
"Greda..." panggil Kay kepada sahabatnya itu. Anak lelaki itu tau kalau Greda sedang membunyikan sesuatu.
"Kau ada masalah? Ceritakan saja kepadaku. Di sini cuman kita berdua, kok."
"Aku kangen rumah kita, Kay," tiba-tiba Greda membuka suara.
"Apa kamu tidak kangen dengan rumah. Sudah sebulan lebih kita di sini..."
"Kamu tidak suka tempat di sini?" tanya Kay dan Greda menggelengkan kepala cepat.
"Aku suka, kok, tapi kangen aja. Bagaimana kondisi di sana, ya..."
Kay terdiam sejenak menatap teman di hadapannya. " Bagaimana kalau kita mengunjungi ke sana?"
"Apa boleh? Yang mulia pasti tidak memperbolehkan kita pergi dari istana. Terutama keluar dari kerajaan."
"Aku tau caranya!" Greda memiringkan kepalanya penasaran sekaligus bingung. Bagaimana caranya?
Ide dari Kay yang tiba-tiba membuat mereka berdua kini berada di sebuah desa yang tidak berpenghuni. Desa tempat mereka tinggal.
Ternyata Kay menggunakan kereta sihir yang digunakan sang ratu atau pekerja istana lain untuk tugas diplomasi.
Karena kereta sihir ini jarang dipakai oleh empunya, ini kesempatan bagi Kay dan Greda untuk mengambil kereta tersebut dan pergi ke sana.
Suasana di desa itu masih sama. Sunyi dan tidak ada berpenghuni sama sekali.
Mereka berjalan menuju ke rumah Kay. Masih kosong tidak ada orang di sana. Kay bergegas menuju ke kamarnya mengambil barang-barang yang anak lelaki itu cari.
"Mau ke rumahmu, Greda?" Greda mengangguk.
Greda berniat ingin melihat kondisi desanya dan rumahnya, setelah itu mereka tidak akan mengunjungi tempat itu lagi.
Mereka memasuki rumah Greda yang berada di sebelah rumah Kay. Greda mengilingi rumahnya sebelum mereka tidak akan pernah mengunjungi di sini.
Sama halnya dengan Kay, Greda juga mengambil barang-barang miliknya yang penting dan setelah itu mereka berdua keluar rumah.
"Kalian ngapain di sini?" tanya seseorang membuat dua anak kecil itu berhenti berjalan dan membeku di tempat.
Seorang pria tinggi, berambut putih abu-abu panjang, dan pakaian yang serba hitam.
"Kalian sedang ngapain?" tanya Decius menyilangkan kedua tangannya menghadap Kay dan Greda yang sedang ketakutan.
Lelaki itu melihat sekelilingnya, kemudian ia bertanya, " Kalian ingin mati?"
Kay dan Greda menggelengkan kepala dengan cepat. Sang Malapetaka hanya bisa menghela nafas panjang.
"Di sini berbahaya. Kalian tidak khawatir dengan keluargamu?"
"Kami tidak punya keluarga," balas Kay dan Greda langsung menyenggol lengan anak laki-laki itu dengan cepat.
Decius bisa merasakan sosok misterius yang akan mendekat ke arah mereka bertiga.
"Kalian ikut denganku."
"Tapi..."
"Kalian benar-benar ingin mati?" ucap Decius menatap tajam, membuat mereka berdua langsung mengikuti sang malapetaka itu.
Mereka bertiga bersembunyi di gang sempit dan mengintip siapa yang datang selain mereka.
3 orang berjubah tertutup berjalan ke arah mereka dan berhenti tidak jauh dari mereka bersembunyi.
"Ada apa?" tanya pria bersuara ngebass itu.
"Aku merasakan anak yang kita cari."
__ADS_1
"Benarkah?" tanya seorang perempuan itu.
"Tapi auranya samar-samar."
"Apa kita cari anak itu sekali lagi?" tanya pria satunya.
Pria kedua menggelengkan kepalanya. " Tidak. Tempat ini juga tidak ada satupun orang di sini. Mungkin karena samar-samar saja kehadiran dia."
Pria kedua itu menoleh ke arah gang sempit di mana Malapetaka dan 2 bocah itu bersembunyi.
"Ada apa lagi?"
"Perasaanku saja atau tidak, aku bisa merasakan ada malapetaka di sekitar sini."
Sial!! seru Decius waspada.
"Perasaanmu saja paling. Mana ada malapetaka ada di sini. Kertas pemanggil dia saja hilang tanpa jejak."
"Benar juga. Mungkin kertasnya telah dibakar bersama mayat-mayat itu," mereka bertiga langsung menghilang begitu cepat.
Beberapa menit setelah mereka pergi, Decius mengecek kalau hanya dirinya, Kay, dan Greda saja di desa ini.
"Kalian boleh keluar," Kay dan Greda langsung keluar dengan ketakutan.
"Pulanglah cepat!" serunya tanpa panjang lebar, kemudian ia langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
Kay dan Greda segera menaiki kereta sihir dan pergi meninggalkan desa mereka.
"Kamu sedang ngapain?" tanya Decius duduk santai saat masternya sedang memantau lewat layar sihir.
"Sudah aku duga kalau mereka akan pergi ke sana," gumam Bianca.
"Memangnya siapa sih yang kamu lihat?" sang malapetaka itu mendekati Bianca.
"Oohh... Bocah itu..."
"Apa itu?"
"Jagain anak-anak itu," tunjuk Bianca ke arah Greda dan Kay.
"Kau menyuruhku untuk menjaga mereka?!" tanya Decius tidak percaya.
"Kau bilang kalau kamu bisa-"
"Iya, iya... Aku akan kulakukan," ia bersiap-siap untuk pergi.
"Kenapa harus menjaga bocah berisik itu sih?" gumamnya.
"Kau tidak boleh menyebut mereka bocah berisik. Mereka imut, tau," balas Bianca membela.
"Perasaanku tidak enak pada mereka," balas Bianca.
Decius tidak membalas Bianca lagi dan langsung pergi sesuai dengan permintaan masternya.
Kini, Vina sudah sedikit mengetahui karakter sang ratu salju itu.
Pertama, sebelum Bianca menjabat sebagai pemimpin kerajaan ini, ada ratu pendahulunya. Ratu Demetria Crystal Aspendia.
Ratu Demetria merupakan ratu pertama di Kerajaan Aspendia.
Tetapi, jabatannya tidak selama putrinya. Ia hanya menjabat selama 200 tahun lebih saja. Setelah sang ibu meninggal, Bianca lah yang menggantikan Ratu Demetria menjadi ratu Kerajaan Aspendia hingga sekarang.
Dan sekarang Bianca menjabat kurang lebih selama 500 tahun.
Kedua, sang ratu memang kejam, tetapi ia tidak mencampuri urusan rakyat yang tidak penting. Ia hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang pemimpin.
__ADS_1
Seperti pembangunan benteng pertahanan, pemasokan makanan, dan fasilitas-fasilitas penting untuk rakyat.
Gak heran sih kenapa kerajaan ini sejahtera, walaupun pemimpinnya dikenal kejam.
Ia baru mengetahui lewat sebuah buku diari yang ditulis oleh sang ratu. Hanya berisi curhat-curhatan normal.
Betapa kesalnya saat berhadapan dengan para bangsawan yang licik dan politik dari kerajaan tetangga.
Oh ya! Ada yang kurang...
Di Kerajaan Aspendia, tidak ada orang-orang bangsawan di kerajaan ini. Karena kerajaan ini bisa dibilang tidak besar, tetapi tidak kecil banget.
Dan juga kerajaan ini lebih fokus pada bidang produksi. Apa pun jenisnya, yang penting bisa diproduksi dan dijual. Semuanya sama rata tidak ada yang membedakan status dan asal-usul.
Vina akhirnya mengetahui sedikit kenapa rakyat di kerajaan ini sangat rukun.
Bagus sih...
Vina juga lama-lama menyukai sifat sang ratu yang awalnya biasa saja karena emang di dongeng itu emang jahat, tetapi ia bisa mengatur kerajaan dengan baik.
Walaupun sang ratu masih melekat dalam sifat 'jahat'-nya.
"Kau sudah kembali?" tanya Bianca kepada Decius yang baru sampai dari misinya.
"Firasatmu memang benar, ada orang asing selain kita di desa itu."
"Siapa?" lelaki itu hanya bisa mengangkat bahu tanda tidak tau.
"Tapi aku mendengar kalau mereka sedang mencari seorang anak laki-laki di desa situ."
Itu pasti Black Hole batin Bianca menduga.
"Kerja bagus," balas Bianca akhirnya.
"Anak-anak itu siapa? Anakmu?"
"Kalau itu anakku, kemana bapak mereka?" Bianca mulai kesal dengan kata-kata yang berkaitan tentang 'anak', 'nikah', 'suami'.
Ini semua gara-gara Calius yang selalu menggoda dirinya dan Decius saat pelayan itu menemukan mereka berdua sendirian di kamar sang ratu.
"Aku menemukan mereka sehari setelah desa tempat mereka hancur."
"Desa yang itu?" Bianca mengangguk.
"Kau benar..."
"Benar apa?" tanya Bianca.
"Anak-anak itu ternyata imut juga, ya kalau dari dekat."
"Tuh kan apa yang aku bilang!! Mereka itu imut tau!!" seketika Bianca langsung berhenti saat mata lelaki itu menatap tajam.
"Kau begitu semangat saat mereka menyebutnya imut?"
"Memang mereka imut."
"Apalagi kalau seandainya saja Kay sudah besar... Dia akan semakin tampan," ucap sang ratu berandai-andai jika Kay sudah dewasa.
"Kau menyukai anak kecil?" tanya malapetaka buka suara.
"Enggaklah!! Aku suka pria dewasa yang tampan."
Decius tersenyum menyeringai dan mendekatkan dirinya ke Bianca hingga jarak mereka kurang lebih 3 cm.
"Bagaimana menurutmu? Apa aku ini tampan bagimu?"
__ADS_1
Bianca mengedipkan kedua matanya beberapa kali, kemudian ia menjawab, " Tidak. Kamu jelek."
Dan Setelah itu, sang malapetaka ngambek dengan ratu salju hingga keesokan harinya.