
Semua terasa sama, namun aneh untuk dirasa lebih dalam. Seperti ada bagian dari hidup ini yang hilang, pergi tanpa pamit dan berlalu tanpa jejak. Tapi apa itu?
Hari ini terasa berbeda. Sepi dan hampa, padahal ia sudah sehat dan kembali hidup normal tanpa riwayat penyakit apapun.
Duduk sendirian diruang vip yang luas, ada ac yang setia menyala 24 jam. Dingin dan sepi, seperti tidak punya keluarga.
Padahal sudah punya istri dan dua anak. Arrsyad berusaha menghubungi zhivana, tapi sayang telepon darinya tidak pernah di angkat.
Berpikir kalau zhivana sibuk mengurus anak-anak, sampai lupa kalau suaminya sudah sadar.
"Bisa saja kan dia menungguku bangun disini, sambil mengurus anak-anak."
Ingin berlari keluar rumah sakit, mencari istri dan anak. Tapi sayang, jalan kaki selangkah dua langkah saja masih sulit.
Pintu ruangan terbuka, arrsyad segera menoleh. Berharap zhivana yang datang, tapi sayang senyum yang baru saja mengembang itu langsung lenyap.
Ketika melihat almira dan azwar yang datang. Almira tersenyum ramah seraya membantu azwar duduk dikursi samping bangsal tempat arrsyad terbaring.
"Assalamualaikum, arrsyad. Apa kabar?"
Azwar tersenyum ramah, seperti biasa pria itu akan bersikap ramah dan sopan. Apalagi sekarang mereka sudah berteman baik.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah aku baik."
Wajah pucat itu terlihat sedih dan murung, tidak bersemangat. Azwar hanya tersenyum kecil, lalu melihat keadaan sekitar.
Terlihat sepi, seperti tidak ada keluarga atau kerabat yang menjenguk atau menemani.
"Dimana semua orang, arrsyad? Kenapa disini begitu sepi."
Almira hanya diam seraya menunduk. Teringat dengan kejadian beberapa jam lalu, dimana zhivana bersiap ingin mendonorkan jantungnya sendiri untuk arrsyad.
"Apa mbak yakin ingin melakukan ini?"
Almira mematung kaku, rasanya sangat kaget. Pengorbanan cinta untuk arrsyad yang begitu besar mampu membuat zhivana rela mati demi hidup suaminya.
Zhivana yang habis shalat, dan masih memakai mukena mengangguk yakin. Air matanya tidak berhenti mengalir.
"Tapi bagaimana dengan anak-anak mbak, mereka masih bayi!"
"Ada suamiku. Dia adalah sosok ayah sekaligus ibu untuk anak-anak kami. Aalesha dan arka tidak akan pernah merasa kurang, kalau arrsyad selalu ada."
__ADS_1
Obrolan itu berakhir ketika zhivana pergi untuk menemui dokter. Almira hanya diam dengan rasa sedih sekaligus bahagia.
Arrsyad terdiam lalu menunjukkan riwayat panggilan ke nomor ponsel zhivana yang sama sekali tidak diangkat.
"Kenapa ukhty zhivana tidak mengangkat telepon darimu?"
"Saya tidak tahu! Padahal saya sangat merindukan mereka."
Azwar menatap almira, katanya calon istrinya itu akan menceritakan sesuatu.
Almira yang tahu diperhatikan segera berdehem, menetralkan suaranya.
"Maaf saya ingin memberi tahu sesuatu."
Almira melirik pada arrsyad dan azwar secara bergantian, dua orang pria itu terlihat sangat antusias ingin segera mendengarkan cerita darinya.
"Katakan saja, jangan takut!"
Baru saja almira membuka sedikit mulutnya untuk berbicara, tapi kedatangan reno yang tiba-tiba membuat ia diam.
"Lancang sekali! Diam akan lebih baik, jadi sebaiknya jangan ikut campur."
Ucapan reno yang penuh penekanan sekaligus tatapan sinis itu mampu membuat almira bungkam.
Reno berjalan dengan penuh angkuh, melewati almira yang tengah menunduk takut. Sejak awal mengetahui dibalik pendonoran jantung ada kaitannya dengan almira, membuat reno tidak suka.
"Kak, kenapa kau berbicara seperti itu?"
Reno tersenyum miring lalu melirik almira seraya mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
"Kehadirannya membuat keadaan buruk. Ustadz azwar saya mohon suruh dia pergi."
Almira terperanjat kaget, ia langsung memberenggut takut. Sementara azwar, pria itu malah kebingungan.
"Apa maksudnya? Apa Almira membuat kesalahan?"
"Jika kau tau, kau juga akan melakukan hal yang sama dengan saya."
Azwar mencoba berpikir lalu menatap reno yang seperti sedang menahan emosi. Tatapan tajam reno pada almira membuat azwar tidak suka.
Tidak tahan dengan tatapan tajam dari reno, almira langsung berjalan mendekati azwar. Bersembunyi dibelakang punggung pria itu.
__ADS_1
"Kenapa kau begitu egois? Kenapa kau tidak melarang zhivana? Kenapa kau malah menyuruhnya untuk..."
Reno tidak melanjutkan bicaranya, ia langsung menatap arrsyad dengan sendu.
"A-apa maksudmu?" Tanya azwar dengan suara gemetar. Pria itu seperti sudah mulai mengerti dengan ucapan reno.
Hatinya mulai terasa sesak, seperti ada hantaman besar yang menerjang. Tidak mau menunggu lama, azwar segera mendekati reno.
Menguncang tubuh reno dengan kasar, seraya terus bertanya.
"Apa maksudnya?" Bentak azwar dengan tidak sabar.
Arrsyad hanya diam pria itu malah memejamkan kedua matanya seraya menutup telinga dengan kedua tangannya, seperti menolak untuk tidak ingin tahu apa-apa.
"Apa kau senang, almira? kenapa kau malah menyuruhnya untuk melakukan itu."
Suara reno yang meninggi, membuat almira ketakutan.
"Jangan bilang kalau ukhty zhivana yang sudah mendonorkan jantungnya."
Reno mencengkeram bahu azwar dengan kuat, kedua pria itu beradu pandang dengan penuh sorot kesedihan.
"Iya dia orangnya."
Azwar mengeleng kuat, tidak terima dengan kebenaran yang ia dengar.
"Tidak. Ini tidak mungkin."
menolak kenyataan pahit memang sulit, mau tidak mau harus diterima dengan lapang dada.
Azwar mendorong tubuh reno, lalu menatap almira dengan kecewa. Kedua pelupuk mata itu basah, menahan air mata yang hendak ingin keluar.
Sementara arrsyad pria itu masih setia memejamkan mata seraya menutup telinga rapat-rapat.
"Istriku pasti dirumah. Dia mencintaku, dan aku mencintainya."
Kalimat dengan suara lemah itu terus terucap, arrsyad tidak ingin mendengar apapun. Ia hanya ingin mendengar suara lembut sang istri yang selalu menghangatkan relung hatinya.
'
'
__ADS_1
Bersambung