Bidadari Bumi

Bidadari Bumi
Chapter 83 : Datang Untuk Mengambil


__ADS_3

Terdengar suara adzan shubuh yang berkumandang, sepasang mata cantik itu mengerjap beberapa kali. Menyesuaikan cahaya yang ada didalam ruangan, zhivana yang awalnya bingung ia tengah berada dimana. Akhirnya tersadar, bahwa ini diruangan rumah sakit.


Kepalanya terasa pusing dan berat, apa yang terjadi kenapa ia bisa ada disini? Kemana semua orang, zhivana mengusap perutnya dengan sayang. Syukurlah, tidak terjadi sesuatu pada anak-anak.


Terdengar suara pintu terbuka, zhivana menoleh untuk melihat siapa yang datang ke ruangan ini.


"Alhamdulillah, ustadzah sudah bangun," Suara fazal, mampu membuat zhivana keheranan.


"Fazal, kamu kok bisa ada disini?"


Fazal mendekat dengan memengangi sarungnya yang hampir merolot kebawah, mungkin fazal baru selesai melaksanakan shalat shubuh.


"Iya ustadzah, saya memang ada disini dari semalam. Umi dan kak azwar juga ada disini."


"Umi aisyah dan ustadz azwar ada disini, kenapa bisa?"


Fazal tersenyum kecil, lalu duduk di kursi yang berdampingan dengan bed hospital.


"Mereka menginap disini untuk menemani ustadzah."


Lalu kemana reno dan luchia, arrsyad juga mana? Mengingat arrsyad, membuat rasa sakit dihati kembali terasa. Sore itu, untuk pertama kalinya arrsyad membentak zhivana, apalagi arrsyad menuduhnya selingkuh. Sakit sekali rasanya.


Pelupuk mata zhivana sudah berair, kenapa semua ini terjadi begitu saja. Andai zhivana bicara pada arrsyad lebih awal mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.


"Ustadzah menangis,"


Zhivana menghapus air matanya, lalu menatap fazal seraya tersenyum.


"Tidak, mataku akhir-akhir ini sering perih. Jadi suka berair."


Fazal mengantuk saja.


"Emm, fazal. Apa kamu melihat suamiku?"


Fazal menggeleng, lalu berkata.


"Kak arrsyad, suami ustadzah tidak datang kesini. Oh iya, tadi juga ada om reno dan tante.... Emm siapa ya aku lupa,"

__ADS_1


"Kak luchia maksudnya,"


"Ahh, iya benar. Tante luchia, dan suaminya semalam kesini. Tapi kak azwar marah, entah karena apa aku tidak tau pasti. Karena terjadi perdebatan diantara mereka."


Zhivana terdiam, sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa mereka berdebat, karena apa? Apa ini bersangkutan dengan dirinya.


"Siapa yang membawaku kerumah sakit?"


"Kak azwar sama abiku, ustadzah. Sore itu, beliau sangat merindukan ustadzah lalu abiku bilang ingin berkunjung ke rumah kak arrsyad untuk menemui ustadzah. Tapi saat abiku dan kak azwar sampai disana, seorang wanita tengah berteriak minta tolong. Waktu itu ustadzah pingsan dihalaman rumah, kondisi ustadzah sangat mengkhawatirkan waktu itu apalagi ustadzah tengah mengandung."


Fazal berhenti sejenak, menghela napas lalu bercerita kembali.


"Kak azwar dan abiku langsung membawa ustadzah kesini, sebelum berangkat juga abi dan kak azwar bertanya pada wanita itu sebenarnya apa yang terjadi. Awalnya wanita itu tidak mau bicara, tapi karena kak azwar yang maksa dan mendesaknya. Wanita itu akhirnya menceritakan semuanya."


"Menceritakan semuanya, bagaimana?"


"Yang ku dengar dari pembicaraan kak azwar pada umi. Emm, tapi sebelumnya maaf ya ustadzah. Saya mendengar kalau ustadzah dan kak arrsyad bertengkar,"


Deg


Apa mungkin bi yuni mendengar pertengkarannya dengan arrsyad. Bagaimana ini, pasti akan terjadi masalah besar. Perasaan apa ini? Kenapa ketakunan ini terasa kembali, terasa sangat berat dan sesak.


"Terimakasih, sudah memberitahuku. Fazal, ustadzah ingin shalat shubuh dulu."


"Baiklah, saya akan bantu ustadzah. Takutnya ustadzah terjatuh,"


***


Setelah melaksanakan shalat shubuh, zhivana langsung terbaring kembali. Kepalanya kembali pusing, untung ada fazal. Anak itu membantu zhivana yang hampir jatuh.


"Assalamualaikum," Ucap umi aisyah dan azwar bersamaan.


Zhivana yang hendak ingin memejamkan mata, jadi tidak jadi. Fazal langsung menyalami uminya dan azwar.


"Waalaikumsalam."


"Anakku kamu tidak apakan? Gimana sekarang badan kamu atau kandungan kamu terasa sakit tidak, nak? Umi sangat mengkhawatirkan mu, umi takut kamu kenapa-napa sayang."

__ADS_1


Zhivana hampir saja menangis, perlakuan umi aisyah selama ini sangat mirip seperti uminya dulu. Andai itu uminya, mungkin zhivana akan bercerita seraya menangis.


Kecupan dikepala itu datang berkali-lali, umi aisyah mengusap kepala zhivana seraya menatapnya penuh khawatir.


"Umi aisyah, aku baik-baik saja kok. Alhamdulilah, anak-anak juga baik-baik saja tadi kata dokter saat memeriksaku, umi aisyah dan abi husen gimana kabarnya, sehat?"


"Kamu ini nak, umi dan abi sehat. Kamu sudah sarapan belum? Maaf, umi tadi pulang dulu sama azwar."


Pembicaraan itu terus berlanjut, tidak lupa azwar, fazal, dan umi aisyah sarapan bersama diruangan zhivana.


Hingga sore telah tiba, zhivana ingin pulang tapi dokter mengatakan kondisinya belum sembuh total, jadi belum diperbolehkan pulang. Rasa rindu pada arrsyad, membuat zhivana ingin bertanya pada umi aisyah tentang arrsyad, tapi ia urungkan.


Kini zhivana tengah duduk dikursi roda, menikmati suasana sore hari ditaman rumah sakit. Tadinya umi aisyah yang menemani zhivana, tapi karena umi aisyah harus pulang dulu bersama fazal. Menyisakan sepasang dua makhluk insan yang saling diam, rasanya sangat canggung sekali untuk sekedar menyapa.


"Apa kamu tidak ingin bicara padaku, zhivana"


Zhivana diam, pikirannya terus tertuju pada arrsyad. Sedang apa suaminya sekarang? Apa arrsyad sudah makan, apa arrsyad hari ini tidak ingin datang menjenguknya. Banyak pertanyaan yang membuat zhivana tidak nyaman, pikiran dan hatinya terus bertanya-tanya tentang arrsyad.


"Kenapa? Apa kau memikirkan suamimu yang tidak bertanggung jawab itu,"


"Apa maksudnya"


"Dia pergi meninggalkanmu begitu saja,"


"Tapi dia akan kembali lagi padaku, ustadz azwar."


"Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi,"


"Kenapa?"


"Aku datang mengambil apa yang harus kuambil. Jikapun dia menolak, berarti memang benar hatinya masih milikku."


"Aku tidak mengerti,"


"Datang untuk mengambil, yang seharusnya menjadi milikku."


'

__ADS_1


'


Bersambung


__ADS_2