Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 71 : Sensitif


__ADS_3

"Jadi nama kamu, dokter gea."


Andre tengah menatap gea dari jarak dua meter, wanita yang tengah ditatap malah acuh.


Andre yang baru pulang bekerja dengan masih menggunakan setelan jas kantor, masih terlihat rapi. Bahkan terlihat sangat tampan apalagi kulit kuning langsatnya itu terlihat eksotis, senyuman manisnya mengembang sempurna.


"Kamu lagi, ngapain kamu kesini." Tanyanya seraya membereskan obat-obatan.


Andre mendekat seraya menjinjing plastik putih berisi makanan.


"Aku ingin menjenguk ibuku, beliau tengah dirawat disini."


Gea melirik sebentar ke andre, lalu fokus kembali merapikan obat-obatan.


"Beliau sakit apa."


"Ibuku terkena serangan jantung."


Gea yang tengah berjongkok lalu berdiri.


"Semoga ibumu cepat sembuh, dan sehat kembali."


"Aamiin. Tapi itu bukan ibuku saja."


"Maksudnya."


"Itu ibumu juga dokter, sebentar lagi kau akan menjadi menantunya."


"Ehh."


Andre terkekeh geli, lalu berjalan melewati gea begitu saja seraya berkata.


"Ibu dokter, tunggu aku datang kerumahmu." Bisiknya tepat ditelinga gea.


Andre bersenandung kecil lalu berjalan menuju ruang vip milik ibunya berada. Sungguh luar biasa jadi sekretaris arrsyad, sekarang perekonomiannya semakin membaik.


Sepeninggalan andre, gea masih diam mematung. Tubuhnya terasa kaku, apalagi hatinya sudah berdebar cepat.


"Apa maksudnya, siapa pria itu."


Gea memegangi dadanya sendiri.


"Kata zhivana kalau jantung kita berdebar cepat itu artinya apa ya. Lupa lagi aku, nanti tanyakan saja deh ke zhivana."


***

__ADS_1


Zhivana duduk di atas ranjang, dirinya tengah sibuk berbicara dengan gea lewat telepon.


"Nama pria itu siapa" Tanya zhivana, sesudah mendengarkan cerita gea mengenai pertemuan dengan seorang pria, lalu menceritakan perkataan pria itu yang menurutnya terlalu ambigu.


"Aku gak tau, tapi dia tau nama aku. Ibunya juga dirawat dirumah sakit pelita, katanya serangan jantung." Ucap gea disebrang sana.


"Kamu cari tau aja lewat ibunya, kamu kan dokter disana jadi kamu bisa mengecek data pasien."


"Iya, ya. Besok aku coba deh."


"Semoga berhasil, gea. Sudah dulu ya, suamiku manggil aku."


"Yaudah, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Panggilan terputus, zhivana langsung meletakkan handpone nya diatas meja nakas.


"Yang telpon kak gea." Tanya arrsyad yang duduk disamping zhivana. Memangku laptop dengan tangan sibuk mengetik.


"Iya, dia ketemu sama seorang pria."


"Kamu tau gak, pria itu siapa."


"Gak tau."


"Pria itu andre, dia suka sama kak gea. Cinta pada pandangan pertama, katanya."


Zhivana mengerjap beberapa kali, rasanya tidak percaya. Kok bisa andre teman suaminya sih. Apalagi gea bilang hatinya berdebar cepat saat pria itu mengatakan sesuatu padanya.


"Beneran mas, kok bisa."


Arrsyad menoleh ke zhivana sebentar, lalu menatap kembali ke layar laptop.


"Kenapa memang nya, andre. Bilang dia ketemu kak gea pas diparkiran rumah sakit, dia cerita ke aku. Dan aku kasih tau tentang kak gea."


Zhivana mencubit pinggang arrsyad dengan kesal.


"Aduhh sakit, dek. Kok dicubit." Protes arrsyad seraya meletakkan laptop nya diatas nakas.


"Kamu tau tentang gea dari mana, mas. Kamu pernah suka ke gea." Tuduh zhivana seraya cemberut kesal.


Arrsyad mengerjit heran, kenapa dengan istrinya itu.


"Bukan gitu sayang, aku kan taunya kak gea sahabat kamu dan seorang dokter." Arrsyad hendak menyentuh tangan zhivana, tapi malah ditepis.

__ADS_1


Zhivana malah diam seraya menggeser duduknya agar menjauh dari arrsyad.


"Dek kok ngambek sih, sayang, liat dulu aku." Bujuk arrsyad seraya memegang pundak zhivana.


Lagi-lagi ditepis oleh zhivana, tidak biasanya zhivana seperti ini. Waktu itu arrsyad pernah menceritakan tentang sekretarisnya yang genit padanya. Tapi tidak membuat zhivana sekesal ini.


"Sayang kamu kenapa, gak biasanya kamu sensitif kayak gini. Akukan hanya bicara kayak gitu, bukan berarti aku pernah suka sama kak gea."


"Itu buktinya kata kamu tentang gea, berarti kamu pernah suka sama dia, kamu cari tau kan tentang dia. Jadi kamu tau."


Arrsyad menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kenapa jadi begini. Memang salah dirinya berkata seperti itu, rasanya jadi bingung sendiri. Apalagi istrinya itu tengah merajuk kesal.


"Astagfirullahal'adzim, dek. Aku gak pernah suka sama wanita lain selain kamu. Sejak aku umur delapan tahun aja, aku udah jatuh cinta sama kamu, dan sampai sekarangpun perasaan itu tetap sama. Malah setiap harinya bertambah besar."


Zhivana diam, lalu merebahkan tubuhnya seraya membelakangi arrsyad.


"Dek kok jadi gini sih, kenapa harus ngambek. Sayang, kok diam aja sih, aku paling gak bisa didiemin sama kamu dek."


Arrsyad ikut merebahkan tubuhnya disamping zhivana, memeluk istrinya dengan paksa karena zhivana malah meronta-ronta minta dilepas.


"Mas lepas."


"Gak mau, kamu aneh banget dek kok jadi sensitif kayak gini, biasanya juga gak seperti ini."


"Kamu pernah suka sama gea mas."


Arrsyad membalikan tubuh zhivana agar menghadap ke arahnya.


"Gimana mau suka sama dia dek, orang aku dari kecil sampai sekarang cintanya sama kamu. Sayang, kamu kenapa. Hem, gak biasanya kamu gampang ngambek kayak gini."


"Aku gak tau, tiba-tiba aku kesel banget sama kamu."


Arrsyad mencium pipi kiri dan kanan zhivana.


"Udah, lupain aja. Sekarang kamu cerita, bukannya tadi pagi kamu kerumahnya kiai husen."


Zhivana mengangguk. Lalu menceritakan tentang dirinya yang berkunjung, makan bersama, berkeliling pondok pesantren, semua zhivana ceritakan. Arrsyad sebagai pendengar yang baik, mendengarkannya dengan seksama.


"Kamu salim sama ustadz azwar, dek." Tanya arrsyad.


"Iya, tapi cuman saling jabat aja kok mas."


"Tiba-tiba aku cemburu lagi."


'

__ADS_1


'


Bersambung


__ADS_2