Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 106 : Azwar dan Almira


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, hari dimana azwar akan mengkhitbah seorang perempuan cantik blasteran indonesia turki.


Dulu hari dimana azwar akan masuk kampus dikairo, ia sangat kesulitan. Tidak tahu menahu tentang tempat disana, untungnya ada seorang perempuan berhijab merah membantunya.


Berteman akrab, saling membutuhkan sesama mahasiswa yang sedang menimba ilmu dinegara asing tentunya sangat dibutuhkan. Layaknya sepasang kekasih, azwar selalu mengajak perempuan itu makan bersama dikedai pinggir jalan.


Sempat berpikir hidupnya tidak akan lama lagi, membuat azwar pasrah. Apalagi mengikhlaskan wanita yang dicintainya menikah dengan orang lain, membuat azwar terpuruk.


Tidak ada yang tahu, selama ini perempuan yang jadi teman kuliahnya datang. menemani hari-hari azwar, semakin hari semakin lebih berwarna kembali.


Melukis warna indah dihidup azwar, senyuman yang dulu hilang kini terukir kembali. Bercanda bersama, menemani azwar terapi, hingga rasa cinta itu datang tanpa permisi.


Rombongan keluarga azwar telah tiba dikediaman almira khadijah. Wanita yang bekerja sebagai dosen itu tersenyum malu, ketika berhadapan langsung dengan azwar.


Cincin dengan permata putih telah tersemat dijari manis almira. Ucapan syukur serta senyum bahagia, tampak terlihat diwajah semua orang.


Zhivana sangat bersyukur sekali, azwar telah menemukan jodohnya. Rencana pernikahan akan dilaksanakan minggu depan. Niat baik tidak boleh ditunda terlalu lama, semakin cepat maka semakin baik.


"Selamat untuk azwar dan almira."


Ucapan selamat selalu datang silih berganti, banyak teman dan sodara yang menghadiri. Acara sederhana dengan dekorasi sederhana itu terlihat sangat indah dan khidmat.


Acara inti telah selesai, tinggal makan bersama. Semua sibuk mengobrol dan bercanda, berbeda dengan arrsyad. Pria itu malah melamun dipojokan sendirian.


Mengingat dirinya tidak melakukan acara seperti ini dengan zhivana, padahal dirinya kaya raya. Bisa saja menggelar acara lamaran semewah mungkin.


Sayangnya, dulu pernikahannya saja sangat mendadak dan mengejutkan. Menghapal ijab kabul saja malam-malam, itu juga dengan rasa gelisah luar biasa.

__ADS_1


Beli cincin berlian pesan mendadak, itu juga hasil dirinya yang datang kerumah sipenjual emas.


"Mas, kamu ngelamun?"


Suara zhivana mengejutkan arrsyad, pria itu tersenyum kecil.


"Kamu udah makan? Dimana anak-anak,"


"Udah sama umi aisyah tadi. Kamu kenapa gak ikut makan? Anak-anak sama umi dan almira."


Arrsyad mengelengkan kepala, dia tidak mau makan. Lagi pula ia masih kenyang, sarapan banyak buatan sang istri tercinta terasa sangat nikmat.


"Maaf ya dulu mas gak kayak gini, ngekhitbah kamu kerumah. Malah menikahimu mendadak."


"Kenapa ngebahas itu. Dengan bersamanya kita sekarang aku udah bahagia, ditambah dengan hadirnya anak-anak. Kebahagiaan ini semakin bertambah."


Seharusnya mereka menginap lagi dirumahnya kiai husen, tapi arrsyad selalu mengajak zhivana pulang. Katanya tidak bebas melakukan apa-apa pada zhivana.


Lima hari setelah hari dimana azwar mengkhitbah almira. Zhivana selalu sibuk dirumahnya kiai husen, membantu menyiapkan segala kebutuhan untuk pernikahan nanti.


Dua hari lagi hari besar bagi azwar dan almira akan tiba, terasa cepat bahkan tidak terasa. Azwar sendiri banyak menghabiskan waktu mengobrol dengan umi abi serta fazal, bahkan arrsyad selalu mengajak azwar bertemu untuk sekedar minum kopi bersama.


"Dua hari lagi kamu akan menikah, jaga kesehatan."


Perhatian kecil sebagai seorang teman yang semakin dekat, Arryad sangat mengkhawatirkan kesehatan azwar. Takut penyakit kanker darah azwar kambuh kembali.


"Iya, terima kasih. Oh iya kamu kemarin kenapa?"

__ADS_1


Mengingat kejadian kemarin saat sedang membahas bisnis yang akan dijalankan oleh azwar, mendadak hidung arrsyad mengeluarkan darah.


Bahkan arrsyad hampir terjatuh, kalau azwar tidak segera memegangnya. Mungkin pusing dan sakit dikepala arrsyad kambuh kembali.


Arrsyad hanya tersenyum miring, lalu memalingkan wajahnya dari azwar. Dia akan selalu berbohong jika soal ini, entah kenapa dia juga tidak tahu.


Sakit kepala dengan pusing yang hebat selalu terasa, bahkan hidungnya selalu mengeluarkan darah. Jika disuruh kedokter oleh adzril maka ia akan menolak, takutnya diponis punya penyakit parah.


Tidak sampai disana jantungnya juga suka berdenyut sakit dan perih, arrsyad selalu menepis rasa sakitnya. Tidak mau terlihat sakit dan lemah, apalagi dihadapan zhivana dan kakaknya.


"Kenapa diam? Apa kamu baik-baik saja,"


Bertanya kembali, azwar malah semakin penasaran. Bagaimana kalau arrsyad sakit, dirinya juga sakit tapi sekarang sudah sembuh. Tidak mau ada orang terdekat azwar yang sakit, cukup dirinya saja.


"Aku baik, mungkin itu hanya sekedar mimisan biasa."


Terdengar ragu, azwar yakin arrsyad sedang berbohong. Maka dari itu ia akan mencoba mencari tahu sendiri.


"Besok adalah pemeriksaan terakhir saya. Tolong antar saya kerumah sakit, besok pagi jam delapan."


Azwar tidak bisa diam saja, ia harus memastikan sendiri. Apalagi ada zhivana dan anak-anaknya, mereka sangat membutuhkan arrsyad. Maka azwar berniat ingin memeriksa kondisi arrsyad besok, tanpa sepengetahuan arrsyad.


'


'


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2