Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 23 : Ketulusan Azwar


__ADS_3

"Terkadang memendam adalah pilihan satu-satunya agar semua terlihat baik-baik saja."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jika kamu mencatat seseorang Maka jangan pernah berhenti untuk mendo'akannya


Jangan pernah berhenti untuk mengikhtiarkannya


Sederhana saja.


Jika kamu terus diam memendam rasamu


Kamu takkan pernah tahu hasilnya Dan rasa cinta dalam diam hanya akan terkubur dalam


Sederhana saja. Karena cinta itu sederhana tak pernah banyak meminta, sederhana saja.


Jika kamu tak mampu membuat orang yang kamu sukai bahagia Maka jangan pernah menggoreskan luka dihatinya


Apalagi sampai membuatnya menitikan air mata


Sederhana saja, jangan pernah diam untuk rasamu


Jangan hanya berdalih kamu bahagia asal dia bahagia Tapi kamu terus memendam cintamu


Karena kamu tak pernah tahu Apakah dia benar-benar bahagia ataukah tidak.


Ketika kamu hanya diam saja tanpa berkata Bahwa kamu suka


Sederhana saja, sebab cinta butuh pembuktian Bukan sebatas do'a dari kejauhan Apalagi sebatas pengharapan


Karena itulah sederhana saja Jangan pernah menyembunyikan rasa.


Jika kamu memang cinta Datangi walinya


Karena bisa saja dia pun ingin kamu menjadi miliknya


Meski dia terus diam


Karena seperti itulah wanita Mereka malu jika harus berkata lebih dulu.


Bahwa mereka juga suka


Sederhana saja, coba pahami mereka Karena wanita ingin dicinta Dan hanya bisa memendam rasa Menanti kamu yang lebih dulu Jangan membuat ia menunggu mengungkapnya


Maka sederhana saja terlalu lama.


***


Hari begitu cerah, angin berhembus dengan pelan sangat tenang rasanya jika hari ini duduk tenang mungkin akan damai. Tapi, tidak dengan zhivana seharusnya ia tenang-tenang saja tapi karena hari ini adalah dimana keluarga kiai husen akan datang ke rumah zhivana. Tentunya zhivana sudah tahu, karena umi aisyah dan kiai husen sudah memberitahu zhivana akan rencana perjodohan ini. Zhivana masih bingung ia sudah meminta petunjuk dari sang khalik tentang rencana perjodohan dari azwar.


Apakah zhivana akan menerima, nya?


Bagaimana dengan janji yang zhivana buat dengan arrsyad selama ini?


Bingung? Ya.ini sangat membingungkan zhivana tidak tahu sekarang ia harus berbicara bagaimana pada keluarga kiai husen, zhivana tau maksud dari ia harus menunggu arrsyad. Tapi ia merasa akan tidak enak kalau menolak perjodohan ini.


Bagaimana pun selama ini keluarga kiai husen telah membantu zhivana, kiai husen juga sahabat dekat Alm. Abinya, di sisi lain kelurga arrsyad juga sama sangat membantu keluarga zhivana.


Zhivana sudah mengadu kekalutan hatinya tentang masalah ini di sepertiga malam. Tetapi tetap saja hatinya masih bingung. Anehnya, saat berdo'a zhivana sekilas melihat wajah azwar tapi berbeda dengan hatinya yang menyebut nama arrsyad.


"Yalloh semoga keputusan hamba ini benar. Maaf, maafkan aku arrsyad mungkin kita tidak berjodoh." Batin zhivana.


Suara ketukan pintu terdengar.


"Assalamualaikum." Ucap seseorang di pintu luar rumah zhivana.


"Waalaikumsalam" Ucap zhivana, yang sudah membukakan pintu rumah.


"Silahkan masuk" Ucap zhivana memperselihkan masuk keluarga kiai husen.


Mereka pun masuk dan langsung duduk di kursi ruang tamu, begitu pula dengan zhivana yang duduk dekat umi aisyah.


"Zhivana kamu sudah tau kan kedatangan keluarga kami kesini." Tanya kiai husen yang sepertinya sudah tidak sabar dengan keputusan zhivana.


"Iya, saya sudah mengetahuinya." Ucap zhivana dengan lirih.


"Bagaimana kalau kita langsung ke intinya saja, supaya lebih cepat lebih baik, juga" Ucap kiai husen dengan melirik ke arah azwar.


"Apa keputusannya"


Jantung zhivana sudah berdebar-debar, pikirannya sudah melayang kemana-mana. Ada rasa ragu nampak diraut wajah zhivana. Perlahan azwar menegakkan wajahnya untuk menatap pada zhivana.


"Bismillahrirrohmanirrohim. Dengan menyebut nama alloh yang maha pengasih lagi maha penyayang. Arrsyad maafkan aku. Maaf, karena telah mengingkari perjanjian kita." Batin zhivana.


"Saya sudah putuskan bahwa saya menerima perjodohan ini." Ucap zhivana dengan tegas.

__ADS_1


Deg


Reno terkejut dengan keputusan zhivana pasalnya arrsyad dan zhivana itu bukankah sedang dekat. Ya sedari tadi reno ada dibalik pintu luar rumah, reno tadinya ingin mengunjungi zhivana tapi reno melihat dirumah zhivana seperti sedang kedatangan tamu.


Reno tidak langsung mengucapkan salam karena ada keraguan dan ingin tahu apa yang tengah mereka bicarakan. Jadi reno memutuskan untuk menguping dibalik pintu.


"Bagaimana dengan arrsyad di..dia pasti akan marah besar kalau mengetahui ini, mana 5 tahun masih lama untuk arrsyad pulang kesini." Batin reno.


"Sebaiknya aku pulang saja dan besok akan kesini lagi."


Reno pun melangkah pergi dari rumah zhivana. Nampak terlihat jelas raut wajah reno yang penuh dengan pertanyaan. Rasanya ia ingin segera besok saja agar langsung menanyakan pada zhivana kenapa ia bisa menerima perjodohan dari azwar.


"Alhamdulillah."


Nampak terlihat dengan jelas raut wajah azwar memancarkan kebahagiaan, senyumnya mengembang seolah-olah ada sejuta kebahagiaan yang tengah melanda hatinya.


"Alhamdulilah, zhivana umi mengucapkan terima kasih banyak keputusanmu itu membuat umi sangat bahagia sekali"


Umi aisyah merengkuh tubuh zhivana untuk dipeluk. Zhivana menyambut pelukan itu dan membalasnya, terasa nyaman dan hangat.


"Umi abi maafkan zhivana. Maaf zhivana tidak bisa memenuhi amanah dari Alm. kedua orang tuanya arrsyad yang telah dititipkan pada kalian." Batin zhivana.


"Nah zhivana kata azwar dia ingin memberikanmu sesuatu." Ucap kiai husen.


"Ukhty aku ingin memberikan mu ini, tolong pakailah ini aku beli saat aku ada undangan di kairo." Ucap azwar dengan tersenyum-tersenyum.


Sebuah cincin putih bermata biru itu sangatlah cantik terlihat indah. Azwar memberikan kotak cicin itu pada uminya. Umi aisyah pun mengambil cincin itu di dalam kotah berwarna merah dan langsung memakaikan cincin itu di jari manis zhivana.


Cincin putih bermata biru itu sudah terpasang di jari manisnya sangat indah apalagi permata biru itu tampak berkilauan seolah-olah sedang memancarkan sinar birunya.


Zhivana meraba cincin itu, andai saja dirinya bisa melihat mungkin cincin yang tersemat dijarinya ini sangatlah cantik.


"Ustadz azwar terima kasih banyak, saya sangat menyukai,nya"


"Sama-sama, kalau ukhty menyukainya saya sangat senang sekali."


Azwar terus saja memandang zhivana senyuman nya tidak pernah pudar. Ada kebahagian yang teramat sangat dihati azwar seolah-olah ribuan kupu-kupu berterbangan kepadanya.


"Ustadz, apakah saya boleh bertanya" Lirih zhivana kepalanya sedari tadi terus menunduk.


"Tentu, apa yang ingin ukhty tanyakan pada saya"


"Kenapa ustadz azwar memilih saya untuk menjadi calon istri ustadz? Sedangkan saya wanita buta dengan segala kekurangnya. saya itu tidak secantik ratu balqis, tidak secerdas ibunda aisyah, tidak sebijak dan setegar ibunda khadijah, tidak sekuat siti hajar, dan tidak sesabar dan setaat siti fatimah putri rasulullah saw. Saya hanya wanita akhir zaman yang tengah berproses menuju baik"


Kiai husen dan umi aisyah yang mendengar tutur kata zhivana itu saling lirik dan tersenyum.


Terdengar penuh ketulusan dan keyakinan, zhivana percaya semua kata yang terlontar dalam mulut azwar. Zhivana yakin azwar tulus padanya.


"Terima kasih, terima kasih banyak ustadz azwar. Hiks"


Tiba-tiba saja tangis zhivana pecah, sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, kepalanya masih menunduk, air mata yang keluar pun berjatuhan mengenai baju gamis yang zhivana kenakan.


Kiai husen, umi aisyah dan azwar menjadi bingung. Kenapa zhivana menangis apakah ucapan azwar ada yang melukai hatinya.


"Nak kenapa kamu menangis" Ucap kiai husen.


"Zhivana kamu baik-baik saja, Kenapa menangis." Tanya umi aisyah sambil mengusap-usap pungung zhivana.


"Maaf, zhi merasa beruntung memiliki kalian semua yang tulus menyayangi zhi apa adanya. zhi pernah berpikir dengan kondisi seperti ini mungkin orang-orang akan menjauh dan memandang zhivana iba tapi ternyata itu salah"


"Dengar zhivana bagi umi kamu seperti putri kandung umi sendiri, umi dan abi sangat menyayangi kamu zhivana, jangan pernah merasa sendiri karena kedua orang tua kamu meninggal" Ucap umi aisyah.


"Iya zhivana kami semua sangat menyayangimu" Sahut kiai husen.


Zhivana hanya mengangguk saja, ia menghapus air matanya. Kini hatinya terasa sangat lega. Pasalnya zhivana takut kalau azwar menjadikan dirinya sebagai istri itu hanya karena merasa kasihan dengan dirinya yang tidak bisa melihat ini.


"Nah zhivana sekarang kami adalah abi dan umi mu. Jadi kalau ada apa-apa jangan sungkan" Ucap kiai husen.


"Ukhty sepertinya kedua orang tuaku akan lebih sayang padamu" Ucap azwar dengan diiringi tawa kecil.


"Nah ustadz sebaiknya ustadz harus sering mengalah" Zhivana terlihat sudah ceria kembali.


Mereka pun tertawa-tawa mendengar ucapan dari azwar dan juga zhivana. Sungguh siang hari yang cerah ini sangat hangat dan penuh kasih sayang. Terasa sudah cukup untuk berbincang keluarga kiai husen pun memutuskan untuk langsung pulang saja karena masih ada urusan di pondok pesantren.


***


Di Kediaman Keluarga Al Faruq


Reno sedari tadi sedang mundar-mandir kesana kemari seperti istrikaan saja. Luchia yang melihat suaminya itu sudah sangat pusing karena suaminya itu terus saja menggerutu tidak jelas dan yang lebih parahnya lagi reno suaminya itu terus saja mundar-mandir tidak jelas membuat kepala luchia pusing yang sedari tadi melihatnya.


"Stop, aku pusing banget liat, nya"


Kesal luchia yang tengah duduk di sopa ruang tamu tidak lupa juga luchia melipat kedua tangannya di depan dada.


"Gak, nggak bisa ini tidak boleh terjadi" Ucap reno seperti orang frustasi saja. Sedari tadi kata-kata itu saja yang keluar dari mulut reno.

__ADS_1


Luchia memutar bola matanya, kini ia sudah sangat jengah dengan apa yang suaminya lakukan.


"Kamu kenapa sih mas? Aku tanya kamu kenapa kamu malah bilang gawat. Sedari tadi aku liat kamu terus saja bertingkah seperti itu, kamu sudah setengah jam loh mundar-mandir nggak jelas, seperti itu?" Gerutu luchia, kini emosinya sudah mulai sampai keubun-ubun.


"Arrsyad akan marah besar"


Kini reno duduk di samping luchia. Tangannya menjambak rambutnya sendiri. Benar-benar mirip orang frustasi saja.


"Loh. Memangnya, kenapa?" tanya luchia.


"Tadi mas kerumah nya zhivana, saat mas akan mendekat ternyata zhivana sedang kedatangan tamu. Mas tidak langsung masuk takutnya menganggu. Karena penasaran, dengan apa yang mereka bicarakan mas menguping dibalik pintu luar rumah zhivana"


"Terus apa yang terjadi?"


"Ternyata yang datang keluarga nya kiai husen sahabatnya abi nya zhivana. Dan kau tau apa yang terjadi? Azwar putra pertama nya kiai husen melamar zhivana"


"APA"


"Duh. Itu mulut apa towa sihz Berisik banget" Ucap reno dengan menutup kedua telinganya.


"Sembarangan, awas ya kalau minta jatah aku nggak bakalan kasih" Ucapnya dengan sedikit menaikan nada bicaranya., kini luchia membalikkan badan untuk membelakangi reno.


"Merepotkan, kenapa aku bisa bicara seperti itu padanya. Aku nggak mau puasa." Batin reno.


"Sayang maafkan mas. Mas hanya refleks saja, jadi tolong jangan marah" Reno memasang muka memelasnya supaya luchia mau memaafkan dirinya.


"Gak mau"


"Kamu nggak mau dengerin kelanjutan, nya?"


"Cepat katakan"


Maafkan dulu mas baru mas akan cerita" Reno nampak tersenyum menyerigai.


"Yasudah aku maafkan" Luchia membalikan badanya kembali.


"Nah, gitu dong."


Cup


Satu kecupan manis mendarat di pipi kanan luchia, membuat luchia tersipu malu.


"Menyebalkan" Ucap luchia dengan tersenyum-senyum.


"Tapi kamu suka, kan?" Tanya reno, dengan menaik turunkan kedua alisnya.


"Apaan si, sudah lanjut kan ceritanya. Apakah zhivana menolak lamaran itu" Tanya luchia yang sudah mulai serius untuk mendengarkan kelanjutan cerita dari suaminya.


"Zhivana merima lamaran itu"


"HAH, bagaimana bisa? Bukankah zhivana dan arrsyad sedang dekat? Lalu bagaimana dengan arrsyad, pasti dia akan sangat kecewa dan marah besar"


"Maka dari itu aku sedari tadi seperti orang frustasi. Karena, memikirkan hal ini"


"Jangan sampai arrsyad tau"


"Tidak bisa, pasti dia akan tau"


Bingung? Pasti, bagaimana pun arrsyad sangat mencintai zhivana. Masa 5 tahun itu masih lama dan masih sangatlah panjang. Kalau, arrsyad tau pasti dia akan langsung pulang untuk menemuai zhivana.


Bagaimana? Apa yang harus dilakukan, mana zhivana sudah menerima lamaran itu. Otomatis langkah selanjutnya adalah pernikahan. Memikirkannya saja membuat luchia tidak suka, luchia lebih setuju zhivana dengan arrsyad.


"Mungkin benar arrsyad dan zhivana tidak berjodoh" Ucap reno.


"Tidak, mereka itu berjodoh aku yakin itu, kalau tidak berjodoh aku akan tetap menjodohkan arrsyad dan zhivana. Bagaimana pun, caranya" Tegas luchia.


"Kau terlalu egois"


"Itulah diriku"


"Menyebalkan."


"Terserah aku."


"Menyebalkan"


"Tapi kamu suka, kan?"


"Terserah."


"Arrsyad kalau kau dan zhivana memang tidak berjodoh. Maka, kau harus belajar ikhlas untuk melupakan zhivana mulai dari saat ini juga." Batin reno.


'


'

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2