Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 9 : Ketahuan


__ADS_3

"Anda ingin melatih anak-anak bela diri?" tanya Calius kepada sang ratu.


Bianca mengangguk mantap. " Kita tidak tau apa yang terjadi kalau misalnya mereka diculik atau apa-apa. Kamu dengar, kan Black Hole mencari anak kecil dari desa Kay dan Greda. Mungkin salah satu dari mereka adalah incaran kelompok itu," jelas Bianca panjang lebar.


"Saya mengerti, yang mulia," ucap Calius paham.


"Oh! Dan juga tolong sampaikan kepada Oscar kalau dia akan mengajarkan kepada anak-anak itu."


"Kenapa harus dia, yang mulia?"


Bianca menyeruput tehnya, kemudian ia menjawab, " Dia akan cocok jika mengajarkan kepada anak kecil."


Awalnya, Calius masih bingung dengan perkataan sang ratu, tetapi ia akhirnya terima-terima saja. Tuh nanti dirinya akan tau alasan kenapa dia memilih Oscar sebagai guru ahli pedang kepada Kay dan Greda.


Karena, Oscar merupakan orang yang paling seram dan kejam sebagai pelatih di akademi militer.


Ya tidak heran, Calius meragukan keputusan Bianca menjadikan Oscar guru kepada Kay maupun Greda.


Di sisi lain, Decius masih berada di dalam kamar sang ratu. Ia dari tadi menghela nafas sambil berguling-guling di atas kasur.


Lalu ia bangkit dengan perasaan dongkolnya.


"Sial!! Baru 1 minggu lebih tinggal di sini, wanita putih itu tidak memberiku tugas atau apapun sih?!" ucapnya frustasi sambil mengacak rambutnya kasar.


Orang yang diomongin telah datang dan langsung menghampiri lelaki itu. " Aku meminta bantuanmu."


"Apa? Jangan menyuruhku menjaga anak kecil atau yang aneh-aneh deh..."


"Tidak kok. Ini berkaitan dengan kemampuanmu," mendengar itu Decius menjadi penasaran.


"Apaan itu?"


"Mungkin kamu sudah tau kalau pelaku yang mencoba membunuhku sudah ditangkap, tetapi otak dibaliknya itu saya tidak tau."


"Bisakah kamu mencari tau siapa mereka?" Decius terdiam sejenak.


"Lalu?"


"Kalau sudah tau, bawa mereka ke sini dengan kondisi hidup-hidup. Baru setelah aku berbicara dengan mereka, terserah kamu mau diapakan mereka."


Tawaran menarik.


Decius bangkit berdiri, " Baiklah... Aku akan membawa apa yang anda perintahkan."


Setelah itu, Decius pergi.


Sebuah ketukan pintu terdengar membuat Bianca menoleh ke arah pintu dan menjawab.


Muncul Greda memasuki kamar sang ratu.


"Ada apa Greda?" tanya Bianca penasaran.


Ia langsung memeluk sang ratu. " Kemarin malam aku bermimpi buruk."


"Mimpi apa?"


"A-aku... A-ku diculik oleh sekelompok misterius, lalu mereka membunuhku," Bianca langsung menenangkan Greda.

__ADS_1


"Tenanglah... Ada aku ada di sini. Jangan takut, oke," ucap Bianca tersenyum lembut.


Greda yang sedang nangis mengangguk pelan. Di dalam hati kecil Bianca ia sudah berteriak-teriak layaknya fangirl karena keimutan Greda.


"Sudah sana main dengan Kay," Bianca menyuruh Greda untuk bermain dengan sahabatnya itu.


"Yang mulia..."


"Ya?"


"Bolehkan aku tidur bersama dengan yang mulia?"


"Apa?"


"Terus bagaimana dengan Kay?"


"Kay orangnya cepat tidur, yang mulia. Lagipula tidak baik seorang perempuan dan laki-laki yang belum menikah tidur satu ranjang."


INI ANAK PIMIKIRANNYA DAPAT DARIMANA?!!


Tetapi benar juga sih, masalahnya kamar-kamar kosong udah dijadikan tempat penyimpanan alat senjata sang ratu.


Tidak satu ruangan, lebih 3 kamar yang dijadikan tempat penyimpanan senjata ratu salju itu.


Ia menghela nafas panjang. "Baiklah... Hari ini saja, ya," Greda mengangguk senang dan mantap.


"Kalau begitu, saya pamit undur diri, yang mulia," Greda pamit dan segera pergi meninggalkan kamar sang ratu.


Wanita berambut putih itu menepuk jidatnya. Setidaknya si malapetaka tidak akan pulang hari ini, jadi masih bisa.


Bianca yang sudah memakai baju tidur bersiap-siap menunggu kehadiran Greda mengerut dahinya.


"Kenapa kamu cepat banget kembalinya."


"Memangnya aku tidak istirahat apa?"


Bianca berdecak kesal. " Terserah. Pokoknya jangan sampai keliatan sama Greda."


Decius berkacak pinggang. " Kenapa sih harus sembunyi-sembunyi? Salahku apa?"


Sebenarnya yang salah Bianca sih. Tidak membaca petunjuk dengan teliti, tetapi di petunjuknya tulisannya 'Monster'.


Ketukan pun terdengar membuat Bianca menyuruh lelaki itu bersembunyi atau apa pun Greda tidak melihat Decius.


Akhirnya Decius yang setengah kesel pun menghilang. Entah pergi kemana.


Setelah dirasa aman, Bianca membalas untuk masuk. Greda masuk ke kamar dengan membawa boneka beruang putih pemberian sang ratu.


"Kemarilah..." ucap sang ratu mengisyaratkan untuk mendekat.


"Mau diceritakan dongeng?" Greda mengangguk setuju. " Aku mau dengar cerita 'Ratu Salju dan 2 Anak Pemberani'."


"Baiklah... Pada suatu hari-"


PRAAANGG!!


Mereka berdua langsung terkejut saat mendengar suara pecahan di kamar Bianca.

__ADS_1


Pasti kelakuan si malapetaka? batin Bianca.


"I-itu suara apa?" tanya Greda ketakutan.


"Tidak apa-apa, Greda. Sekarang kamu tidur, oke?" Greda mengangguk mengiyakan dan berusaha untuk tidur.


Decius akhirnya menampakan diri setelah Greda tertidur pulas. Bukannya minta maaf, justru lelaki itu bertanya kepada wanita berambut putih salju itu.


"Dia sudah tidur?"


"Kamu ngapain sih? Sampai anaknya pada ketakutan."


"Salah aku terus sih?" bela Decius.


Tiba-tiba ia langsung bergabung bersama Bianca dan Greda. " Hei, hei!! Kamu ngapain?"


"Tidurlah... Apa lagi," ia langsung merebahkan diri di sebelah Greda yang tertidur pulas.


"Kalau tidur... Manis juga."


Bianca menatap tajam ke arah sang malapetaka. " Emang benar, kan?"


"Kali ini aku lolosin kamu. Kalau kamu berbuat aneh ke dia... Aku tidak segan-segan membuatmu menjadi patung es," Bianca berbisik ke arah lelaki itu dengan bernada ancaman.


Tetapi, Decius hanya menanggapi dengan santai. " Tenang, aku tidak melakukan aneh kepada gadis kecil ini."


Bianca langsung merebahkan diri dan melanjutkan untuk tidur. Begitupun juga lelaki itu yang akhirnya menyusul mereka beberapa menit setelah melihat 2 wanita dihadapannya tertidur pulas.


...****************...


Greda terbangun lebih awal. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas dan menoleh ke arah kiri. Betapa syoknya saat ia melihat sosok pemuda tampan tertidur di sebelahnya.


Niat Greda langsung membangunkan sang ratu dan melaporkan ada orang asing tertidur bersama mereka berdua.


Tetapi, Decius sudah terbangun dan mengisyaratkan untuk tetap diam.


Gadis kecil itu hanya bisa menurut saja. Sementara itu, Bianca terbangun dari tidurnya.


"Kau sudah bangun, Greda-" Bianca melotot dengan lebar saat ia melihat Greda sudah bangun dan melihat Decius di sebelahnya.


Ia langsung bangkit dari tidurnya. " Kamu tidak apa-apa, kan?"


"Aku tidak melakukan apapun," bela Decius.


Greda menggelengkan kepalanya. " Tidak. Paman itu tidak kelihatan seperti orang jahat."


"Paman?" tanya Decius bingung.


"Hei, hei!! Menjaulahh..." ucap Bianca mengusir lelaki itu.


"Yang Muliaa!!" tiba-tiba Kay mendobrak pintu dan menemukan Greda, sang ratu, dan malapetaka.


Ketahuan sudah...


"Si-siapa dia, yang mulia?" tanya Kay bingung apa yang terjadi.


"Kay... Sudah aku bilang ketuk dulu pintunyaaa..."

__ADS_1


__ADS_2