
"Walaupun dirimu telah menolak cinta yang kuberikan, entah kenapa rasa cinta ini tidak mau pergi dariku."
~ Arrsyad Zega Al Faruq ~
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari begitu cerah, matahari semakin meninggi. Semilir angin menghembus mengakibatkan dedaunan yang sudah mengering berjatuhan ke tanah. Diatas sana ada sedikit awan putih, terlihat jelas hamparan langit biru yang sangat membentang luas, sesekali terlihat burung-burung kecil sedang berterbangan.
Arrsyad keluar dari apartemen milik andre. Dengan gayanya yang keren membuat orang-orang yang sedang berlalu lalang melihat ka arah pria tampan yang sedang berjalan.
Berjalan ditengah teriknya sinar matahari, membuat kulit putih susu milik arrsyad terlihat sangat kontras. Bibirnya yang merah terlihat sangat jelas, dagunya yang lancip membuat dirinya semakin tampan. Semilir angin menghembus menerpa permukaan kulit wajah arrsyad.
Visual Arrsyad Zega Al Faruq.
Hari ini arrsyad akan pulang ke rumah. Pasalnya arrsyad belum memberitahu kakaknya reno, bahwa ia sudah pulang. Anggap saja arrsyad ingin memberi kejutan. Ada rasa rindu direlung hatinya. Tapi, arrsyad hanya merindukan bi aminah pengasuh dirinya. Wanita paruh baya itu selalu saja membuat arrsyad teringat pada mendingan ibunya.
Arrsyad menaiki taksi. Untuk sampai ke rumahnya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit. Sepanjang perjalanan arrsyad melihat kedua foto orangtua nya. Foto dimana arrsyad lulus sekolah menengah pertama, arrsyad masih ingat dengan jelas waktu itu ia mendapatkan juara satu. Kedua orangtua nya sangat senang setiap kali dirinya mendapatkan penghargaan. Difoto ini arrsyad sedang memengangi sebuah piagam penghargaan dan satu piala, kedua orangtua nya memeluk arrsyad dari samping, senyuman ibu dan ayahnya terlihat jelas bahwa mereka sangat bahagia.
"Ibu ayah. Aku sangat merindukan kalian." Batin arrsyad.
Kejadian kecelakaan beberapa tahun lalu sangat mengenaskan. Arrsyad masih ingat wajah kedua orangtua nya dipenuhi dengan darah, bahkan pakaian yang ibu dan ayah nya kenakan waktu itu berlumuran darah.
Tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan arrsyad menepis semua kejadian buruk itu. Selama ini, arrsyad sering bermimpi buruk tentang tragedi kecelakaan itu menimpa kedua orangtua nya.
Mimpi buruk yang menyebabkan arrsyad kesulitan untuk tidur dengan nyenyak. Mengkonsumsi obat tidur membuat dirinya terhindar dari mimpi buruk. Arrsyad terpaksa mengkonsumsinya, mau bagaimana lagi dirinya selalu stres saat mengingat kejadian mengerikan itu.
Mobil taksi yang ditumpangi olehnya sudah sampai di depan rumah besar mewah bercat putih. Arrsyad keluar dari dalam mobil taksi, selama empat tahun ini tidak ada yang berubah dari rumah ini, terlihat sama seperti dulu.
Arrsyad melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Pintu besar itu terbuka lebar, menandakan kak reno dan kak luchia sedang berada di dalam rumah.
Arrsyad sudah berdiri di bawah lampu kristal besar yang tergantung di ruang tamu. Luchia dan reno sedang menonton televisi tidak menyadari kehadiran arrsyad.
"Apa saking asiknya menonton televisi kalian tidak menyadari kehadiran, ku."
Reno dan luchia mengarahkan pandangannya pada sumber suara yang sudah tidak asing mereka dengar. Saat reno menatap arrsyad membuat dirinya terkejut bukan main, cemilan yang sedang ia pegang sampai terjatuh ke lantai. Sementara, luchia dirinya sudah berlari menghampiri arrsyad.
"Arrsyad kau pulang? Kapan kau pulang kenapa tidak memberitahu kami?" Tanya luchia yang masih memeluk arrsyad.
"Bisa tidak lepaskan? Aku merasa tak nyaman"
__ADS_1
Seperti biasa arrsyad selalu berbicara dengan dinginnya, wajahnya yang terkesan datar sudah biasa ia tunjukkan.
Luchia pun melepaskan pelukannya.
"Maaf. Wah wah adik iparku semakin tampan saja."
Arrsyad hanya diam saja tak berniat untuk menjawab perkataan dari luchia.
Reno menghampiri mereka berdua, dirinya langsung memeluk arrsyad. Pelukan ala adik kakak yang tidak memiliki hubungan baik. Pelukan kilas itu terkesan sangat canggung dan kaku.
"Kapan kau pulang?" Tanya reno dengan nada tak suka.
Sudah arrsyad duga bahwa kakaknya itu pasti tidak akan suka kalau ia pulang sebelum waktunya.
"Kemarin."
"Kau keras kepala. Kenapa pulang sebelum waktunya? Aku kan sudah bilang jangan pulang. Kalau kau butuh apapun kau bilang saja padaku."
"Kemarin. Kenapa baru pulang ke rumahnya sekarang?" Tanya luchia.
"Itu bukan urusan kalian. Kulihat kalian baik-baik saja, seharusnya aku tidak usah pulang kesini karena sepertinya kehadiranku membuat kalian tidak nyaman. Aku terpaksa datang kesini karena aku rindu pada bi aminah. Dimana dia, sekarang?"
Reno menghembuskan napasnya secara kasar. Sungguh menguras emosi kalau berbicara dengan arrsyad.
"Dimana bi aminah?" Tanya arrsyad kembali.
"Terserah saja. Bi aminah jatuh sakit dia sudah meninggal dua tahun yang lalu. Dia meninggal di kampung halamannya saat dia sedang pergi cuti."
Deg
Untuk sekian kalinya arrsyad harus merasakan bagaimana ditinggalkan pergi oleh orang-orang yang ia sayangi. Padahal arrsyad sudah menyiapkan sebuah hadiah untuk bi aminah. Sayang sekali seorang pengasuh yang sudah dianggap ibu kedua oleh arrsyad sudah meninggal dua tahun yang lalu. Sangat menyedihkan sekali dirinya malah tidak tahu tentang hal ini.
"Kenapa kau tidak memberitahu kabar ini padaku, hah." Bentak arrsyad.
Rasa sedih dan marah membuat arrsyad tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri.
"Bagaimana bisa kau sedang kuliah di amerika. Aku tidak memberitahumu karena aku takut menganggu belajar kau arrsyad. Ini sudah terlambat ikhlaskan saja, lagi pula tak ada gunanya kau marah, padaku."
Arrsyad mengepalkan kedua tangannya erat.
"Bagiku sekarang ada gunanya aku marah. Kau terlalu naif kak, selama ini aku selalu percaya padamu. Tapi, sekarang tidak. Kau tahu alasannya apa, hm? Karena kau selalu saja menyembunyikan sesuatu dariku. Bukan hanya itu saja, kau selalu saja mengingkari segala sesuatu padaku ucapan mu itu tidak sesuai dengan kenyataan. Kau pikir dengan diamnya aku. Aku akan menjadi kucing penurut dan bodoh. Ha ha tidak kak. Aku ini terlalu pintar untuk kau bodohi."
__ADS_1
Arrsyad tertawa mengerikan, tapi ini seperti bukan sifat arrsyad. Mungkin saja akibat beban yang ia derita selama ini membuat dirinya berbicara sekasar ini, apalagi rasa sepi dan sakit hati selalu mendominasi suasana hatinya.
"Aku sengaja melakukan semua itu untuk kebahagiaan, mu." Ucap reno dengan penuh penekanan.
"Kebahagiaan yang bagaimana dan kebahagiaan yang seperti apa maksudnya? Selama ini aku selalu diam dan sabar menghadapi hari-hariku yang kesepian. Kau selalu mengutamakan pekerjaan, waktu itu aku pernah tertabrak mobil dan tak sadarkan diri selama dua hari, untung saja abinya kak zhivana menolongku dan membiayai biaya rumah sakitku. Tapi kau sebagai seorang kakak yang seharusnya melindungi adiknya apa pernah mencari atau menanyakan kabarku. Sayangnya itu tidak pernah."
"Kau selalu berekting menjadi kakak yang baik dihadapan semua orang. Padahal aslinya kau sangat tidak peduli, padaku"
Reno bungkam. Benar semua yang dikatakan oleh arrsyad memang benar adanya. Reno tidak pernah memperhatikan arrsyad dengan baik, malah selama ini ia sibuk bekerja dan bekerja.
"Maaf"
Hanya kata maaf yang mampu reno ucapkan saat ini. Bodoh sekali dirinya selama ini membuat arrsyad kesepian dan tumbuh menjadi sosok pria dingin. Rapuh, pasti selama ini arrsyad sangatlah rapuh apalagi semenjak kedua orangtua nya meninggal reno berubah menjadi tidak peduli pada arrsyad.
"Aku sudah memaafkan mu. Tapi aku mohon padamu gagalkan semua rencana pernikahan kak zhivana, kali ini aku ingin egois. Aku ingin mendapatkan cintaku, orang yang aku sayangi telah pergi semua. Hanya ada kau dan kak zhivana, jadi tolong buatlah kak zhivana membatalkan pernikahan, nya."
"Tapi sayangnya aku tidak bisa melakukan, nya" Ucap reno dengan lirihnya.
Reno tidak ingin memaksa seseorang untuk menuruti perintahnya. Mengingat azwar yang memiliki penyakit kanker darah membuat reno merasa kasihan. Waktu itu reno sudah berbicara dengan zhivana soal penyakit kanker darah yang sedang azwar idap. Zhivana tidak bisa meninggalkan azwar dalam kondisi seperti itu, bagi zhivana sendiri ia akan berusaha membuat azwar memiliki semangat hidup kembali, zhivana juga akan berusaha mencintai azwar.
"Kenapa."
"Kau tidak tahu kebenarannya."
"Kebenaran, apa?" Tanya arrsyad yang sudah kebingungan.
"Cari tahulah sendiri. Aku tak ingin kau mengambil langkah terburu-buru. Lupakan saja dulu, ini sudah siang sebaiknya kau makan siang dulu."
"Iya arrsyad aku akan memasak makanan spesial untuk makan siang ini." Ucap luchia sambil tersenyum senang.
"Baiklah aku akan mencaritahunya sendiri." Batin arrsyad.
Arrsyad mengangguk saja. Merekapun berjalan beriringan menuju dapur. Luchia sudah mulai memasak dengan dibantu oleh para pembantu, sementara reno berbicara dengan arrsyad, menanyai tentang bagaimana selama arrsyad di amerika.
Setelah makan siang selesai arrsyad langsung pergi keluar rumah untuk menenangkan pikirannya sendiri. Rasanya sangat stres sekali. Apalagi memikirkan seribu cara agar zhivana dan azwar tidak akan jadi menikah.
"Demi cintaku pada kak zhivana aku akan memperjuangkannya. Untuk saat ini mungkin aku akan mencaritahu tentang ustadz azwar."
"Kak zhivana kau curang. Padahal kau hanya berbicara lembut padaku, tapi entah mengapa suaramu itu selalu mengiang ditelinga dan pikiran, ku." Batin arrsyad.
'
__ADS_1
'
Bersambung