
Kedatangan Ivan yang secara mendadak membuat seluruh istana pada kebingungan dan heboh.
Bagaimana tidak, cuti yang diberikan si koki itu masih berlaku dan dia sudah kembali ke istana seminggu sebelum cutinya selesai.
"Kenapa kamu kembali lebih cepat, Ivan? Bukannya cutimu masih lama?"
Si beruang putih itu menghela nafas panjang. Tampaknya ada masalah selama dia cuti.
"Ibuku..."
"Hah?! Kenapa dengan ibumu?!" ujar Bianca terkejut dan panik. Apakah ibunya meninggal dunia?
"Saat aku pulang, ibuku senang dan menyambut kepulanganku, tetapi..."
"Tetapi?"
"Ibuku menyuruhku untuk berhenti kerja di sini dan disuruh pulang."
Ternyata permasalahan itu....
"Kalau ibumu meminta begitu sih tidak apa-apa. Ibumu sudah tua dan siapa yang harus merawat beliau."
"Kalau masalah itu sih ibuku sudah menjaga dia sendiri, tetapi permasalahannya adalah..." Bianca menunggu jawaban si koki itu.
"Permasalahannya?"
"Ibuku sudah menjodohkanku dengan betina yang ia pilih."
"Oalah... Itu doa- Hah?! Yang benar saja!!"
Ivan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Terus... Tanggapanmu bagaimana?"
"Tentu saja aku menolaknya. Aku sudah menjelaskan kepada ibuku kalau aku tidak ingin menikah saat ini dan akhirnya kami bertengkar sampai aku kembali ke istana."
Waduh... Kalau permasalahan tentang keluarga memang rumit banget.
"Loh?! Kenapa kamu kembali ke sini? Cutimu bukannya masih lama?" tiba-tiba Markus datang menghampiri sang ratu dan Ivan.
"Ah... Rupanya kamu, Jendral."
"Ada apa ini? Tampaknya kamu mengalami kesulitan, Ivan."
Bianca menjelaskan permasalahan si koki itu dan Markus mengangguk saja.
"Apakah kamu sudah menjelaskan ibumu, Ivan?"
"Aku sudah menjelaskan secara baik-baik, tapi ibuku ngotot kalau anaknya harus menikah secepatnya."
Bianca tiba-tiba bertanya kepada beruang putih itu. " Apakah kamu sudah punya pacar, Ivan?"
Mendengar itu, Ivan langsung terkejut bukan main. " P-pacar?! P-pacar saja aku tidak punya selama aku hidup."
"Aku tau kenapa ibumu memaksa menjodohkanmu dengan betina lain karena ibumu berpikir kalau kamu tidak laku."
Mereka bertiga saling diam satu sama lain. Perkataan Markus memang benar sih.... Tapi tidak harus mengukapkan secara langsung juga.
__ADS_1
"Perkataanmu memang benar, Jendral. Ibuku sepertinya khawatir kepadaku yang terlalu sibuk dengan pekerjaanku, makanya ia berpikir kalau aku tidak laku."
"Kalau begitu... Apakah kamu punya betina yang kamu sukai? Maksudnya yang kamu taksir gitu?"
Ivan tampak berpikir sejenak. " Sepertinya tidak ada," ucapnya menggelengkan kepalanya lemah.
Baik Bianca dan Markus hanya menghela nafas panjang. Kalau begini terus, ibunya Ivan akan terus memaksa koki istana itu untuk dinikahkan segera.
"Kalau begitu... Apakah kamu punya teman betina- maksudku teman 'wanita'?" tanya Bianca melanjutkan pertanyaan kepada Ivan.
"Teman 'wanita'-ku hanya anda, Gerda, dan Jendral Harris saja, yang mulia," Bianca dan Markus langsung menghela nafas panjang.
Ini jauh lebih sulit lagi.
...****************...
"Yang mulia? Kenapa anda di sini?" tanya Giselle keheranan melihat sang ratu mengintip dibalik pintu dapur.
"Astaga!! Bikin kaget saja!!" serunya kaget sambil mengelus dadanya.
"Maafkan saya, yang mulia. Saya tidak bermaksud mengejutkan anda," balas Giselle meminta maaf dan merasa bersalah.
"Tidak perlu meminta maaf, Giselle. Ini, kan hanya kecelekaan kecil saja."
"Jadi... Kenapa anda di sini?" tanya Giselle sekali lagi dan Bianca langsung menarik Giselle dan menunjuk ke arah Ivan yang sedang sibuk memasak.
"Aku sedang memperhatikan Ivan."
"Kenapa dengan Ivan?" Bianca menjelaskan apa yang terjadi dan reaksi Giselle langsung terkejut dan kasihan dengan koki istana.
"Astagaaa... Aku kasihan dengannya."
"Dari cerita anda, tampaknya kita harus memperkenalkan wanita-wanita ke dia."
"Bagaimana caranya?" tanya bianca kepada puti sulung dari Markus.
"Kenapa anda tidak mengajak Ivan ke bar atau kemana gitu? Lebih dari dua juga bagus dan juga bisa saja ketemu jodoh di sana."
Itu ide yang bagus!!
"Apa? Anda meminta saya menemani jalan-jalan?" Bianca mengangguk.
"Tenang saja... Tidak hanya kita berdua saja, Giselle akan ikut bersama kita."
Giselle langsung menunjuk dirinya sendiri yang berkata kenapa harus ikut.
Ivan tampak ragu dengan ajakan sang ratu.
"T-tapi... Kenapa harus saya? Kenapa anda tidak mengajak yang lain?"
"Emang gak boleh kalau aky mengajak kamu jalan-jalan?" tanya Bianca berkacak pinggang.
"T-tidak, yang mulia... S-saya akan ikut dengan anda."
"Bagus!! Ayo Giselle, kita harus siap-siap untuk pergi," sementara itu Giselle hanya memasang wajah pasrah dan bingung kenapa dirinya harus ikut.
...****************...
__ADS_1
"Woaahh... Ini benar-benar enak!! Kamu memang hebat memilih restoran yang enak," puji Bianca kepada Ivan.
Ivan hanya tertawa tersipu sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. " Hahaha... Anda jangan memuji saya, yang- maksud saya nona."
"Ohh... Ivan? Apakah kamu Ivan?" Giselle, Bianca, dan Ivan langsung menoleh ke arah asal suara.
Seorang wanita dari Suku Ortaz menghampiri ketiganya yang sedang menikmati hidangan.
"B-bukannya kamu Tessa? Tessa, kan?" wanita bernama Tessa mengangguk mantap.
"Astaga!! Bagaimana kabarmu, Ivan? Aku dengar kamu sekarang kerja di istana, kan?"
"I-iya... A-aku kerja di sana," sementara itu Bianca dan Giselle memperhatikan mereka berdua dengan serius.
"Psstt... Yang mulia. Anda merasa, tidak kalau Ivan tampaknya tidak nyaman," Bianca mengangguk setuju.
"Padahal wanita itu berbicara biasa saja. Kenapa dia merasa takut, ya?" wanita itu pamit kepada Ivan dan setelah kepergian wanita itu, Giselle dan Bianca langsung introgasi dia.
"Kamu kenal dia, Ivan?" tanya Bianca
"Hah? K-kenal sih..."
"Tampaknya kamu tidak nyaman saat wanita itu mengajak bicara denganmu," kemudian Giselle bertanya dengan si koki itu.
"I-itu... S-sebenarnya aku tidak tau kenapa aku bisa setakut itu saat dia mengajak bicara denganku."
"Kamu tidak tau?" Ivan menjawab sambil menggelengkan kepalanya dengan lemah.
"Aku juga bingung kenapa bisa begini, padahal aku biasa saja saat kalian mengajak bicara denganku."
Benar juga... Kenapa bisa gitu, ya?
"Wanita itu berbicara tentang apa?" kemudian Bianca mengganti topik.
"Biasa saja.... Hanya bagaimana kabarku, gimana pekerjaanku di istana, dan apakah kamu ada luang waktu akhir pekan ini, gitu..."
"T-tunggu!! Dia bilang ke kamu kalau ada waktu luang gitu?" tiba-tiba Giselle mulai sadar.
"Iya. Kenapa?"
"Dia ngajak kamu kencan, Ivan!!" seru Giselle keras membuat para pengunjung di restoran itu langsung menoleh ke meja Bianca cs itu.
"Giselle..." Panggil Bianca memperingati gadis muda itu.
"Maafkan saya, yang mulia," jawab Giselle dengan suara kecil.
"Kencan?" Kedua wanita itu langsung menoleh ke arah Ivan kembali ke topik.
"Bagaimana jawabanmu?"
"Aku menolaknya," mereka berdua langsung menghela nafas panjang.
Ia sudah menduga kalau Ivan menolak ajakan kencan.
"Apa aku salah?"
"T-tidak... Kamu tidak salah," jawab Bianca dsn baik Bianca maupun Giselle saling pandang satu sama lain.
__ADS_1
Ia harus mencari cara supaya Ivan tidak dijodohkan oleh ibunya.