Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 61: Masih Ada Harapan?


__ADS_3

Vina membuka kedua matanya dan mendapati dirinya berada di ruangan yang serba putih ini.


"Anakku..." panggil seseorang yang Vina kenal.


"Sepertinya aku lupa memberimu sesuatu kepadamu."


"Hah?" tanya Vina bingung.


"Bunga itu, Bunga Adropeda. Sebenarnya aku lupa memberi tau kepada Jenny kalau bunga itu tidak boleh dikonsumsi."


"Tidak boleh dikonsumsi? Maksudnya apa, Tuhan?" tanya Vina kebingungan.


"Tolong kamu jelaskan kepada dia," Jenny mengangguk dan menjelaskan kepada Vina.


"Bunga Adropeda memiliki rasa sensitivitas. Kamu adalah orang yang sangat sangat sangat berbeda. Walaupun kamu masuk di tubuh Bianca, bunga itu bereaksi ke jiwamu dan mereka menolak untuk disembuhkan."


"Karena kamu bukanlah dari dunia ini maupun dunia novel apapun, bunga itu menolak kehadiranmu."


Vina yang mendengarnya langsung semakin pusing. "Terus... Gimana dong? Apa aku harus kembali ke dunia asalku begitu?"


Baik Jenny dan Tuhan saling diam satu sama lain.


"Ya... Maafkan saya, anakku. Mau tidak mau kamu harus kembali ke tempat asalmu."


Bianca menghela nafas panjang kecewa.


"Tetapi... Sebelum kamu kembali, ada satu hal yang aku minta kepadamu, anakku."


"Apa itu?" tanya Vina penasaran.


"Bawalah satu orang yang berada di sisimu untuk membantumu."


"Hah? Apalagi ini?" tanyanya lagi.


"Karena kamu sudah tidak bisa menjalankan misi dengan kondisi seperti ini, kamu boleh meminta orang-orang terdekatmu untuk membantu dalam misi ini."


"Ini... Misinya benar-benar dilanjutin atau gimana?"


"Terserah apa yang kamu berhasil dapatkan. Karena wujudmu adalah arwah dan tidak semua orang bisa melihat kamu."


Ini benar-benar sulit.


"Aku yakin kamu bisa, anakku...."


Dan sekarang saat pagi hari, Vina dan Jenny menguji apakah dirinya bisa dilihat oleh orang lain.


Pertama Calius yang sibuk dengan urusan politik menggantikan majikannya yang meningal secara tiba-tiba.


"Calius..." ucap Vina berusaha mencari perhatian kepada pria paruh baya, tetapi tidak berhasil.


Kemudian Jacob, Markus, Giselle, hingga Aaron yang kemarin malam dirinya melihat sosok Vina, tetapi sampai sekarang tidak kunjung berhasil.


"Terakhir... Oscar," balas Jenny mencoret daftar orang terdekat di istana.


"Bukannya dia bisa melihatmu? Mungkin dia bisa melihatku juga."


"Semoga kali ini berhasil," Vina mengangguk mantap dan berharap Oscar-lah yang menjadi harapan terakhir kali ini.


Mereka berdua tiba di sebuah lapangan latihan dimana para prajurit sedang berlatih.

__ADS_1


Oscar melihat mereka berdua dan berjalan menghampiri mereka.


"Bukankah kamu temannya yang mulia?" Jenny mengangguk dan Oscar melirik ke arah Vina.


"K-kamu... K-kamu bisa melihatku?"


"Tentu saja bisa," balasnya dengan enteng. Tiba-tiba seorang rekan kerja lelaki berambut merah datang menghampirinya.


Tidak selang lama salah satu prajurit pergi dan Oscar menoleh ke arah mereka berdua.


"S-sebenarnya kamu i-ini siapa?" tanya Oscar kepada Vina.


"Aku ini ratumu yang baru saja meninggal."


"Apa?!" teriak Oscar tidak percaya membuat seluruh prajurit yang berlatih di lapangan latihan menoleh ke arah Oscar.


Oscar buru-buru meminta maaf dan menyuruh kedua wanita itu ikut dengannya.


Setelah mereka tiba di sebuah ruangan yang biasanya Oscar tidur siang, Oscar bertanya dengan pandangan tidak percaya.


"T-tapi... Yang aku lihat bukan yang mulia."


"Memang benar," jawab Jenny seenaknya.


"Benar kata Jenny, apa yang kamu lihat adalah bukan saya, tetapi ini adalah wujud lain dariku."


"W-wujud lain?" Jenny dan Vina mengangguk kompak.


"Jenny, bisa tolong jelaskan kepadanya."


Akhirnya Jenny menjelaskan tujuan mereka kepada laki-laki itu.


"Jadi... Kalian mencari orang yang bisa melihat kalian? Dan akulah satu-satunya yang aku bisa melihat?"


"Kamu mau kan membantu kita?" Oscar menelan ludah sendirinya secara perlahan terutama reaksi kedua wanita itu yang sedang memohon kepadanya.


"Baiklah... Aku akan membantumu, yang mulia. Ini juga kebaikan anda."


"Yess... Sekarang apa, Jenny?"


"Kita kembali ke tempat asalmu."


"Apa katamu?!" balas Oscar dan Vina kompak terkejut.


"H-hei... Masa langsung ke tempat asalku? Terus gimana dengan Oscar?"


"Sebelum kita pergi, kamu harus mempersiapkan dulu dengan matang. Karena kita akan pergi dengan sangat lama."


"Apakah kamu siap? Tempat asal dia bukanlah tempat yang kamu bayangkan."


Vina menelan ludah secara perlahan. Ia masih bingung dengan rencana Jenny.


Oscar terdiam cukup lama berpikir keras.


"Baik! Aku akan okut kalian. Aku adalah seorang ksatria, aku tidak boleh mundur sebelum mencoba."


"Bagus!" balas Vina dan Jenny kompak.


...****************...

__ADS_1


"Kamu akan pergi, Oscar?" tanya Jacob menoleh ke anak satu-satunya.


""Iya, ayah. Aku harus pergi karena ini sangat penting."


Jacob terdiam beberapa saat. "Sebenarnya aku melarang kamu untuk pergi. Kamu tau kan keadaan istana lagi berantakan karena yang mulia sudah meninggal."


"Aku tau, tapi-"


"Terpaksa aku memperbolehkanmu untuk pergi."


"Apa?" Oscar tampak terkejut mendengar jawaban dari ayahnya.


"Berhati-hati lah di perjalanan."


Oscar cukup terdiam beberapa saat, kemudian ia segera pamit kepada ayahnya.


Di perjalanan, ia berpapasan dengan Aaron yang sedang memberi makan Sello, naga putih itu.


"Kau akan pergi?" tanya Aaron tiba-tiba mengetahui kalau lelaki itu akan pergi.


"Iya. Aku pergi lumayan lama."


Aaron melirik ke arah lelaki itu. "Hati-hati di jalan. Banyak monster yang berkeliaran di sana."


Oscar membalas dengan senyuman. "Tenang saja, aku akan menjaga diriku sendiri."


Aaron mengangguk paham dan mereka berdua akhirnya meninggalkan satu sama lain.


"Kamu sudah siap?" tanya Vina kepada Oscar.


Oscar mengangguk mantap dan Jenny membuka pintu portal.


"Dengar, sesuai apa yang aku bahas, temui aku di perpustakaan, mengerti?" Vina mengangguk mantap.


"Dan kamu, kamu ikut denganku."


"Baiklah..."


"Mereka bertiga memasuki pintu portal bersama dan sebuah cahaya


memasuki memasuki mereka bertiga.


...****************...


"Kamu bilang, Ratu Bianca dari Kerajaan Aspendia meninggal?" tanya seorang raja dari Kerajaan Altuvia terkejut dengan kabar buruk itu.


"Benar, yang mulia. Pemakamannya baru saja beberapa hari yang lalu lebih tepat sehari setelah kematian," balas seorang penasehat istana.


Raja dari Kerajaan Altuvia memijit keningnya yang terasa pusing.


"Padahal aku berniat mengunjungi dia besok."


"Maafkan saya, yang mulia atas berita yang telat tersampaikan kepada anda. Beberapa kerajaan baru juga mengetahui hal ini."


Tampaknya sang raja benar-benar sedih dengan berita kematian Ratu Aspendia.


"Pasti orang-orang istana kesusahan mencari pengganti sang ratu yang dulu."


"Benar, yang mulia. Sampai sekarang, jabatan masih kosong. Mungkin sekitar 3-4 bulan mereka berhasil menemukan pengganti Ratu Bianca.

__ADS_1


Sementara itu dibalik pintu ruang singgasana, seseorang menguping pembicaraan mereka.


Ia tersenyum dengan lebar. Akhirnya si penggangu kini sudah pergi dan sekarang waktunya ia merencanakan sesuatu.


__ADS_2