
Di Istana utama, semua orang sedang sibuk, Jacob sedang mempersiapkan dirinya sebagai perwakilan dari kerajaan ini untuk rapat penting ini, Calius sedang membantu Jacob, Markus yang memimpin pasukan istana untuk mengamankan istana dibantu Oscar, Patrick dan Aaron sedang menemani Gerda dan Kay ke markas Black Hole, Rossa dan Giselle membantu Ivan untuk perjamuan makan kali ini.
Sementara itu, Bianca hanya duduk bengong di kamarnya. Ia menghela nafas panjang. Sebenarnya dia ikut dengan Allan dan lainnya, tetapi Jenny, si malaikat yang suka datang-hilang itu muncul dan memberitahu bahwa James ingin berbicara dengannya di kamar sang ratu.
"Maaf ya membuat anda menunggu,' ujar James tiba-tiba muncul bersamaan Jenny yang juga datang.
"Baiklah... Kamu ingin bicara apa?" tanya Bianca to the point.
"Mengenai surat yang saya kasih ke anda. Bagaimana?"
"Hmmm.... Aku sudah membaca suratmu dan sepertinya itu bisa membantuku mencari tau masa lalau Bianca yang asli."
"Jadi.... Ayo kita pergi!" seketika Bianca terkejut bukan main.
"Hah?! Sekarang?!" James mengangguk mantap.
Lelaki itu membuka sebuah portal yang sangat besar. " Ayo... Kita tidak mempunyai waktu lagi,' ucapnya memegang tangan Bianca dan memasuki ke dalam portal diikuti oleh Jenny.
*******************************************************
Di tempat lain, tepatnya di dapur istana, Rossa dan Giselle sibuk mempersiapkan hidangan perjamuan makan pada hari ini.
"Apakah para tamu sudah datang, Calius?" tanya Rossa kepada Calius yang sudah tiba di dapur istana.
"Perwakilan dari Black Hole sudah datang, Jendral Harris."
"Berarti tinggal perwakilan dari Kekaisaran Edgard."
Mereka bertiga mulai kembali ke tugasnya dan beberapa menit kemudian, pihak dari kekaisaran Edgard telah tiba.
"Komandan!! Mereka semua telah hadir," ucap salah satu pasukan istana memberitahu Jacob.
"Baiklah... Aku akan ke sana setelah ini," balas jacob dan melirik ke arah Markus.
"Semoga kali ini berhasil, Jacob,' ucap Markus memberi semangat kepada temannya itu.
Lelaki paruh baya itu tersenyum dan mengangguk mantap. " Aku pergi dulu," balasnya dan segera meninggalkan Markus.
Setelah kepergian Jacob, barulah anaknya datang menghampiri jendral itu. " Pasukan sudah siap, Jendral.'
"Baiklah... Kita harus bekerja lebih giat."
Di ruangan rapat kali ini, perwakilan dari 2 negara dan 1 organisasi terbesar berkumpul. " Bagaimana kabar kalian?" tanya Jacob basa-basi.
"Kami semua baik-baik saja, Komandan," balas salah satu perwakilan dari Kekaisaran Edgard dan perwakilan dari BlackHole mengangguk setuju.
"Dan juga kami sebagai perwakilan kekaisaran mengucapkan bela sungkawa atas kepergian Ratu Bianca. Semoga anda dan kerajaan ini bisa secepatnya mencari pengganti beliau," Jacob tersenyum.
"Terima kasih atas perhatiannya. Dan sekarang... Kita mulai pembahasan penting kita."
"Kita dimana?" tanya Vina melihat sekeliling. Dan juga ia melihat dirinya sendiri. Ia kembali menjadi Devina sekarang.
"Tentu saja kita berada dimana Ratu Bianca sebelum menjadi ratu Kerajaan Aspendia," jelas James.
Tiba-tiba Jenny meihat seorang gadis berambut putih salju berdiri di taman sambil memandang air mancur di sana. "Sepertinya... Kita tidak perlu bersusah payah menemukan si ratu salju."
James dan Vina menoleh ke arah yang ditunjuk Jenny.
__ADS_1
"Ayo kita mendekat!!" seru Vina mengajak Jenny dan James mendekati target. "James..." panggil Vina yang menyadari pemuda itu tampak bengong.
James tersadar dan segera berjalan menghampiri kedua orang itu. "Dia sedang ngapain?" tanya Vina dibuat keheranan.
""Kita lihat saja nanti. Sejauh ini dia masih berdiri di sana," ujar James.
Secara mengejutkan muncul sosok yang Vina dan dua orang lainnya mengenal dia siapa.
'Tunggu!! Bukannya..."
"Kenapa kamu selalu ada di sini, tuan putri?" tanya seseorang dan Bianca menoleh ke arah suara itu.
"Kamu..." Pria itu tersenyum ramah memaandang sang ratu di bawah sinar bulan yang terang.
'T-tungguu.. Kenapa kamu ada di siana, Jamaes?" tanya Vina kepada lelaki di sebelahnya. Begitupun juga dengan si malaikat itu.
"Errggh... Gimana jelasinnya, ya..."
"Suka-suka aku... lagipula aku menyukai tempat ini, kok," jawab Bianca dengan nada dingin.
"Astaga... Dia benar-benar dingin sekali..." balas Vina tidak habis pikir, sementara James hanya terdiam saja sambil memandang ke arah sana.
"Dan juga... Kenapa kamu ada di sini? Hari ini tidak ada acara apapun di istana,' kata Bianca yang menyadari kenapa pemuda itu tiba-tiba datang.
"Bagaimana... Kalau aku bilang... Aku merindukanmu?" Kepala Vina dan Jenny langsung mundur secara tidak sadar.
Bianca menghela nafas panjang. " Terserah kau saja lah..." ujarnya dan kembali menatap air mancur itu.
Tiba-tiba James (masa lalu) berkata, " Anda ingat, tidak? Hari dimana kita bertemu?" Bianca justru diam seribu bahasa.
"Terakhir anda mengajak dansa, bukan?" kemudian Bianca membuka suara.
"Apa ini?" tanya sang putri melihat sebuah aksesoris rambut pemberian dari James.
"Tentu saja aksesoris. Aku ingin memberikan hadiah kepadamu, tuan putri."
'Bolehkah aku memasangkan di rambut anda, tuan putri?" Bianca terdiam beberapa detik dengan memasang wajah datarnya.
"Silahkan," James langsung mendekatkan tubuhnya ke sang putri. Setelah memasang aksesoris tersebut, James memandang sang putri dan begitupun sebaliknya.
Mereka berdua saling memandang satu sama lain dengan tatapan dalam.
"Ayyooo... Cium, cium, ciumm!!" seru Vina berharap mereka berdua berciuman.
Wajah mereka semakin dekat hingga jarak mereka seperkian inci.
"Come on!!: seru Vina lagi seakan-akan ia sedang menyaksikan drama romantis.
Kini bibir mereka saling bertemu dan merasakan bibir mereka masing-masing dan Vina, tentu saja gadis itu merasa kegirangan sekali.
'Astaga... Kamu heboh sekali..." ujar Jenny tiba-tiba bersuara.
"Isshhh... Gini nih kalau gak pernah nonton drama atau film romantis. Jenny gak seru,"
Tiba-tiba mereka mendengar suara seseorang yang memanggil Bianca.
"Uh-oh... Tampaknya ada penjaga yang mencari sang putri..."
__ADS_1
"Lebih baik kita pindah tempat segera," mereka bertiga langsung menghilang bersamaan James (masa lalu) juga menghilang.
Sekarang mereka bertiga berpindah ke dalam istana di waktu siang hari. Tetapi suasana di sekitar istana tampak suram.
"Perasaanku saja... Kenapa menjadi suram, ya?" tanya Vina merinding disko.
"Aku setuju denganmu,' balas Jenny. Tiba-tiba mereka bertiga mendengar suara teriakan membuat mereka segera berlari ke arah altar.
Mereka melihat sekumpulan pasukan istana berdiri di tengah seorang pemuda yang sedang diikat dan di depannya ada seorang wanita dewasa serta seorang wanita muda di sebelahnya.
"Ibu..."
"Diam kamu, Bianca. Lelaki ini harus diberi hukuman," ujar Ratu Demetria tegas.
"Ibu!! Kenapa ibu melarang kami untuk bersatu?! Aku mencintainya!!"
"Kamu mencintainya?! Laki-laki ini orang asing. Kalau kamu menikahinya, pria ini akan mencari kesempatan untuk merebut tahta dari keluarga kita!1" balasnya dengan teriakan.
"Hukum mati pria kotor ini. Segera!!" Bianca langsung berlari menghampiri James dan memeluknya.
"Kalau ibu menyuruh dia dihkum mati, aku juga akan ikut dengannya!!"
"Apa katamu?! Kamu gila, Bianca?!" Demitria yang mendengarnya langsung terkejut hingga berdiri dari kursi singgasana.
"Aku juga melakukan keselahan sebagai tuan putri, ibu. Jadi ibu boleh memberiku hukuman yang sama dengan dia!!"
"Bianca..." panggil James dengan lemas.
"K-kamu... Seharusnya... Tidak melakukannya itu..." Bianca menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak!! Aku-" James tersenyum dengan sendu.
"Kamu adalah calon ratu selanjutnya, Bianca. Kamu adalah masa depan kerajaan ini. Jangan membuang harapan rakyatmu hanya karena ini."
Bianca terdiam sejenak, kemudian ia melepaskan pelukannya dan menatap ibunya dengan tatapan tajam.
"Baiklah... Aku akan ikut kemauan ibu. Tapi ada syaratnya," Demetria tersenyum puas.
"Biarkan James hidup dan aku maupun dia tidak akan saling bertemu dengannya."
Demetria tampak berpikir panjang. "Baiklah.... Ibu setuju dengan syaratmu. Lepaskan dia dan jangan sampai kamu bertemu dengan putriku, anak kotor!"
Dan setelah itu Vina, Jenny, maupun James langsung pindah waktu dimana lokasinya sama, altar istana dengan konsdisi yang jauh lebih parah.
Banyak bercak-bercak darah yang tersebar di seluruh ruangan tersebut.
CLANGG!! mereka menoleh ke arah asal bunyi dimana sebuah pedang terjatuh ke lantai.
Bianca, gadis muda itu berdiri kaku memandang ibu tercinta yang terjatuh lemas akibat tertusuk pedang. Ia membunuh ibunya sendiri, ibu kandungnya.
Vina yang melihatnya itu langsung terkejut bukan main hingga ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
'Selamat tinggal, ibu..."
'Semoga... Ibu bisa tertidur dengan tenang," setelah itu mereka bertiga langsung kembali ke masa sekarang.
Vina maupun Jenny berkedip beberapa kali, kemudian mereka menoleh ke arah James yang menampilkan ekspresi sendu dan tidak bisa ditebak.
__ADS_1
"James..."