dengan jarak yang begitu dekat, keduanya saling bertatapan, Istrinya itu tersenyum manis. Ah, lihatlah. Senyuman memabukkan itu, sangat menggoda iman.
Dengan hati yang berdebar-debar, arrsyad mengikis jarak, rasanya ingin lebih dekat dan sangat dekat, hembusan napas yang hangat menerpa permukaan wajah keduanya. Sampai pada akhirnya, sentuhan benda kenyal dan basah itu saling menempel.
Ciuman pertama zhivana telah diambil oleh suami sahnya. Rasanya sangat aneh dan mendebarkan.
Rasanya sangat tak puas untuk sekedar menempel, arrsyad mulai ******* bibir zhivana dengan lembut, merengkuh tubuh istrinya itu agar semakin menempel padanya.
Zhivana yang tidak tau harus apa dan bagaimana? Hanya bisa memejamkan kedua matanya. Tangannya mengcengkram ujung jas arrsyad dengan kuat.
Sebelum semakin jauh, arrsyad buru-buru melepas ciumannya. Selain waktunya yang kurang tepat, pasti zhivana juga belum siap lebih jauh lagi.
Arrsyad tersenyum senang, ibu jarinya mengusap bibir mungil zhivana yang basah, karena ulahnya.
__ADS_1
"Maaf, ya dek. Pasti kamu kaget, karena mas cium kamu tiba-tiba."
Zhivana menunduk malu, pipinya sudah merah merona.
"Biar mas yang pakaikan cadarnya."
***
Dirumah Besar Keluarga Al Faruq.
Diruang kerja milik mendiang alm. wijaya. Yang sekarang menjadi milik reno, reno duduk bersandar dikursi kebesarannya. Sementara luchia, rebahan diatas sopa panjang disudut ruangan.
"Mas. Aku gak setuju!!"
"Gak setuju, kenapa?"
"Aku gak setuju, kalau zhivana ikut arrsyad. Lagi pula kasian dia mas! Disana bakal sering ditinggal arrsyad.
"Dia itu muslimah bercadar. Aku pernah denger isu! Ada wanita muslimah yang disiksa. Apalagi zhivana bercadar, gimana kalau dia dianggap penjahat!" Imbuh luchia kembali.
"Iya ya. aku juga takut! Kalau kejadian yang sama menimpa zhivana. Kalau dia diapartemen terus pasti bosen. Apalagi sekarang arrsyad S2 dia sibuk banget."
Luchia duduk tegak seraya merapikan dress berwarna biru sebetis dengan belahan dada yang sedikit terbuka.
"Nah itu kamu tau. Udah ah, zhivana mah jangan ikut! Aku takut dia kenapa-kenapa. Dia tinggal disini aja. Lagi pula aku udah ga kerja."
Reno mengangguk setuju.
"Kalau gitu sekarang kita kerumah zhivana. Mumpung ada waktu buat ngejelasin ke arrsyad. Mana tuh anak keras kepala. Pasti susah dikasih tau"
"Ya makanya, harus ekstra sabar! Aku juga bakalan ngomong sama zhivana. Dia pasti ngerti, aku mah percaya sama dia. Kalau arrsyad susah dibilangin ya zhivana yang akan bertindak."
__ADS_1
Reno beranjak dari tempat duduk.
"Ya udah, ayo!"
"Kemana?"
Reno menatap malas pada luchia.
"Ke pasar. Ya kerumah zhivana lah, kamu ini gimana ya? Katanya gak setuju zhivana ikut." Gerutu reno.
Luchia tersenyum dengan menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Hehe. Aku kira kita mau ke kamar" Ucapnya seraya menutup wajahnya malu.
"Hedehhh. Mesum kamu mah. Nanti malam deh mainnya" Ucap reno dengan mengerlingkan matanya.
Luchia tersipu malu, lalu mengedipkan sebelah matanya, berniat menggoda reno.
"Astagfirullah. Kamu tuh ya" Pekik reno.
"Haha. Dasar kamu lemah iman! Kaburrr" Ledek luchia.
Berlari terbirit-birit, dengan tawa terbahak-bahak.
Reno mengeleng-gelengkan kepalanya seraya berdecak kesal.
"Apaan coba. Kabur? Emang dia maling."
Mantan model go internasional. Tapi kelakuannya hadehh tuh ya. Punya bini kelakuannya.
'
__ADS_1
'
Bersambung