
Pagi telah tiba, hari ini zhivana sudah diperbolehkan pulang. Tapi bukannya senang, zhivana malah terdiam murung. Umi aisyah sudah mengandeng tangan zhivana. Azwar serta kiai husen sudah menunggu diparkiran.
Sepanjang perjalanan, zhivana terus menatap keluar kaca jendela mobil. Semalam reno dan luchia datang menjenguk, zhivana sudah menanyakan arrsyad pada reno, tapi malah tidak menjawab begitu pula pada luchia.
Gawai milik zhivana pasti tertinggal dirumah, ingin sekali menanyakan kabar arrsyad. Apa suaminya itu baik-baik saja?
Mobil yang dikendarai oleh azwar sudah sampai pekarangan rumah, semua langsung turun keluar. Zhivana yang baru menyadari tempat pulangnya bukan ke rumah arrsyad, melainkan ke rumah nya.
"Kenapa pulang kesini?"
Terlihat didepan teras sana ada satu koper, bukannya itu koper milik zhivana saat pindah kerumah arrsyad dulu. Kenapa bisa ada disana? Perasaan yang tidak menentu ini membuat zhivana pusing.
"Memang rumah kamu disini nak, ayo masuk. Umi setiap hari selalu membersihkan rumahmu," Ajak umi aisyah seraya menuntun zhivana.
"Tapi umi aisyah, aku sudah berkeluarga sudah seharusnya aku pulang kerumah suamiku."
Umi aisyah tidak menjawab pertanyaan zhivana, pintu rumah telah terbuka. Suasana rumah itu sama seperti dulu, zhivana langsung pergi masuk ke kamar dengan ditemani umi aisyah.
"Nak, ingat pesan umi! Jangan banyak pikiran, jaga kesehatan kamu nak. Kasian nantinya anak-anak kamu, umi sangat menyayangi kamu. Malam ini sampai beberapa hari kedepan umi akan menginap disini menemani kamu."
"Tapi,"
"Lupakan semua yang pernah kamu alami, kita semua adalah keluargamu nak. Jangan sungkan, istirahatlah. Umi mau kedepan dulu menemui azwar."
Zhivana mengangguk. Ketika pintu kamar tertutup, zhivana langsung menangis sejadi-jadinya. Ada apa ini, zhivana merasa semua orang menyembunyikan sesuatu.
"Hiks, ini sakit sekali."
Zhivana memengangi dadanya yang terasa sesak, kenapa arrsyad belum juga kembali untuk menemuinya. Kemana arrsyad? Sedang apa dia sekarang, kenapa dia tidak datang melihatnya.
Semarah itukah arrsyad hingga ia tidak ingin menemuinya, tuduhan selingkuh yang arrsyad tuduhkan pada zhivana itu salah. Zhivana tidak tahu siapa adzril, sosok pria itu selalu muncul begitu saja tanpa terduga. Arrsyad sudah salah paham, lalu sekarang bagaimana? Apakah ia harus menemui arrsyad dan menjelaskan kembali perihal tentang adzril.
Tidak, zhivana takut arrsyad akan marah kembali. Mungkin saling sendiri untuk sementara waktu adalah hal terbaik untuk menenangkan diri dan hati.
Zhivana harus tenang, sekarang ia tengah mengandung buah cintanya bersama arrsyad. Tidak mau anak-anaknya kenapa-napa zhivana memilih menenangkan diri, mengambil air wudhu seraya melaksanakan shalat dzuhur.
***
__ADS_1
Dikediaman Al Faruq.
Arrsyad yang baru pulang entah dari mana dengan kondisi rambut acak-acakan, begipula dengan bajunya. Terlihat sangat kacau.
Reno yang sudah kesal pada arrsyad langsung memukul wajah arrsyad dengan keras, selama dua hari ini. Arrsyad tidak pulang entah kemana dia pergi, reno sangat malu pada zhivana terutama pada keluarga kiai husen.
Arrsyad jatuh tersungkur kelantai, reno langsung mencengkeram kerah baju arrsyad dengan kencang.
"Dasar suami tidak bertanggung jawab, kau ini suami macam apa memperlakukan zhivana seperti itu," Bentak reno seraya menatap arrsyad dengan tajam.
"Dia selingkuh,"
Reno tertawa mengejek, lalu mengehempaskan tubuh arrsyad hingga cengkeraman itu lepas.
"Aku kecewa padamu, suatu saat kamu akan menyesal karena telah menuduh zhivana selingkuh. Saat dimana kamu memarahi zhivana, dan saat itulah hari terakhir kamu bisa melihatnya. Aku tidak akan membiarkan zhivana tersakiti lagi. Jangan cari dia, jangan pernah tanyakan dia. Aku sangat tidak bersudi jika zhivana bertemu denganmu lagi."
"Apa maksud dari ucapanmu itu?"
Reno tidak menjawab, ia langsung pergi meninggalkan arrsyad yang tengah menatap kearah reno.
***
"Wahh, ini wangi sekali umi. Pasti ustadzah suka,"
Umi aisyah tersenyum, lalu membawa kue coklat itu ke meja makan. Melihat zhivana yang melamun, membuat umi aisyah geleng-geleng kepala.
"Nak, kamu mikirin apa? Ayo dimakan kue coklatnya, kata fazal aromanya sangat wangi."
Zhivana terdiam, lalu menatap kue coklat itu. Bukannya tidak suka, tapi hanya saja tidak sedang berselera. Zhivana hanya ingin arrsyad, tapi tidak mungkin arrsyad akan menemuinya.
"Ustadzah ayo dicoba, liat saya udah habis dua tadi. Ini enak sekali loh." Ucap fazal seraya mengunyah kue.
Zhivana tersenyum melihat tingkah anak remaja yang tengah duduk dibangku kelas satu SMA itu, fazal sangat baik dan ramah. Sikapnya hampir sama dengan azwar, hanya saja fazal selalu bertingkah lucu.
Dengan penuh semangat zhivana mengambil kue coklat itu, terasa sangat enak dan manis. Dulu Alm, uminya sering membuat kue seperti ini.
"Ini sangat enak, manisnya pas sekali."
__ADS_1
"Alhamdulillah, kalau kamu suka. Umi sangat senang, ayo habiskan. Fazal tolong ambilkan ustadzahmu minumnya, umi mau ke kamar mandi dulu,"
"Tidak apa biar aku yang ambil sendiri."
"Jangan ustadzah, biar saya saja."
Setelah kepergian umi aisyah yang ingin ke kamar mandi, zhivana dan fazal kembali menikmati kue. Ditengah asik-asiknya memakan kue, tiba-tiba azwar datang dengan tangan membawa satu keresek putih besar.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam."
"Ustadz azwar ada apa kesini?" Tanya zhivana seraya berdiri.
Azwar tersenyum lalu meletakkan keresek putih itu diatas meja.
"Aku habis belanja, aku sudah belikan kamu susu ibu hamil. Semuanya aku borong, dari mulai rasa dan nama merek yang berbeda. Semoga kamu suka, aku juga sudah belikan kamu buah-buahhan."
Zhivana mengerjap tidak percaya, memborong susu ibu hamil dengan berbagai jenis. Yang benar saja, itu pasti sangat banyak sekali, pantas saja satu keresek itu sangat terlihat besar.
"Sebelumnya aku sangat berterima kasih banyak, tapi kenapa harus membeli sebanyak itu,"
Azwar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maaf, zhivana. Aku tadi bingung harus beli yang mana, jadi aku ambil semuanya."
"Wahh, kakak kau seperti suami yang sangat perhatian." Celetuk fazal dengan tersenyum riang.
"Astagfirullahal'adzim, fazal. Ustadzah sudah punya suami." Protes zhivana.
"Tapi ku tunggu janda, mu."
"Yaalloh, ustadz."
'
'
__ADS_1
Bersambung