
"Harapan adalah kemampuan untuk melihat bahwa ada cahaya meskipun semua dalam kegelapan."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari sudah semakin gelap, matahari nampaknya sudah lelah memancarkan sinar terang, hingga turun terbenam kesebelah barat. Warna merah dilangit waktu terbenam perlahan berubah warna menjadi gelap.
Penduduk bumi sebagian sudah berdiam diri di rumah untuk istirahat, sebagian masih ada yang bekerja banting tulang untuk menafkahi keluarga, kebanyakan masih berlalu lalang dijalanan.
Sedangkan gea, dokter bercadar itu tengah diam menatap seina, dokter bram dan azwar masih setia berdiri disana. Mereka bingung dengan kondisi seina sekarang. Gea masih belum mengatakan apa-apa.
"Dia kenapa" Tanya dokter bram.
Gea. mengalihkan penglihatannya untuk menatap dokter bram, teman dokter yang sudah akrab dengan gea, umur dokter bram lima puluh enam tahun, tapi beliau masih awet muda.
"Racun mematikan itu telah menjalar ke seluruh tubuh seina. Membuat fungsi organ tubuhnya mendadak sakit dan tidak berfungsi."
"Racun, bagaimana bisa dia meminumnya."
"Tidak tahu, saya belum tahu racun jenis apa yang seina minum."
"Lalu bagaimana dengan kondisinya, sekarang." Sahut azwar.
"Dia sedang sekarat."
"Sekarat" Ucap dokter bram dan azwar bersamaan.
"Apakah, tidak ada harapan untuk wanita itu sembuh." Tanya azwar.
"Racun itu bekerja cepat, menurut saya sebagai seorang dokter, harapan hidup untuk seina tak ada. Tapi, yang menentukan hidup dan mati adalah alloh,semoga saja alloh memberikan kesempatan hidup untuk seina. Lagi pula kenapa seina bisa meminum racun? Apakah ada yang meracuni, nya?"
Mereka bertiga terlihat berpikir. Hingga suara panggilan adzan magrib terdengar.
"Alhamdulillah. Sudah adzan sebaiknya kita pergi shalat, dulu" Ucap azwar.
"Apakah tak apa, meninggalkan dia" Tunjuk dokter bram pada seina.
Gea melihat seina, wanita itu masih setia terpejam tak sadarkan diri. Gea sendiri bingung dengan kondisi seina sekarang.
"Saya akan menyuruh suster untuk menjaga seina. Kalian duluan saja, nanti saya menyusul."
"Hem. Baiklah, kami duluan."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Adzan magrib sudah menggema diseluruh bagian pelosok tempat, terutama di depan rumah sakit pelita ada sebuah mesjid besar yang megah.
Orang-orang sudah mulai masuk ke dalam mesjid, beberapa mobil yang sedang melaju mendadak berhenti untuk melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim, beberapa mobil lainnya sudah terparkir rapi diparkiran mesjid, sebagian anak kecil berlarian kesana kemari, bunyi gemercik air yang terdengar jelas keluar dari keran, banyak orang yang sedang mengantri untuk mengambil air wudhu.
***
Dilain tempat arrsyad pria jangkung nan tampan itu tengah uring-uringan. Luchia selaku orang yang sedari tadi memperhatikan tingkah pemuda itu hanya membuat kepalanya pusing.
"Kamu ini kenapa, sih." Tanya luchia wanita itu tengah memakai masker malam.
"Waktuku hampir habis, aku gak terima ya kalau kak zhivana nikah sama dia." Sewot arrsyad, pemuda itu duduk disopa kaki panjangnya itu diletakkan diatas meja kaca dengan tangan dilipat didada.
Luchia meletakan kaca riasnya dimeja dekat kaki arrsyad.
"Tikung ajalah apa susahnya. Selama janur kuning belum melengkung mah sah-sah aja buat ditikung." Ide gila tiba-tiba muncul diotak luchia.
Arrsyad mendengus kesal.
"Tapi tetep aja susah."
Luchia mengambil hp yang ditaruh disamping tempat duduknya, membuka si mbah google untuk mencari bagaimana cara menikung seseorang. Terdapat beberapa artikel bermunculan disana.
"Culik langsung bawa ke KUA."
Arrsyad mengusap wajahnya, pria itu nampak gusar.
"Gak, nanti kak zhivana marah lagi."
Luchia sibuk mengutak-atik hpnya, tangan letiknya sibuk mengetik entah apa yang ia ketik disana.
Ting
Ting
Ting
Suara hp luchia yang mendapatkan beberapa artikel tentang cara menikung seseorang.
"Gimana sih yang muncul malah cara menikung pacar temen." Gerutu luchia yang langsung menyimpan hpnya secara kasar.
"Udahlah syad, tikung aja orang zhivana masih status calon istri bukan istri sahnya"
"Pake ide sehat, aku gak mau main kotor."
Reno yang baru turun dari tangga membuat luchia dan arrsyad menoleh ke arahnya.
"Syad, kamu kenapa malah disini." Ucap reno tiba-tiba.
Arrsyad berdiri lalu menatap sang kakak dengan sorot mata penuh tanya.
Reno membuang napasnya kasar, menghampiri sang istri yang sibuk dengan masker malamnya.
"Kata anak buahku, zhivana ke rumah sakit" Ucap reno dengan mendudukan bokongnya disopa samping luchia.
Luchia dan arrsyad langsung menoleh pada reno.
__ADS_1
"Apa, kerumah sakit." Tanya luchia terkejut.
Tanpa sadar arrsyad refleks berlari keluar rumah, tanpa mendengarkan penjelasan terlebih dahulu dari sang kakak, tidak lupa arrsyad mengambil konci mobil miliknya dimeja, dengan tingkah setengah panik.
"Tuh orang mau kemana." Tanya reno heran.
"Kerumah sakitlah, ih mas kamu kenapa malah santai kaya gini. Ayo kerumah sakit, takut zhivana kenapa-napa." Omel luchia sambil mengguncang-guncangkan tubuh reno.
Reno memutar bola matanya malas.
"Zhivana dia gak kenapa-napa. Itu si arrsyad main pergi aja, emang tahu rumah sakitnya, dimana."
Tiba-tiba arrsyad menyembulkan kepalanya dibalik pintu, membuat reno dan luchia menoleh.
"Rumah sakit, mana." Tanyanya setengah panik dan malu.
"Rumaha sakit besar pelita." Ujar reno.
Arrsyad mengangguk dan langsung lari menaiki mobil lamborghini miliknya.
***
Setelah menyelesaikan shalat isya, zhivana yang ditemani suster sinta, memutuskan untuk menemui gea. Suster sinta sudah menghubungi gea, menanyakan perihal dimana keberadaan sahabatnya itu sekarang.
"Kata dokter gea, sekarang dia sedang menunggu kak zhivana di depan ruang ICU" Ucapnya sambil memasukan benda pipih kecil ke dalam saku celana.
Zhivana berdiri dari kursi besi panjang di depan mushola mesjid.
"Apa gea sedang sibuk bekerja."
Sinta merangkul lengan tangan kanan zhivana mengajak wanita yang tidak bisa melihat itu untuk mulai berjalan melewati lorong rumah sakit yang cukup ramai.
"Tidak. Dokter gea, kalau bagian malam suka tidak sibuk."
Zhivana diam dia sedang berpikir sesuatu, entah apa itu tapi hatinya merasa tak nyaman.
"Kak zhivana. Butuh sesuatu, tidak." Sinta mencondongkan wajahnya untuk melihat zhivana. Wanita itu tampak mengkerutkan keningnya, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak, terima kasih. Oh ya sinta, kamu pasti lelah seharian ini telah menemani saya, sebaiknya kamu beristirahat."
"Tidak, kok. Kak zhivana jangan sungkan kaya gitu, justru aku malah senang sekali kenalan, eh langsung akrab" Ucapnya dengan tertawa kecil.
"Sinta kamu sangat baik"
Sinta hanya tersenyum senang sambil mengeratkan pegangannya pada tangan zhivana. Tidak terasa kini mereka berdua telah sampai didepan ruang ICU disana gea telah menunggu.
"Udah shalatnya." Tanya gea, seraya meraih tangan zhivana yang terbungkus perban.
"Udah."
Gea memberi isyarat pada suster sinta untuk meninggalkan ia dan zhivana berdua.
"Kalau begitu saya permisi." Ucap suster sinta ramah.
"Gea bagaimana kabar ibunya, seina?"
Gea menghembuskan napasnya pelan.
"Kondisi ibu itu sudah stabil. Tapi" Gea sengaja tidak melanjutkan bicaranya.
"Tapi apa."
"Zhivana. Seina, perempuan itu sedang sekarat." Ucapnya dengan lirih.
Zhivana sontak kaget, ia langsung mencengkeram tangan sahabatnya.
"Ba-bagaimana bisa."
"Dia meminum racun."
" Kejadiannya didepan ruang ICU ibunya. Kami telah mengecek CCTV, sepertinya seina tidak sengaja telah meminum racun itu. Entah racun jenis apa yang dia minum, racunnya sangat mematikan dalam waktu singkat racun itu dapat membuat organ dan saraf tubuh seina mati seketika. Bahkan, kulitnya keriput dan mengeluarkan banyak darah. Aku baru melihat kejadian seperti itu, bukannya itu sangat mengerikan."
Entahlah, zhivana ingin menangis. Ia jadi teringat kejadian beberapa jam yang lalu, dimana seina membawa dirinya kesuatu tempat dan memaksa ia untuk meminum racun.
Zhivana jadi merasa dia yang bersalah.
Gea yang mendapati zhivana yang terdiam, membuat ia menoleh menatap kedua mata zhivana yang terlihat kosong dan hampa.
"Kenapa zhi? Aku ngerasa ada sesuatu yang terjadi padamu, ceritalah zhi. Akukan sahabatmu." Bujuk gea.
"Yaalloh kenapa bisa seperti ini, ibunya sedang dalam keadaan tidak sadar sementara seina hiks aku tak percaya untuk kejadian hari ini. Hiks yalloh tolong selamatkanlah seina dan ibunya." Batin zhivana.
Tidak terasa air matanya telah berderaian, isak tangisnya terdengar oleh gea, membuat gea bingung.
"Zhi kenapa kamu menangis."
Zhivana menggeleng dengan kedua tangannya mencengkeram erat baju gamis syar'i nya sendiri.
Gea tidak bertanya lagi, dirinya memilih menenangkan zhivana dengan mengusap lembut punggung sahabatnya.
Arrsyad yang baru datang dengan napas memburu, membuat gea menoleh sekilas pandangan keduanya bertemu.
"Bukannya pria tampan itu arrsyad." Batin gea.
Arrsyad langsung melangkah mendekati wanita yang ia cintai sedang menangis membuat arrsyad semakin khawatir.
"Kak zhivana" Panggil arrsyad.
Zhivana yang tahu suara itu milik siapa, ia langsung terkejut, buru-buru zhivana menghapus air matanya.
"Assalamualaikum" Sahut gea.
__ADS_1
Arrsyad menoleh lalu bersikap acuh dan biasa saja.
"Waalaikumsalam." Ucapnya yang terkesan dingin.
Arrsyad berdiri cukup dekat, ia berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan zhivana yang duduk.
"Kak, kau tidak apa pa kan."
"Duh suaranya lembut banget ya, kalau sama zhivana." Batin gea.
Zhivana menunduk menyembunyikan kedua matanya yang masih beruraian air mata.
"Kenapa kamu bisa, kesini?"
"Harusnya aku yang tanya, kenapa kak zhivana ada disini. Lihatlah tangan kak zhivana kenapa diperban?"
"Ini hanya luka kecil, tadi tidak sengaja jatuh."
Arrsyad menatap gea, meminta penjelasan pada wanita bercadar yang berstatus dokter itu.
Gea yang paham itu langsung bercerita dimana zhivana kesini dibawa dengan ambulans bersamaan dengan seorang ibu paruh baya yang mengalami kecelakaan beberapa jam lalu, gea juga menjelaskan dengan dirinya yang tidak mengerti karena zhivana bisa ada diantara kecelakaan itu. Karena zhivana sendiri tidak memberitahukan yang sebenarnya.
"Kak pakaianmu kotor, sepertinya sesuatu telah terjadi" Ucap arrsyad penuh curiga.
"Arrsyad, aku hanya terjatuh."
Belum saja arrsyad berbicara seorang suster mendekat.
"Permisi. Dokter, pasien yang didalam dia sudah sadar dan dia juga berbicara sesuatu." Ucap suster itu memberitahu.
Gea dan zhivana langsung berdiri, membuat arrsyad jadi ikut berdiri.
Gea mengangguk, lalu meraih tangan zhivana.
" Zhi, ayo" Ajaknya.
Tidak menunggu jawaban dari zhivana, gea langsung menuntun zhivana masuk kedalam ruang ICU dimana seina terbaring tak berdaya.
Arrsyad jadi bingung sendiri, ia harus ikut masuk apa nunggu diluar. Pasalnya arrsyad bingung kenapa sahabatnya kak zhivana malah membawa kak zhivana masuk ke dalam? Memang siapa pasiennya.
Arrsyad tidak mau ambil pusing, dirinya langsung menerobos masuk begitu saja ke dalam.
Pintu terbuka terlihatlah zhivana dan gea sedang berdiri disamping bed hospital, arrsyad mengalihkan penglihatannya pada seorang wanita yang sedang terbaring lemah dengan mulut yang seperti sedang berusaha untuk berbicara.
Karena tidak terlalu jelas dengan wajah wanita itu, arrsyad berusaha mendekat, isak tangis zhivana mendominasi ruangan membuat rasa penasaran arrsyad semakin kuat dengan siapa wanita itu? Kenapa kak zhivana menangisiya.
Deg
Arrsyad terkejut dengan siapa wanita itu.
"Seina" Ucapnya tak percaya.
Gea menoleh pada arrsyad, ia menjadi semakin bingung dan penuh tanya. Kenapa arrsyad mengenali wanita ini, dan kenapa juga zhivana menangisinya. Pikir gea.
"Kak zhivana maafkan aku hiks. Sakit hiks ini sakit sekali."
Linangan air mata keluar dari sudut mata seina, ucapanya yang terbata-bata karena rasa sakit yang menjalar keseluruh tubuh seina membuat wanita itu memekik menahan rasa sakit yang luar biasa.
Tangan seina yang mengcengkram tangan zhivana, bertambah semakin kuat dan erat. Zhivana dapat merasakan tangan seina yang dingin dan bergetar.
"Apa yang terjadi." Tanya arrsyad penasaran.
"Dia meminum racun" Ucap gea.
Zhivana yang mendengar seina merintih kesakitan membuat, ia menangis tak tega.
"Racun. Bagaimana bisa."
"Hiks arrsyad aku sa-sangat mencintaimu." Lirih seina, bibirnya terangkat mengukir sebuah senyuman manis, mata cantiknya berlinang air mata dengan mengerjap beberapa kali.
Gea yang mendengarnya langsung menatap arrsyad dan seina secara bergantian, menatap tak percaya dengan yang seina ucapkan barusan membuat gea melirik zhivana sekejap.
"Maafkan aku kak zhivana, hiks. A-aku tidak percaya bahwa hari ini adalah hari terakhirku menatap dunia." Ucap seina tersendu-sendu sesekali terbatuk-batuk dengan mengeluarkan darah.
Arrsyad, hanya diam saja. Masih tidak paham dengan apa yang terjadi membuat dirinya kebingungan sendiri. Arrsyad mulai berpikir bahwa luka yang pada zhivana adalah ulah seina, buktinya seina terus meminta maaf.
"Seina yakinlah pada alloh, aku yakin kamu pasti akan sembuh. Kamu jangan nyerah ibumu sudah terluka seina, jadi aku mohon bertahanlah demi ibumu. Beliau pasti akan bersedih melihat kondisi putrinya, seperti ini."
Seina mengerjap-ngerjapkan beberapa kali, penglihatannya semakin meremang tak jelas. Rasanya sangat sulit untuk menghirup oksigen.
Seina memiringkan kepalanya agar melihat sosok pria tampan yang ia cintai selama ini, arrsyad adalah pria yang membuat seina tergila-gila, bahkan ia rela mengorbankan sebuah nyawa agar bisa mendapatkan arrsyad.
"Arrsyad aku sangat mencintaimu, hiks arrsyad tolong lihatlah aku. Selama ini aku sangat ingin mendekatimu, tapi sayang itu sangat sulit hiks tolong balas cintaku. Hisk arrsyad aku sangat mencintaimu. Bisa tidak jangan pergi, aku sangat takut kehilangan, mu."
Hening.
"Cinta. Seina kau ini hanya terobsesi saja padaku, tidakkah kau menyadarinya, lagi pula aku tidak bisa membalas cintamu. Maaf."
"Seina sembuhlah, aku yakin suatu saat arrsyad akan membalas cintamu." Ucap zhivana dengan menyemangati.
Seina tertegun mendengar ucapan arrsyad dan zhivana barusan.
Seina dapat mendengarkan suara riuh orang disekitarnya, hembusan angin kecil yang masuk menyelusup melalui celah jendela berhembus, seina dapat merasakan itu, ia jadi terbayang bahwa hari esok seina tidak bisa melihat mentari pagi lagi, tidak bisa mendengar suara ibunya yang penuh kasih sayang. Seina memejamkan kedua matanya sesaat, membuka kelopak matanya perlahan, penglihatannya semakin meremang tak jelas, sayup-sayup seina melihat zhivana, wanita yang hendak seina akan bunuh. Kini sedang menangisi dirinya, tangan zhivana yang hangat seolah-olah memberi sebuah semangat pada dirinya.
"Tolong sampaikan pada ibuku, aku sangat menyayanginya bahkan sangat menyayanginya. Tolong sampaikan pada ayahku tolong jaga ibuku dengan baik. Aku akan baik-baik saja."
Dengan suara bergetar seina mencoba untuk tersenyum manis. Menunjukkan bahwa dirinya akan baik-baik saja.
Gea, zhivana dan arrsyad, hanya diam mendengarkan semua kata yang terucap dari seina, gadis itu tampak sedang berusaha menahan rasa sakitnya.
'
__ADS_1
'
Bersambung